Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 82


__ADS_3

Silla yang kebingungan kini menekan tombol ponselnya menghubungi Zella. Dia tidak tau lagi harus bicara dengan siapa lagi.


"Haloo, Zella. Kamu dimana? Aku bener-bener butuh kamu." ucap Silla saat panggilannya tersambung.


"Zella dan Nay masih berbelanja. Kamu kenapa dek?" tanya Levi yang saat ini sedang memegang ponsel istrinya.


Silla langsung memutuskan panggilannya. "Zella juga gak bisa dihubungi. Aaaarrrrgghhh." teriak Silla kesal.


Silla mulai kalang kabut saat jarum jam terus bergeser dan waktu cepat berganti. Ia benar-benar tidak melakukan apa apa hari ini. Moodnya turun secara drastis. Bahkan makan siang pun tidak seluruhnya ia habiskan.


Mama Karen tampak biasa saja melihat putrinya yang terlihat sangat berat menjalani harinya. "Dek, jangan sedih berlarut larut sayang. Mama hanya memberikan yang terbaik untukmu. Mama hanya ingin melihat putri mama bahagia." ucap Mama Karen.


"Iya ma, aku ke kamar dulu ya." jawab Silla beranjak dari meja makan.


Tak lama kemudian Zella dan Levi pulang bersama Nay dan Bayu. Zella langsung naik ke kamar Silla, sedangkan Nay dan Bayu berbincang bincang dengan Mama Karen. Levi mulai membagi tugas untuk para asisten rumah tangganya.


"La, are you okey?" tanya Zella sambil meletakkan goody bagnya di tepi ranjang Silla.


Silla langsung menghambur memeluk Zella dan menangis terisak-isak.


"Mama gak sayang sama aku, Zell." ucap Silla ditengah isakan tangisnya.


"Sstttt, gak boleh bilang gitu. Kamutau sendiri kan gimana sayangnya mama sama kamu." ucap Zella dan Silla hanya menganggukkan kepalanya.


"Pak Dion not bad lah, sebelas dua belas ama kak Leon." ucap Zella dan Silla langsung mencubit pinggang sahabatnya.


"Jauuuuh Zellaaaa. Kamu dukung aku atau mama sih sebenarnya." gerutu Silla.


"Diiiih, jangan ngambek dong. Jelas aja aku dukung kamu untuk nurut apa kata mama. Gak boleh jadi anak durhaka, La." ucap Zella.


"Yaudah kamu istirahat deh. Siang ini aku temenin. Gimana?" tanya Zella.


"Gak bisa," ucap Levi yang masuk ke kamar adiknya tiba-tiba. "Silla biar tidur sendiri, dia kan udah gede." jelas Levi menarik Zella dan mengajaknya kembali ke kamar mereka.


"Kak Levi bener-bener jahat ih." umpat Silla kesal dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Zella menutup pintu kamar Silla pelan dan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu keras sama Silla dong sayang." bujuk Zella yang kini duduk di sofa bersama Levi. "Dia lagi butuh temen cerita looh."


"Biarin aja, setidaknya itu hukuman untuknya yang sudah menyekapmu selama satu minggu." jawab Levi yang langsung mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya.


Cup


Kecupan singkat Levi mendarat mulus di bibir Zella. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau sematkan dibibirmu, sayang?" tanya Levi dan Zella menggelengkan kepalanya tidak paham.


"Manisnya melebihi gula mana pun itu dan membuatku kecanduan." bisik Levi dan membuat Zella meremang.


"Pak Dosen pinteran amat deh gombalnya." ucap Zella sediki mendorong tubuh Levi yang sudah menghimpitnya.


"Apa kau ingat, pernah menggodaku di sofa ini?" tanya Levi membuat Zella mulai menegang karena posisi keduanya sudah sangat dekat.


"Tentu saja... Aku... Tidak ingat." jawab Zella terbata-bata.


"Kalau begitu, aku akan mengingatkan mu, sayang." ucap Levi yang mulai mencumbu Zella.


Levi mulai mencium bibir istrinya dan tangannya mulai meraba perut Zella. "Apa belum ada Levi junior disini, sayang?" tanya Levi disaat Zella mulai terbuai dengan permainan suaminya.


"Disini," Zella menyentuh ke senjata Levi yang mulai tegang. "Bukankah ini Levi Junior." ucap Zella.


"Kau sangat nakal, istriku sayang." balas Levi yang melanjutkan cumbuannya ke Zella.


Pelan pelan baju atas Zella mulai tercecer di lantai. Kini Levi terus memainkan dada Zella dengan mulut dan lidahnya hingga membuat Zella terus mendesah.


"Udah - - aaah - - sayang. Ingat aku maaih datang bulan." ucap Zella yang terus menggelinjang akibat permainan Levi.


"Tentu saja aku ingat, dan ini adalah hukumanmu, istriku sayang." jawab Levi dan terus bermain di dada Zella.


Setelah puas menghukum istrinya, Levi langsung pergi ke kamar mandi untuk melepaskan hasr*tnya meninggalkan Zella yang terkapar di atas sofa.


Zella langsung memungut pakaiannya yang tercecer dan memakainya lagi. Kali ini ia yang sangat tersiksa harus meladeni permainan Levi tanpa bisa menuntaskan hasratnya.


Zella langsung merebahkan dirinya di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Levi nampak lebih segar setelah keluar dari kamar mandi. Ia segera menyusul istrinya dan masuk ke dalam selimut.


Levi memeluk Zella dan mulai memejamkan matanya, tapi saat tangannya kembali menyentuh dada istrinya justru membuat matanya kembali terbuka. Ia menginginkan untuk bermain lagi di dada Zella.

__ADS_1


"Ternyata ini sangat membuatku ketagihan." ucap Levi sembari membuka pakaian atas Zella satu per satu. Kini Levi langsung menempel kan mulutnya di **** istrinya dan bermain disana seperti bayi yang sedang men*us*.


Zella kembali melenguh dan mendesah karena permainan Levi. Lagi lagi ia harus terbuai dengan hukuman Levi. Hingga jam lima sore, Zella baru terbebas dari suaminya karena mama Karen memanggil Levi dari luar kamar.


Kini Zella dan Nay sudah ada di kamar Silla untuk membantunya mempersiapkan diri.


"Diantara kalian, akulah yang paling merana." keluh Silla kesal.


"Keluargamu memang paling suka membuat kejutan yang mendadak, La." timpal Nay menyiapkan gaun Silla.


"Tapi kalian suka kan kejutan dari keluarga aku. Dan kini aku yang mengalami apesnya." sarkas Silla kesal.


"Berhenti lah mengeluh adik iparku sayang. Aku yakin mama pasti memberikan yang terbaik untuk mu." bujuk Zella sambil memoles wajah Silla.


Kali ini Zella menjadi MUA dadakan untuk Silla, karena sesuai dengan permintaan Silla sendiri.


"Apa aku akan bahagia seperti kalian?" tanya Silla.


"Tentu saja," jawab Zella dan Nay bersamaan.


Akhirnya Silla pasrah dengan kehidupan dia selanjutnya.


Sama halnya dengan Leon yang mengalah demi Opa dan Omanya bahagia. Meskipun sangat berat bagi Leon untuk merelakan kakak kandungnya menikah dengan pujaan hatinya.


"Kenapa nasibku selalu begini?" gerutu Leon di dalam kamarnya. "Selalu bersaing dengan dosen di kampus ku sendiri. Dan kali ini dosen itu adalah kakak kandungku."


"Setiap bersaing, kenapa harus aku yang selalu kalah?" Leon mengusap wajahny kasar. Dia sangat tidak terima dengan kenyataan yang ada.


Tiba-tiba Dion masuk ke dalam kamarnya dan memberi setelan jas yang sangat mirip dengan yang dikenakan nya pada Leon.


"Aku tau, kau sangat berat untuk melepaskan Silla untukku, tapi aku berjanji akan membuatnya bahagia mulai hari lusa." ucap Dion pada adik kandungnya.


"Ada apa dengan hari lusa?" tanya Leon mulai curiga. Banyak hal yang sangat mendadak dan tentunya ia tidak mengetahuinya.


"Hari pernikahan Prisilla Ainsley." jawab Dion sambil meninggalkan Leon yang makin terkejut dengan kenyataan ini.


"Aaaarrrrgghhh." teriak Leon kesal sambil mengambil jasnya dan memakainya di kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2