
Setelah menuntaskan kesalah pahaman Ara dan Imi pun berjalan kembali ke arah Resort sambil Imi menggandeng mesra tangan kekasih cantiknya itu sebagai pengakuannya kepada tiap lelaki di pantai itu agar tidak lagi melirik dan menggoda kekasih cantiknya yang memang sejak pagi bebas berjalan kesana kemari sendiri seperti tidak ada yang memiliki.
"Kenapa sekarang tingkahmu aneh sekali Imi?" tanya Ara dengan menengadahkan kepalanya karena tinggi Ara yang hanya setinggi dada Imi, melihat wajah garang kekasih tampannya yang masih saja suka mengerutkan keningnya sehingga kedua alis indahnya hampir tersambung sempurna membuatnya terlihat semakin garang.
"Bagaimana tidak, sepertinya mata pria-pria di pinggiran pantai ini seakan lapar ingin membawamu pergi dari sini," jawab Imi tegas sambil makin mengeratkan genggaman tangannya agar Ara tidak pergi dari sisinya.
"Ahahhaha, jadi kamu cemburu?" tanya Ara dengan perut yang sudah di penuhi kupu-kupu saking senangnya mendengar sang kekasih yang lambat laun menyadari keposesifannya.
"Aku tidak tahu perasaan apa ini, yang pasti aku ingin segera membawamu pergi dari pantai ini, karena tidak tahan melihat tatapan lapar para pria itu. rasanya aku ingin mencongkel mata mereka satu persatu dan ku kuliti tubuh mereka lalu ku lempar ke tengah laut agar jasadnya di makan oleh hiu pemangsa manusia."
"Berhentilah sebentar, menunduklah agar tanganku bisa meraih wajahmu, jangan lagi mengerutkan kening begini, seperti ini..cup..cup jangan berkerut lagi ya keningnya Imi nanti kamu cepat kelihatan seperti kakek-kakek tua," ucap Ara pada kening Imi sampai menghentikan langkahnya agar membuat kening Imi tidak berkerut lalu mencium kening dan mata Imi merata hingga sekelilingnya agar rileks tidak keriput.
"Kamu menyindirku? apa aku sudah terlihat seperti kakek-kakek?" tanya Imi memastikan.
"No kamu sangat tampan dan muda aku bilang nanti lama kelamaan kalo terlalu sering mengerutkan kening nanti kamu akan terlihat seperti kakek kakek mengerti?"
"Hei berarti gadis cantik inilah yang harus di salahkan kenapa dalam waktu 1 tahun terakhir ini keningku seringkali berkerut gara-gara dia seorang."
"Oh ya? jadi aku yang salah, baiklah kan tadi sudah aku beri kecupan hangat di permukaan kening kamu sebagai permintaan maaf."
"Hih enak aja kurang banyak dan lama, yuk kita lanjutkan di dalam."
Imi mengaitkan jari jemarinya ke jari jemari kekasih cantiknya itu dan berjalan beriringan menuju ke kamarnya di dalam Resort itu.
__ADS_1
30 menit kemudian sampailah keduanya di dalam Resort mewah yang khusus di persiapkan Catherine untuk Imi dan kerabatnya.
Imi dengan cepat menggendong tubuh mungil Ara ala bridal style dan mengangkat tubuh itu menuju kekamar utama.
Lalu dengan pelan Imi merebahkan tubuh menggoda Ara yang berbalut bikini sexy namun tertutup kain pantainya yang Ara kaitkan ke pinggangya. Segera imi lepaskan tali pengait kain pantai yang membungkus sempurna kaki jenjang Ara itu. Mata keduanya pun berubah sayu kala Imi melepaskan kain yang menutupi bikini two piece yang membuat kecantikan dan kemolekan tubuh Ara semakin terpancar.
"Boleh?" tanya Imi meminta ijin kekasih cantiknya itu untuk meminta hal yang lebih dari sekedar berciuman.
Ara pun menganggukkan kepalanya lantas menarik tangan Imi agar melakukan apa yang dia mau di mulai dari kain penutup bagian bawah perutnya. Imi pun melepaskan two piece bikini yang menempel di antara kaki jenjang Ara untuk memberikan pelayanan ekstra pada apem milik Ara yang semakin membuat Imi menelan ludahnya kasar.
GLEG
Geli bercampur nikmat kala Imi dengan kumis tipisnya melakukan sesuatu pada belahan apemnya yang membuat Ara merasakan nikmat yang tiada tara sekaligus ingin tertawa karena merasakan nikmat tiada tara bercampur rasa geli karena kumis tipis yang menempel pada belahan apem yang sekarang sudah basah jadi semakin membuat Ara gemas dan semakin membenamkan wajah Imi serta menjambak rambut lebat kekasih tampannya itu agar semakin masuk kedalam diantara kaki jenjangnya.
"Sini, oh kasiannya, wajahmu sampai belepotan sayang, liat nih kamu suka sekai sih bermain di bawah sana? apa yang diatas kurang menarik? hmmmppfhh," ucap Ara yang dengan sigap menciumi wajah tampan kekasihnya karena bibir dan kumisnya yang sudah belepotan akibat bermain lama dengan belahan apem miliknya yang basah kuyup yang sukses membuatnya menegang sekian lama.
BLUSH
Wajah Imi seketika tersipu malu karena Ara akhirnya memanggilnya sayang membuatnya semakin melayang. Kemudian Imi pun bersiap membuka kain penutup elangnya yang sudah menyesak meminta pertanggungjawaban.
Namun saat elang itu hendak di hujamkan tiba..tiba Imi dan Ara mendengar teriakan keras seperti suara Raine dan Rena dari kamar sebelah. Seketika elang itu pun berubah bentuk menjadi kutilang saking kencangnya teriakan itu.
Oh god kekacauan apalagi yang dilakukan keponakanku satu itu ya tuhan
__ADS_1
Batin Imi begejolak.
Imi pun segera memakaikan kemeja besarnya untuk menutupi tubuh indah kekasih cantiknya itu lalu mengajaknya serta melihat keadaan Raine dan Rena yang sedang dalam mara bahaya pikirnya.
Tok..tok..tok..
Cek..klek..
"Raine Rena..ada apa kenapa kalian teriak begitu keras, apa terjadi sesuatu?" Teriak Imi saat Raine dengan santainya membukakan pintu kamar itu dengan sudah memakai bathrobe dan rambut yang acak-acakan sambil wajahnya yang memerah tersipu malu seperti kepergok melakukan perselingkuhan karena saking nikmatnya pergumulan dirinya dengan sang istri sampai-sampai serempak berteriak begitu kerasnya alhasil membuat tetangga kamarnya pun terkejut bukan main dan terparanjat sehingga kegiatan enak-enak pun tidak jadi dilakukan karena teriakan tetangga yang berhasil memekakkan telinga.
"Ahahhahaha maafkan aku uncle aku sedang menuntut hakku kepada istriku," ucapnya dengan tersenyum polos tanpa dosa serta menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Argghhh sial!" Imi pun mengumpat mengusap wajahnya kasar berbalik dan seketika memeluk erat tubuh mungil kekasih cantiknya di hadapan keponakan tak tau diri itu saat menyadari bahwa teriakan tadi adalah teriakan saat Raine dan Rena mendapatkan pelepasannya.
Kemudian Imi pun pergi meninggalkan Raine yang masih tersipu tanpa mengucapkan sepatah kata pun saking geramnya.
"Uncle kan bisa juga mempraktekannya dengan Ara aku janji nggak akan mengganggu kenyamanan kalian berdua!" Teriak Raine menyemangati Imi.dengan tawa.
Dasar ponakan kurang ajar nggak bisa ya membiarkanku bahagia sedikit saja, arggggh!!
To be continued..
Hai zeyengnya ippii semua ayoo sedekah bunga vote dan juga like coment yang banyak di tunggu mmmuuaahh
__ADS_1