Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 21


__ADS_3

Hari ini, Zella sudah siap mengikuti rencana papanya. Ia akan ke proyek dimana kakaknya tertabrak setelah mama tirinya datang ke rumah sakit.


"Ma, titip Kak Azel ya. Aku harus ke kantor menggantikan Kak Azel." ucap Zella.


"Mama bisa gantikan kakakmu mengurus perusahaan selama dia sakit. Lebih baik kamu disini saja menjaga Azel." ucap Mama tiri Zella.


"Aku sudah meminta Zella mengurus perusahaan. Dan aku tidak perlu dijaga oleh mama, karena aku bisa menyuruh orang lain." ucap Azel ketus.


"Mana mungkin anak 17 tahun seperti Zella dapat mengurus perusahaan." cibir Maya, mama tiri Zella.


"Tenang saja, Ma. Aku akan menemani Zella ke kantor Kak Azel." jawab Winda.


"Nah, kalo begitu mama baru percaya. Hati-hati di jalan ya nak." ucap Maya lalu duduk di sofa ruang Azel.


Baru 10 menit duduk, Maya langsung pergi meninggalkan Azel sendiri. Dengan santai Azel mengambil tab-nya dan memantau perusahaannya dari jauh.


Zella dan Winda tiba di perusahaan Azel. Semua karyawan memandang takjub ke arah Zella dan hampir seluruh karyawan memujinya. Zella berjalan tegap dan nampak berwibawa diusianya yang masih belia.


Winda berjalan lebih dulu di depan Zella dengan angkuh dan membuatnya tidak disegani beberapa karyawan Azel. Sampai di depan ruangan Azel, dua bodyguard yang disiapkan papa Green melarang Winda memasuki ruang kerja Azel.


Dengan kesal Winda duduk disofa yang terletak di depan ruang sekretaris. "Kenapa sih papa Green masih membedakan aku dengan anak kandungnya?" gumam Winda kesal dan langsung menelfon mamanya melaporkan hal yang terjadi di kantor.


Zella belajar dengan Lily tentang proyek yang sedang dipegang kakaknya. Lily menjelaskan dengan detail apa yang harus ia lakukan sebagai CEO Perusahaan. Zella sangat cepat menguasai apa yang baru ia pelajari.


Siang ini, Zella sudah langsung turun ke lapangan, tentunya dengan pantauan Azel dan papa Green. "Hemm, sebenarnya tidak ada yang mencurigakan di proyek kak Azel. Semua berjalan baik dan sesuai prosedur. Lalu siapa sebenarnya yang ada dibalik kecelakaan kak Azel?" batin Zella.


Winda terus menggerutu karena harus mengikuti Zella hingga di proyek. Banyak yang Winda keluhkan masalah panas, debu, dan masih banyak lagi. Tapi Zella tidak menggubrisnya sama sekali.


Hingga sore tiba, Zella dan Winda kembali ke mansionnya. Zella langsung masuk ke kamarnya dan membersihkan dirinya, begitupula Winda. Baru keluar dari kamar mandi, pintu kamarnya diketok dengan Mba Ina, asisten rumah tangga Zella.


"Di luar ada teman Non Zella, namanya Den Leon." ucap Mba Ina.


"Suruh tunggu bentar ya Mba." jawab Zella. Setelah mengeringkan rambutnya, Zella menemui Leon yang sudah duduk bersama Mama Tiri Zella di ruang tamu.


"Hai Kak Leon." sapa Zella. "Udah lama nunggu ya?"


"Eh, nggak kok Zell. Kamu apa kabar?" tanya Leon dengan mata berbinar dapat bertemu dengan Zella.

__ADS_1


"Baik kak, kita ngobrol di taman samping yuk." ajak Zella. "Permisi ya Ma." ucap Zella pada mama tirinya.


"Oh, iya silahkan." jawab Maya yang langsung menuju ke kamarnya.


"Aku kangen tau, gak liat kamu seharian di kampus." ucap Leon sambil duduk dibangku taman.


"Bo-ong banget dah, baru sehari udah kangen." jawab Zella.


"Gak percaya, ya udah." ucap Leon sambil meneguk minumannya.


"Diiih, Kak Leon nih gitu aja ngambek." ledek Zella. "Aku bakal lama gak ke Bandung dulu kak. Nunggu Kak Azel sembuh dulu." jelas Zella.


"Semoga kak Azel cepet sembuh ya, aku mana bisa jauh lama sama kamu." ucap Leon membuat Zella tertawa.


"Dulu juga gak ada aku kan? Biasa aja buktinya. Suka ngada-ngada nih." Zella menepuk bahu Leon.


Keduanya bercerita sambil tertawa hingga membuat Zella melupakan rasa lelahnya. Sedangkan Winda sudah tertidur pulas di kamarnya saking lelahnya mengikuti Zella seharian.


"Kakak tadi udah nengokin Kak Azel bareng Kak Dion. Ternyata mereka pernah satu kampus loh." ucap Leon.


"Kak Dion itu selain dekan, dia juga wakil CEO di perusahaan papa." jelas Leon.


"Waaah, keren dong kak." jawab Zella.


"Kalo Pak Levi selain dosen, dia juga punya bisnis pertambangan besar di Serang." ucap Leon dan Zella hanya menganggukkan kepalanya.


"Sekarang Pak Dion sama Kak Azel ya?" tanya Zella dan Leon mengiyakan.


"Aku boleh kan sering-sering kesini bantuin kamu?" tanya Leon.


"Jangan keseringan ah datengnya. Ntar Kak Leon Baper lagi sama aku." jawab Zella.


"Kamu ngeselin banget ya. Aku cium loh biar ketagihan." ucap Leon menatap Zella tajam.


"Hahahaha, pinter banget ya ngancemnya." Zella terkekeh.


Keduanya menghabiskan sore di taman sambil bersenda gurau. Saat hampir senja, keduanya masuk ke mansion. Winda yang baru keluar kamarnya terkejut melihat Leon bersama dengan Zella.

__ADS_1


"Leon!" pekik Winda sangat senang melihat pujaan hatinya ada di mansionnya. Winda langsung berlari ke arah Leon dan hendak memeluknya. Tapi dengan sigap Leon menghindari Winda.


"Hai, Winda." sapa Leon. "Kamu dari mana aja kok baru kelihatan?" tanya Leon.


"Aku baru saja istirahat. Hari ini aku sangat lelah menggantikan Kak Azel di perusahaannya." jawab Winda manja dan bergelayut pada lengan Leon.


"Winda, jangan seperti ini!" Leon melepaskan tangan Winda, tapi Winda makin erat memegang tangan Leon.


Tak lama kemudian, Mama Maya keluar dari kamarnya dan melihat putrinya yang terlihat sangat dekat dengan Leon.


"Winda," panggil Mamanya.


"Mah, kenalin ini cowok yang Winda suka di kampus. Ketua BEM juga ma." ucap Winda membuat Leon risih.


"Oh, Nak Leon kesini cari Winda ya. Maaf ya, tadi Winda kecapekan banget habis gantikan kakaknya kerja di perusahaan. Biasalah Nak Leon. Calon CEO muda harus begitu." ucap Mama tiri Zella.


"Jadi ini yang kamu harapkan dari menikah denganku?" tanya Papa Green dengan suara kencang. Zella dan yang lainnya langsung berbalik melihat ke arah pintu masuk.


"Kenapa papa bertanya seperti itu? Bukankah mama mengatakan hal yang benar? Aku akan jadi pengganti papa dalam mengurus perusahaan bukan?" tanya Winda panjang lebar.


"Bukan kamu yang akan mengurus perusahaan, tetapi Zella!" tegas papa Green.


"Kenapa papa selalu berlaku tidak adil padaku? Kenapa papa selalu melebihkan Zella dibandingkan aku? Papa jahat!" Winda semakin menyerang papanya.


Maya tidak tinggal diam, ia langsung memeluk putrinya. "Bersikap adil lah pada anak-anak pah. Winda juga anakmu." ucap Maya.


"Kalau begitu saat ini juga aku menceraikanmu, Maya." ucap Papa Green tegas. "Dan kau, Arawinda Mey sejak saat ini bukanlah anakku." jelas papa Green sambil menunjuk Winda.


Maya dan Winda terkejut dengan ucapan papa Green, begitu juga Zella dan Leon. Maya langsung bersimpuh di kaki papa Green dan memohon untuk tidak menceraikannya.


"Pah, kumohon jangan ceraikan aku. Tenanglah dulu pah, jangan gegabah. Aku tahu kau pasti sangat lelah." ucap Maya dan papa Green mengacuhkannya dan masuk ke ruang kerja.


Winda memohon pada Zella untuk merayu papanya agar tidak menceraikan mama. "Zella, bicaralah dengan papa agar dia tidak menceraikan mama. Kumohon Zella." ucap Winda sambil menangis.


Zella hanya terdiam dan bingung kenapa papanya jadi seperti ini. "Nanti aku akan bicara dengan papa." ucap Zella yang langsung menyusul papanya ke ruang kerja.


Kini tinggal Leon yang merasa tidak enak berada di tengah masalah keluarga Zella dan Winda. Mereka berdua masih ada di ruang tengah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Winda.

__ADS_1


__ADS_2