
Sudah dua hari aku menjaga Abrisyam di rumah sakit, belum ada kepastian dari dokter sebenarnya apa yang sedang terjadi oleh Abrisyam.
Siang ini Abrisyam akan dilakukan cek Asto, mudahan hasilnya memuaskan dan tidak ada hal - hal yang tidak di inginkan.
Pemeriksaan ASTO, yaitu suatu pemeriksaan darah untuk mengukur kadar antibodi terhadap streptolisin O.(detail boleh searching ya)
Back to topic.
Suara pintu di ketuk, aku berdiri membukakan pintu agar yang datang bisa lebih tenang sedikit karena, Abrisyam perlu istirahat yang cukup.
Dari hasil pemeriksaan dokter sebelumnya anak ku di diagnosa dokter katanya terkena penyakit Demam Reumatik. Jadi, saat ini dia perlu istirahat yang cukup dan tidak boleh kelelahan, sehingga aku harus benar-benar menjaga jam istirahatnya saat ini.
"Assalamuallaikum."
Aku tertegun ternyata seseorang yang mengetuk pintu itu adalah Zahra.
"Waallaikumsalam," jawabku dan mempersilakan dia masuk.
"Maaf jika menganggu, bagaimana kabar adik Abrisyam?" tanyanya dengan lemah lembut
Zahra ternyata sosok yang baik, ramah dan sanggat lemah lembut. Semoga dia tidak mengalami hal yang sama sepertiku.
Hem! mungkin tidak karena, Zahra adalah pilihan Maminya Aldo pasti dia akan menjadi menantu kesayangan, aku sibuk berbicara sendiri dalam hati tanpa memperhatikan wanita di depanku yang sedari tadi memandangiku.
"Mb Selvi, Mba!" panggilnya
"Oh,iya." Aku terkaget mendengar panggilannya
"Maaf saya sempat melamun," jelasku.
"Tidak apa-apa, wajar jika mba melamun karena, kondisi anak mba belum juga pulih seperti sedia kala," ujarnya.
"Duduk Zahra."
Dia hanya mengangguk dan mulai mendekati Abrisyam tapi hanya sampai di tepi tempat tidur.
"Kata Dokter adik Abrisyam sakit apa ya Mba atau Ibu saya panggil?" tanyanya.
"Panggil Selvi saja," jawab ku.
"Kurang sopan nanti sayanya karena, Mba kan Istri Papinya Aldo," jawabnya lagi.
"Tapi kita seumuran Zahra, biar lebih santai saja saat ini, mungkin saat kamu sudah menikah dengan Aldo baru bisa memanggil saya Ibu," Aku sambil mengambilkannya minuman dingin.
__ADS_1
"Baiklah saya panggil Selvi."
"Oh iya saya lupa jawab ya , Abrisyam di diagnosa terkena Demam Reumatik tapi stadium satu jadi masih bisa di obati," jelasku.
"Masyaallah, itu penyebabnya apa ya?"
"Kurang paham juga saya Zahra, ini saja saya masih mencari - cari artikel mengenai penyakit itu, saya cuma bisa minta do'a semoga dia baik-baik saja."
"Yang sabar ya Selvi, Selalu akan saya do'akan yang terbaik."
"Selvi, saya boleh bertanya lagi?"
"Soal apa ya? jika memang bisa saya jawab pasti akan saya jawab," ucapku.
Zahra menarik nafas panjang seakan memikirkan hal yang akan di pertanyakannya denganku. Tetapi dia seakan knggin bercerita sesuatu.
"Sebenarnya sebelum saya di jodohkan dengan Aldo, saya sudah mengenalnya di cafe saya setiap hari dia selalu datang kesana, awalnya saya cuek dengan dia tapi terlihat ada sesuatu beban di pundaknya, saya coba mencari tahu tapi dia tipikal tertutup, terakhir kali dia sempat bercerita merindukan istrinya yang sudah memiliki anak dengan Lelaki lain, setelah itu aku sudah tidak pernah melihatnya." Zahra pun terdiam sejenak.
"Lalu bagaimana bisa sampai bertunangan, eh ini kebalik ya seharusnya aku yang di tanya," tawaku kecil agar tidak menganggu Abrisyam.
"Saat itu sepupu ku mengalami kecelakaan saat hamil anak nya yang pertama naasnya kedua-duanya meninggal di tempat."
Cerita Zahra kali ini menyentuh hati, Aku turut bersalah menanyakan kelanjutan ceritanya.
"Tidak apa-apa Selvi, saat itu Aldo sedang koma di salah satu ruangan ICU, barulah ku tahu bahwa dia adalah Suami sepupuku Virgin, akupun merasa bersalah berarti Istri yang dia ceritakan sama aku selama ini adalah Virgin yang memiliki anak dari Lelaki lain karena, saat itu aku tidak tahu bahwa Virgin adalah istri kedua Aldo."
Sepertinya Zahra masih belum tahu tentang Aldo seutuhnya dan mungkin cerita kami dj rahasiakan oleh Nenek Lampir peot itu.
Jujur saat ini aku terkejut mengetahui Zahra dan Virgin masih saudara sepupu karena, sipat mereka benar-benar berbeda jauh yang ini sangat lemah lembut dan religius sedangkan hang satunya kebalikannya bahkan seperti tidak tahu etika sama sekali.
"Jadi yang ingin kamu tanyakan apa Zahra?" tanyaku.
"Menurut Selvi bagaimana sipat Aldo? apakah dia mencintaiku karena, aku takut salah memilih pasangan," ungkapnya menerangkan ke khawatiran pra pernikahan.
Aku menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan yang mungkin terkesan sepele tetapi, sangat berat untuk mengatur kata-kata yang pas.
Seandainya Zahra mengetahui jalan cerita kami mungkin tidak akan sesulit ini menjawab pertanyaanya.
"Sedikit susah Zahra untuk menjelaskan pertanyaanmu karena, dari cerita kamu baru saja itu sangat berbeda, pasti kamu akan punya penilaian sendiri, saran aku kamu kenali dia lebih dalam dahulu sebelum memutuskannya. Aku hanya dapat menjawab Aldo adalah sosok yang baik dan dia tipe setia dalam hati tetapi tidak setia dalam perilaku."
"Maksudnya seperti apa ya Selvi, mengenai tidak setia dalam perilaku?" tanya nya antusias.
" Jadi begini dia itu masih belum bisa berfikir secara dewasa, masih sering di atur-atur sama Maminya. Aku rasa untuk kamu dia akan jadi pribadi yang baik, pernikahan kalian pasti akan langeng atas ijin Mami," jelasku dengan senyum mencibik.
__ADS_1
"Senyumannya penuh tanda tanya, lalu kenapa Selvi berpisah dengan Aldo," tanya nya penasaran.
"Jodoh tidak pernan berpihak kepada kami," jawabku santai sambil melihat dan menyelimuti Abrisyam.
Tidak lama terlihat Abrisyam membuka mata, dan mencari ke arah sekelilingnya.
"Nda, dimana Ayah?" tanya nya.
" Mungkin sebentar lagi Ayah datang," jawabku.
"Nda, boleh Abang bercerita?"
"Boleh Abang mau cerita apa?" tanyaku lembut.
"Tadi Abang bermimpi Nda, Ayah dan Adik Andrasyam sama-sama lagi kita bersama di satu rumah yang besar tanpa Oma, tetapi disana ada tante yang baik hati sering berkunjung, Abang langsung usir tantenya karena, Abang tidak mau kita terpisah lagi seperti dahulu saat Mami Virgin datang."
Tanpa kusadari Aldo sudah berada tepat di belakangku ikut mendengarkan ceritanya Abrisyam, tetapi ada hati yang terluka yang duduk di sofa.
Tiba-tiba saja Abrisyam menarik tanganku dan tangan Ayahnya di genggam menjadi satu, kami berpegangan tangan.
"Abrisyam mau Ayah dan Bunda temanan lagi, jangan musuhan seperti hari itu karena, Ibu guru cerita jika kita bermusuhan Allah akan marah," ujarnya mengharap kami berbaikan.
Saat aku akan melepaskan tanganku dengan sigap Aldo menahannya, memegang mengunakan telapak tangannya yang satu lagi.
Saat ini aku berusaha menjaga hati Zahra dialah orang yang tersakiti dengan suasana ini, segera aku membuat alasan agar bisa lepas dari genggaman tangan Aldo dan Isyam.
"Sayang Bunda kebelet ampis jadi tanggannya di lepas dahulu ya?"
Tanpa menunggu jawabannya segera kulepas tanganku dari genggaman mereka. Segera aku beralasan masuk ke toilet dan menyalakan air seakan melakukan aktivitas.
Ku tarik nafasku panjang, ku hampiri Zahra yang sedang duduk di sofa.
"Zahra maafkan kata-kata Abrisyam tadi ya, dia tidak bermaksud apa-apa. Percayalah Zahra kalau saya tidak akan mungkin kembali dengan Aldo," Jelasku agar Zahra bisa merasa lebih lega dan tidak tersakiti.
Aku begini karena,Zahra seperti posisiku saat itu, cukup aku yang merasakan sakit karena, tidak akan kuat Zahra melalui hal-hal pahit sepertiku.
Bersambung.....
NB:
Buat semua sahabat setiaku yang setia ikutin dan baca ceritaku bantu share ya biar banyak yang baca ceritanya biar aku semangat upnya , sama bantu Vote ya kak biar aku menang dalam lomba kontribusi tim terimakasih banyak
semoga kalian semua sehat selalu, banyak rezeki dan menjadi sahabatku sampai akhir hayat serta mendapat pahala luar biasa dari sang pencipta
__ADS_1
Love love love buat kalian semua