
Berbeda dengan Levi, Bayu benar-benar mewujudkan mimpinya yang tertunda sejak satu minggu yang lalu. Ia membuat Nay tidak tidur semalaman karena harus melayani keinginan suaminya.
Bayu dan Nay sama sama menikmati keinginan terpendam mereka. Meskipun ini adalah awal pertama bagi mereka, tapi mereka sudah sangat pandai mengikuti naluri hati mereka dalam permainan panas. Tepat pukul empat dini hari, Nay baru dapat memejamkan matanya dalam pelukan Bayu.
Pagi ini Leon sudah sampai di depan mansion Silla untuk mengajak Silla berlari ke taman kota.
"Mau kemana kalian?" tanya Levi yang sedang meregangkan ototnya di teras.
"Mau lari ajak kak ke Taman Kota." jawab Leon.
"Aku ikutan deh, lumayan juga lari kesana bareng kalian." ucap Levi sambil masuk ke mansion untuk mengambil air minum.
"Aduh, mau lari aja pake diikuti segala sih sama Kak Levi." gerutu Leon.
Tak lama kemudian, Silla keluar dari mansion dan langsung mengajak Leon untuk meninggalkan mansion.
"Ntar dulu, La. Nunggu kakakmu tuh katanya mau ikutan." ucap Leon membuat Silla mengernyitkan dahinya.
"Alamaaaak, kenapa pake ikutan lari bareng kita sih." gerutu Silla kesal.
"Kenapa? Gak boleh?" tanya Levi yang sudah menenteng air minum nya.
"Gak boleh lah. Kakak kalo mau lari mah silahkan lari sendiri." jawab Silla.
"Gimana Leon? Boleh gak?" kini Levi bertanya pada Leon.
"Emmm Boleh dong Kak. Yuuuk buruan, ntar keburu siang." jawab Leon sambil lari duluan.
Baru saja Levi sampai gerbang mansion, Zella tergopoh gopoh mengejar suaminya dan memanggilnya kencang.
"Kenapa sayang?" tanya Levi berhenti.
"Mama telfon nih, udah sampai bandara katanya." jawab Zella memperlihatkan ponselnya.
Levi menepuk keningnya, ia terlupa harus menjemput mama nya di bandara.
"Yaudah, yuk kita jemput sekarang sayang." ajak Levi sambil menarik tangan istrinya.
Leon dan Silla melanjutkan larinya ke taman kota dengan perasaan yang sangat lega. Tidak ada pengganggu lagi diantara mereka.
"Bu Karenina mau pulang kan? Kamu mau cerita gak sama mama kamu kalo kita pacaran?" tanya Leon.
__ADS_1
"Iya sih, tapi kayaknya gak dalam waktu dekat ini deh. Soalnya mama pasti capek banget." jawab Silla.
"Orang tua kita kan deket banget kak. Om Ozora tau gak kalo kita pacaran? Belum juga kan?" Silla tanya balik ke Leon.
"Aku pasti cerita ke papah, La. Tapi nunggu kamu cerita dulu ke mama kamu. Takutnya ntar mama kamu malah tau duluan dari papa aku." jawab Leon.
"Iya juga sih. Yaudah nanti aku coba cerita sama mama deh." ucap Silla.
Keduanya menghabiskan waktu bersama dan kini waktunya Leon mengantar Silla pulang ke mansion.
"Pulang naik taksi aja ya La. Kamu kayaknya capek kalo harus balik lari lagi sampai di mansion." tawar Leon.
"Oke kak, kamu perhatian banget deh." jawab Silla.
Sesampainya di mansion Silla, Leon langsung menyalami mama Silla dan mengajak Dion pulang.
"Gak mampir dulu, Leon? Sarapan dulu yuk disini." ajak Mamanya Silla.
"Langsung pulang aja, Bu. Saya juga harus menyampaikan sesuatu pada papa." jawab Dion.
"Oke, hati-hati di jalan ya." ucap Mama Silla. Leon dan kakaknya pun keluar dari mansion dan kembali ke rumah mereka.
Sepeninggalan Leon dan Dion, Silla langsung memeluk mamanya dan seperti biasa nya, ia langsung bergelayut pada mamanya manja.
Keduanya berjalan menuju ke kamar, sedangkan Levi dan Zella sudah bersiap-siap pergi ke suatu tempat.
"Selamat ya sayang, kamu lolos di pertukaran mahasiswa ke Jerman." ucap Mama Karen memberi selamat. "Kamu hebat, mama bangga banget sama kamu, La."
"Thanks mamaaa. Silla kangeeen banget sama mama." ucap Silla.
"Sayang, ada yang ingin mama sampaikan sama kamu." ucap mama Karen membuat Silla bertanya tanya apa sebenarnya yang ingin mama sampaikan.
"Ada apa ma?" tanya Silla penasaran.
"Kamu kenal Om Ozora kan? Papanya Pak Dion sama Leon." tanya Mama Karen dan Silla menganggukkan kepalanya.
"Dia orangnya baik banget sama keluarga kita, dia juga sayang banget loh La sama kamu. Istrinya juga udah anggap kamu kayak anak perempuannya."
"Dan mama banyak berhutang budi dengan keluarga Om Ozora. Kamu bisa bantu mama?" tanya Mama Karen menatap putrinya secara intens.
"Bantu apa ma?" tanya Silla.
__ADS_1
"Menikahlah dengan Dion, jadilah menantu dari Om Ozora, sayang." pinta Mama Karen membuat Silla membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Mama gak serius kan? Mama pasti lagi ngeprank Silla."
"Mama sungguh sungguh, Silla. Mama mohon kali ini bantu mama. Keluarga Ozora benar-benar menginginkan kamu jadi menantu mereka." jawab Mama Karen.
"Tapi Ma, aku gak cinta dama Pak Dion." ucap Silla dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku cintanya sama Kak Leon, aku akan tetap bisa jadi menantu Om Ozora dengan menikah dengan Kak Leon kan?" Silla kini mulai meneteskan air matanya.
"Kami menjodohkanmu dengan kakaknya bukan adiknya sayang. Mama mohon mengertilah." ucap mama Karen
Baru kali ini mama Karen memohon pada putrinya. Silla sangat menyayangi mamanya yang selalu bekerja keras demi dia dan kakaknya. Kali ini Silla benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
"Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu, sayang. Mama janji, ini untuk pertama dan terakhir kalinya mama memohon kepadamu. Tolong bantu mama kali ini saja. Mama mohon, sayang." ucap Mama Karen membuat Silla tertunduk.
"Mama istirahat lah, aku akan fikirkan lagi untuk semua ini." jawab Silla menghapus air matanya dan keluar dari kamarnya.
"Tunggu sayang, nanti malam keluarga Om Ozora akan datang meminangmu. Mama mohon kau tidak mengecewakan mama." ucap Mama Karen.
"Baiklah Ma." ucap Silla yang langsung melangkahkan kakinya ke kamar.
Silla sangat shock dengan permintaan mamanya kali ini, terlebih ia tidak diberi waktu untuk berfikir sama sekali. Nanti malam dia akan dipinang mendadak dengan keluarga yang sudah sangat menyayanginya. Sayangnya, bukan Leon yang dijodohkan dengan Silla. Melainkan kakaknya, Dion Ozora.
Dua duanya memang terlihat mirip dengan usia yang berbeda. Tapi permasalahannya Silla mencintai Leon bukan Dion. Terlebih usia Dion lebih tua dari Kak Levi. Di saat ia terpuruk seperti ini, Zella dan Nay sedang bersama suaminya.
Tak lama kemudian ponsel Silla berdering dan muncul nama Leon di layar ponselnya. Dengan cepat Silla langsung mengangkatnya.
"*Halo Kak Leon."
"Silla, aku tidak tahu harus bagaimana. Kali ini aku benar-benar tidak bisa menolong hubungan kita."
"Aku juga bingung Kak Leon. Bicaralah dengan Om Ozora kalo kita saling mencintai."
"Sudah, tapi lagi lagi mereka tidak menerima semua alasan dariku. Semua ini berkaitan dengan keinginan Opa dan Oma, La." jelas Leon yang terdengar sangat terpuruk.
"Oh My God, kenapa harus seperti ini?"
"Papaku memintaku untuk menelfonmu dan meminta agar kau mengabulkan permintaan Opa dan Omaku. Meski aku berat unyuk mengatakannya, Silla. Kali ini kumohon, Menikahlah dengan kakakku*".
Dengan geram Silla mematikan panggilannya secara sepihak.
__ADS_1
"Ini benar-benar gila. Dunia seperti terbalik dan aku tertelungkup tak bisa melakukan apa-apa." gerutu Silla.
Di lain sisi Zella, Levi, Nay, dan Bayu sedang mempersiapkan lamaran untuk Silla nanti malam. Begitu pula seluruh keluarga besar Leon, yang mempersiapkan berbagai hantaran untuk meminang Prisilla Ainsley.