
Saat memasuki ruko, Zella terkejut melihat Levi sudah duduk dan membaca buku. Ia pun jalan mengendap-endap agar Levi tidak mengetahui keberadaannya.
"Dimana Silla?" tanya Levi menarik lengan Zella. "Nay bilang pergi denganmu."
"Eh, Pak Levi." sapa Zella sambil membalikkan badannya. "Silla . . . Emmmhhh." Zella menggantungkan ucapannya membuat Levi mengulang pertanyaannya.
"Dimana Silla?"
"Pak Levi gak sama Bu Karen ya." Zella mengalihkan pertanyaan Levi.
"Mama udah di rumah. Jangan mengalihkan pembicaraan!" ucap Levi ketus.
"Kami pergi menonton futsal dan saya pulang duluan karena ada accident." jawab Zella lirih.
"Ikut saya dan tunjukkan stadionnya." ucap Levi yang langsung menarik tangan Zella.
"Tapi saya belum mandi, Pak. Badan saya lengket tersiram susu tadi." ucap Zella. Levi pun melepaskan tangan Zella.
"Cepat mandi, saya tunggu 5 menit."
Zella langsung lari ke atas dan segera mandi extra kilat. Setelah mengganti baju, ia pun mengeringkan rambutnya dan menyisirnya. "Well done!" ucap Zella sambil keluar dari kamarnya.
"Mau kemana lagi Zell?" tanya Nay yang sedang menata bajunya ke dalam lemari.
"Jemput Silla, aku tinggal lagi ya." Zella melambaikan tangannya dan berjalan terburu-buru.
"Terlambat 4 menit, lama banget sih mandinya." kritik Levi ketus sambil berjalan ke arah mobil.
"Maaf pak." jawab Zella singkat.
Levi sudah masuk ke dalam mobilnya dan Zella memilih duduk di belakang. Zella pun menunjukkan jalan ke stadion futsal.
"Pak Levi juteknya dari lahir ya?" tanya Zella.
"Hemmm." jawab Levi malas.
"Pak, tolong jangan marahin Silla yaa. Dia juga kan pingin bebas." pinta Zella yang takut Silla kena marah kakaknya.
"Saya gak denger." jawab Levi. Zella pun menggeser duduknya dan sedikit maju ke arah Levi.
"Jangan marahin Silla ya pak." pinta Zella tepat di telinga Levi dan membuat jantung Levi berdebar kencang. Levi diam tidak menjawab.
"Emmh, namanya remaja diusia kami, pasti pingin namanya punya pacar, diperhatikan cowok, termasuk Silla juga. Pak Levi pasti tahu kan siapa yang lagi deketin Silla?"
"Pak Levi, janji ya jangan marah sama Silla." Zella menjentikkan jari kelingkingnya. Levi pun mengangkat jari kelingkingnya dan menautkan pada Zella.
__ADS_1
"Naaaah, gitu dong Pak. Kalo gini kan jadi kelihatan makin tampan." pujian Zella membuat Levi terkejut dan mengerem mendadak.
Zella yang posisi kepalanya tepat disamping kiri Levi pun terdorong dan tanpa sengaja bibirnya mengecup pipi Levi. Kecupan Zella membuat Levi makin berdesir menuntut untuk melakukan lebih pada Zella.
Zella langsung membelalakkan matanya dan menarik tubuhnya ke belakang.
"Maaf pak Levi, saya benar-benar tidak sengaja," ucap Zella dengan wajah yang memerah menahan malu.
"Hmmm," jawab Levi singkat dan kembali menjalankan mobilnya.
"Aduuuuuh Zella, kenapa ceroboh terus sih." gumam Zella sambil menggeser duduknya dan membuang muka ke jendela.
Zella menyesali dirinya yang selalu memalukan di hadapan Levi.
Sedangkan Levi tersenyum setelah apa yang terjadi barusan. "Seneng banget kayaknya." ucap Levi membuat Zella merona.
"Bapak sengaja ya ngerem mendadak?" sarkas Zella menutupi rasa malunya.
"Jangan kepedean deh." jawab Levi sekilas. Setelah itu keduanya terdiam hingga sampai di stadion futsal.
Zella langsung masuk ke dalam memanggil Silla. Dilihatnya Leon sudah ada di stadion dan kembali bergabung bermain futsal setelah mengantar Zella pulang tadi.
"La, dijemput kak Levi." ucap Zella membuat Silla terkejut.
"Aduuuh, mampus deh aku kalo gini." Silla mulai takut dan mengikuti Zella keluar stadion.
"Mohon maaf Pak Levi, sudah mengajak Silla pergi tanpa meminta izin." ucap Reza santun
"It's okay. Sekarang Silla biar pulang sama saya. Mamanya sudah menunggu." ucap Levi santai dan membuat Silla lega.
Reza pun mengangguk dan menepuk bahu Leon mengajaknya kembali ke stadion.
"Masuk, Zella!" perintah Levi melihat Zella belum memasuki mobilnya.
"Zella biar saya yang antar Pak Levi." ucap Leon menawarkan diri.
"Dia datang dengan saya, dan pulang harus dengan saya." jawab Levi menarik tangan Zella pelan dan membukakan pintu.
"See you, Kak Leon." pamit Zella dan langsung masuk ke mobil Levi.
Silla dan Zella duduk berdampingan. Keduanya saling diam hingga tidak sadar, Zella dibawa ke mansion Silla. Saat mobil berhenti, keduanya baru tersadar dari lamunannya.
"Loh, Pak Levi." Zella yang kaget langsung dipotong pembicaraannya oleh Levi.
"Saya mandi dulu baru antar kamu pulang." ucap Levi langsung masuk dalam mansion dan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Nginep sini aja Zell, ngobrol bareng." ajak Silla.
"Kasihan Nay sendirian ntar di ruko." jawab Zella.
"Oh iya, hampir lupa kalo ada Nay." Silla dan Zella masuk dalam mansion dan bertemu dengan mama Silla.
Silla langsung ke kamar dan membersihkan badan, sedangkan Zella mengobrol dengan mama Silla. Zella dapat mengimbangi obrolan mama Silla terlebih mengenai bisnis yang berkembang saat ini. Hal itu membuat Mama Silla makin kagum dengan kepribadian Zella.
"Zella, nginep aja ya di sini." tawar mama Silla.
"Di ruko ada Nay, kasihan kalo ditinggal sendirian." jawab Zella.
Silla yang sudah mandi langsung bergabung ikut mengobrol. Ia menceritakan keadaan Nay saat ini dan memohon mamanya agar Nay bisa mendapatkan beasiswa.
"Bisa aja kalo mau ikut beasiswa. Tapi harus sesuai dengan persyaratan dan kualifikasinya. Biar tidak jadi bahan kecemburuan." jelas Mama Silla.
Setelah makan malam dengan keluarga Silla, kini saatnya Levi mengantar Zella pulang. Silla yang hendak ikut mengantar Zella pun ditahan oleh mamanya.
"Dek, istirahat aja. Biar kakak yang antar Zella pulang." perintah Mama Silla yang memahami keinginan Levi.
Silla pun menurut perintah mamanya dan kini Zella sudah ada di dalam mobil Pak Levi.
"Besok mau ikut acara anak BEM?" Tanya Levi berharap Zella mengatakan tidak.
"Belum tau, pak." jawab Zella. "Pingin ikut sih. Tapi kerjaan di ruko numpuk."
"Besok sore saya bantu setelah kerjaan saya selesai." ucap Levi.
"Eh, gak usah pak. Saya jadi ngrepotin. Saya sendiri juga bisa." jawab Zella.
"Saya akan tetap datang." Ucap Levi bersikukuh.
"Baiklah." jawab Zella singkat. Ia sudah tidak dapat menahan kantuknya dan akhirnya tertidur di mobil Levi.
Levi memelankan mobilnya dan terus memandangi Zella tidur. Sesampainya di depan ruko Zella, Levi tidak tega membangunkannya dan akhirnya Levi menggendong Zella.
Nay yang sedang membersihkan ruangan bersama karyawan Zella yang lain menunjukkan kamar Zella yang ada di lantai tiga dan langsung turun lagi ke bawah.
Kini Zella dan Levi kembali bersama dalam satu kamar. Levi meletakkan Zella pelan dan menyelimutinya.
"Ternyata kau berat sekali ya," gumam Levi. "Zella, aku mencintaimu." ucap Levi pelan dan mengecup kening Zella.
Zella tidak bergeming dari tidurnya. Levi pun memberanikan dirinya mengecup bibir Zella untuk yang ketiga kalinya. Saat menempel dengan bibir Zella, Levi tidak langsung melepasnya.
Ia bermain lebih berani dari sebelumnya. Dilumatnya bibir Zella hingga terdengar lenguhan dan nafas yang memburu dari Zella. Levi segera melepaskannya karena takut Zella terbangun dari tidurnya dan kembali turun ke bawah.
__ADS_1
Ia pun langsung berpamitan pada Nay dan pergi meninggalkan ruko Zella.