Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 47


__ADS_3

Pagi ini Levi dan Silla sudah siap menjemput Mama Karen di bandara. Baru saja mereka hendak naik ke atas mobil, ternyata Mama Karen sudah sampai di halaman mansion, dijemput oleh adik kesayangan Mama Karen.


"Mama, katanya jam 8 baru sampai. Kita baru mau pergi." ucap Silla yang langsung memeluk mamanya.


"Iya, reschedule tiket, dek." jawab Mama Karen.


"Om Bayu apa kabar?" tanya Levi sambil membawakan koper mamanya.


"Baik dong. Waaaah, keponakan om Bayu nie udah gede aja. Tau-tau udah mau lamar anak orang aja." ucap Om Bayu.


"Iyalah Om, biar gak kelamaan galau kayak Om Bayu." jawab Levi meledek Omnya.


Bayu Daniswara adalah adik kandung Mama Karen yang paling bungsu. Usianya terpaut belasan tahun dengan Mama Karen. Dia juga seorang dosen di kampus milik Mama Karen, hanya saja mereka jarang bertemu kecuali jika ada acara khusus.


Bayu mengajar di fakultas kedokteran kampus USI dan bekerja sebagai dokter umum di sebuah rumah sakit besar di Bandung. Diusianya yang menginjak 35 tahun, ia belum juga menemukan tambatan hatinya untuk dijadikannya sebagai istri.


"Tenang aja, bentar lagi juga om bakalan nikah kok." jawab Bayu tak mau kalah.


"Oh yaaa, emang sama siapa?" tanya Levi yang sudah sampai di ruang tamu.


"Sama perempuan lah, masa iya sama kamu." jawab Bayu yang langsung ke pantry untuk mengambil minum.


"Levii," panggil mama Karen dari kamar. "Sini sebentar naak."


Levi segera memenuhi panggilan mamanya. "Iya maa." ucap Levi yang melihat mamanya sedang membuka kotak perhiasan.


"Ini mama sudah siapkan sejak lama sepaket perhiasan untuk calon istrimu," jelas Mama Karen.


"Tapi Ma . . . Levi bisa." belum selesai Levi menyanggah, mamanya sudah langsung memotong sanggahan Levi.


"Kamu tetap bisa membelikan Zella perhiasan, tapi yang ini memang sudah mama siapkan sejak lama, nak. Jadi tolong jangan ditolak." pinta Mama Karen.


Akhirnya Levi pun mengangguk setuju. Satu minggu ini Levi memutuskan untuk menyewa satu rumah di kawasan dekat dengan tempat tinggal Zella selama satu minggu. Mama Karen dan Silla pun setuju.


***


Malam ini, Azel dan papa Green ada jadwal untuk bertemu dengan klien mereka. Zella yang sudah biasa ditinggal pun memutuskan untuk membaca buku di taman samping rumahnya.


Di tengah keasyikannya membaca, Zella dikagetkan dengan kehadiran Levi yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Kak Levi." pekik Zella yang langsung menutup bukunya. "Ngagetin aja sih." gerutu Zella sambil mengulum senyum bahagianya.


Levi hanya tersenyum sambil membenarkan duduknya agar lebih dekat dengan Zella.


"Katanya lusa, ini kok udah muncul aja?" tanya Zella dan Levi masih terdiam memandang wajah Zella.


"Iiiiih, malah diem aja." gerutu Zella membuang mukanya dan membuka bukunya kembali.


"Panggil Sayang dong." bisik Levi di tengkuk Zella membuat Zella merinding.


"Diiiiih, apaan sih." balas Zella cuek. Levi langsung merebut buku Zella dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.

__ADS_1


Zella yang hendak merebut kembali bukunya membuatnya jatuh terjerembap tepat di atas tubuh Levi.


Kini kedua netra mereka bertemu dan saling mengungkapkan kerinduan mereka masing-masing.


"Aku sangat merindukanmu, SAYANG." ucap Levi dengan penekanan di akhir ucapannya.


Zella langsung tersadar dan menjauh dari tubuh Levi. Tapi dengan cepat Levi menarik tubuh Zella ke dalam pelukannya.


"A . . Aku . . " Zella terbata-bata karena belum dapat mengkondisikan ritme detak jantungnya. "Juga rin . . du." ucap Zella membuat Levi mengeratkan pelukannya.


"Kak Levi datang sama siapa?" tanya Zella.


"Berlatihlah memanggilku S A Y A N G. Aku akan langsung menjawab pertanyaanmu." ucap Levi.


"Sayang datang sama siapa?" tanya Zella pelan dan menyembunyikam wajahnya di dada Levi.


"Aku sendiri, sayang." jawab Levi sambil mengangkat wajah Zella. "Kau sangat cantik sekali." puji Levi dan kini tangannya berpindah ke leher Zella.


Zella makin menegang akibat perbuatan Levi saat Levi mendekatkan wajahnya. "Boleh aku," Levi mengusap jarinya ke bibir Zella. "menciummu?" tanya Levi.


Zella menggelengkan kepalanya karena didalam mulutnya masih ada permen. "Jang . . ." belum selesai Zella berucap, bibir Zella sudah dikecup singkat oleh Levi.


Cup!


Membuat Zella menelan ludahnya. "Berbagi permen denganmu sepertinya hal yang sangat menyenangkan bukan?" tanya Levi dan langsung mencium bibir Zella dalam.


Zella membuka ruang untuk Levi bermain di dalam mulutnya dan Levi terus menikmati ciumannya hingga membuat Zella sedikit melenguh.


"Kau tenang saja, aku masih bisa menahannya." ucap Levi dan kini memeluk Zella dari belakang.


"Kita besok akan mulai mempersiapkan acara kita." ucap Levi dan Zella mengangguk.


"Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku, sayang?" tanya Levi kemudian.


"Aku tidak tahu," jawab Zella mengedikkan bahunya. "Bagaimana jika pertanyaan itu aku lontarkan balik kepadamu? Kira-kira apa jawabanmu?" tanya Zella balik.


"Selipkan kata SAYANG dalam pertanyaanmu, maka akan aku jawab." balas Levi memberi penekanan dalam kalimatnya.


"Hemmm. Aku kan masih belajar." balas Zella yang ketika memanggil Levi dengan -sayang- membuat ritme jantungnya makin tidak karuan.


"Kalau begitu, Belajarlah dengan giat, sayang." bisik Levi tepat di telinga kanan dan membuat Zella meremang.


"Bisa kau lepas pelukanmu?" tanya Zella. "Aku hampir tidak bisa bernafas." jelas Zella yang makin tidak karuan.


Levi menaikkan tangannya ke dada kiri Zella dan merasakan degub jantung Zella.


"Ini adalah ritme musik yang paling aku suka." ucap Levi.


"Jangan seperti ini." Zella mencoba menurunkan tangan Levi dari dada kirinya.


"Tenang saja, aku tidak akan melampaui batasku, sayang." ucap Levi. "Apa lagi sampai meremasnya." bisik Levi. "Aku hanya ingin merasakan detak jantungmu."

__ADS_1


"Aaaaah," desah Zella pelan dan langsung menarik tangan Levi ke bawah. "Kau mesum." gerutu Zella sedikit menjauhkan duduknya dari Levi.


Levi pun tersenyum melihat rona wajah Zella. "Masuk yuk," ajak Zella. "di luar makin dingin."


Zella melangkahkan kakinya masuk ke mansionnya. Levi pun mengikuti langkah Zella.


"Kenapa kau malah menarik tanganku dari dadamu, sayang?" tanya Levi.


"Kak Leviiiiiii. Itu bisa bikin jantungku berhenti berdetak, tauuuuuu." jawab Zella dan mengajaknya duduk di ruang tamu.


"Dan itu justru membuatku menyentuh pucuk dadamu yang menegang, sayang." jelas Levi membuat Zella langsung memukul mukul lengan Levi.


"Iiiiiiiih, kenapa kau sekarang mesum sekaliiiii siiiiih." gerutu Zella sambil memukul mukul lengan Levi dan membuat Levi terpojok disudut sofa.


Sampai tidak sadar jika kakaknya sudah berdiri di depan pintu.


"Ehmmmm, ternyata adek kak Azel ini agresif banget. Udah gak sabar yaaaa?" ledek Azel yang baru pulang dari meeting.


Zella langsung menghentikan pukulannya dan menjauh dari tubuh Levi.


"Apaan sih kaaaak." ucap Zella yang langsung berlari ke kamarnya di atas.


Kini Azel mengajak ngobrol Levi tentang persiapan acara pertunangan adiknya. Dan Zella tidak kembali lagi ke bawah sampai Levi pulang.


Levi


Aku sudah pulang, sayang.


Sent: 21.45


Zella


Loooh Kak Levi gak nginep? Pulang kemana?


Sent: 21.46


Levi


Aku menyewa tempat untuk seminggu disini. Istirahatlah, sayang. Besok aku akan menjemputmu.


Sent: 21.47


Levi


Satu lagi, aku sangat suka sikap agresifmu.


Sent: 21.47


Setelah menerima pesan terakhir Levi membuat Zella menggerutu di dalam kamarnya. "Diiiiih gak sadar banget Kak Levi. Siapa coba yang lebih agresif? Jelas-jelas dia yang mulai duluan." omel Zella pelan.


"Tapi kenapa aku justru menikmati setiap sentuhan Kak Levi yaaa?" tanya Zella pada dirinya sendiri. "Ternyata begini yang namanya jatuh cinta."

__ADS_1


__ADS_2