
Zella dan Silla sudah menyerahkan formulir pendaftaran dan kini mereka langsung ke ruko karena hari ini kuliah akan dimulai jam sebelas siang.
Sampai di ruko, dilihatnya mobil om Bayu sudah terparkir rapi di depan ruko. Saat turun dari mobil, Silla langsung menghampiri om nya yang duduk menunggu foto copian.
"Lagi foto copy ya Om?" tanya Silla dan Bayu hanya mengangguk.
"Tante aku lagi apa?" tanya Silla lagi dan Bayu menunjuk ke arah tangga.
Nay terlihat membawa nampan dengan secangkir minuman hangat di tangannya.
"Diminum dulu kak, selagi hangat." ucap Nay menyodorkan minuman ke Bayu.
"Kakak?" tanya Silla dalam hati sambil menatap Bayu dan Nay bergantian. "Nay panggil Om Bayu, -kakak-." batin Silla.
"Udah, gak usah ganggu. Kita ke kamar aja yuk." ajak Zella menepuk bahu Silla dan mengamit tangannya. Mereka langsung naik ke atas menuju kamar Zella.
Zella langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Tak lama kemudian Zella pun tertidur.
Sedangkan Silla masih memainkan ponselnya dan berbalas pesan dengan teman-temannya. Beberapa pesan masuk dari Leon masih diacuhkannya.
Nay menyusul sahabatnya ke kamar Zella. Ia pun duduk di samping Silla.
"La." panggil Nay.
"Mau cerita atau enggak?" tanya Silla meletakkan ponselnya dan menatap ke arah Nay.
Nay mengangguk dan mulai bercerita.
Flash back ON
Nay baru saja menjemput Niza dari sekolah. Saat akan masuk ke ruko, tiba-tiba perutnya sangat sakit dan Nay terus memegangi perutnya. Untungnya, di ruko ada Bayu yang sedang menjilid berkasnya.
Dengan sigap Bayu memapah Nay yang sedang kesakitan. Nay terlihat sangat pucat menahan rasa sakitnya, akhirnya Bayu menggendong Nay dan membawanya ke kamar.
"Thanks Pak Bayu." ucap Nay yang masih menahan rasa sakit di perutnya.
"Magh atau dismenorhea?" tanya Bayu.
"Dismenorhea." jawab Nay dan Bayu segera keluar dari kamar Nay.
__ADS_1
Bayu langsung turun ke pantry dan meminta washlap dan air hangat pada Niza untuk mengompres perut Nay. Setelah itu, Bayu langsung bergegas kembali ke kamar Nay dan mulai mengompresnya.
"Biar aku kompres dulu, Nay." ucap Bayu. Sayangnya Nay justru menggelengkan kepalanya.
"Aku malu" jawab Nay.
"Menurutlah agar sakitmu berkurang," desak Bayu dan Nay pun menurut.
Bayu mulai menyibakkan kaos Nay dan mengompres perutnya. Melihat perut Nay saja membuat Bayu menelan ludahnya kasar. Mengompres perut Nay membuat detak jantung Bayu sangat tidak karuan. Terlebih saat tangannya bersentuhan dengan kulit perut Nay.
Sedangkan sakit di perut Nay kini sudah mulai berkurang.
"Maaf Pak, bisa tidak kompresnya agak naik sedikit?" pinta Nay.
Mau tidak mau, Bayu kembali menyibakkan kaos Nay lebih ke atas lagi dan mengompresnya. Tanpa sengaja, Bayu menyenggol bra milik Nay dan membuatnya semakin panas dingin. Untungnya Nay sudah terlelap dan membuat Bayu bernafas lega.
"Bisa mati kutu aku jika Nay menjadi pasienku." gerutu Bayu dalam hati. "Biasanya menangani berbagai macam model pasien juga gak masalah. Tapi kenapa kali ini malah membuatku kikuk tidak karuan?" tanya Bayu dalam hati.
Bayu terus memandangi wajah Nay yang tertidur pulas. Sayangnya pandangannya terganggu saat Niza membawakan obat dari kurir yang dipesannya.
"Pak dokter, ini obat yang anda pesan." ucap Niza.
"Saya harus segera kembali bekerja." Ucap Bayu yang hendak melangkahkan kakinya.
Nay membuka matanya dan menarik tangan Bayu, " terima kasih banyak atas perhatiannya Kak." ucap Nay membuat Bayu terkejut dan mengurungkan langkahnya.
"Apa Nay?" tanya Bayu.
"Terima kasih banyak Kak Bayu." jawab Nay. "Hati-hati di jalan." ucapnya lagi membuat Bayu seperti bermimpi.
"Kau memanggilku apa?" tanya Bayu yang masih tidak percaya Nay menanggilnya kakak.
"Emmmh, aku memanggilmu -Kak Bayu-. Apa ada yang salah?" tanya Nay sambil melepaskan tangannya yang masih memegang tangan Bayu dan Bayu pun menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja tidak. Baiklah, aku pergi dulu. Speedy recovery, Nay." pamit Bayu dan meninggalkan Nay dengan wajah yang berseri seri.
Mulai saat itu, Bayu dan Nay mulai sering bertukar pesan.
Flash back OFF
__ADS_1
"Oh My God, Nay. Kau akan menjadi tante ku dan tantenya Zella." ucap Silla bahagia mendengar cerita Nay.
"Belum tentu, La." jawab Nay membuat Silla mengernyitkan dahinya.
"Kenapa Nay?" tanya Zella yang tiba-tiba membuka matanya dan ikut nimbrung.
"Kak Bayu gak pernah bilang lagi suka atau cinta gituh sama aku." jawab Nay sendu.
"Kan dulu udah pernah dilamar waktu habis acara nikahnya Zella." jelas Silla.
"Itu kan cuma main-main, La. Toh sekarang aku lihat Kak Bayu juga deket ama cewek." ucap Nay.
"Siapa?" tanya Zella dan Silla beriringan.
"Bu Rizka, kepala sekolah Niza. Orangnya cantik, mapan lagi." jawab Nay.
"Cieeeee, tante aku nieh cemburu ceritanyaa." goda Silla.
"Yang jelas, Nay mah udah ada tanda tanda untuk melepas status jomblonya. Tinggal Silla nih gimana." ucap Zella sambil menaik turunkan alisnya.
"Aku mah santaai." jawab Silla. "Eh iya, udah hampir jam sepuluh nih. Siap-siap yuk." ajak Silla.
Akhirnya mereka bertiga bersiap-siap pergi ke kampus. Tiba-tiba ponsel Nay berdering dan muncul notifikasi pesan dari grup anak BEM.
"Aku duluan ya, mau mampir ke kantor BEM. Kalian ke kelas duluan gak papa." ucap Nay yang langsung cabut dari ruko.
Kini tinggal Zella dan Silla yang masih bersiap-siap di ruko.
"Nay udah mulai suka sama Om Bayu. Trus kamu ama Leon ada peluang dong." ucap Zella setelah Nay tak terlihat lagi.
"Zellaaaaa, aku males tau ngomongin Kak Leon. Udah deh gak usah bahas itu." jawab Silla. "Yuuk buruan ke kampus." ajak Silla mengamit tangan Zella.
"Dasar kamu yaa. Ternyata adik ipar aku ini sangat keras kepala." ucap Zella mengikuti langkah Silla.
"Bukan keras kepala iparku sayang. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." jelas Silla.
"Baiklah, kali ini aku mengalah. Karena kau adikku." ucap Zella mengacak rambut Silla.
"Hei, tapi usiaku lebih tua darimu." jawab Silla.
__ADS_1
Keduanya terus mengoceh sambil naik ke mobil dan berangkat ke kampus.