
Setelah kejadian di villa, Renata mulai berhati-hati dengan Zella. Ia sangat mengenal Azel yang bisa melakukan apá saja untuk keselamatan adiknya.
Zella menganggap semua hal yang terjadi di villa tidak ada unsur kesengajaan, melainkan memang dirinya saat itu yang sedang tertimpa na-as.
Acara pertunangan Azel, Zella mengajak Silla dan Nay untuk hadir. Ia juga mengundang Leon dan Renata untuk menginap di mansionnya. Tak lupa ia mengajak Winda, Carina, dan Laluna untuk ikut serta.
Sore ini, Levi sengaja menemui Zella di ruko setelah tiga hari tidak bertemu. Levi langsung masuk ke ruang Zella untuk melihat apá yang sedang dikerjakan Zella.
"Apakah kau melupakan diriku?" tanya Levi membaca catatan daftar orang yang akan hadir dalam pertunangan Azel.
"Tentu saja tidak, aku bahkan akan menulis namamu di daftar paling atas." jawab Zella menuliskan Nama Levi di atas Nama Silla. "Kak Levi kan spesiaal." ucap Zella.
Levi memutar kursi Zella dan memandang Zella sangat intens. "Aku merindukanmu." ucap Levi.
"Aku juga sama, duduklah. Akan kubuatkan minum." Zella menghindari Levi karena menutupi rasa gugupnya.
Zella pun naik ke lantai dua dan membuatkan minuman hangat untuk Levi. Bukannya duduk menunggu, Levi malah mengikuti Zella naik ke lantai dua.
Levi langsung mendekap Zella dari belakang hingga membuat Zella sedikit terkejut. "Baru tiga hari tidak bertemu ternyata membuatmu, makin cantik Zella." bisik Levi sambil mengikat rambut Zella ke atas.
"Kau tau, mengapa aku melarang kau mengikat rambut panjangmu kecuali saat bersamaku?" tanya Levi dan Zella hanya mengedikkan bahunya.
"Karena orang lain tak boleh melihat leher jenjangmu, sayang. Itu hanya diciptakan untuk aku." jawab Levi membuat Zella berbalik dan mencubit pinggang Levi.
"Ternyata Kak Levi dari dulu mulai mesum yaa." gerutu Zella membuat Levi terkekeh.
"Tentu saja. Bahkan aku sebenarnya yang lebih dulu menciummu saat kamu tertidur di kamar ku." jawab Levi membuat Zella kesal karena sudah mengira dirinya yang ceroboh.
"Kenapa gak bilang jujur sih dari dulu." ucap Zella memukul mukul dada Levi.
Levi langsung memegang Kedua tangan Zella dan membuat Zella terpojok. Levi mendekatkan wajahnya ke telinga Zella. "Aku takut kau akan menolakku Zella." bisik Levi membuat Zella bergetar.
Levi langsung mendekatkan bibirnya ke bibir Zella dan mulai mengecupnya sekilas. "Bibirmu sangat manis dan membuat ku kecanduan, Zella." ucap Levi kembali mencium Zella.
Zella yang sudah sangat rindu pun membalas ciuman Levi. Tangan Zella diletakkan ke leher Levi dan Levi memegang tengkuk Zella untuk memperdalam ciumannya. Hingga Zella merasakan ada sesuatu yang keras saat menempel dengan Levi.
__ADS_1
Levi pun menghentikan ciumannya saat ia rasa senjatanya sudah bangun. "Maaf, Zella. Aku takut melewati batasku." ucap Levi mengambil minuman yang sudah dibuatkan Zella.
Zella yang tersipu malu langsung membenarkan ikatan rambutnya dan mengambilkan kudapan yang dibuatnya untuk Levi.
"Besok Sore aku akan mengantarmu, pulang." ucap Levi yang duduk di kursi makan.
"Baiklah," jawab Zella singkat.
Setelah hampir malam, Levi pun berpamitan pada Zella. Baru saja Levi keluar dari ruko Zella, nampak dari kejauhan Leon datang bersama Nay yang baru selesai rapat BEM.
"Hai, Zella. Apá kabar?" tanya Leon turun dari mobil.
"Baik, kak. Oh iya, aku mengundangmu dengan Bu Renata di acara pertunangan Kak Azel." ucap Zella.
"Akan aku usahakan untuk datang. Kalau begitu aku permisi dulu ya." pamit Leon.
Leon langsung mengendarai mobilnya menuju ke sebuah bár. Renata meminta Leon untuk menemaninya. Sampai di bár, Leon melihat Renata yang memegang botol minuman yang sudah lama ia tinggalkan.
"Kak Renata, tumben amat sih mulai minum kayak gini lagi." kritik Leon sambil merebut botol yang di pegang Renata.
"Bicaralah tanpa harus melakukan hal gila ini lagi." ucap Leon tegas.
"Aku tak bisa bercerita denganmu, masalahku sangat berat." jelas Renata dengan pandangan yang kosong.
"Azel akan segera menikah dengan wanita pilihannya." ucap Renat sendu.
Renata akhirnya menceritakan bahwa ia sangat mencintai Azel sejak kuliah di Jerman. Tapi sedikit pun Azel tidak pernah menghiraukannya. Selama kembali ke Indonesia, ia terus mencari Azel. Tapi ia tidak pernah menemukannya. Sampai saat Zella dirawat di rumah sakit, akhirnya ia dapat bertemu dengan Azel.
"Hemmm, aku tidak paham dengan dirimu, Kak Renata." sanggah Leon. "Dulu kau memiliki kekasih juga saat di Jerman. Sekarang kau bilang mencintai Bang Azel." ucap Leon bingung.
"Bukannya kau juga pernah bilang jika mencintai Levi?" tanya Leon. "Sebenarnya siapa laki-laki yang kau cintai?"
"Aku mencintai semuanya, ha ha ha ha." jawab Renata sambil tertawa. "Aku sudah mulai melupakan Azel saat bertemu Levi untuk pertama kalinya. Tapi ternyata pertemuanku dengan Azel membuat ku masih berharap dia membalas cintaku." jelas Renata.
"Kau memang gila." ucap Leon yang tak habis pikir dengan Renata.
__ADS_1
"Ya, aku sudah gila Sekarang." jawab Renata terus tertawa.
"Oh iya Leon, kau punya uang?" tanya Renata tiba-tiba. "Aku sedang butuh banyak uang." jelas Renata.
"Sejak kapan kakak sepupuku ini kekurangan uang?" tanya Leon sedikit meledek.
"Jawab saja Leon." ucap Renata yang keadaannya saat ini sedang di ujung tanduk.
Sejak Renata berurusan dengan Bang Usep dan anak buahnya, Renata terus diperas terlebih mereka sempat merekam kejadian Renata yang berhasil ditaklukanmya di atas ranjang.
Mereka mengancam akan membeberkan aksi jahat Renata dan menyebarkan hasil rekaman tersebut pada banyak orang jika Renata tidak memberinya uang. Belum ada seminggu Renata sudah kewalahan menghadapi orang-orang suruhannya.
"Sebenarnya kau ada masalah apá Kak Renata?" tanya Leon.
"Masalahku bukan urusanmu, Leon. Selama kau tidak pernah berpihak padaku." ucap Renata geram.
"Apá ini ada kaitannya dengan Zella dan Pak Levi?" selidik Leon.
"Tentu saja tidak. Bukankah kau lihat Zella dan teman-temannya sangat dekat dengan ku." jawab Renata berbohong.
"Kalau begitu katakan saja apá masalahmu." tanya Leon.
Akhirnya Renata mengarang cerita bahwa ia disekap 2 orang lelaki dan laki-laki itu berhasil menyetubuhinya bahkan juga merekam adegan tersebut dari awal. Sekarang laki-laki itu selalu meminta uang pada Renata dengan ancaman akan membeberkan video tersebut.
"Sampai aku menghabiskan tabunganku hanya untuk laki-laki biadab itu." jelas Renata sambil terisak-isak.
Leon terkejut saat sepupunya ternyata memiliki masalah yang sangat berat. Ia pun berfikir bagaimana cara membantu kakak sepupunya.
"Apá kau menyimpan nomor ponsel mereka?" tanya Leon. "Sepertinya aku punya teman seorang hacker yang sangat handal."
"Benarkah?" tanya Renata dengan mata berbinar. "Sepertinya aku masih menyimpan nomor ponselnya." ucap Renata membuka ponselnya dan mengirim nomor ponsel Bang Usep, anak buahnya, dan satu orang lagi yang berperan sebagai pemilik villa.
"Baiklah, aku akan membantumu menghapus vídeo itu. Sekarang, kita harus pulang." ajak Leon menarik tangan Renata.
"Kau benar-benar dapat membuatku lega Leon. Thank you very much." ucap Renata berseri-seri.
__ADS_1