
"Naik motor, pak?" tanya Zella yang kaget melihat motor sport merah milik Levi.
"Tentu saja," jawab Levi memberikan helm pada Zella dan memakaikannya.
"Saya gak nyangka kalo Pak Levi anak motor juga." ucap Zella yang sudah naik- ke atas motor Levi.
"Pegangan yang kencang, saya tidak mau kamu kenapa-napa!" perintah Levi dan Zella langsung memeluk Levi erat.
Levi tersenyum sangat lebar dan langsung menjalankan motornya menyusuri kota kelahiran Zella. Jantung Levi berdegub kencang ketika Zella mengeratkan pelukannya saat Levi memacu motornya lebih kencang.
"Jangan ngebut dong pak," pinta Zella.
"Udah diem aja. Saya udah lapar." jawab Levi.
Keduanya berhenti di restoran Jepang. Setelah memarkirkan motornya, Levi mengajak Zella masuk dan menuju ke tempat reservasi.
"Pak Levi udah biasa kesini ya?" tanya Zella yang melihat Levi sudah sangat hafal dengan kota kelahirannya.
"Iya." jawab Levi singkat menutupi rasa groginya.
"Sama pacarnya ya pak?" tanya Zella lagi dan membuat Levi membelalakkan matanya.
"Bisa dibilang begitu," jawab Levi membuang mukanya. Ia langsung menyantap makanannya ketika pesanannya tiba.
"Masa' iya sih, orang kayak Pak Levi punya pacar." ucap Zella pelan sambil menyantap makanannya.
Levi menatap Zella tajam, "Saya memang tidak mau pacaran. Maunya langsung ngelamar aja trus nikah." jawab Levi.
"Woooow, kereeen dong. Calon istri Pak Levi pasti cewek yang sangat luar biasa." ucap Zella sambil menyantap makanannya.
"Kamu bersiap-siap aja untuk jadi wanita luar biasa itu." jawab Levi datar membuat Zella mengernyitkan keningnya.
"Maksud bapak?" tanya Zella yang tidak paham dengan ucapan Levi.
"Kamu mahasiswa yang cerdas bukan? Mana mungkin kamu tidak paham dengan ucapan saya." jawab Levi ketus membuat Zella diam dan malas menanggapi Levi.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makan siang, keduanya melanjutkan ke toko buku. Kali ini Zella menunjukkan jalannya pada Levi. Setelah mendapatkan buku yang Levi cari, ia langsung mengajak Zella pulang.
"Pak Levi, lupa ya belum bayar saya. Kan ini gak gratis." ucap Zella yang sedang ingin melepaskan penatnya.
"Baiklah, mau apa?" tanya Levi. Zella langsung menunjuk bioskop yang ada di lantai atas toko buku. Dengan sigap, Levi langsung menarik tangan Zella menuju ke tempat yang Zella tunjuk.
Sampai di ruang bioskop, Zella langsung memilih film yang sangat ingin dilihatnya. Levi menuruti segala keinginan Zella mulai dari popcorn, minuman dan pemilihan tempat duduk.
Sambil menunggu filmnya dimulai, Zella mulai menikmati popcornnya.
"Zella," panggil Levi menatap Zella intens. Zella langsung menoleh melihat ke arah Levi.
"Selamat ulang tahun ya," ucap Levi memberikan kotak yang ada disakunya dan memberikan di telapak tangan Zella.
Mata Zella berbinar memandang Levi, "Pak Levi kok tau?" tanya Zella menerima hadiah dari Levi. "Jangan-jangan Pak Levi naksir ya sama saya?"
"Kamu ini suka kePedean ya." jawab Levi menoel hidung Zella dengan tersenyum. Zella langsung membuka hadiah dari Levi.
"Oh My God, Pak Levi. Ini kan jam tangan terbaru keluaran tahun ini." ucap Zella girang mendapatkan hadiah yang sangat diinginkannya.
"Thank's a lot for you surprise." ucap Zella senang. "Pak Levi romantis juga ya ternyata. Awas loh nanti jatuh cinta sama saya." ucap Zella kembali memakan popcornnya.
"Itu biar kamu ingat waktu, kapan harus bekerja, kapan harus kuliah, dan kapan harus beristirahat. Mikirnya jangan kejauhan." ucap Levi.
"Tenang aja Pak Levi. By the way, makasih banyak ya." ucap Zella dan keduanya kini menikmati film hingga senja tiba.
Sesampainya di mansion Zella, seluruh keluarga Zella sudah berkumpul di taman. Ada Lily, Dion, Silla, Nay, Reza, dan Leon menunggu Zella pulang.
Levi menutup mata Zella dengan kain saat hendak masuk ke mansion sesuai dengan arahan Azel dan menggandengnya menuju ke taman.
Sampai di taman, semua menyambut kedatangan Zella dengan surprise yang direncanakan Azel dan papanya. Betapa bahagianya Zella di ulang tahun yang ke 18, ia dikelilingi orang tersayangnya.
Satu persatu semua orang yang di taman memberi selamat kepada Zella. Setelah berbagai rangkaian acara yang disiapkan Papa Green, kini para tamu menikmati hidangan.
Dion, Azel, dan Levi tampak bercengkrama bersama. Nay, Silla, dan Zella meluahkan rindunya dengan saling bercerita. Leon dan Reza tidak mau mengganggu Zella dan temannya asik menikmati hidangan.
__ADS_1
Satu persatu keluarga Zella berpamitan pulang. Zella yang merasa sangat gerah pun membersihkan tubuhnya di kamarnya dan setelah itu bergabung lagi dengan yang lain di taman.
Kali ini pesta barbeque di taman yang sudah diramaikan oleh pria yang ada disana. Para wanita mulai memotong bahan bahan yang diperlukan sambil bercerita.
"Kak Lily ini yang membantuku mengurus perusahaan kak Azel." ucap Zella.
"Aku hanya melakukan apa yang ditugaskan padaku." jawab Lily.
"Tapi sepertinya Kak Lily orang yang spesial buat kak Azel," Silla berkomentar dan membuat pipi Lily merona.
"Benar, sepertinya kita akan pesta lagi di mansion Zella." ucap Nay dan Zella ikut menimpali menggoda Lily.
Lily yang terpojok dengan godaan Zella dan teman-temanya mulai angkat bicara. "Zella, bagaimana denganmu?" tanya Lily balik.
"Pilih Leon atau Levi?" pertanyaan Lily berhasil membuat Zella bungkam.
Silla dan Nay juga menunggu jawaban dari Zella. "Emmmh, kalo kak Leon itu memang berkali-kali menyatakan cintanya padaku." jawab Zella.
"Dia baik, perhatian, yaaaah good looking juga. Tapi aku belum ada rasa apa-apa. Jadi biar ngalir apa adanya aja." jawab Zella.
"Bagaimana dengan kakakku?" tanya Silla penasaran. Zella terdiam dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Kalo Pak Levi ituuu . . ." Zella menggantung kalimatnya dan mencari kata-kata yang pas untuk menggambarkan Levi.
"Selamat ulang tahun, Zella." teriak seseorang di dekat pintu taman dan membuat fokus semua yang ada di taman mengarah padanya.
"Boby." pekik Zella. "Ngapain kamu disini?" tanya Zella dan berjalan ke arah Boby.
"Tentu saja untuk merayakan ulang tahunmu sayang." ucap Boby makin berani.
Boby memberikan bouquet bunga pada Zella dan langsung diterima oleh Leon yang sudah berdiri di samping Zella. "Jaga batasanmu, bung." ucap Leon tegas.
"Zella baru jadi pacarmu dan belum jadi istrimu, bukan? Jadi aku masih punya peluang sampai kapanpun." Jawab Boby dan melangkah ke arah Azel. "Bukan begitu Bang Azel?"
Azel mengedikkan bahunya tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Levi yang sangat terkejut dengan ucapan Boby jadi bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
Semua yang di taman langsung merapat ke arah Zella dengan tatapan penuh pertanyaan, kecuali Levi yang enggan beranjak dari tempatnya.