
"Ahhh..Oh God sayang kita harus bergegas pergi dari sini pasti sniper utusan Agusto De Gonzales sudah mengepung RS ini dan mengira aku adalah Raine!"
"Ahhh kamu terluka Imi, tidaaaaak! Nooo Imiii, bahumu mengeluarkan darah.
Imi dengan cekatan melindungi tubuh kekasih cantiknya itu dan membawa masuk ke dalam kamar VVIP.
"Oh god Raine uncle berdarah Raine, do something, bagaimana bisa terjadi seperti ini, keadaan semakin kacau Raine, ini semua gara-gara kita, kita mengorbankan orang-orang tak bersalah.
"No Im okay Rena aku memakai Rompi anti peluru ini hanya goresan ringan yang akan segera sembuh, jadi tenanglah, jangan sampai mempengaruhi kondidi kesehatanmu." ujar Imi menenangkan.
*****
Atas ijin professor doktor yang bertindak sebagai penanggung jawab RS Harapan Jaya yaitu Prof Henry Vanderberg yang juga merupakan kenalan lama Dimitri sehingga Professor yang juga seumuran dengannya itu langsung mengijinkannya padahal kesehatan Rena tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.
Namun akan lebih berbahaya lagi apabila Rena harus tinggal lebih lama di rumah sakit itu.
"Boss kami sudah siap bertugas ditempat." Anggota Mafia Imi yang ditugaskan menyamar sebagai Rena dan Raine di kamar itu segera menggantikan posisi Rena untuk berbaring di tempat tidur pasien dan Rine di tempat tidur pasien di samping Rena.
"Mom kita harus segera pergi." ucap Raine pada Nindya yang pelan-pelan terbangun.
"Ayo sayang kita harus pergi hmmm, ayo kamu sudah kuat berjalan kan?" tanya Ian lagi.
"Imi coba lihat lukanya," ucap Ara dengan cekatan membuka baju Imi dan melihat bahunya yang terkena tembakan peluru yang membentur kulit rompi pelurunya ternyata masih membuat bagian dalam rompi yaitu kulit Imi turut tergores dan robek.
Ara yang memang sering terluka juga karena di siksa sudah terbiasa membereskan luka-lukanya sendiri, apabila luka-luka itu terletak di belakang punggung nanny yang membantunya mengobati luka-luka Ara selama ini. Saking terbiasanya Ara selalu membawa antiseptik lengkap dengan perban untuk mengobati luka bekas penyiksaan yang dilakukan ayah dan ibu tirinya.
__ADS_1
Poor Ara kebahagiaan akan selalu mengiringi langkahmu kelak bersama Imi.
"Apa sakit? mau di buat sembuh atau mau di buat makin sakit?" Ara pun menggodanya lagi.
"Andai aku hanya bersamamu Ara aku buat kamu tidak bisa berjalan saat ini juga," jawab Imi yang gemas dengan sikap kekasih cantiknya yang menggodanya dalam situasi seperti ini.
"Sudah sayang," Ara sudah memberi antiseptik dan menutupi luka itu dengan perban.
"Trimakasih my love.. CUP.." ucap Imi sambil memberi kecupan di bibir mungil kekasih cantiknya yang ingin dia ***** saking gemasnya.
"Ehemm..ehemm.. kita sudah siap uncle," Raine pun mengalihkan perhatian keduanya kala mengeluarkan suara deheman tanda menginterupsi keromantisan antara Ara dan Imi yang menjadikan tempat itu sebagai milik berdua sedangkan manusia yang lain cuman numpang lewat saja.
"Baiklah semua siap beraksi." Perintah Imi yang selanjutnya sudah lengkap dengan masker dan topi begitu pula Ara, Raine, Ian dan Nindya.
Sementara itu anak buah Agusto sudah berpencar menyebar untuk mencari tersangka utama yang membuat Pevita menjadi tergila-gila dan edan tak karuan sampai-sampai mengibaratkan orang lain sebagai sosok Raine saking tergila-gilanya.
Setelah 15 menit akhirnya rombongan Raine pun sampai di lobby dan bersiap untuk keluar dan bergegas pergi dari Rumah sakit itu.
"Tunggu kalian!" ucap salah satu petugas keamanan di Rs itu yang sepertinya merupakan salah satu anggota Agusto yang menyamar.
Imi yang cekatan segera menelpon Alberich untuk mengalihkan CCTV sementara waktu. Security yang menghalau jalannya pun di tendang kepala bagian belakanya dan di banting menggunakan kedua kakinya lalu di himpit dengan kedua kakinya tadi dan di patahkan lehernya kemudian security itu pun pingsan dalam posisi masih berada di antara himpitan kaki Imi.
Raine pun segera menyeret tubuh security gadungan itu dan di sembunyikan di antara lorong gedung di belakang lobby utama. Rombongan itu pun bergerak menuju mobil toyota Aphard hitam yang sudah menunggu untuk membawa mereka menuju ke bandara dengan pengamanan penuh.
Beruntung Rena sudah bisa terduduk dengan sandaran yang agak ditidurkan sehingga tidak perlu lagi menggunakan ambulance untuk membawanya.
__ADS_1
"Kita akan bersembunyi di pulau pribadi milik client ku untuk sementara sampai kondisi kita aman kembali, maaf kak Ian kita tidak bisa bersembunyi di pulau Richmound karena semua harta Richmound sudah dalam pengawasan Agusto jadi tidak mungkin bagi kita untuk bisa mengandalkan properti kita pribadi untuk sementara waktu sampai keadaan kondusif kembali."
2 Jam kemudian sampailah rombongan yang menyamar itu di bandara International Soekarno Hatta. Terlihat pramugari dan kru beserta awak kabin Private Jet Imi sudah di siap mengantar kepergian rombongan untuk memasuki private jet itu di koridor Boarding Pass.
"Silahkan Tuan Dimitri, beserta nona, Tuan Raine beserta Nona dan Tuan Ian beserta Nyonya menempati tempat duduk paskan sandaran kepala dan ertakan sabuk pengaman karena pesawat kita akan segera take off." Ucap pramugari A.
Setelah pesawat itu take off semua pun lega bahwa mara bahaya telah terlewati untuk sementara waktu. Raine yang membaringkan istri cantiknya di tempat tidur satu-satunya di private jet mewah yang 11 12 dengan milik Raine itu turut merasa tenang. Raine pun memasangkan cairan infus kembali dan di gantungkan di tiang dorong agar obat pemulihan luka Rena terdistribusi dengan sempurna ke tubuhnya. Selanjutnya Raine ikut berbaring untuk memberikan kenyamanan tiada tara untuk istri cantiknya itu.
Ian dan Nindya yang juga sudah terlelap. Sementara pasangan kekasih yang sedang di mabuk asmara itu saling bercengkrama kala kepala imi di tidurkan di paha ramping kekasih cantiknya dengan pelan-pelan mencoba memejamkan matanya karena terlalu lelah dan banyaknya pikiran.
"Tidurlah," ucap Ara sambil jari jemari kecilnya membelai rambut lebat Imi dan memainkan rambut itu hingga membuat si empunya rambut terlelap.Imipun tertidur dengan damai di paha Ara serasa hatinya pun aman karena Ara berada di sisinya dan tidak perlu minta ijin lagi untuk membawanya kemanapun Imi mau.
Karena Nindya telah mengancam akan melaporkan jejak kekerasan melalui hasil visum yang ditemukan di sekujur tubu Ara sehingga Frans dan Deborah tidak di perbolehkan menyentuh dan menyakiti Ara lagi untuk sampai Ara sendiri yang meminta kembali ke mansion durjana itu.
"Raine hmmm.. Raine aku takut,, hiks aku takut kalo suatu saat nanti, mafia itu akan menagkapmu dan akhirnya memaksamu menikahi Pevita, hiks," ucap Rena dengan ketidakberdayaanya.
"Hei mana Rena istri cantikku yang bar-bar siap menghujam semua wanita yang mendekatiku hmmm sayang sudahlah, itu tidak akan pernah terjadi hmmm, by the way sayang apa aku boleh menyesapnya aku sudah puasa 1 minggu apa kamu tega?"
To be continued..
...Zeyeng jangan lupa Votenya yang banyak karena Raine dan Rena sudah berada di rangking 3 Vote yeeeaaayyy Trimakasih atas sumbangsihnya...
__ADS_1