Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 48


__ADS_3

Pagi ini, Zella sudah siap untuk pergi mencari cincin tunangannya dan fitting gaun untuk acaranya nanti. Levi sudah tiba di mansion Zella dan mereka pun segera pergi meninggalkan mansion Zella.


"Kak Levi, aku tidak ingin acara yang terlalu berlebihan." Zella membuka percakapan.


"As your wish, honey." jawab Levi. "Aku juga hanya mengundang kerabat dekat saja."


"Aku ingin acaranya di mansion saja. Aku tidak ingin kejadian buruk terus berulang." ucap Zella.


"Baiklah, nanti kita bicarakan dengan papamu dan Bang Azel." jawab Levi.


Sesampainya di -K- Jewelry mereka pun memilih cincin yang pas menurut mereka. Dan langsung fitting gaun untuk acara pertunangan mereka.


***


Di Bandung.


Nay tampak sibuk mengelola ruko Zella yang sangat ramai di jam kerja. Meskipun sedikit kewalahan, Nay sangat bersyukur dengan apa yang ia geluti saat ini.


"Perlu aku bantu, Nay." ucap Leon menawarkan diri.


"Tentu saja jika tidak merepotkanmu kak Leon." jawab Nay.


Leon langsung membantu melayani konsumen yang datang. Hingga tinggal beberapa mahasiswa saja yang sedang menunggu antrian foto copy.


"Kuliah lagi kosong, Nay?" tanya Leon.


"Hari ini masuk siang, Kak. Tunggu bentar ya, biar aku buatkan minum." ucap Nay yang langsung beranjak ke pantry.


Tanpa menunggu lama, Nay sudah kembali membawakan minuman untuk Leon dan cemilan.


"Terima kasih sudah membantuku," ucap Nay menyodorkan minuman untuk Leon.


"Sama-sama, oh iya Nay. Bulan depan anak BEM akan mengumpulkan beberapa anak jalanan dan kita akan mengajarnya setiap weekend. Aku minta tolong buatkan proposalnya ya." ucap Leon.


"Oke Kak." jawab Nay singkat.


"Kamu bisa ikut bantu untuk mengajar anak jalanan juga kan?" tanya Leon.


"Aku usahakan ya kak." jawab Nay. Nay segera bersiap-siap untuk pergi ke kampus.


"Udah mau berangkat ke kampus?" tanya Leon yang melihat Nay sudah siap.


"Mampir kantor BEM dulu, kan katanya mau buat proposal." jawab Nay.

__ADS_1


"Oh iya, bareng aja yuk." tawar Leon yang langsung menarik tangan Nay.


Nay pun menurut dan langsung naik ke motor Leon. Sesampainya di kantor BEM, Nay langsung duduk di depan komputer dan membuat proposal yang Leon minta.


Tepat jam 12 siang, Nay sudah menyelesaikan proposalnya dan membuat Leon senang atas kerjaan Nay.


"Thanks, Nay. Aku traktir di kantin kampus yuk." ajak Leon kemudian.


Semenjak Nay menjabat jadi sekretaris BEM, Ia sudah biasa menghabiskan waktunya dengan Leon. Terlebih Leon sangat puas dengan hasil kerja Nay. Tidak ada yang spesial antara mereka berdua. Keduanya saling menjalin kedekatan karena satu organisasi saja.


Sampai di kantin, Nay langsung memesan menu yang disukainya dan mencari tempat duduk. Baru saja mau duduk, seorang dosen yang sedang membawa makanannya juga tiba-tiba duduk di samping Nay.


"Boleh saya duduk disini?" tanya Bayu, dosen fakultas kedokteran.


"Silahkan Pak." jawab Nay yang tidak ambil pusing dan segera menyantap makanannya.


Bayu yang memperhatikan Nay jadi melupakan makanan yang ada di hadapannya. Sampai Leon bergabung di mejanya.


"Pak Bayu," sapa Leon. "Kebetulan sekali pak, sebenarnya saya mau mengajukan proposal kegiatan BEM. Pak Bayu yang sekarang menggantikan Pak Levi untuk sementara kan?" tanya Leon kemudian.


"Oh iya, kamu bisa taruh proposalnya di atas meja ruangan saya ya." jawab Bayu yang kemudian mulai memakan makanannya.


Leon memperhatikan Bayu yang selalu mencuri pandang ke arah Nay, hanya saja Nay tidak begitu menggubrisnya.


"Tentu saja," jawab Bayu masih memperhatikan Nay yang cuek.


"Bagaimana kalo kita berangkat bersama dari sini pak, saya nebeng mobil bapak gituuh." ucap Leon yang memang berani dengan Bayu.


Meskipun Bayu sudah berusia 35 tahun, ia masih sering kongkow di rumah Dion, yang notabenenya adalah kakak dari Leon.


"Baiklah. Dasar ya, anak mahasiswa maunya yang gratis aja." ucap Bayu menikamti makanannya.


"Kak Leon, aku ke kelas dulu ya. Makasih traktirannya." ucap Nay. "Mari pak." Nay langsung beranjak meninggalkan kantin.


"Cewek kamu ya?" tanya Bayu melihat kepergian Nay.


"Pak Bayu naksir yaaa?" goda Leon. "Yang ini jangan deh pak. Usianya terpaut ENAM BELAS tahun loh sama bapak." ucap Leon.


"Kamu gak liat tampang saya masih seperti sebaya sama kamu?" balas Bayu narsis.


"Dia Nay, sahabat dari calon tunangan Pak Levi. Dia baru semester 1. Jadi lebih baik Pak Bayu mundur aja deh. Cari mahasiswa semester akhir." ucap Leon.


"Besok saat kita ke acara Levi, kamu ajak dia ya. Hari ini saya yang bayarin." ucap Bayu yang langsung ke meja kasir membayar miliknya, Leon dan Nay.

__ADS_1


"Jangan lupa ya, Leon." ucap Bayu sambil pergi meninggalkan kantin.


"Huuuft, gak habis pikir deh sama dosen disini. Seneng amat cari daun muda." gumam Leon menghabiskan makanannya.


***


Levi dan Zella yang sudah selesai mencari cincin dan fitting baju langsung kembali ke mansion Zella. Sesampainya di halaman mansion Zella, papa Green dan Azel terlihat bermain catur di depan mansion.


"Nak Levi," panggil papa Green. "Di dalam ada Granny dan Granpa Zella. Temuilah mereka." ucap Papa Green dan Levi langsung masuk menemuinya.


"Semua baik-baik aja kan pah?" tanya Zella dan papa Green hanya mengedikkan bahunya.


"Jangan buat aku khawatir paaah." ucap Zella yang langsung menyusul Levi masuk ke dalam.


"Tunggu dulu, Zella. Jangan terburu-buru." cegah Azel yang menarik tangan Zella.


"Papah sama Kakak ini kenapa sih?" tanya Zella kesal.


Tak lama kemudian Levi keluar dari mansion dan Zella langsung menemuinya.


"Kak Levi baik-baik saja kan?" tanya Zella khawatir.


"Tentu saja, Granpa dan Grannymu sangat baik, Zella." jawab Levi membuat Zella bernafas lega.


"Aku akan kembali besok. Istirahatlah." ucap Levi.


Setelah berpamitan dengan papa Green dan Azel, Levi pun segera meninggalkan mansion Zella.


"Granny," panggil Zella yang langsung menghambur ke pelukan Granny-nya.


"Kapan Granny tiba dari Jerman?" tanya Zella. "Mana Granpa?"


"Baru tadi pagi, tak lama setelah kamu meninggalkan mansion." jelas Granny. "Granpa sedang beristirahat di kamar. Sejak tiba disini belum merebahkan badannya."


"Granny tidak mau lagi ketinggalan acara penting cucu kesayanganku." ucap Granny yang sedang menyembunyikan rasa sedihnya setelah mendengar Zella yang berulang kali hampir celaka.


"Emmmh, Granny. Aku sangat merindukanmu. Malam ini biarkan Granpa tidur sendirian ya." ucap Zella. "Granny harus tidur denganku." pinta Zella yang mulai keluar sifat manjanya.


"Ayo Granny, kita ke kamar." ajak Zella. "Granny pasti sangat lelah. Aku akan memijat Granny di kamar." ucap Zella sambil menggandeng granny-nya.


"Kau tetap cucu kecil granny meskipun sudah besar seperti sekarang." ucap Granny.


Sesampainya di kamar, Zella langsung menyiapkan air mandi untuk Granny. Setelah mandi, Granny langsung beristirahat di kamar Zella.

__ADS_1


__ADS_2