
Zella dan Levi sudah berkumpul dengan keluarga besar. Satu per satu keluarga Zella sudah mulai berpamitan untuk kembali ke negaranya. Mereka berjanji akan datang lagi saat acara pesta resepsi akhir pekan ini.
Kini hanya tinggal granpa dan granny yang masih setia menemani cucunya hingga acara pesta resepsi tiba.
Zella meminta Levi untuk mengantarnya ke rumah sewa yang ditempati Mama Karen dan Silla. Dengan senang hati Levi pun mengantarkan Zella ke tempat mamanya.
Setelah berpamitan dengan Granpa dan Granny, Zella dan Levi segera meninggalkan mansion.
Levi terus menggenggam tangan istrinya dan berulang kali mengecup punggung tangan istrinya.
"Bagaimana perasaanmu saat kau tau kita sudah menikah?" tanya Levi membuka suara.
"Tentu saja aku sangat terkejut." jawab Zella dengan nada sedikit kesal mengingat kejadian kemarin malam.
"Tapi kau senang kan, sayang?" tanya Levi sambil mencolek dagu Zella.
"Tidak," jawab Zella dan Levi menanggapinya dengan santai.
"Kalau begitu akan aku pastikan bahwa istriku pasti akan sangat berterima kasih karena telah menikah denganku." ucap Levi.
"Kau narsis sekali Pak Dosen. Gak kebaliiiik niiih?" tanya Zella.
"Dari awal sudah aku katakan bahwa aku sangat bahagia bisa menikahimu, sayang." ucap Levi sambil mengecup tangan Zella.
"Terlebih jika istriku membayar hutang-hutangnya yang hampir saja menumpuk. Itu pasti akan membuatku sangat sangat sangat dan sangaaaaaat bahagia." ucap Levi dengan senyum nakalnya.
"Maksudnya?" tanya Zella sambil menatap ke arah suaminya.
"Kau sedang berhutang denganku, sayang. Mulai tadi malam, aku hitung dua." jawab Levi. "Dan tadi pagi, aku hitung tiga karena kau membuat aku seperti cacing kepanasan."
"Aku sungguh tidak paham arah pembicaranmu kak. Hutang dua juta atau bagaimana?" tanya Zella.
"Selama hidupku juga aku tidak pernah berhutang." ucap Zella yang masih belum paham.
Levi hanya tersenyum geli melihat istrinya. "Kau berhutang padaku di atas ranjang sayaaang." jelas Levi yang seketika membuat rona wajah Zella berubah.
"Kaak Levi, kenapa kau makin menyebalkan sekali." ucap Zella kesal.
"Aku tidak mau menganggapnya sebagai hutang." gerutu Zella.
"Kau tetap berhutang padaku Zella sayang. Ingat five rounds! " ucap Levi mempertahankan argumennya.
"Nothing." Zella mulai bersikeras dengan pendiriannya.
"Okeeey, kalau begitu aku akan menambahkan lima lagi." ucap Levi membuat Zella makin kesal.
"Mana boleh seperti itu?" protes Zella.
"Tentu saja boleh, karena kau adalah istriku, Grizella Alexandria." tegas Levi.
"Menyebalkan." ucap Zella sambil bergidik ngeri membayangkan ia harus membayar hutangnya.
Levi hanya terkekeh melihat istrinya yang menurutnya makin menggemaskan saat ini.
Mobil Levi sudah samoai di halaman rumah sewanya. Tampak mama Karen dan Silla sudah menunggu di beranda rumah.
Zella langsung turun dari mobil Levi tanpa menunggu Levi membukakan pintu untuknya.
Zella menyalami mama Karen dan memeluknya sangat erat.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Mama Karen.
"Baik, Ma." jawab Zella. "Mama sehat kan?" tanya Zella.
"Iya sayang, mama sehat. Yuk masuk." ajak Mama.
"Hei kakak ipar." panggil Silla dan kini Zella memeluk sahabatnya.
"Bagaimana malam pertamamu?" bisik Silla membuat Zella langsung mencubit lengan Silla pelan.
"Kau ini." Zella langsung merangkul sahabatnya mengikuti langkah mama masuk ke rumah.
Levi yang masih berdiri di dekat mobil hanya menggelengkan kepalanya melihat mama dan adiknya terlihat seperti melupakannya.
"Hemmmm, secepat itu mama melupakan putranya sendiri." gumam Levi yang langsung masuk ke rumah.
***
Siang ini Nay sudah menyelesaikan kuliahnya dan bersiap-siap kembali ke ruko.
"Yaaaah, aku kan gak bawa motor tadi." batin Nay sambil menepuk dahinya.
"Nay," panggil Leon. "Yuk bareng ke ruko."
"Oke kak," jawab Nay dengan senyum yang lebar menerima tawaran Leon.
"Aku udah sempet bingung tadi mau pulang sama siapa." ucap Nay yang langsung naik ke motor Leon.
"Aku kan orang yang bertanggung jawab, Nay. Kalo tadi berangkat sama aku, pulang pasti aku anterin dong." jelas Leon yang mulai menjalankan motornya ke ruko.
Sampai di ruko, Leon langsung pamitan pada Nay. "Aku langsung pergi ya Nay." ucap Leon.
Setelah mengganti pakaian dan mencuci muka, Nay merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kak Leon itu perfect," batin Nay menatap langit-langit kamarnya.
"Udah cakep, baik, pengertian, pinter pula." Nay tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Leon selama ini. Lama kelamaan mata Nay terpejam dan terlelap dalam tidurnya.
Sore harinya, kamar Nay diketuk oleh karyawan Zella dan Nay pun bangun dari tidurnya.
"Nay, ditunggu Pak Bayu di bawah." ucap Mba Ika setelah pintu kamar Nay terbuka.
"Suruh tunggu aja Mba, aku mandi dulu sebentar." jawab Nay.
Nay segera membersihkan tubuhnya dan memakai baju. Setelah menyisir rambutnya dan memoles wajahnya tipis, Nay pun turu ke bawab menemui Bayu.
"Maaf pak, sudah membuat anda menunggu lama." ucap Nay yang sudah berdiri di hadapan Bayu.
"No problem, Nay. Yuk kita berangkat." ajak Bayu. Nay segera berpamitan dengan karyawan yang lain.
Baru setengah perjalanan, ponsel Bayu berdering dan Bayu langsung menepikan mobilnya dan menerima panggilan di ponselnya.
"Nay, aku harus segera ke rumah sakit. Apa kau mau menunggu?" tanya Bayu setelah panggilannya terputus.
"Iya gak papa Pak Bayu." jawab Nay yang memahami profesi Bayu.
Dengan segera Bayu menjalankan mobilnya ke rumah sakit.
"Ada korban kecelakaan yang harus segera diberi tindakan." jelas Bayu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Bayu segera ke Unit Gawat Darurat dan Nay menunggu di luar.
"Niza," panggil Nay. "Kau Niza kan?" tanya Nay memastikan bahwa orang yang menangis di depan pintu Unit Gawat Darurat adalah sepupunya.
Niza mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Nay.
"Kak Nay!" pekik Niza yang langsung memeluk Nay. "Beruntungnya aku bertemu denganmu." ucap Niza.
"Ayah tertabrak mobil kak saat kami hendak menyebrang. Sayangnya yang menabrak langsung melarikan diri." isak Niza dalam pelukan Nay.
"Jadi yang akan diselamatkan Pak Bayu adalah pamanku." batin Nay.
"Bagaimana bisa Niza?" tanya Nay kemudian.
Niza menceritakan kedatangannya dan ayahnya ke Bandung untuk mencari Nay yang sudah tidak ada kabar sejak pergi dari rumah mereka.
Sejak rumah peninggalan orang tua Nay terjual, Nay sempat tinggal dua hari di rumah pamannya. Hanya saja bibi Nay tidak suka dengan kehadiran Nay di rumahnya.
Karena merasa tidak enak, Nay meninggalkan rumah pamannya dan pergi ke Bandung.
"Maafkan aku tidak pernah memberi kabar pada kalian." ucap Nay merasa bersalah.
"Bagaimana kabar bibi?" tanya Nay pada Niza.
"Baik kak. Dia meminta kami untuk mencarimu." jawab Niza.
"Benarkah?" tanya Nay dan Niza hanya mengangguk.
"Ibu meminta kami mencarimu untuk dinikahkan pada juragan kampung, tempat ibu meminjam uang." jelas Niza jujur.
"Pergilah kak, jangan sampai kau menemui ayah." pinta Niza kemudian.
"Lalu, bagaimana kalau kalian tidak menemukanku?" tanya Nay yang sedikit terkejut dengan penuturan Niza.
"Aku harus menggantikanmu kak untuk menikah dengan juragan itu." jawab Niza sambil terisak.
"Kau masih sangat kecil untuk menikah Niza." ucap Nay tidak habis pikir dengan kelakuan bibinya.
"Kenapa paman setuju dengan ini semua?" tanya Nay geram. Seingat Nay, adik dari ibunya ini tidak pernah bertindak sampai melampaui batas.
"Ayah tidak ada jalan lain, karena ternyata hutang ibuku sangatlah banyak kak." jelas Niza.
"Niza, kau tidak boleh menikah. Ikutlah denganku. Aku akan membiayaimu." ucap Nay dan Bayu pun keluar dari ruang UGD.
Belum sempat menjawab, Niza langsung menemui dokter Bayu.
"Bagaimana keadaan ayah saya dokter?" tanya Niza.
Bayu mengajak Niza masuk ke ruangannya. Ia menjelaskan bahwa ayah Niza lehilangan banyak darah. Saat hendak transfusi darah, tubuhnya tidak menerima dan menyebabkan tubuhnya drop secara total.
Tanpa menunggu lama, ayah Niza sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Bayu sangat merasa tidak enak dengan Niza, terlebih saat mengetahui bahwa korban kecelakaan adalan paman Nay.
Nay menenangkan Niza yang terus menangis tanpa henti. Pihak rumah sakit mengurus pemakaman jenazah paman Nay.
Bayu pun segera mengurus administrasi. Setelah pemakaman, Niza mengikuti Nay ke ruko dan beristirahat di kamar Nay. Nay segera kembali ke bawah menemui Bayu.
"Maaf sudah terlalu merepotkan anda Pak Bayu. Saya akan mengganti biaya rumah sakit yang tadi." ucap Nay.
"Tidak perlu, Nay. Kalau begitu aku pamit dulu ya." ucap Bayu undur diri.
__ADS_1