Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 37


__ADS_3

Sesampainya di Restoran Nusantara, papa Green, Bu Karenina, orang tua Carina dan orang tua Laluna berada dalam satu meja. Sedangkan Levi, Zella, Nay, Winda, Carina, Laluna, Dion, dan Leon berada dalam satu meja lainnya.


Zella duduk diapit Levi dan Leon, di samping Leon ada Dion, lalu Winda, Carina, Luna, dan Nay yang berada di samping Levi.


"Zella, maafkan aku sudah berlaku jahat padamu." sesal Carina yang masa depannya hampir saja hancur karena ulahnya sendiri.


"Aku juga minta maaf Zella. Kau benar-benar wanita yang sangat baik." ucap Laluna malu.


"Never mind, kasusnya juga sudah selesai. Jadi tidak perlu diperpanjang lagi." ucap Zella santai dan mulai melihat daftar menu yang disajikan.


"Apá yang harus aku perbuat untukmu untuk menebus semua kesalahan ku?" tanya Winda.


"Berbuat baiklah pada semua orang agar kalian tidak merugikan diri kalian sendiri." jawab Zella dan menuliskan daftar pesanannya.


"Terima kasih banyak, Zella." ucap Winda dan Laluna beriringan.


"Aku berhutang budi padamu, Zella." lanjut Carina yang sudah berulang kali membuat Zella kesal.


"Ehmmm, Sepertinya akan ada yang merayakan kemenangan mendapatkan hati seorang Zella." celetuk Dion tiba-tiba hingga membuat semua yang ada disana memandang ke arah Levi dan Leon bergantian.


Papa Green yang sedang membahas permintaan kerja sama dengan perusahaan orang tua Carina dan Laluna pun terdiam dan memandang ke arah putrinya.


"Siapa yang kira-kira dipilih oleh Zella, adakah putra dari Bu Karenina atau putra dari Ozora?" tanya mama Carina dan yang lain menunggu kelanjutan dari ucapan Dion.


"Siapa yang kamu pilih, Zell?" tanya Carina dan semua orang menunggu jawaban Zella.


Zella yang kini menjadi pusat perhatian pun mencoba menguasai dirinya. "Tentu saja aku pilih Papa Green." jawab Zella membuat semua yang ada disitu sedikit kecewa.


Akhirnya mereka kembali dengan obrolan masing-masing. Leon sekarang bersikap biasa di depan Zella, begitu pula Levi yang tidak ingin memperlihatkan kemesraannya di depan orang lain. Sehingga membuat yang lain makin penasaran.


Papa Green menyetujui jalinan kerja sama antara perusahaannya dengan hotel milik orang tua Laluna. Orang tua Carina yang menawarkan kerja sama pun di Terima oleh Papa Green. Dan kini mereka semua sama-sama menanam saham di kampus milik Bu Karenina.


"Ternyata kebaikan putri anda membuahkan hasil yang sangat luar biasa Tuan Green Alexio." puji papa Luna.


"Saya juga sangat kagum dengan putri anda, dia mahasiswi yang cerdas dan sudah mampu mengelola bisnis di usia mudanya." puji Bu Karenina.


"Terima kasih pujiannya terhadap putri saya. Bagi saya dia tetaplah gadis kecil yang sangat mirip dengan almarhumah mamanya." ucap Papa Green.

__ADS_1


Makan siang bersama pun berakhir, kini Papa Green sudah berada di mobil bersama Zella dan Winda.


"Winda," panggil papa Green. "Sebenarnya aku tak perlu menghakimimu atas kesalahan besar yang telah dilakukan oleh mamamu." ucap Papa Green membuat Winda tidak mengerti.


"Kau memang bukan putriku, tapi aku akan tetap membiayai kuliahmu meski kau sudah memalukan aku dan mencelakakan putriku."


"Winda minta maaf pa." isak Winda. "Winda akan menurut apá pun yang papa perintah kan."


"Aku akan memindahkan kuliahmu ke Bogor. Disana, kau akan tinggal bersama Paman Zella di dekat perkebunan teh. Jika kamu mampu berubah menjadi lebih baik, aku juga akan berbuat baik padamu." ucap Papa Green tegas.


"Baik, pa. Winda akan menuruti perintah papa mulai saat ini. Maafkan Winda. Maafkan aku Zella." ucap Winda.


Zella hanya mengangguk dan mulai memejamkan matanya. "Beberapa hari ini sangat berat," batinnya.


Setelah mengantar Winda ke kosnya, papa Green kembali ke ruko Zella sebelum pulang ke Tangerang. Berkali-kali papa Green menyampaikan pada putrinya bahwa ia sangat bangga padanya.


"Katakan pada papa, siapa yang sudah mencuri hati gadis papa ini?" tanya papa Green.


"Pak Levi, pah." jawab Zella tersipu malu.


Mau tak mau, Zella harus merelakan papanya pulang. "Hati hati di jalan pa, salam buat Kak Azel."


Setelah papanya pulang, Zella masuk ke ruang kerjanya dan duduk di sofa sambil memejamkan matanya.


"Mau berkencan dengan ku?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan Zella.


Zella terperanjat dan langsung membuka matanya. "Pak Levi, ngagetin aja sih." pekik Zella pelan dan membenarkan posisi duduknya.


Levi langsung minta maaf dan duduk di samping Zella. "Pak Levi gak ngajar?" tanya Zella kemudian.


Levi menggelengkan kepalanya dan menjawab singkat, "Tidak."


Zella langsung meng-iya-kan ajakan Levi. Ia mengikuti langkah kakí Levi menuju motornya dan naik ke atas motor Levi.


Levi memegang tangan Zella dan mengarahkan untuk berpegangan memeluknya. "Tetap seperti ini dan jangan lepas!" perintah Levi.


"Tapi nanti pada lihat gimana dong, Pak." ucap Zella karena posisi mereka masih di depan kampus.

__ADS_1


"Pak Levi," panggil seseorang yang hendak memfotocopy berkasnya membuat Zella langsung melepaskan tubuh Levi.


Levi melihat siapa yang sudah menyapanya dan menjelaskan pada Zella, "Itu Bu Renata, Dosen baru di kampus."


"Selamat siang Bu Renata." ucap Zella santun tapi justru membuat Renata kesal. Levi langsung menjalankan motornya meninggalkan ruko.


"Pak Levi Ternyata sudah memilki kekasih." gumamnya kecewa. "Sepertinya aku belum terlambat untuk mendapatkannya. Kekasih Levi hanya seorang anak kecil." batin Renata mengurungkan niatnya fotocopy dan mengikuti Levi pergi bersama Zella.


Zella kembali memeluk Levi dan membuat Levi sedikit memelankan laju motornya. Levi mengajak Zella ke taman yang sedang digandrungi anak muda Bandung.


Turun dari motor, Levi memegang tangan Zella erat dan mencari tempat duduk yang pás untuk mereka mengobrol. Renata masih terus membuntuti Levi dan mengikuti kemana ia pergi.


"Pak Levi tau juga tempat indah begini." ucap Zella membuka suara yang dari tadi diam.


"Kau suka?" tanya Levi dan Zella mengangguk.


"Tempat Pak Levi pacaran dulu ya?" tanya Zella menyelidik.


"Bukan. Tapi akan menjadi tempat awal kita berkencan." jawab Levi dan seketika membuat Zella merona.


"Aku sangat mengagumimu. Kau sungguh luar biasa di pengadilan tadi, Zella. Aku tidak menyangka, kau sangat baik jauh dari yang aku kira." puji Levi.


"Jangan terlalu memujiku Pak Levi, aku takut suatu saat kau kecewa padaku." ucap Zella.


"Baiklah, aku tidak akan lagi memujimu saat bersama denganmu," balas Levi.


"Apá sebelumnya Pak Levi pernah berpacaran?" tanya Zella.


"Kamu yang pertama dan kita tidak akan berpacaran." jawab Levi membuat Zella tersentak dan melepas genggaman Levi.


"Aku akan segera melamarmu, Zella." ucap Levi.


Zella terdiam mencoba menetralkan detak jantungnya yang mulai tidak menentu.


"Aku hanya akan meresmikan hubungan kita. Pacaran bukanlah ikatan yang resmi menurutku." jelas Levi.


"Lalu...,?" tanya Zella.

__ADS_1


__ADS_2