
Hari ini, Zella dan yang lain sudah siap pergi ke mansion Papa Green untuk menghadiri acara pertunangan Azel. Zella, Nay, dan Silla sudah berada di mobil Levi. Sedangkan Leon dan Renata pergi berdua dengan mobil milik Leon.
Carina dan Laluna berjanji akan datang dengan orang tua mereka saat acara digelar. Mobil Levi sudah sampai di halaman mansion Zella. Disusul dengan kedatangan mobil yang dikendarai Leon.
Winda yang sudah lebih dulu sampai langsung menyambut kedatangan mereka bersama Papa Green dan Kak Azel. Mereka langsung disajikan menu makan malam.
"Kapan kau datang, Winda?" tanya Zella.
"Sore tadi diantar teman naik sepeda motor. Kau tahu Zella, sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktuku di perkebunan teh milik papa." ucap Winda.
"Apá kau menyukai kegiatan baru mu?" tanya Zella kemudian.
"Tentu saja. Aku sekarang lebih bersyukur dengan hidupku. Ini berkat kebaikanmu, Zella." ucap Winda.
Zella hanya tersenyum tidak menanggapi lebih lanjut. Levi terlihat mengambil duduk disamping Leon dan Azel. Disamping Azel ada Papa Green, Zella, Silla, Nay, Winda dan Renata duduk memutari meja makan.
Winda memandang Azel dengan rasa kecewa yang mendalam. "Jika aku tidak bisa mendapatkan Azel, maka aku harus mendapatkan Levi dan menyingkirkan Zella dari kehidupan Levi." gumam Winda dalam hati sambil menikmati makanannya.
"Jangan perlihatkan kesedihanmu, Kak. Tersenyumlah." bisik Leon yang melihat sepupunya tampak belum bisa menerima pertunangan Azel.
Winda pun langsung tersenyum. Setelah selesai makan, maid di rumah Zella mulai menundukkan kamar untuk teman-teman Zella.
Winda kembali ke kamarnya yang dulu ia tempati bersama dengan Renata dan Nay. Levi dan Leon di minta Azel untuk tidur di kamarnya. Sedangkan Silla akan tidur bersama Zella.
Setelah menata barang masing-masing di dalam kamar yang akan mereka tempati, mereka pun kembali berkumpul bersama. Yang perempuan memutuskan untuk menoton film di ruang keluarga, sedangkan yang laki-laki memutuskan untuk bertanding catur di taman.
Renata masih memikirkan cara untuk memisahkan Levi dan Zella. Sampai tidak begitu fokus saat ponselnya berdering.
"Kak Renata ponselmu berdering.," ucap Silla menyodorkan ponsel milik Renata.
__ADS_1
Renata langsung mengambil ponselnya dan pergi menjauh dari yang lainnya.
"Uangku bisa habis jika kalian terus memerasku." ucap Renata kesal.
"Baiklah, besok akan aku kirim uangnya." ucap Renata kemudian dan memutus panggilannya.
"Maafkan aku belum sempat membantumu melacaknya." ucap Leon sambil menepuk bahu Renata dan sontak Renata berbalik karena terkejut.
"Kau mengagetkanku, Leon." ucap Renata mengelus dadanya. "Dia kembali memerasku. Uangku sudah sangat menipis."
"Jangan kirim dulu uangnya, aku akan menghubungi temanku untuk mengurus masalahmu." ucap Leon kembali bergabung bersama yang lain.
Leon tidak perlu meminta bantuan temannya karena dia lah sebenarnya hacker handal yang dimaksud. Leon sudah berhasil menjebol keamanan ponsel pemuda yang dimaksud Renata tadi malam, hanya saja ia belum menelitinya secara detail.
"Bang Azel, aku ke míni market di depan dulu yaa. Ada yang ingin aku beli." pamit Leon pada lawan mainnya.
"Baiklah, aku juga sepertinya sudah mengantuk." jawab Azel merapikan papan catur nya.
Sesampainya di depan mini market, Leon langsung mencari tempat duduk dan membuka laptopnya untuk meretas semua sistem yang ada di ponsel Bang Usep dan anak buahnya.
Vídeo di ponsel Bang Usep berhasil Leon hapus karena anak buahnya mengirim file tanpa sandi keamanan sedikit pun. Tapi Leon mulai curiga dengan percakapan di ponsel Bang Usep dengan Kedua anak buahnya. Begitu pula percakapan antara Bang Usep dengan Renata.
Leon kembali mengecek secara detail, bahkan tentang percakapan panggilan antara Bang Usep dengan Renata.
"Ternyata Renata berbohong dengan ku," ucap Leon kesal sambil menggebrak meja. "Dialah dalang sebenarnya pelecehan yang hampir terjadi pada Zella, tapi dia juga yang terkena batunya." gumam Leon yang sangat cepat mengambil kesimpulan.
Dengan segera Leon memindahkan isi ponsel ketiga pemuda yang memeras Renata ke dalam laptopnya dan menyimpan bukti tersebut. Sedangkan sudah dipastikan bahwa sekarang ketiga pemuda tersebut tidak akan bisa menghubungi Renata lagi.
"Aku harus segera menemui Renata, dan menanyakan hal ini padanya." ucap Leon yang gusar karena perilaku sepupunya.
__ADS_1
Sesampainya di mansion Zella, nampak Renata sudah menunggu kedatangannya. "Bagaimana Leon?" tanya Renata.
"Aku sudah menghapus videomu, tapi kau hutang banyak penjelasan padaku. Tak kusangka, kau berani melakukan hal keji pada Zella." ucap Leon meninggalkan Renata.
Ia tidak ingin membahasnya disini karena akan timbul banyak masalah besar.
"Si*l. Mengapa aku tidak ingat kalau dia pasti akan mengetahui isi dari ponsel para bedebah itu." gumam Renata. Ia langsung mengirimkan pesan pada Leon.
Renata
Aku akan menjelaskannya nanti. Kumohon kau percaya padamu, Leon.
Sent: 23.16
Leon hanya membaca isi pesan Renata tanpa membalasnya.
"Kurang ajar, dia hanya membaca pesanku tanpa berniat membalasnya," umpat Renata dalam hati dan kembali ke kamar Winda.
Winda dan Nay sudah tertidur lebih dulu. Renata merebahkan tubuhnya di atas kasur Winda sambil berfikir keras bagaimana Leon mau mempercayai argumennya. Saat matanya hampir terpejam ponselnya berbunyi dan muncul notifikasi pesan dari Leon.
Leon
Kuharap kau bisa bertanggung jawab atas apá yang sudah kau lakukan. Aku sudah tahu semuanya jika kau memang bersalah.
Sent: 23.59
"Aku tak percaya, Leon benar-benar tidak berpihak padaku." ucap Renata makin gusar. "Aku tidak mungkin melarikan diri, aku harus melakukan sesuatu agar Leon bisa tutup mulut."
Renata benar-benar tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan apá yang harus ia lakukan besok.
__ADS_1
Di lain sisi, Leon makin geram dengan apá yang baru dia ketahui. Lagi-lagi Zella terkena tindak kejahatan dan kali ini karena ulah sepupunya sendiri. Meskipun Zella selalu dapat melepaskan diri dan selamat, tapi Leon akan sangat merasa bersalah jika tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada Zella.