
Zella menceritakan apá yang terjadi sebelum dirinya pingsan pada Levi dan kakaknya.
"Saat Zella pergi, aku memang udah terus ikuti. Tapi saat mobil Bu Renata meninggalkan villa, aku benar-benar tidak tahu jika ternyata Zella tidak ada di dalamnya." jelas Levi.
"Untung kamu cepat berbalik ke villa, sedetik saja kamu terlambat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Zella." ucap Azel pada Levi.
Azel yang sangat khawatir dengan keselamatan adiknya kembali meminta Zella untuk pindah kuliah.
"Aku akan baik-baik aja Kak Azel." ucap Zella menenangkan kekhawatiran kakaknya.
"Kau tetap akan bisa bertemu Levi jika libur tiba." ucap Azel mendesak Zella pindah kuliah.
Levi hanya terdiam membenarkan ucapan kakak Zella. Meskipun Zella terus dalam pengawasannya, dia tetap hampir saja terlambat menyelamatkan Zella.
"Kak Azel terlalu mengkhawatirkan aku saja." ucap Zella.
"Yaa Ampuun Zella, ini juga untuk kebaikanmu." ucap Azel geram. "Baiklah sekarang katakan padaku apá yang kamu makan sampai sakit perut?" tanya Azel.
"Aku makan seperti yang lainnya makan. Tidak ada yang berbeda." jelas Zella.
"Siapa yang meng-agendakan pergi ke villa?" tanya Levi sedikit curiga.
"Emmmm, Silla mengajak berlibur dan kita semua setuju. Liburan ini fair Kak." ucap Zella.
"Apá Renata berbuat baik padamu," tanya Azel kemudian.
"Tentu saja, dia seperti kakak bagi aku, Silla, dan Nay. Dia juga sering datang ke ruko." jelas Zella.
"Sejak kapan kau dekat dengan Renata?" tanya Azel.
"Dari awal Bu Renata mengajar, Silla membantunya ke ruangannya. Sejak itu mereka dekat, lalu Silla sering mengajak Bu Renata ke ruko. Jadi kamí sering menghabiskan waktunya bersama." jawab Zella detail.
Azel pun terdiam. "Sejak kapan Renata berteman dengan perempuan yang bukan sebayanya? Bahkan teman Renata dari dulu bukan tipe seperti Zella dan teman temannya." gumam Azel dalam hati.
"Kau belum begitu mengenalnya, Zella." ucap Azel sedikit curiga.
"Kalo dulu bu Renata pernah mencintai Kak Azel, selama ini dia tidak pernah tau jika aku adalah adik kakak. Jadi, jangan pernah berfikir kalau Bu Renata adalah orang dibalik semua ini." ucap Zella yang mulai paham arah pembicaraan kakaknya.
"Aku tidak menuduhnya sama sekali. Tapi kumohon kau lebih berhati-hati saat mengenal orang baru jika masih ingin tinggal di Bandung." balas Azel.
__ADS_1
Zella terdiam dalam fikirannya yang berkecamuk. Dia tidak mungkin menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat, terlebih selama ini Bu Renata sangat baik padanya.
"Aku akan bantu menyelidiki ini, Bang Azel." ucap Levi meskipun ia juga tidak berfikiran buruk terhadap Renata.
Keesokan harinya, Levi dan Azel sudah siap untuk menemui Dua orang Pelaku yang hampir melecehkan Zella. Levi langsung mengirim pesan kepada Renata.
Levi
Saya dan Kakak Zella sudah menunggu anda Bu Renata, untuk menemui Pelaku yang hampir melecehkan Zella di Villa.
Sent: 07.30
Renata
Baik Pak Levi, Saya akan segera ke rumah sakit.
Sent: 07.31
Tak perlu lama menunggu, Renata sudah sampai di depan ruangan Zella. Mereka bertiga pun langsung menuju ke arah Villa.
Renata tampak sangat tenang dan tidak terlihat seperti menutupi sesuatu. Sesampainya di Villa, Levi dan Azel bertemu dengan pemilik Villa. Pemilik villa tersebut meminta maaf atas apá yang sudah terjadi di villa ya dan hampir merugikan pengunjungnya.
Pemilik Villa tersebut menjelaskan bahwa Dua orang pemuda yang hampir mencelakakan Zella bukan penduduk asli sini. Memang kemarin dia dan dua orang perangkat Desa menangkap Pelaku tersebut, sayangnya Pelaku yang tertangkap berhasil melarikan diri.
"Saya mohon maaf yang sedalam-dalamnya nona, kami memang akan membawa mereka ke kantór polisi. Tapi belum sempat kami bawa mereka sudah berhasil melarikan diri. Sekali lagi kakí mohon maaf, nona." ucap pemilik villa.
Renata tampak kesal atas kaburnya 2 pemuda tersebut membuat Levi dan Azel yakin bahwa Renata tidak perlu untuk dicurigai.
"Baiklah kalau begitu, dimana anda menangkap 2 orang pemuda itu?" tanya Levi menyelidiki. "Apá di villa ini tidak ada sistem keamanan yang baik?"
"Kami menangkapnya saat melihat Kedua orang berlari ke warung kopi dalam keadaan terluka." jelas pemilik villa.
"Untuk keamanan villa, kami memang belum memperkerjakan satpam untuk setiap Villa milik kami."
"Sangat susah, Levi menangkap orang yang bukan asli warga sini." jelas Azel membuat Renata sangat lega. "Renata, kirim foto pemuda kemarin ke ponselku. Aku akan tetap mencarinya dengan caraku." ucap Azel membuat Renata kembali gemetar.
"Akan aku kirim segera." ucap Renata mengambil ponselnya dan mengirim gambar yang diminta Azel.
Setelah dirasa cukup, Azel, Levi dan Renata berpamitan dengan pemilik villa. Sesampainya di rumah sakit, Renata menemui Zella dan mereka memang terlihat sangat akrab.
__ADS_1
Levi dan Azel duduk di sofa ruangan Zella. Azel pun melihat keakraban Zella dan Renata. "Dia sungguh sangat berbeda dengan yang dulu aku kenal. Tapi kemarin, dia masih mengutarakan keinginannya untuk mendapatkan aku. Ini sungguh aneh." gumam Azel dalam hati.
Sedangkan Levi masih fokus membaca majalah yang memang disiapkan pihak rumah sakit.
"Levi," panggil Azel. "Aku akan keluar sebentar. Pastikan Zella baik-baik saja." pesan Azel.
"Baik, Bang." jawab Levi.
Tak berapa lama, dokter Pipit masuk dan mengecek keadaan Zella. Ia pun mengatakan bahwa Zella sudah bisa dibawa pulang sore ini karena keadaan Zella makin membaik.
Setelah dokter Pipit keluar dari ruangan, Renata pun pamit pada Zella dan Levi karena ada yang harus ia selesaikan.
"Zella, untuk sementara waktu, tinggallah di mansionku." pinta Levi.
"Tidak perlu, kak. Aku bisa menjaga diriku sendiri." tolak Zella.
"Kumohon, Zella. Kali ini menurutlah atau kita akan segera menikah tanpa menunggu mama pulang dari Austrália. Aku mengkhawatirkanmu." ucap Levi sedikit mengancam Zella.
"Aku tidak bisa Kak Levi." Zella masih kukuh dengan pendiriannya. "Percayalah, aku akan baik-baik saja."
"Kalau begitu, aku akan tinggal di rukomu." ucap Levi.
"Mana bisa begitu, kasihan Silla dong sendirian di rumah. Aku juga tidak bisa meninggalkan Nay di ruko sendirian." jelas Zella.
"Kau ini sangat keras kepala. Kalau begitu, aku akan cari bodyguard untukmu." ucap Levi tak mau kalah.
Lagi-lagi Zella menolak keinginan Levi. "Rukoku sangat kecil. Dimana dia harus tidur nantinya?" tanya Zella.
"Sebenarnya apá sih yang kalian debatkan dari tadi?" tanya Azel yang baru masuk dari ruangan Zella.
Levi menjelaskan keinginannya untuk menjaga Zella tapi selalu ditolak oleh Zella.
"Sebenarnya aku sangat setuju denganmu Levi, tapi kau sekarang mulai tahu kan bagaimana keras kepalanya, Zella." jelas Azel membuat Zella menggerutu.
"Jika aku segera melamar Zella untuk menjadi istriku, apá kau akan setuju, Bang?" tanya Levi membuat Azel dan Zella sama-sama terkejut.
"Kalau menurutmu itu yang terbaik, lakukan lah. Tapi akhir tahun ini sepertinya aku dulu yang akan menikah dengan Lily. Jadi, sepertinya kau harus lebih bersabar, bung." jawab Azel.
"Kenapa kau tidak pernah cerita akan menikah Lily secepat ini?" tanya Zella kesal.
__ADS_1
"Ini surprise, sayang. Minggu depan kalian harus datang untuk acara pertunanganku, dengan Lily." ucap Azel.
Levi dan Zella pun mengangguk. Kini mereka bersiap-siap untuk membawa Zella pulang dari rumah sakit.