DOSEN TAMPAN PEMIKAT HATIKU

DOSEN TAMPAN PEMIKAT HATIKU
Penyulut Ketegangan


__ADS_3

Resort Paradise Island


Sementara itu pasangan lain yang sedang di mabuk cinta sedang bercengkrama di pinggir pantai sambil berjemur. Nindya dan Ian yang sudah mendapatkan kabar dari Jerman bahwa akan ada rapat penting yang hadiri oleh sang CEO membuat Ian dan Nindya harus segera bergegas angkat kaki dari pulau pribadi milik client Dimitri itu.


"Dimitri, Ara.. aku dan Ian harus segera balik ke Jerman terimakasih kamu sudah membereskan permasalahan keponakanmu Raine, aku sangat berterimakasih." Pamit Nindya dan juga Ian untuk kembali ke negara asal karena kesibukan Ian yang tidak bisa di ganggu gugat.


Nindya yang melihat Ara dan Imi sepertinya sudah menuntaskan kesalahpahaman kemarin ikut senang dan tersenyum lega. Mengingat tingkah adik iparnya yang terlalu badboy bisa saja suatu saat nanti membuat Ara meninggalkannya karena tak tahan dengan sifatnya itu.


"Oh, kakak buru-buru sekali, kak Nindya aku takut Imi akan semakin tebar pesona dengan wanita-wanita sexy di pulau ini, tolong kakak hukum dia, karena aku nggak bisa marah kalo sudah melihat senyumnya yang m ematikan mood marahku seketika." Curhat Ara yang di sahuti tawa renyah ke tiganya Nindya, Ian dan juga kekasih tampannya.


"Sayang Ara jangan minta kak Nindya menghukumku, karena kata-kata makian dari kak Nindya yang paling pedas sudah cukup membuat kepalaku pusing dibuatnya, aku nggak akan berpaling darimu sedikitpun percaya deh?" potong Imi  menghindarkan Nindya menghukumnya dengan kata-kata pedas senjata pamungkasnya yang bisa membuat Imi kehilangan arah.


"Dimitri jangan berani-berani kamu membuat Ara sedih, kalo tidak aku akan mengembalikannya ke Mansion Lefrandt biar kamu tau rasa!"


"Ampun kak jangan, no no aku janji gak akan cipika cipiki lagi ama wanita lain, I promise kak,"


"Aku pegang kata-katamu, jangan berjanji padaku, berjanjilah pada gadis cantik ini, jangan lagi-lagi membuatnya sakit hati!" Sarkas Nindya yang berkata dengan penuh ancaman pada adik iparnya yang badboy itu.


"Ahahaha tuh kan dia cuma takut ama kakak emang sih! cup makasih kak, hati-hati ya kak Ian jagain kak Nindya baik-baik, sampai ketemu lagi." Ara pun memberikan pelukan hangat dan kecupan di pipi kanan dan kiri Nindya sebagai salam perpisahan.

__ADS_1


"Siap akan kujaga istriku baik-baik tentu saja Ara, baiklah sampai ketemu lagi Dim,, jaga Ara baik-baik," pamit Ian pada keduanya. Sementara kedua pasangan separuh baya itu diantar oleh supir Catherine untuk menuju bandara dengan menaiki private jet milik Imi yang sudah disiapkan. Nindya dan Ian belum pamit pada Raine dan Rena karena mereka tahu anak sulungnya pasti sedang asyik meminta jatah pada Rena.


Sungguh orang tua yang sangat pengertian begitu mengerti akan situasi dan kondisi yang sedang terjadi di dalam kamar mewah Resort itu pastinya pergumulan itu tidak mungkin bisa di jeda.





"Hmmm mungkin bisa di coba nanti malam honey pokoknya jangan terlalu keras menusuknya nanti perutku tergoncang dan nyerinya kambuh lagi akibat getaran yang berlebihan," ucap Rena memberi sedikit angin segar kepada suaminya.


"Coba kita praktekkan sekarang Hmmm karena aku sudah tak tahan," ucap Raine sambil dengan sigap mengangkat tubuh mungil istri cantiknya itu ala bridal style menuju ke kamar mereka berdua.


Foreplay pun di berikan oleh Raine dengan terlebih dahulu merebahkan tubuh mungil istrinya yang hanya memakai dress pantai yang tipis dan transparan. Raine langsung menyerang bibir manis semanis madu milik istri cantiknya lalu turun dan menyantap hidangan pembuka yaitu dua tonjolan bukit kembar yang bentuknya sudah lumayan pas di genggaman tangan Raine.


Berbeda sekali saat pertama mencumbu Rena, ukuran bukit kembarnya begitu mungil hingga perlu perlakuan khusus sehingga ukurannya pun berkembang pesat setelah 7 bulan bersama. Ternyata tidak ada yang tidak mungkin kalo kita gigih berjuang dan kerja keras apa yang kita inginkan pun akan cepat dikabulkan oleh Tuhan.


Pergumulan pun berlanjut dengan tidak lupa Raine berputar-putar di sekitar bukit kembar dengan pucuk pink chery yang sudah menantang ingin di sesap karena bentuknya yang sudah tegang menuntut pertanggungjawaban dari sang penyulut ketegangan. Tanda sayang pun di sematkan sebagai bukti kepemilikan sang singa kelaparan yang seakan tidak ada kenyangnya padahal baru hidangan pembuka tapi kalap dan semangat pantang menyerangnya seperti sudah membuka hidangan utama yang lebih mempesona.

__ADS_1


Setelah mengabsen setiap detail hidangan pembuka dengan meninggalkan tanda sayang hingga turun sampai ke bawah bukit kembar yaitu perut dengan luka yang masih tertutup perban dengan perlakuan khusus tak luput Raine juga meninggalkan jejak kepemilikan disana.


Betapa dari ujung kepala hingga tangan Raine turut berkerja sama hingga membuat sang istri melenguh keras saking nikmatnya layanan special pakai telor dari Raine. Bagaikan menyantap hidangan nasi goreng special dengan tambahan telor mata sapi diatas hidangan itu. Lenguhan yang sempat tertahan pun akhirnya lolos dari bibir pink kemerahan alami itu saat Raine sudah menyantap hidangan utama yang sebelumnya lembab menjadi basah hingga banjir tanda apem milik istri cantiknya itu menuntut perlakuan lebih.


Raine bermain lama di hidangan utama yang tetap nampak lezat walau sudah rimbun karena hutan yang lama tidak di tengok akhirnya di tumbuhi tanaman liar yang membutuhkan perlakuan ekstra agar basah sempurna.


Perlahan tapi pasti anaconda pun di hunuskan ke dalam belahan apem yang sudah banjir namun terasa sempit dan ketat karena terlalu lama tidak di jenguk oleh sang pemilik belahan apem. Lenguhan keras pun terpaksa lolos dari bibir mungil istri cantiknya itu karena kerinduan si apem yang tidak pernah di jenguk oleh anaconda membuat saluranya agak sempit dan sesak. Pinggul dan pinggang Raine pun akhirnya di gerakkan maju mundur cantik berulang-ulang saat si anaconda sudah masuk di peraduan.


"Awwwww jangan cepat-cepat honey, ishhh pelan awww," Ucap Rena kala luka di perutnya terasa perih saat Raine yang menghujam apem istrinya dengan kekuatan penuh saking semangatnya hingga terlupa bahwa ada bekas luka tusuk yang harus di perhatikan oleh Raine.


"Ssshhhh saking kencangnya hujamanku membuat perutmu bergerak dan tergoncang im sorry my lovely wife its not gonna happen again i promise, hmmmppfhh," jawab Raine dengan mengalihkan kesakitan istri cantiknya dengan menyerang bukit kembar dengan pucuk pink cherry nan menggemaskan milik istri cantiknya itu.


Raine berjuang sendiri mendaki puncak kenikmatan setinggi gunung himalaya karena Rena yang hanya terlentang tidak bisa berbuat apa-apa. Namun tetap merasakan nikmat yang tiada tara sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Setelah 1 jam berperang nikmat keduanya pun mendapatkan pelepasannya masing-masing dengan teriakan kencang sampai membuat Imi dan Ara terkaget-kaget dan menghampiri kamar keduanya bersama-sama.


Tok..tok..tok..


To be continued..

__ADS_1


Yuk ramaikan coment di bab ini jangan lupa like dan rate 5


__ADS_2