Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 17


__ADS_3

Zella menyelesaikan tugas dari Levi dalam waktu yang sangat singkat. Levi tersenyum melihat hasil kerja Zella. "Memang anak yang sangat cerdas." puji Levi dalam hati. Zella yang merasa sangat lelah menyandarkan tubuhnya ke sofa dan tertidur.


Levi mendekat ke arah Zella dan duduk di sampingnya. Ia memandangi wajah Zella yang terlihat sangat lelah. "Maaf telah menyusahkanmu." ucap Levi pelan.


"Ehhhmmm. Permisi Pak Levi." Leon sudah berdiri di depan pintu ruangannya. "Saya mau mengajukan proposal baksos."


"Tidak bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanya Levi tidak mengubah posisi duduknya.


"Maafkan saya pak, baru saja mau mengetuk pintu, tapi langsung terbuka." jawab Leon yang melihat pintu ruang Levi tidak tertutup rapat.


Leon menyerahkan proposalnya dan Levi langsung mengeceknya secara detail tanpa mempersilahkan Leon untuk duduk. Levi masih mengecek proposal tiap lembarnya hingga tidak sadar Leon sudah duduk lebih dekat dengan Zella.


"Untung saja aku cepat datang," batin Leon memandang wajah Zella. "Kasihan Zella, pasti dia sangat lelah mengahadapi dosen yang satu ini." gumam Leon. Tiba-tiba kepala Zella merosot dan jatuh di bahu kiri Leon.


"Yes, aku menang lagi pak Levi." ucap Leon pelan dan membuat Levi memandang ke arahnya.


Suara Levi tercekat, ia tidak mungkin bersuara karena itu akan membangunkan Zella. "Belum menang" jawab Levi singkat dengan dada bergemuruh menahan cemburu.


Ingin Levi menarik Zella dari pelukan Leon, tapi tak mungkin untuk dilakukannya. Leon dengan sengaja mengelus kepala Zella pelan dan membuat Levi sangat cemburu.


"Lepaskan tanganmu dari dia." ucap Levi ketus.


"Maaf Pak, anda tidak berhak melarang saya." jawab Leon.


"Saya berhak karena ini di ruangan saya." ucap Levi tidak mau kalah.


"Baiklah Pak Levi yang terhormat." Leon menuruti kata Levi dan memindahkan tangannya. Tapi Zella sedikit menggeliat dan kedua tangannya memeluk pinggang Leon. Kini terlihat Leon dan Zella berpelukan di ruangan Levi.


"Leon." pekik Levi pelan.


"Maafkan saya Pak, sungguh ini bukan disengaja." jawab Leon membuat Levi kalah telak.


Kini Levi benar-benar harus menahan rasa cemburunya melihat wanita yang disukai memeluk saingannya sendiri.


"Kak, Zella masih disini gak?" tanya Silla yang masuk ruangan Levi secara tiba-tiba.


"Ups, Zella . . . Kak Leon . . ." Nay terkejut melihat pemandangan yang seharusnya tidak terjadi di ruangan dosennya.


Zella yang kaget mendengar suara Nay langsung membuka matanya. Ia langsung tersadar saat posisinya memeluk Leon erat langsung melepaskannya.


"Kak Leon kok ada disini?" tanya Zella yang masih sangat terkejut.

__ADS_1


"Kalian semua keluar dari ruangan saya!" perintah Levi. Ia beranjak dari sofa dan menanda tangani proposal dari Leon.


Zella masih bingung dengan apa yang sudah terjadi di ruangan Levi termasuk kedua sahabatnya. Mereka bertiga pun keluar dan menunggu Leon di luar ruangan untuk menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Kak, tolong kasih tau aku sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Zella setelah Leon keluar dari ruangan Levi.


Leon pun mengajak ketiganya ke taman kampus dan menceritakan tentang Zella di ruangan Pak Levi. Zella yang mendengar langsung menutup wajahnya yang sudah memerah karena menahan malu.


"Kenapa dibiarin sih Kak, harusnya kan langsung dibangunin aja. Bikin malu aja." ucap Zella.


Silla dan Nay terkekeh mendengar cerita Leon dan Nay langsung nyeletuk, "Mana mungkin Kak Leon bangunin kamu, Zell. Dia tuh malah suka pelukin kamu gituuh."


Zella makin merasa malu, "Kalian nih malah ngeledek siiih." gerutu Zella.


"Santai aja kali Zell. Sama kakak mah gak perlu malu." jelas Leon. "Kakak ke Kantor BEM dulu ya." pamit Leon meninggalkan Zella dan temannya dengan hati gembira.


"Oh iya Zell, tadi kamu diminta ke ruangan Pak Dekan." ucap Nay.


"Yaa ampuuuun. Ada apa lagi sih?" keluh Zella kesal.


"Yuk, kita temenin." ajak Silla merangkul pundak sahabatnya. Mereka bertiga pun langsung menuju ke ruang dekan fakultas manajemen.


"Grizelle Alexandria." panggil Pak Dion Ozora Dekan Fakultas.


"Selain Zella silahkan tunggu di luar," perintah Pak Dion. Silla dan Nay pun keluar dari ruang dekan.


"Jelaskan kepada saya, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak Dion, dosen muda yang juga salah satu teman Levi.


Zella pun menceritakan kejadian di parkiran motor dan di kantin secara detail. Pak Dion pun mengambil kesimpulan bahwa Zella tidak bersalah.


"Saya sudah mengecek CCTV di parkiran dan kantin sekolah setelah mendapat laporan tentang kamu. Sekarang kamu bisa kembali dan dinyatakan tidak bersalah." ucap Pak Dion.


"Terima kasih Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." pamit Zella dan keluar dari ruangan Pak Dion.


"Hemmmm, jadi ini gadis yang disukai Leon." gumam Pak Dion yang notabenenya adalah Kakak Laki-laki Leon. "Seleranya tinggi juga ya." ucap Dion berdecak kagum.


Zella dan temannya memutuskan kembali ke ruko untuk beristirahat.


"Aku bener-bener lelah banget hari ini." ucap Zella merebahkan tubuhnya. Tanpa menunggu lama, Zella sudah tertidur.


"Kasihan banget nih anak. Pasti capek banget dia." ucap Nay.

__ADS_1


"Aku harus bicara sama Kak Levi. Sebenernya dia kasih hukuman apa sih sama Zella." ucap Silla geram.


"Tanyain aja, La. Atau jangan-jangan Pak Levi suka kali sama Zella." duga Nay.


"Bisa jadi sih Nay. Soalnya selama ini Kak Levi gak pernah deket ama cewek." ucap Silla. "Tapi dia susah buat ngaku hal yang begitu."


"La, aku bikinin spagetti mau gak?" tawar Nay.


"Yuk bikin bareng aja." Silla dan Nay turun ke lantai 2 dan membuat spagetti bersama.


Tanpa memerlukan waktu yang panjang, spagetti mereka pun sudah jadi. Nay langsung naik ke atas membangunkan Zella.


"Zell, makan dulu yuk. Setengah jam lagi ada jam kuliah looh." Nay membangunkan Zella.


Zella langsung bangun dan ketiganya pun menyantap spagetti. Setelah itu mereka bertiga berangkat lagi ke kampus.


"Kalian ke kelas dulu ya. Aku mau ke ruang Kak Levi." ucap Silla. Ia segera menuju ke ruangan kakaknya.


"Kak Levi." panggil Silla.


"Heemm." jawab Levi singkat.


"Zella salah apa sih sampai kakak hukum?" tanya Silla.


"Kenapa gak kamu tanya sendiri sama anaknya." jawab Levi tak bergeming dari laptopnya.


"Aku belum sempet tanya sama dia." jawab Silla hampir putua asa menanyai kakaknya.


Levi menutup laptopnya. "Trus?"


"Jangan hukum Zella lagi kak. Aku gak tega liat dia kecapekan." pinta Silla yang seketika menohok relung hati Levi.


"Apa selama ini aku melukainya?" tanya Levi dalam hati. "Sungguh, aku tidak bermaksud membuatmu sengsara Zella." batin Levi. Ia memegang kepalanya yang tidak sakit.


"Kakak dengar aku kan?" tanya Silla lagi.


Levi menarik nafasnya dalam-dalam. "Katakan padanya, hukumannya selesai."


"What??!!! Benarkah kak?" Silla tidak percaya semudah itu merayu kakaknya. "Thanks a lot kakaaak." Silla langsung keluar dari ruangan kakaknya dan menuju ke kelas.


"Oh My God, aku lupa tanya satu hal lagi." Silla menepuk jidatnya karena kelupaan menanyakan perasaan kakaknya pada Zella.

__ADS_1


Ia pun segera masuk ke kelas karena dosennya sudah terlihat di koridor sedang berjalan menuju ke kelasnya.


__ADS_2