Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 40


__ADS_3

Renata langsung ke tempat pemuda yang disuruhnya untuk melecehkan Zella.


"Kalian bodoh!" umpat Renata. "Tugas yang aku berikán sangat mudah dan sangat menguntungkan kalian. Dia sudah kuberi obat sakit perut agar kalian makin mudah melecehkan. Tapi masih saja gagal." ucap Renata kesal.


"Kau tidak lihat bagaimana kami babak belur seperti ini? Beruntung saja kami bisa melarikan diri." ucap salah satu pemuda yang sebagai bosnya. "Sekarang cepat beri kami bayaran seperti yang sudah kau janjikan."


"Baiklah, sini aku foto dulu sebagai laporan bahwa aku sudah menangkap kalian. Jadi kalian tidak akan diburu oleh polisi." ucap Renata.


Kedua pemuda tersebut berpose seolah-olah sudah tertangkap oleh perangkat Desa setempat.


"Ini bayaran kerja kalian hari ini." Renata menyodorkan amplop dan bos pemuda tadi langsung menghitungnya.


"Ini masih kurang dan tidak sesuai perjanjian."


"Aku akan membayarnya jika kalian sudah berhasil melecehkan wanita yang tadi." ucap Renata pergi meninggalkan pemuda suruhannya.


Tapi dengan sigap pemuda tersebut menghalangi Renata keluar dari tempatnya. "Kalau begitu, kau harus menggantikan nona tadi untuk memuaskan hasrat kami yang sudah membara."


"Jangan kurang ajar kalian ya." gertak Renata sedikit ketakutan.


Bos Pemuda itu langsung menggendong Renata dan memasukkannya ke kamar. Sedangkan pemuda yang satunya mencari tali untuk mengikat Renata.


Renata terus meronta-ronta dalam gendongan dan memukul punggung pemuda itu. Dengan cepat Renata dihempaskan ke atas tempat tidur. Tangannya langsung diikat pada setiap ujung tempat tidur.


"Kumohon, jangan lakukan ini pada ku. Aku akan membayar kalian sesuai dengan perjanjian awal." ucap Renata terus meronta.


"Keluarkan uangnya Sekarang!" perintah bos pemuda.


"Aku akan mentransfernya. Aku tidak bawa uang cash. Lepaskan dulu tangan ku." pinta Renata.


"Periksa uang di dalam tasnya!" perintah Bosnya. Dan pemuda itu memeriksa isi dalam tas Renata. Setelah mendapatkan sepuluh lembar uang seratus ribuan yang tersisa di tas Renata, Bos itu berdecih.


"Aku akan menikmatimu dulu, baru melepas kan tanganmu. Kenalkan, namaku Bang Usep. Panggil namaku saat bercinta dengan ku." perintah Usep selaku bosnya.


Anak buahnya sudah siap memegang kamera untuk merekam aksi Bosnya tersebut.


"Kumohon jangan lakukan itu padaku." pinta Renata mulai terisak.


Usep tidak menghiraukan tangisan Renata, ia mulai membuka kancing baju Renata dan melepaskan ikatan bra merah milik Renata. Terlihat gundukan Renata yang menyembul dari balik branya membuat air liur Bang Usep hampir menetes.


"Tubuhmu sangat indah dan menggiurkan Nona." ucap Bang Usep mulai meraba gundukan Renata dan meremasnya pelan.

__ADS_1


"Aaaaaah," erang Renata mulai merasa kan sensasi nikmat. "Jangaaaaan Bang. Aaaaaah."


Bang Usep langsung memelintir p*t*ng gundukan Renata yang sudah mulai menegang membuat Renata makin mendesah.


"Kau menikmati juga Ternyata. Dasar j*l*ng." ucap Bang Usep mulai memainkan bibirnya di gundukan Renata. Ia mulai menggigit p*t*ng Renata sampai membuat Renata kesakitan.


"Sakit, Bang." keluh Renata.


"Panggil namaku dan akan kuberi servis yang lembut." ucap Bang Usep dan Renata mulai memanggil Nama Bang Usep.


Kini Bang Usep meny*s* seperti bayi yang kehausan sambil Tangannya membuka celana Renata dan bermain disana membuat Renata menggelinjang nikmat.


"Bos, bisa gantian gak? Saya udah gak tahan." ucap pemuda yang membawa kamera. Dan merekam Renata lebih dekat.


Kini Renata harus melayani Dua orang pemuda suruhan ya secara bergantian sampai lemas. Setelah Bang Usep dan anak buahnya puas, ikatan Renata pun dilepaskan.


"Ternyata nona yang ini sudah gak perawan ya bos." ucap anak buah Usep. "Tapi tetap enak."


Renata yang sudah lemas mengambili pakaiannya yang berserakan dan kembali ke Villa. Ia mengendarai mobilnya pelan dan Sesampainya di Villa, ia langsung ke kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan kesal karena Zella belum masuk dalam perangkapnya.


"Tak ku sangka, Zella pintar beladiri ternyata. Mengapa dia tidak pernah cerita tentang dirinya?" batin Renata. "Aku tidak akan kalah dengan bocah ingusan seperti dia."


Sesampainya di rumah sakit, Renata tidak menemukan Levi karena ia mengantarkan Silla dan Nay pulang. Sedangkan dilihatnya Zella terbaring sendiri di ruangannya tanpa ada yang menunggu.


Renata mengirim pesan pada Silla dan menanyakan keberadaanya. Silla langsung mengabarkan bahwa dirinya dan Nay sudah pulang diantar Levi.


"Aku kira Levi sangat mencintaimu, Zella. Ternyata ia meninggalkan dirimu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melenyapkanmu, Zella." gumam Renata masuk ke ruangan Zella.


Renata langsung mencoba melepas alat bantu nafas Zella. Setelah alat bantu nafas Zella terlepas, ia mencoba menghambat infus Zella. Belum sempat ia melakukan aksi keduanya, pintu kamar mandi di ruangan Zella terbuka.


Renata langsung memasang kembali alat bantu nafas Zella dan menoleh ke pintu kamar mandi. "Azel." Panggil Renata. "Benarkah kau Azel?" Renata memastikan.


"Eh, Hai Ren. Apá kabar?" tanya Azel.


"Baik. Bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Renata yang masih terkejut dengan keberadaan Azel.


"Dia adik kesayanganku." jawab Azel menunjuk ke arah Zella membuat Renata makin terkejut.


Dulu, Renata selalu mengejar-ngejar Azel secara terang-terangan. Tapi ia menyerah setelah Richard mengajaknya berkencan. Meskipun sudah menjalin hubungan dengan Richard, Renata masih mengharapkan Azel untuk mencintainya.


Pertemuannya dengan Azel, kini membuat hatinya bimbang. Akankah ia terus mengejar Levi atau kembali mengejar cinta lamanya saat di Jerman.

__ADS_1


"Kau mengajar Zella di kampus?" tanya Azel membuyarkan lamunan Renata.


"Iya. Dia mahasiswiku." jawab Renata. "Kau sudah menikah? Lama tak bertemu membuatmu makin tampan di mataku."


"Aku belum menikah, Bagaimana denganmu?" tanya Azel balik.


"Sama, aku juga belum menikah. Masih bisakah aku berharap kau membalas perasaanku, Azel?"


"Kukira kau sudah melupakannya sejak bersama Richard." jawab Azel santai.


"Dia hanya pelampiasanku karena kau selalu menolak perasaanku." jelas Renata membuat Zella membuka matanya.


Melihat Zella membuka matanya, Azel langsung menanyakan keadaan adiknya.


"Kau sudah bisa berjalan Kak?" tanya Zella terharu melihat kakaknya sudah pulih seperti sedia kala.


"Seperti yang kau lihat. Aku merindukanmu, Zella." ucap Azel memeluk adiknya.


Kini Renata makin di buat bingung dengan keadaan. Dua pria yang dicintainya memiliki ikatan dengan Zella, wanita yang sangat ingin dilenyapkannya.


"Apá yang terjadi padamu, Azel?" tanya Renata memotong kerinduan Azel pada adiknya.


"Hanya kecelakaan kecil yang membuat kakiku patah." jawab Azel.


Tak berapa lama Levi pun datang setelah mengantar adiknya pulang. Kini Renata merasa diacuhkan saat Levi dan Azel hanya memperhatikan Zella.


"Pak Levi, Saya sudah menemukan Pelaku kejahatan di villa dengan bantuan perangkat Desa." ucap Renata mengalihkan perhatian Levi.


Kini Azel dan Levi beralih pada Renata yang mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan 2 pemuda yang hampir melecehkan Zella.


Bukan main senangnya perasaan Renata diapit dengan dua laki-laki yang dicintainya. Tapi dalam sekejap perasaan itu berganti dengan ketakutan saat Levi meminta nya untuk mengantarnya menemui pelakunya.


"Besok antar aku menemui mereka." pinta Levi geram.


"Aku juga akan ikut bersama Levi." ucap Azel membuat Renata hampir tak mampu berdiri.


"Baiklah, akan aku usahakan. Aku pulang dulu. Hari ini sangat melelahkan bagiku." ucap Renata.


"Bu Renata, Terima kasih." ucap Zella membuat Renata memaksakan senyumnya.


"Sama-sama Zella. Speedy Recovery." ucap Renata meninggalkan ruangan Zella.

__ADS_1


__ADS_2