
Setelah makan siang, Levi kembali mengajar dan Silla membantu Zella mempersiapkan First Opening. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan Zella langsung membersihkan dirinya.
"Silla, mandi disini aja sekalian. Pake baju2 aku nih." Zella membukakan lemarinya dan Silla memilih baju.
Silla bergegas mandi dan terdengar pintu kamar Zella diketuk.
"Ada apa kak?" tanya Zella setelah pintu kamarnya terbuka.
"Dicariin tuh." Azel menunjukkan tangannya ke bawah. "Gak bilang2 ih punya gebetan baru." Azel mencubit hidung adiknya.
"Bukan kaaaaak." ucap Zella turun dan diikuti kakaknya.
Sesampainya di bawah, Leon yang sudah duduk di samping Reza tersenyum ke arah Zella.
"Aku ajak Reza gak papa kan?" tanya Leon
"Gak papa kak," jawab Zella.
Tanpa menunggu lama, setelah Silla bergabung acara pun dimulai. Sesuai permintaan Zella, sesederhana mungkin dan tidak perlu banyak membuang waktu.
Setelah acara pembukaan selesai, yang hadir langsung menikmati jamuan yang sudah dipesan Azel.
Dari kejauhan, tampak mobil Levi mendekat ke depan Ruko Zella. Azel pun langsung menyambutnya.
"Baru kelar ngajar ya bro." tanya Azel sambil menepuk bahu Levi.
"Iya Bang, sorry telat." jawab Levi mulai mengedarkan pandang mencari Zella.
"Gak papa, langsung gabung aja yuk." ajak Azel.
Tangan Levi mengepal melihat posisi Zella yang sangat dekat dengan Leon. Zella juga masih dengan style nya mengikat rambutnya agak tinggi.
Levi mendekati Zella dan memberi selamat.
"Selamat." ucap Levi singkat.
"Thanks pak Levi." jawab Zella.
Leon mengambil kesempatan membuat dosennya cemburu. "Yang ini enak banget, Zell. Cobain deh." Ia memotong cheese cake dan menyuapkan ke Zella.
Zella yang tidak sempat mengelak, menerima suapan Leon. Dan benar dugaan Leon, dosennya langsung menjauh dan duduk di dekat Azel dan papa Zella.
Sedangkan Reza sudah dari awal terus mendekati Silla.
"Kayaknya bentar lagi bakal ada yang jadian nih." ucap Leon pada Zella.
"Siapa?" tanya Zella.
"Liat aja tuuuh." Leon menunjuk ke tempat Reza dan Silla. Zella pun mengangguk dan tersenyum.
"Kayaknya Silla juga suka deh." ucap Zella.
__ADS_1
"Gimana kalo kita comblangin." ajak Leon yang tiba-tiba merangkul bahu Zella.
Zella yang merasa Leon semakin berani pun sedikit menjauh dan melepaskan tangan Leon. "Kak Leon, jangan modus deh."
"Sorry Zell. Kelepasan. Beneran gak sengaja."
"Kebiasaan ngerangkul cewek pasti yaaa." ledek Zella.
"Dia gak pernah deket ama cewek Zell. Dari semester awal juga jalan sama aku terus." ucap Reza yang berjalan ke arah Zella dan Leon.
Levi yang mendengarkan papa Green bercerita makin geram melihat Leon merangkul Zella. Azel langsung paham dengan gelagat Levi pun hanya tersenyum.
"Ternyata baru seminggu udah bikin 2 orang berseteru aja nih Zella." batin Azel.
"Nak Levi," panggil papa Green.
"Iya om." jawab Levi.
"Saya titip Zella ya. Sebenarnya saya risau meninggalkan dia sendiri di sini." pinta papa Green.
"Baik om," jawab Levi.
"Panggil papa, seperti Silla memanggil saya." ucap papa Green.
"Sepertinya saya dan Azel harus segera kembali ke BSD. Masih banyak yang harus dikerjakan disana." ucap papa Green.
Levi mengangguk dan papa Green menemui Zella untuk berpamitan.
Levi hanya tersenyum mendengar ledekan Levi. Tampak Zella memeluk papanya seperti tidak ingin ditinggalkan. Kemudian bergantian memeluk kakaknya.
"Ayo sekarang kita foto dulu." ajak Azel. "Levi, sini." Levi pun mendekat ke arah Azel.
Setelah dirasa siap, salah satu karyawan Zella bergantian mengambil gambar. Selesai mengambil gambar, papa Green dan Azel langsung pulang.
Reza dan Leon pun undur diri karena ada jadwal futsal. Sedangkan Levi dan Silla masih ada di ruko Zella.
"Silla dan pak Levi bisa langsung pulang kok. Nanti saya sama karyawan aja yang beresin semuanya." ucap Zella.
"Ngusir niiih ceritanya." gurau Silla.
"Saya bantu dulu sampai beres baru pulang." ucap Levi merapikan kursi dan meja.
Zella merasa tak enak hati melihat dosennya turun tangan pun pergi ke pantry membuatkan minuman.
Setelah dirasa beres, Levi dan Silla duduk berdampingan. Sedangkan 4 karyawan Zella bersiap-siap pulang.
"Pak Levi, silahkan diminum coklat hangatnya." Zella menyajikan pada Levi.
"Nih alpukat delight ala aku, La. Cicipin deh." Zella memberikan minuman pada Silla. Tak lupa Zella memberikan pada karyawannya juga yang ditaruh dalam botol kemasan.
Karyawan Zella pun berpamitan pulang. Levi meminum coklat hangat dari Zella dan tersenyum. "Rasanya beda dengan yang biasa dijual di cafe. Coklat hangat punya Zella memiliki cita rasa tersendiri." batin Levi.
__ADS_1
"Gak enak ya pak? Itu racikan sendiri soalnya." jelas Zella.
"Lumayan." jawab Levi datar.
"Alpukatnya enak banget loh Zell. Cita rasanya beda banget." puji Silla.
"Pak Levi mau cobain alpukatnya?" tanya Zella.
.
"Boleh." jawab Levi dan Zella mengambilkan untuk Levi.
Levi mengikuti Zella dan menanyakan letak toilet. Saat Zella menuangkan alpukat delight untuk Levi, ikatan rambutnya ditarik pelan dan membuat rambutnya terurai.
Zella yang terkejut langsung berbalik dan melihat Levi sudah ada di hadapannya.
"Saya tidak suka." ucap Levi datar dan mengambil gelas yang dipegang Zella langsung meminumnya.
"Ini style saya Pak Levi." ucap Zella mencoba menghindar tetapi Levi menahannya.
"Papamu menitipkanmu pada saya, menurutlah!" ucap Levi tegas.
"Saya bukan barang titipan dan Pak Levi bukan tempat penitipan barang." ucap Zella yang sedikit berdebar karena dia dan Levi sudah tak berjarak.
Levi semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Zella dan membuat Zella memejamkan matanya.
"Terserah." bisik Levi ditelinga Zella dan lagi lagi membuat Zella meremang.
Ia langsung membuka matanya dan Levi meninggalkan Zella dengan membawa alpulat delight buatan Zella.
Jam dinding di ruko Zella berdenting menunjukkan jam 7 malam. Levi dan Silla pun berpamitan pulang.
Setelah menutup pintu dan memastikan aman, Zella langsung naik ke lantai 3 dan merebahkan tubuhnya.
POV Zella
"Aku terkadang bingung dengan sikap Pak Levi. Sikap dingin dan ketusnya selalu membuat aku salah tingkah. Dan sejak awal Pak Levi menabrakku, kenapa dadaku selalu berdebar-debar ya?" Tanya Zella pada dirinya sendiri.
"Gak, gak boleh Zella. Kamu harus fokus kuliah. Jangan mikirin hal-hal aneh." Zella menepuk-nepuk pipinya dan menutup kepalanya dengan bantal.
Kembali bayangan Pak Levi hadir dalam benaknya. "Oh My God. Masa iya sih aku jatuh cinta?"batin Zella. "Ayolah Zellaaaa. Jangan mikirin dosen gila terus!"
Ponsel Zella pun berdering dan muncul nomor tak dikenal di layar ponselnya. Zella pun mengangkatnya dan terdengar suara Levi diujung panggilan.
"Saya sudah sampai di rumah. Saya sudah cek jadwal kuliahmu untuk besok. Jam 8 harus sudah sampai di ruangan saya dan jangan terlambat!" ucap Levi langsung mematikan panggilan secara sepihak.
"Dasar dosen gilaaaaa! Aku gak bakal jatuh cinta sama orang gila." umpat Zella melempar ponselnya ke atas bantal. Tak lama kemudian Zella pun tertidur.
Pembaca tercinta, mohon dukungannya ya untuk novel ini.
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan Like, Coment (Kritik dan Saran yang membangun), Favorit, dan Vote ya.
__ADS_1
Terima kasih.