Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 65


__ADS_3

Zella bersorak gembira saat formulir sudah ada di tangannya. Ia dan Silla pun langsung menyimpan formulirnya dan bergegas menuju ke kelasnya.


Sesampainya di kelas, Zella dan Silla langsung mengisi formulir tersebut sampai tidak tahu ketika Nay sudah duduk di samping mereka.


"Dosen udah dateng tuh." ucap Nay menepuk bahu kedua sahabatnya.


Zella dan Silla kembali memasukkan formulirnya ke dalam tas dan fokus memperhatikan dosen yang mengajar di depan kelas.


Tepat pukul sebelas, kuliah Zella yang pertama pun berakhir. "Grizelle Alexandria." panggil Pak Anton, asisten dosen Levi.


"Iya Pak." jawab Zella.


"Saya minta tolong untuk mengumpulkan absensi kelas di ruangan Pak Levi ya." pinta dosen tersebut.


"Baik pak," jawab Zella, dan Pak Anton pun segera meninggalkan kelas.


"Zell, aku bareng Nay aja ya ke ruko duluan. Gak sabar mau bikin sei sapi." ucap Silla.


"Oke deh. Nanti aku nyusul." jawab Zella mengambil absensi kelas dan berjalan menuju ke ruangan Levi.


Sampai di ruangan Levi, Zella langsung meletakkan absensi di meja Levi dan keluar dari ruangan Levi. Saat sampai di pintu, Zella tidak bisa membuka handle pintunya yang tiba-tiba terkunci.


"Hah, terkunci." ucap Zella panik. Ia segera mengambil ponselnya dan menelfon Levi untuk menanyakan password pintu di ruangannya.


Levi tidak menjawab panggilan dari Zella.


"Aduh gimana ini? Silla tau gak yaa?" tanya Zella sambil menekan nomor ponsel Silla.


Belum sempat terhubung, tiba-tiba ada yang memeluk Zella dari belakang dan mengambil ponsel Zella dari tangannya.


Dengan reflek Zella langsung mendorong lengannya ke belakang hingga sikunya mengenai perut Levi.


"Awwwwh, Zellaaa." pekik Levi kesakitan.


Zella yang terkejut langsung berbalik ke belakang. "Yaa Ampuuuun Kak Leviiii." ucap Zella meraih tubuh Levi.


"Kamu sadis banget sih sama suami sendiri." gerutu Levi memegang perutnya.


"Abis Kak Levi ngagetin sih." jawab Zella merasa bersalah. "Sakit banget ya?" tanya Zella.


Levi mengangguk, "Anterin aku ke kamar yuk sayang." pinta Levi sedikit merintih sambil menunjuk ke ruangan di belakang kursi kebesarannya.


Zella pun langsung memapah suaminya ke ruangan yang dituju.


"Gini nih kalo punya istri jago karate. Tadinya mau kasih surprise biar romantis, eh ujung-ujungnya malah babak belur." ucap Levi sedikit merajuk.


"Maaf kaaaak, namanya juga kaget." balas Zella.


"Aduh sakit banget nih sayang." ucap Levi penuh iba saat sudah sampai di kamar.


Zella segera membantu suaminya berbaring dan Levi langsung menarik tubuh istrinya hingga terjatuh tepat di atasnya.

__ADS_1


"Kaaaak." ucap Zella dengan perasaan yang sudah tidak karuan. Berdekatan dengan suaminya membuat jantungnya berdegub sangat kencang.


"Aku merindukanmu sayang," ucap Levi yang membuat wajah Zella merona seketika.


"Katanya sakit?" tanya Zella berusaha mengalihkan pandangan suaminya. "Biar aku obati dulu."


"Beneraaaan mau ngobatin?" tanya Levi yang terus menatap istrinya.


Zella mengangguk dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Levi.


Levi merenggangkan pelukannya dan merubah posisinya. Kini ia berada di atas tubuh istrinya.


"Aku sangat sakit saat tidak menemukanku di sampingku, sayang. Jadi sekarang, kau harus mengobati rasa sakitku." bisik Levi dan mulai bermain di telinga istrinya dengan lid*hnya.


"Aaaaaaah kaak." desah Zella kegelian.


"Suara d*s*hanmu sangat membuatku rindu." ucap Levi dan terus bermain di leher Zella.


Levi hanya bermain tanpa membuat tanda di leher istrinya. Ia mulai membuka kancing blouse Zella satu per satu hingga terpampang hal yang paling indah yang menjadi favorit Levi saat ini.


Zella terus melenguh dan menceracau akibat permainan yang dibuat oleh suaminya.


Levi segera membuka pengaitnya dan melepaskan br* Zella. Ia mulai bermain di d*d* Zella hingga membuat Zella menggelinjang hebat.


Dengan pelan Levi men*kmat* tubuh istrinya dan meninggalkan beberapa tanda disana. Zella terus melenguh dan mendesah hingga membuat Levi makin bersemangat.


Kini tubuh Zella dan Levi sudah tidak mengenakan apapun. Levi langsung menyatukan senjatanya ke ruang senjata milik istrinya. Zella sudah tidak lagi merasa sakit dan kali ini sangat menikmati penyatuannya dengan Levi.


"Thanks sayang." ucap Levi mengecup bibir Zella. "Aku sungguh merindukanmu," ucap Levi.


"Aku lelah saat istriku sangat jauh dariku." ucap Levi membuat Zella sedikit tersentak.


"Bagaimana jika nanti Kak Levi tau aku mendaftar pertukaran pelajar di Jerman." batin Zella.


"Maaf mengabaikanmu kemarin, sayang. Aku harus lembur agar dapat segera bertemu denganmu." jelas Levi.


Zella mengangguk sambil memainkan jarinya di dada Levi.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu, kak." ucap Zella.


"Kalau begitu, urungkan niatmu untuk ke Jerman sayang." ucap Levi membuat Zella terkejut.


"Bagaimana kakak tahu aku akan ke Jerman?" tanya Zella.


"Tentu saja aku tahu. Kumohon urungkan niatmu, sayang." pinta Levi.


"Akan aku fikirkan." jawab Zella. Levi tersenyum dan kembali mengecup bibir istrinya.


Keduanya kini berci*m*n dan terus menuntut untuk melakukan hal yang lebih. Akhirnya penyatuan kedua mereka terjadi siang ini.


Levi menutupi tubuh polos istrinya dan memesan makanan. Ia langsung mengenakan kembali kemejanya dan menunggu pesanannya sambil mengecek tugas mahasiwa yang sudah masuk ke emailnya.

__ADS_1


Setelah makanan datang, ia pun segera membawanya ke kamar. Dilihatnya Zella sudah memakai pakaiannya dan duduk di tepi tempat tidur.


"Sayang," panggil Levi.


"Aku ada kuliah jam satu kak." ucap Zella.


"Makan dulu, ini masih jam dua belas lebih." ucap Levi menyuapkan makanan ke mulut Zella.


Zella mengambil ponselnya dan melihat jam di layar ponselnya. "Lebih lima puluh lima menit kaaaaak." gerutu Zella sambil memperlihatkan ponselnya ke Levi.


"Baiklah, aku minta maaf. Tapi bukankah sepertinya libur karena dosennya sedang ada rapat." ucap Levi sambil terus menyuapi istrinya.


Ting!!!


Satu notifikasi pesan masuk di ponsel Zella dan Zella langsung membukanya.


"Benar kata Kak Levi, setelah ini kuliahku kosong." ucap Zella berbinar.


Ia mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanannya ke mulut suaminya.Levi mengunyah makanannya sambil tersenyum.


Setelah kedua makanan mereka habis, Zella kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur. Begitu juga Levi, dan membuat Zella menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Kak," panggil Zella. "Apa alasan kakak melarangku mengikuti pertukaran mahasiswa?" tanya Zella.


"Aku tidak bisa jauh darimu, Zella. Aku menikahimu juga karena ingin terus menjagamu." jelas Levi.


"Tapi kak, aku sangat ingin mendaftarnya. Bukankah aku tetap bisa meraih cita-citaku meskipun telah menikah denganmu?" tanya Zella hati-hati.


"Lagipula di Jerman juga ada Granny dan Granpa yang akan menjagaku. Aku juga baca kampus yang bekerja sama dengan kampus kita berada di Munich." jelas Zella membuat Levi terdiam.


"Kaaaaak, adakah engkau mengekang diriku dalam pernikahan kita?" tanya Zella dan Levi hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab apapun.


"Kumohon, . . . Izinkan aku mendaftarnya. Jika aku kalah dalam audisi, aku akan tetap disini bersamamu. Tapi jika aku menang, izinkanlah aku untuk tetap pergi kaaaaak." pinta Zella membuat Levi berat untuk menjawabnya.


Cupp!!


Zella mengecup bibir suaminya. Membuat Levi menatap ke arah Zella dan keduanya beradu pandang.


"Sungguh, aku sangat berat untuk melepaskanmu." ucap Levi sendu.


"Aku belum pasti lolos audisi bukan?" Zella balik bertanya.


"Kau sangat cerdas, Zella. Bagaimana mungkin kau tidak lolos? Terlebih kau mahir berbahasa Jerman." jawab Levi.


"Kak Levi bisa mengunjungiku satu bulan sekali." ucap Zella.


"Itu yang membuat aku sangat berat Zellaaaa." jelas Levi. "Bagaimana jika aku belum menyetujui keinginanmu?" tanya Levi.


Zella menghela nafasnya pelan. "Benar kata Silla, Kak Levi sangat sulit untuk mengizinkannya pergi."


"Aku tidak akan memaksa kak Levi untuk mengizinkanku saat ini. Tapi aku akan berusaha untuk mendapatkan izin darimu, kak." ucap Zella.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, berusahalah dengan baik istriku sayang. Karena aku belum tentu akan mengizinkanmu." ucap Levi membuat Zella harus berfikir keras untuk mendapatkan izin dari suaminya.


Levi pun mengajak Zella pulang ke mansion, dan menjemput Silla terlebih dahulu di ruko. Silla yang sudah siap menunggu di depan ruko, langsung masuk ke dalam mobil Levi.


__ADS_2