
"Lo Abi Ama Melly kalian?"
Tanya ibunda Abdul terheran-heran dengan kemesraan keduanya Karena sebelumnya Melly begitu tegas menolak Abdul.
...DEG...
"Ibu?"
Abdul pun kaget melihat kehadiran ibundanya dengan membawa berkotak-kotak makanan untuk persediaan di kulkas nya agar sewaktu-waktu kalo malas makan di luar Abdul tinggal memanaskan masakan ibunya saja.
"Tante."
Melly yang langsung beranjak dari sofa tempat mereka bermesraan tadi lalu mencium tangan ibunda Abdul dan memeluknya erat.
"Sayang kalian?"
Ibu Abdul pun tersenyum melihat tingkah keduanya, dan menanyakan apa mereka sudah berpacaran kepada Melly.
"Iya Bu aku baru di terima kemaren, jadi belum sempat bilang ke ibu."
Jawab Abdul tenang karena memang ibunya lah yang mendorong Abdul untuk melakukan pendekatan kepada Melly walau Melly terus-menerus menolak.
"Selamat ya sayang Tante senang sekali, Kenapa tidak bilang tau gitu kita rayakan, tadi malam Tante berpisah dengan mama sama papa kamu setelah acara di puncak."
"Makasih Tante."
Melly menjawab ucapan selamat dari Rima dengan tersenyum dan menundukkan kepalanya. Lalu Rima pun menarik tangan Melly untuk menjauhi Abdul agar Melly menceritakan lebih detail bagaimana akhirnya Melly mau menerima anaknya.
"Ceritain dong ke Tante gimana cara dia merayu kamu? jangan-jangan kamu dipaksa sama Abi?"
Tanya Rima penasaran.
"Hehehe sebenarnya Melly juga suka sama kak abi, tapi Melly gengsi abisnya cewek kak abi banyak banget, Kirana lah, Vony lah masih banyak lagi. Kebanyakan ceweknya, jadi Melly ill feel Tante."
"Kalo itu sih masa lalu nya sayang toh dia ingin serius sama kamu dan selama satu bulan ini kan dia gencar ngejar kamu terus. Tunggu-tunggu jadi kamu mengira kalo Abi masih punya pacar begitu, saat Abi mulai berkirim pesan pertama kali?"
"Iya Tante, abis gimana dong siapa yang kasih tau Melly kalo kak abi udah jomblo, kan Melly gak punya agen rahasia?"
Melly balik bertanya kepada Rima.
"Hahahaha kamu lucu sekali sih, jadi kemaren kalian jadiannya dimana?"
Rima masih dengan sejuta pertanyaannya saking penasarannya dan masih tidak percaya kalo Abdul akhirnya berhasil membuat Melly menjadi calon menantunya.
"Kemaren kak abi sempat ke rumah sepertinya, padahal Melly udah kasih uang tutup mulut ke tata agar tidak membocorkan keberadaan Melly, eh kak abi kayaknya ngasih tips lebih besar ke tata, emang dasar kecil-kecil mata duitan tu anak, yah akhirnya kita ketemuan deh di perpustakaan kampus, begitulah Melly akhirnya bertekuk-lutut menerimanya."
Ibunda Abdul sangat senang akhirnya Abdul dan Melly menjadi sepasang kekasih. hal yang sangat di harapkan olehnya dan juga mama dan papa Melly tentunya.
__ADS_1
"Oh ya Bu tapi jangan bilang orang tua Melly klo Melly menginap disini masalahnya kemaren Melly ijinya bermalam di rumah temanya bukan di appartment ku."
Abdul menyela percakapan seru Melly dan Rima, karena takut nanti Melly kena marah kalo sampai ketahuan Melly menginap di appartment nya tanpa ijin.
"Ahahahaha takut langsung dikawinkan ya? tenang ibu tau kok, ya sudah ibu langsung balik ya, ibu gak mau mengganggu pasangan baru yang lagi lengket-lengketnya ini Hmmm."
Ibunda Abdul yang dari tadi memperhatikan leher dan dada Melly yang tidak sengaja terlihat banyak tanda cinta disana, korban keganasan anak laki-laki nya itu, hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bye sayang, tinggalin aja Abi kalo nakal-nakal biar tau rasa!"
Ibu Abdul pamit dan tidak lupa memeluk lagi bakal calon menantunya itu.
"Siappp Tante!"
Melly menjawab dan mengantar kepergian ibu Abdul sampai pintu appartment itu.
"Kak, beneran Tante Rima gak apa-apa? aku takut nanti kakak di marahi."
Tanya Melly sambil mendekati Abdul yang sedang memasukkan makanan yang di bawakan Rima tadi kedalam kulkas mewahnya.
"Ahahahaha marahnya paling karena ini ini dan juga ini."
Abdul menunjuk tanda cinta yang terlihat oleh ibunda Abdul tadi.
"Aarghh jadi Tante tahu?"
"Nih lihat telinga kakak gimana bentuknya?"
Ternyata tadi ibunda Abdul menarik telinganya lama karena tidak sengaja terlihat olehnya bentol bentol mengelilingi dada dan leher kekasih cantiknya.
"Ooh kasihan cup cup cup, mmmuuuahh"
Melly menciumi telinga Abdul yang merah dan duduk di pangkuan Abdul. Lalu senjata Abdul pun seketika berdiri.
"Hmmm, sayang jangan menggodaku please, si junior bisa mengamuk lagi nanti."
Usaha Abdul yang sudah setengah mati mengendalikan agar adiknya tidak terbangun lagi ternyata sia-sia. Kekasih cantiknya itu malah menggodanya lagi dan lagi.
"Kakak kalo kita bawaanya dua-duaan aja pasti kerjaannya ya begini. Terus mau ngapain nonton udah makan udah, tugas kuliah juga lagi libur panjang. Makanya jangan dua duaan yang ketiga namanya setan belang. Ya udah sekalian aja setannya lebih berkuasa sekarang, hmmmmppffhhhh."
Setelah berucap sejenak, Melly pun menyerang bibir Abdul yang sudah menggodanya dari tadi. Abdul pun membalas Melly dengan serangan yang tak kalah panas. Lalu Abdul mengangkat tubuh Melly ke tempat tidur king size nya ala bridal style.
...Gawat nih gadisku sudah mulai doyan rupanya...
Abdul membuang sembarang baju mereka berdua. Perang lidah pun tidak bisa dihindarkan. Kepala Abdul mulai menelusuri setiap jengkal lekukan tubuh kekasih cantiknya, yang mulus dan menggairahkan itu. Kepalanya berdiam lama di bukit kembar idola kaum pria di seluruh dunia, yang sudah menantang ingin di *****.
Melly yang sudah pasrah dengan mata yang sudah sayu, di selimuti kabut gelora asmara yang membabi-buta.
__ADS_1
...Ternyata seperti ini nikmatnya...
Lalu
"Kriiinngg"
Telepon Melly berbunyi.
"Sshhhh kak kenapa berhenti."
Saat Abdul masih betah dengan kepalanya masih di benamkan di lembah lembab milik Melly suara telepon Melly berdering.
"Telepon kamu berdering sayang."
Jawab Abdul yang dengan mengangkat kepalanya.
"Sshhh biarin."
Melly menjawab Abdul sambil mematikan ponselnya agar tidak menggangu kegiatan enak-enak nya lagi. Kepala Abdul pun di tariknya lagi dan di benamkan di antara kedua kaki jenjangnya,
"Sayang boleh gak di masukkan? si junior udah gak bisa nahan terlalu lama."
Ijin Abdul untuk memasuki lembah basah senikmat surga milik Melly.
"Sshh tapi punya kakak gede banget bisa muat kan? ini pertama kalinya, pelan-pelan ya?"
Jawab Melly yang ingin menyudahi tapi sudah terlanjur penasaran yah di lanjutkan saja pikirnya.
"Sayang Milikmu nantinya adalah jalan lahir bayi-bayi kita jadi segede apa pun miliku masih gede kepala bayi kita nanti, jadi pasti muat."
...Cieee bayi kita...
"Relaks ya santai Hmmm, ini udah basah kok, sssshhh."
Abdul membuat Melly lebih rileks sebelum rudalnya di masukkan.
dan..
"Kriingg"
"Ups..sayang mama kamu menelpon."
"Hah kok bisa telpon kakak."
...DEG...
Gak jadi lagi deh🤣
__ADS_1
Vote sekebon dan bunga setaman nya jangan lupa mmmmmuuaaaahhh ❤️