Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 9


__ADS_3

Pagi ini, Zella sudah siap pergi ke kampus. Setelah menghabiskan sarapannya, ia langsung turun ke lantai bawah. Ponselnya pun berbunyi, 1 notifikasi pesan masuk.


Kak Leon


Aku di depan rukomu.


Sent: 06.45


Zella membuka pintu rukonya, dan benar Leon sudah menunggunya. Kali ini Leon tidak membawa mobil, melainkan motor sportnya.


"Mulai sekarang aku akan menjemputmu." ucap Leon.


"Tidak perlu, kak. Lagipula . . . " belum sempat Zella meneruskan kalimatnya, Leon sudah memotongnya.


"Ssssstttt! Ayolah Zellaaaa. Kali ini saja." Leon memohon.


"Baiklah, tapi tidak setiap hari. Aku jadi gak bebas kak." ucap Zella menaiki motor Leon.


"Oke oke. Aku akan penuhi permintaanmu, tuan putri." jawab Leon mulai menjalankan motornya pelan.


Memasuki gerbang kampus, Zella menjadi pusat perhatian hampir seluruh mahasiswa yang sudah hadir termasuk Carina dan Laluna.


Tepat di depan kelas Zella, Leon memberhentikan motornya.


"Thanks," ucap Zella dan Leon mengangguk.


"Nanti sore dateng ke ruko ya. Ada First Opening." undang Zella.


"Aku pasti dateng." Leon langsung meninggalkan kelas Zella.


Sedangkan Carina masih kesal melihat ada mahasiswi baru yang berani membonceng Leon.


"Lun, itu bukannya mahasiswi baru yang goyang pinguin ya." Carina menunjuk ke arah Zella.


"Iya, bener tuh. Saingan berat nih." ledek Luna.


"Awas aja kalo berani ambil Leon dari aku." Carina mulai geram.


"Udah yuk langsung ke kelas. Aku gak mau telat di jam Pak Levi." ucap Luna menarik tangan Carina.


Luna sangat mengidolakan Levi, dosen sejuta pesona. Sedangkan Carina selalu mengejar ngejar Leon dari semester pertama.


"Selamat Pagi, Pak Levi." sapa Luna.


"Pagi." jawab Levi datar dan langsung masuk ke kelas.


"Selamat pagi semuanya." Levi menyapa mahasiswa.


"Pagi paaaak." jawab Mahasiswa serentak.


"Hari ini saya akan digantikan dengan asisten dosen saya. Tugas hari ini jangan lupa dikumpulkan di koordinator kelas dan letakkan di meja saya. Terima kasih."


Levi pun segera keluar dari kelas Luna.


***


"Hai Zella, pagi ini jadwal Mama mengajar." ucap Silla.


"Iya, aku sudah mengeceknya tadi pagi." Zella menimpali.


Saat Zella dan Silla mengobrol, para mahasiswi terdengar riuh saat seseorang masuk kelas.


"Selamat pagi!"

__ADS_1


"Selamat pagi pak." jawab Mahasiswa serentak.


Silla sedikit terkejut ketika yang masuk justru kakaknya. "Perasaan mama baik-baik aja deh. Kenapa jadi Kak Levi yang masuk kelas sih." batin Silla.


Sedangkan mahasiswi yang lain saling berbisik membicarakan ketampanan Levi.


"Waaah, dosen kita ganteng banget ya."


"Iya, masih muda juga."


"Mirip oppa oppa korea guys. Aku mah betah kalo begini kuliahnya."


"Bener banget, kayaknya masih single deh."


Sedangkan Zella masih santai mengambil buku dan pena di dalam tasnya.


Levi pun membuka perkenalan dan mulai mengabsen setiap mahasiswa.


"Saya Pahlevi Ainsley, menggantikan bu Karenina mengajar di semester ini."


Hampir semua mahasiswi bersorak riuh senang mendengar Levi akan mengajar mereka kecuali Zella dan Silla.


"Peraturan perkuliahan ini, mahasiswi dilarang mengikat rambutnya." ucap Levi yang terus tidak fokus melihat Zella terlebih leher jenjang Zella.


Semua mata beralih kepada mahasiswi yang rambutnya diikat. Ada 5 mahasiswi yang mengikat rambutnya, tetapi mereka langsung terhenti melihat Zella. Kini gantian para mahasiswa yang membicarakan Zella.


"Gilaaa, baru sadar kalo kita sekelas ama bidadari."


"Iya, cantik banget yaa."


"Dia udah ada yang punya. Ketua BEM udah curi start duluan."


Levi yang mendengar kasak kusuk mahasiswa mengetuk papan tulis berkali-kali agar kelas kembali tenang.


"Kamu kalo digerai makin cantik loh Zell." bisik Silla.


"Apaan sih. Cantikan juga kamu, La." ucap Zella menyikut lengan Silla.


Levi mulai mengabsen mahasiswanya dan mulai menjelaskan mata kuliahnya.


Setelah itu ia meminta mahasiswa merangkum yang ia jelaskan.


"Saya beri waktu 15 menit setelah itu kumpulkan di ruangan saya. Letaknya di ruang paling ujung." perintah Levi.


Levi pun meninggalkan kelas dan menuju ke ruangannya.


"La, nanti dateng ya ke ruko. First opening." ucap Zella mengundang Silla.


"Okey." jawab Silla mengangguk.


Mahasiswa yang sudah selesai pun segera menuju ruang Pak Levi. Silla yang selesai lebih dulu menyusul mahasiswa yang lain.


"Duluan ya Zell. Keburu mau ke toilet." ucap Silla dan berlari keluar kelas.


Kini Zella yang baru selesai berjalan menuju ke ruang paling ujung. "Jauh banget ternyata, pantesan Silla ampe lari begitu." batin Zella.


Sesampainya di ruangan Levi, ternyata kosong. Zella meletakkan tugasnya di meja dan berbalik hendak keluar. Tapi saat berbalik, Levi sudah berdiri di belakangnya.


"Kamu terlambat 1 menit 24 detik." ucap Levi.


"Maaf pak." ucap Zella tertunduk.


"Kamu pikir saya gudang maaf." ucap Levi ketus. "Kamu saya hukum!"

__ADS_1


"Saya akan terima hukuman dari bapak."


"Bagus!"


Levi mengambil beberapa lembar kertas di mejanya. "Mulai besok, setiap jam kosong kamu harus input data ini di laptop saya. Mengerti!"


Levi langsung meninggalkan Zella yang masih di ruangannya. Zella melihat berkas yang diberikan Levi padanya.


"Pak Levi beneran gila ya. Telat sedikit doang hukumannya gini banget. Bener-bener deh." gerutu Zella sambil keluar dari ruangan Levi.


"Kenapa Zell?" tanya Silla.


"Kakak kamu tuh sadis banget ya. Masa telat dikit doang dihukum." Zella mengadu.


"Dia mah emang gitu dari dulu, Zell. Makanya aku gak berani macem macem ama Kak Levi." jelas Silla.


Zella pun mengangguk dan kembali ke kelas sambil menunggu jam berikutnya. Hari ini jadwal kuliah Zella padat sampai jam 12 siang.


Setelah waktu kuliahnya berakhir, ia pun bersiap-siap kembali ke rukonya untuk mempersiapkan First Opening Arion Fotocopy.


"Aku bantuin prepare yuk, Zell." Silla menawarkan dirinya untuk membantu Zella.


"Tapi aku gak bawa motor." ucap Zella.


"Minta dianter kak Levi bentar, biar cepet." ucap Silla yang langsung menelfon kakaknya.


Setelah panggilan terputus, Silla mengajak Zella berjalan ke arah mobil Levi terparkir.


"Gak enak ngrepotin terus, La." ucap Zella yang masih serem dengan dosennya.


"Udah, santai aja." balas Silla.


Levi ternyata sudah menunggu di dalam mobil dan mereka bertiga pun menuju ke ruko Zella. Sesampainya di depan ruko, terlihat papa dan kak Azel sudah menunggu kepulangan Zella.


Silla mengajak kakaknya ikut turun dari mobil. Levi dan Silla pun berkenalan dengan papa dan Kak Azel. Mereka akhirnya memesan makan siang di warung makan padang yang letaknya di samping ruko Zella.


"Kali ini biar papa yang traktir ya. Buat salam perkenalan sama Nak Levi dan Prisilla." ucap Papa Green.


"Terima kasih, om." ucap Silla.


"Panggil aja papa. Dulu teman SMA Zella juga panggil saya Papa." ucap Papa Green.


Makan siang kali ini, Azel banyak berbincang dengan Levi. Sedangkan papa Green lebih banyak menanyakan tentang kegiatan Zella selama di Bandung.


"Kalo weekend pulang ke rumah aja, sayang. Papah sepi gak ada kamu." pinta papa Green.


"Kalau banyak tugas kan susah mau pulang paaah." jawab Zella.


"Kalo free harus pulang ya, nanti kak Azel yang jemput." ucap papa Green.


"Oke deh pa." jawab Zella malas.


"Kalo Silla yang anter Zella boleh gak pa, sekalian jalan-jalan gituuuh." Silla menawarkan diri.


"Boleh banget, papa tunggu yaaa." jawab papa Green senang.


Dia tidak menyangka putri kesayangannya dapat hidup mandiri dan dikelilingi orang yang baik.


Pembaca tercinta, mohon dukungannya ya untuk novel ini.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan Like, Coment (Kritik dan Saran yang membangun), Favorit, dan Vote ya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2