Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 53


__ADS_3

Setelah membuat bitterballen dan coconut mocha untuk Levi, Zella segera kembali ke kamarnya. Dilihatnya Levi masih terlelap di dalam selimutnya dan Zella meletakkan kudapannya di atas nakas.


Zella membuka tirai jendela kamarnya dan membuat sinar matahari masuk dari jendela kamarnya, membuat Levi mengerjapkan matanya yang silau. Dan Zella pun duduk di tepi tempat tidur tepat di samping suaminya.


Zella memandangi wajah suaminya yang masih belum membuka matanya.


"Sudah puas memandangi wajah tampan suamimu, sayang?" tanya Levi yang kemudian membuka matanya.


Zella hanya tersenyum, "Kau terlalu percaya diri Pak Dosen." jawab Zella.


"Bangunlah, aku sudah menyiapkan kudapan untukmu." ucap Zella yang kemudian beranjak dari tempat tidur Levi.


Dengan cepat Levi menarik tangan Zella hingga Zella terjatuh di pelukan Levi.


"Istriku terlihat makin cantik pagi ini," bisik Levi dan mengecup ceruk leher Zella.


Zella terkejut dan mulai meremang karena perbuatan Levi. Ia berusaha menarik dirinya dari tubuh Levi, sayangnya Levi mempererat pelukannya.


"Jangan bergerak sayang, atau kau akan membangunkan senjataku yang ada di bawah sana." ucap Levi membuat Zella melebarkan matanya.


"Kau mesum sekali, Kak," gerutu Zella.


"Ini bukan mesum sayang, tapi kebenaran." ucap Levi menatap Zella lekat lekat.


Levi mulai mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya membuat Zella memejamkan matanya dan . . .


Cup


Bibir keduanya bertemu sekilas.


"Morning kiss sayang." ucap Levi dan Zella membuka matanya.


Levi langsung memagut bibir Zella pelan dan sangat lembut. Kini Zella yang mulai menikmati permainan Levi, membuka bibirnya memberikan ruang untuk suaminya bermain lebih dalam.


Levi tidak mau melewatkan kesempatan emasnya. Ia melepas pagutannya di bibir Zella dan berpindah ke leher istrinya.


Zella yang makin tidak karuan hanya dapat menahan suaranya akibat perbuatan suaminya.


"Kau tahu sayang, ini yang sangat aku idam-idamkan sejak lama. Menikmati leher jenjangmu, Zella." bisik Levi membuat Zella makin meremang.


Levi kembali membuat tanda di leher istrinya. "Jangan tahan suaramu, sayang." bisik Levi dan Zella mulai melenguh saat Levi kembali membuat tanda di leher Zella.


"Emmmmh, Kaaak." lenguh Zella membuat Levi semakin berani meraba dada istrinya.


Tangan Levi mulai membuka kancing baju istrinya satu persatu dan menanggalkan baju Zella.


Levi merebahkan Zella dan menindih tubuh istrinya. Levi memandangi tubub istrinya dan membuat Zella merona.


"Kaaaak . ." rengek Zella. "Jangan melihatku seperti itu." pinta Zella mulai mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya.


"Apa menginginkanmu, istriku sayang." ucap Levi.

__ADS_1


"Tapi aku sedang datang bulan." ucap Zella mengambil bantal dan menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan tank top.


"Oh My God, Zellaaa." Levi mengusap wajahnya kasar dan langsung masuk ke kamar mandi.


Zella bernafas lega melihat suaminya sudah masuk dalam kamar mandi.


"Huuft, Selamaaaat." ucap Zella yang kembali mengenakan bajunya dan merapikan tempat tidurnya yang berantakan karena ulah Levi.


Ia pun duduk di depan meja riasnya dan menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Mengikat rambutnya ke atas dan memoles sedikit mukanya.


Zella mengoleskan foundation di lehernya untuk menutupi jejak kenakalan suaminya.


Setelah itu ia duduk di sofa kamar menunggu Levi selesai membersihkan diri.


Tak lama kemudian Levi keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Zella yang baru kali ini menatap tubuh Levi sedikit tercengang, menurutnya ketampanan suaminya saat ini bertambah sepuluh kali lipat dari biasanya.


"Ehhhmmm," Levi berdehem hingga membuat Zella mengalihkan pandangannya dan mengambil majalah di depannya.


"Kenapa tidak mengganti baju di kamar mandi kak?" tanya Zella yang pura-pura membaca majalah.


"Mulai sekarang, Aku akan mengganti bajuku disini." ucap Levi dan segera memakai pakaiannya.


Zella masih tetap pada posisinya, menutup mukanya dengan majalah yang tadi diambilnya.


"Yaa Ampuuun kak Levi, kenapa kau selalu bikin aku salah tingkah seperti ini." gumam Zella dalam hati.


"Majalahmu terbalik, sayang." ucap Levi.


"Duuuuh, Zellaaa. Kenapa oon banget sih." gerutu Zella dalam hati.


Zella meletakkan majalah yang dari tadi menutupi wajahnya.


"Aku memang sengaja membuatnya terbalik kok." jawab Zella sambil melirik ke arah Levi.


"Kemarilah," ucap Levi menarik pinggang Zella agar duduk lebih dekat dengan Levi.


"Minuman apa yang kau buatkan untuk ku sayang?" tanya Levi sambil mencicipi minuman buatan istrinya.


"Kenapa kak?" tanya Zella. "Gak enak ya rasanya?"


"Aku belum pernah meminum ini sebelumnya." jawab Levi jujur.


"Semua minuman yang kau buatkan untukku, rasanya selalu luar biasa sayang." puji Levi.


"Minuman buatanmu memiliki cita rasa yang sangat khas." ucap Levi kemudian.


"Benarkah?" tanya Zella dengan mata yang berbinar.


"Ini namanya coconut mocha. Kalau yang ini namanya bitterballen." Zella menunjuk kudapan yang ia buat untuk Levi.

__ADS_1


"Apa itu pahit?" tanya Levi sambil meletakkan cangkir minumannya.


"Tentu saja tidak." jawab Zella mengambilkan bitterballen dan menyuapkan ke mulut Levi.


"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Zella melihat suaminya terlihat sangat menikmati kudapan buatannya.


"Ini sangat lezat, sayang." puji Levi sambil terus menikmati kudapan paginya.


"Sejak kapan kau pandai memasak?" tanya Levi.


"Sejak kecil aku sudah terbiasa membantu mama memasak." jawab Zella terlihat sendu setiap membicarakan mamanya.


"Bagaimana jika sore ini kita ke makam mama?" tawar Levi dan Zella langsung mengangguk setuju.


"Oke sayang, aku akan mengenalkan suamiku pada mama." ucap Zella terdengar sangat gembira.


"Zella, aku senang mendengarmu memanggilku -sayang-." ucap Levi menatap Zella intens.


Jantung Zella kembali berdegub kencang saat beradu pandang dengan suaminya.


"Coba panggil aku lagi seperti yang aku dengar barusan." pinta Levi.


"A aku . ." ucap Zella


"He hemm . ." Levi menunggu kelanjutan ucapan istrinya.


"Mencintaimu, sayang." ucap Zella sambil menyandarkan kepalanya di dada Levi.


Dan Levi yang kini jadi tersipu malu karena pernyataan Zella. Semburat rona merah memenuhi wajah Levi.


"Aku juga sangat mencintaimu, istriku." balas Levi sambil mengusap rambut Zella.


"Sejak kapan kau mulai mencintaiku?" tanya Levi.


"Apa itu harus dijawab?" tanya Zella balik.


"Tentu saja. Katakan padaku, sejak kapan sayaaang?" desak Levi.


"Rahasia." bisik Zella di telinga Levi.


"Kau mulai nakal ya." Levi mencubit hidung Zella pelan.


Zella hanya terkekeh melihat suaminya salah tingkah.


Kini kudapan yang Zella buat untuk Levi sudah habis tak bersisa.


"Biasanya berapa lama kau datang bulan sayang?"


"Yah, setidaknya tujuh hari ke depan baru akan usai." jawab Zella.


"Apaaaa?!!!" pekik Levi mulai terlihat gusar. "Kenapa kau sungguh membuatku tersiksa sayaaaaaang." keluh Levi menahan rasa kesalnya.

__ADS_1


Zella hanya tertawa pelan melihat suaminya. Sedangkan Levi menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memikirkan bagaimana nasibnya tujuh hari ke depan.


__ADS_2