Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 64


__ADS_3

Malam harinya, Nay, Silla, Zella, dan Niza menghabiskan waktu bersama. Memasak hingga menonton bersama. Niza sangat senang berada diantara sahabat kakak sepupunya.


Ditengah kegembiraan mereka yang bisa menghabiskan waktu bersama, Zella masih resah menunggu kabar dari suaminya. Hingga sampai jam sepuluh malam, Levi belum juga mengirimi istrinya pesan. Bahkan pesan Zella juga belum dibalas oleh Levi.


"La, Kak Levi ada kirim pesan gak sama kamu?" tanya Zella.


"Cieeeee, pengantin baru kangen yaaaaa." ledek Silla. "Zell, cerita dong rasanya kayak apa sih?" tanya Silla.


"Rasa apaan?" tanya Zella. "Aku tuh khawatir aja, kenapa kak Levi sampe sekarang gak kasih kabar sama aku."


"Rasa itu tuuuuh." Silla menautkan dua ujung jari telunjuknya berkali-kali.


"Gak jelas deh kamu, apaan sih kayak begitu?" tanya Zella sambil mengikuti gerakan Silla yang menautkan dua ujung jari telunjuknya.


"Malam pertama." bisik Silla.


"Diiiiiih, kamu maaah yang ditanyain begituan mulu dah." jawab Zella dengan rona wajah yang memerah mengingat malam pertamanya dengan Levi.


"Cieee wajahnya ampe merah begituu. Kak Levi pasti jago banget kaaaan?" tanya Silla.


"Udah ah, buruan tidur. Besok ada kuliah." ucap Zella yang langsung berbalik membelakangi Silla.


"Zella mah gak asyiiiiik nih." balas Silla yang kemudian ikut memejamkan matanya.


***


Pukul tiga dini hari.


Levi baru saja selesai mengecek seluruh laporan perkembangan bisnisnya di Serang. Ia pun segera membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan dari Zella yang terabaikan olehnya.


Zella


Kak Levi udah makan belum? Bagaimana kerjaan disana?


Sent : 13.05


Zella


Sore ini aku ikut senam di kampus ya Kak. Sama Silla dan Nay juga kok.


Sent: 15.57


Zella


Kak Levi baik baik aja kan? Jangan terlalu capek ya kak.


Sent : 17.15


Zella

__ADS_1


Aku menginap di ruko dengan Silla. See you.


Sent : 19.00


Levi


Maafkan aku sayang, aku akan segera kembali. Maaf sudah mengabaikanmu hari ini.


Sent : 03.06


Levi segera memanggil asistennya dan bersiap-siap untuk segera kembali ke Bandung.


"Mohon maaf Pak Levi. Penanam saham dari Lampung mengajak bertemu hari ini pukul tujuh setelah mengetahui anda ada di sini." ucap Asisten Levi.


Dengan berat hati, Levi harus menunda kepulangannya dan menahan kerinduannya terhadap Zella.


"Baiklah, katakan padanya aku akan tiba di tempat yang ia janjikan pukul tujuh tepat." ucap Levi beranjak ke ruang istirahatnya.


"Aku sangat merindukanmu Zella." gumam Levi sambil menatap langit-langit kamarnya. Lama lama matanya pun terpejam.


***


Pagi harinya, Zella mulai menjalankan rutinitasnya di ruko. Memasak sarapan dengan sahabatnya dan sekarang ia melayani pelanggan yang mayoritas adalah mahasiswa dan dosen di kampusnya.


Niza sudah tampak siap untuk mulai belajar di sekolah barunya.


"Aku antar Niza dulu ya." pamit Nay pada dua sahabatnya yang sudah berkutat di perfotocopian.


"Selamat belajar Niza." ucap Silla sambil melambaikan tangannya.


Baru saja Nay dan Niza keluar dari ruko, Leon datang dengan membawa setumpuk berkas.


"Zella, ada karyawan baru ya?" tanya Leon menunjuk ke arah Silla.


"Mbak, mau foto copy dong." ucap Leon menggoda Silla.


"Antri dulu ya Bang." Jawab Silla.


"Saya buru-buru nieh mbak. Bisa gak kalo saya duluan." ucap Leon.


"Gak bisa." jawab Silla ketus. "Enak aja kalo ngomong."


"Antri gimana sih La, orang ini di mesin kamu juga gak ada yang lagi difoto copy." ucap Leon yang mendekat ke arah Silla.


"Males aja aku ngerjain punya kamu." balas Silla ketus. "Foto copy aja sendiri." ucap Silla menjauh dari Leon dan beralih membantu Zella membersihkan debu di etalase.


Zella hanya tersenyum melihat tingkah laku keduanya.


"Karyawan kamu cantik juga ya Zell kalo lagi jutek gitu." ucap Leon. "Kamu kalah cantik deh ama Silla." ucap Leon lagi sambil memberikan berkasnya pada karyawan Zella.

__ADS_1


Zella jadi terkekeh mendengar ucapan Leon. "Hati-hati, ntar naksir lagi ama Silla." ucap Zella yang langsung disikut sama Silla.


"Aku mah jarang naksir ama cewek. Yang ada cewek-cewek yang pada ngejar-ngejar aku." sanggah Leon narsis.


"Narsis amat Bang jadi orang. Biasanya kalo yang narsis gini nieh dapetnya pasti yang kayak ondel-ondel." timpal Silla.


"Lah bukannya ondel-ondelnya kamu?" ledek Leon.


"Enak aja." Silla menimpuk Leon dengan remasan kertas recycle.


Leon terkekeh melihat Silla kesal. Ia pun pergi setelah berkasnya selesai difoto copy dan membayar biaya foto copynya.


"Duluan ya Zell. Daah ondel-ondel." ucap Leon melambaikan tangannya membuat Silla makin bersungut-sungut.


Nay tampak sudah kembali dari mengantar Niza. Mereka bertiga pun bersiap-siap pergi ke kampus.


Hari ini jadwal kuliah Zella dan sahabatnya dimulai pukul sepuluh, hanya saja mereka ke kampus lebih awal karena Zella dan Silla akan mengambil formulir persyaratan audisi pertukaran mahasiswa. Sedangkan Nay harus ke Kantor BEM untuk merevisi proposal yang dibuatnya.


Mereka bertiga berpisah di depan gedung organisasi mahasiswa. Zella dan Silla menjalankan motornya ke gedung Rektorat. Banyak mahasiswa yang sudah mengantri untuk mendapatkan formulir yang sangat terbatas.


"Zella, emang gak papa kalo kita ikutan ini?" tanya Silla sedikit ragu. Ia paham betul bagaimana Levi yang sangat posesif dibandingkan mamanya.


"Kamu takut sama Kak Levi?" tanya Zella dan Silla hanya mengangguk.


"Tenang aja. Yang penting kita dapetin dulu formulirnya." jelas Zella.


Keduanya ikut mengantri dengan mahasiswa yang lain. "Tapi kamu kan belum pernah tau kalo kak Levi marah, Zell. Ngeri banget." jelas Silla.


Tapi Zella tidak sedikit pun goyah untuk mendapatkan kesempatan emas ini. Ia terus membujuk Silla agar tidak terlalu mencemaskan bagaimana nanti menghadapi kakaknya.


Sedangkan Nay baru saja masuk ke kantor BEM. Belum sempat duduk, Leon langsung memberitahu Nay bahwa proposal yang harus direvisi masih ada di ruangan Pak Bayu.


"Aku ada kelas nih Nay, kamu bisa kan ambil proposalnya di ruangan Pak Bayu?" tanya Leon.


"Oke kak." jawab Nay.


Nay kembali mengendarai motornya ke gedung fakultas kedokteran. Ia bergegas ke ruangan Pak Bayu untuk mengambil proposalnya. Baru hendak mengetuk pintu ruangan Bayu, pintunya langsung terbuka hingga tangan Nay mendarat di dada Bayu.


"Ma maaf Pak Bayu, saya tidak sengaja." ucap Nay menarik lagi tangannya.


Tangan Nay membuat dada Bayu berdegub kencang. Ia tidak mengira akan bertemu Nay sepagi ini. Nay sedikit memalingkan mukanya saat Bayu menatapnya.


"Duuuh, Pak Bayu ngeliatinnya gitu amat ya." batin Nay sedikit salah tingkah.


"Hemm, mau ambil proposal kan?" tanya Bayu sambil menyodorkan proposal yang memang sedang dibawanya.


"Iya pak, terima kasih." ucap Nay sambil membuka lembar proposalnya.


"Hemm, sedikit saja yang perlu di revisi." gumam Nay dalam hati.

__ADS_1


"Saya akan memperbaikinya . . ." Nay menghentikan kalimatnya saat dilihatnya Pak Bayu sudah melangkahkan kakinya menjauh dari Nay dan masuk ke dalam kelas.


"Hemmm, Pak Bayu kenapa sekarang cuek banget ya." gumam Nay sambil berjalan menuju motornya.


__ADS_2