
"Aahhh Raine bangunlah Raine, I love you Raine..I love you forever, until I died," Rena mencoba membangunkan Raine dengan kata-kata Rena yang tersengal-sengal sambil menangis..bahwa sampai mati Rena akan selalu mencintai Raine.
Rena sampai menangis pasrah karena tidak bisa sama sekali menggerakkan tubuhnya akibat jahitan luka tusukannya yang belum sembuh sempurna.
Kemudian..
...BRAKK...
Raine dengan terhuyung-huyung pelan-pelan Membenturkan kepalanya ke kepala bagian belakang dokter gadungan itu sampai terdengar bunyi benturan keras lalu jarum suntik yang nyaris disuntikan ke dalam kantong cairan infus Rena pun balik di suntikkan dan di tekan cairan di dalam suntikan itu ke leher penjahat itu dengan menggunakan tangan penjahat itu sendiri sampai berbunyi..
...JLEB...
Seluruh racun yang tadi dikatakan dokter gadungan itupun sukses masuk kedalam lehernya sendiri. Binasalah sudah rantai kejahatan yang di ciptakan oleh Stefany dan kawan-kawan.
Raine yang masih dalam pengaruh obat bius itu pun menguatkan langkahnya menuju ke tempat tidur pasien dilihatnya Rena yang menangis dan menyadari Raine lah yang bangkit menolongnya meskipun dalam pengaruh obat.
"Honey Raine Keningmu mengeluarkan darah Raine, Raine," Rena pun berusaha meraih tombol panggil darurat agar petugas medis segera datang menolong Raine yang terluka dan akhirnya ikut tergeletak Karena sudah tidak kuat menahan berat kepalanya akibat pengaruh obat bius tersebut.
"Nooo.. Nooo.. Raine..Raine..hiks.."
"Nona nona Rena ya tuhan nonaaa maafkan kami kami tidak tahu ada dokter gadungan yang menerobos masuk ke dalam ruangan ini." ucap perawat dan 2 tenaga medis yang menyiapkan 1 lagi tempat tidur pasien di samping Rena untuk Raine karena mereka pasangan suami istri jadi diperbolehkan untuk tinggal 1 ruangan.
Beruntung luka Raine tidak begitu lebar sehingga hanya cukup di perban memutar melingkari kening hingga kepalanya bagian belakang.
✨
✨
✨
🏥RS Harapan Jaya
"Raine..Rena.. kok bisa dua-duanya ambruk?" tanya Nindya histeris.
Akhirnya setelah 18 jam perjalanan Nindya dan Ian pun sampai juga di Indonesia.
"Rena honey, are you okay? tanya Nindya yang sangat cemas bagaimana cobaan silih berganti datang seperti ini."
__ADS_1
"Momm,, dad, Raine, Raine juga terluka setelah melawan dokter gadungan yang hampir saja membunuh Rena dengan suntikan beracun."
"Oh god dad lakukan sesuatu dad, kasian anak-anak kita," Nindya pun menangis seketika melihat kedua anak dan menantunya terkapar di atas tempat tidur pasien.
"Baiklah sayang aku akan menyuruh Andrew memperketat penjagaan di depan kamar VVIP ini.
"Oh iya Ian tadi mana Dimitri dan Ara kenapa lama sekali? apalagi yang dikerjakan pasangan yang sedang di mabuk cinta itu, Hmmm memang ya, anak-anak muda ini, kalo sudah bermesraan, seperti tidak akan pernah ada hari esok," omel Nindya karena Imi dan Ara pun ikut khawatir akan kesehatan dan keselamatan Rena yang akhir-akhir ini selalu di kejar-kejar oleh penjahat.
"Udahlah sayang kayak kamu nggak pernah muda, biarlah nanti juga sampai disini."
"Momm jadi uncle dan kekasihnya juga kemari? Aahhh aku tidak sabar ingin bertemu dengannya,"
"Iya Ren, Ara juga ikut karena tidak mau berpisah sedetikpun dari unclemu sudah persis banget tuh sama kamu dan Raine nggak betah berpisah lama, begini aja, banyak banget yang mau misahin kalian, oh sayang Rena yang kuat ya menjalankan cobaan berat ini sayang, jangan pernah meragukan cinta Raine padamu ya nak." ucap Nindya yang sedang duduk mendekat di tempat tidur Rena dengan menciumi tangan Rena sambil menangis.
"Mom please jangan sedih lagi, Rena jadi ingin nangis hiks."
"Hmmmm Mommy Daddy, sudah lama kalian?" Raine akhirnya terbangun dengan penglihatan yang masih samar-samar akibat benturan yang berakibat mengucurnya darah segar dari keningnya.
Raine pun berusaha bangun untuk mencium mommy dan memeluk daddynya tapi dia hanya duduk di pinggir tempat tidur pasien karena merasa kepalanya masih nyeri.
"Sudahlah jangan terlalu dipaksakan Raine istirahatlah son," ucap Ian dengan menepuk bahu anak tertuanya yang begitu kuat menghadapi semuanya sendiri sebelum bertemu dengan paman kecilnya Dimitri.
"Mom sudahlah orang baik selalu mendapat pertolongan dari segala arah mom," ucap Raine menenangkan sambil memeluk erat mommynya yang sedang duduk diantara tempat tidur Raine dan Rena.
"Honey Raine, give me a hug too, i miss you, please don't hurt your self anymore." (Raine sayang, peluk aku juga, aku kangen, tolong jangan terluka lagi)
"Yes honey I Miss you too," Raine pun mencium kening Rena dan memeluknya walau hanya di wajah Rena saja, karena Rena dengan kondisinya tidak memungkinkan menggerakkan bagian tubuhnya yang bisa membuat perutnya akan tersentuh juga.
"Tadi mommy membawakanmu makan malam sayang, mommy akan menyuapimu."
"No mom biar aku yang menyuapinya karena Rena masih tidak bisa duduk, jadi aku akan melakukannya."
"Hmmm mom, Raine menyuapiku dengan bibirnya karena terakhir saat makanannya lembek makan akan tumpah kemana-mana."
"Ian kamu dengar itu satu lagi pasangan yang terlampau romantis disini apa kamu mau menyuapiku seperti Raine menyuapi Rena jika aku jatuh sakit dan tidak bisa menggerakkan anggota badanku suatu saat nanti?" Nindya pun ingin mendapatkan perlakuan yang sama seperti apa yang didapatkan Rena dari Raine.
"Sayang jangan ngomong kayak gitu kamu akan selalu sehat, agar bisa menemaniku sampai menua bersama Hmmm." Ian pun mencium kening Nindya mesra dan memeluk tubuh Nindya yang masih terduduk diantara tempat tidur Raine dan Rena.
__ADS_1
"Honey apa kamu mau cake yang dibawa mommy Hmmm?" ucap Raine.
"Yes please." jawab Rena
Rena yang masih tetap cantik meskipun tidak memakai makeup sama sekali ini memiliki wajah cantik alami yang tidak perlu takut terlihat jelek disaat-saat seperti ini. merah bibir alaminya membuatnya tidak perlu memakai lipstik karena memang tidak memungkinkan.
...Tok..tok..tok.....
...Cekk..klek.....
"Ehemm..selamat malam, Kak..maaf tadi Imi masih menerima panggilan penting jadi Ara ditinggalin." Ucap Ara dengan kecantikan alaminya yang tidak perlu juga memakai make up yang berarti untuk mendukung penampilannya sehari-hari.
"Malam sayang sini aku kenalkan dengan Raine dan Rena." ucap Nindya yang seperti punya anak perempuan lagi seumuran Ivi dan Rena tetapi memanggilnya kakak karena Imi mempunyai perbedaan umur yang sangat jauh dengan kakaknya Ian.
"Hai Raine ya, aku Ara..Rena haloo aku Ara..maafkan kami baru bisa bertemu kalian sekarang dan juga selamat atas pernikahan kalian."
"Hai Ara terimakasih sudah membantu dalam keberhasilan proses pernikahan kami yang penuh liku-liku," ucap Raine
"Hai Ara bisakah kau mendekat, honey bisakah kau menegakkan tempat tidurku karena kurasa luka jahitannya sudah sedikit berkurang sakitnya." ucap Rena
Ara pun mendekat dan memeluk Rena yang berbaring dengan sudah dalam posisi agak terduduk sehingga bisa melihat siapa saja yang berada di sana menjenguknya.
"Ara kau sangat cantik, beruntung uncle mendapatkanmu, kalian pasangan serasi."
"Kamu juga Rena, kamu juga sangat cantik, kalian pasangan yang diperebutkan dimana-mana sampai nyawa kalian menjadi taruhannya, aku sudah mendengar semua cerita dari kak Ian dan kak Nindya." ucap Ara sambil tersenyum sangat menawan.
1 jam kemudian..Imi pun datang..
"Kak, ini keadaan darurat aku Rasa kita harus memindahkan Raine dan Rena ke tempat yang lebih aman, karena keadaan genting sekarang! Raine sudah membuat king Mafia yaitu Agusto De Gonzales marah besar, karena cucunya Pevita De Gonzales yang mengejar cinta Raine jatuh ke tangan Oknum palsu yang ternyata pemain film "itu" dan menyiarkan film mereka di dunia maya tanpa ijin." Seru Dimitri yang keliatan panik, Dimitri harus meningkatkan keamanan pasangan pengantin baru itu agar tidak terjadi hal yang lebih fatal dan berujung kematian.
"Oh God Raine apalagi ini! aaahhhh!" Nindya shock dan jatuh pingsan.
"Momm No Momm."
...DEG...
To be continued
__ADS_1
Zeyenknya ippiiieee yuk sumbangsih zakat bonusnya untuk Raine dan Rena agar kuat menghadapi cobaan yang semakin berat ini mmmmmuuaaaahhh ❤️