Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 38


__ADS_3

"Laluuuu..." Levi mulai mendekatkan wajahnya ke telinga Zella. "Kau Mau ku lamar untuk menjadi tunanganku atau menjadi istriku, Nona Zella?" tanya Levi membuat Zella meremang dan mendorong tubuh Levi untuk sedikit menjauh.


"Tanyakan saja pada Papa Green dan Kak Azel." jawab Zella.


"Baiklah, tapi kau jangan menyesal dengan pilihan mereka." ucap Levi kembali meraih tangan Zella dan menggenggamnya.


Renata yang melihat Levi dan Zella pun makin kesal dan panas. "Dia bukan saingan yang selevel dengan aku." gumam Renata. "Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi dimana ya?" batin Renata sambil mengingat-ingat.


"Leon, ya Leon pernah berfoto dengan gadis itu. Aku akan segera menemui Leon untuk meminta bantuannya." Renata langsung menghubungi Leon dan mengajaknya bertemu di Cafe belakang kampus.


Renata langsung membawa mobilnya menuju Cafe Tri A. Sesampainya di sama, tampak Leon sudah menunggu dengan secangkir minuman hangat yang sudah dipesannya.


"Maaf membuatmu menunggu lama. Apá kau sibuk?" tanya Renata langsung duduk di hadapan Leon.


"Aku ada meeting di kantór BEM sebentar lagi." jawab Leon.


"Fotomu dengan seorang gadis waktu itu boleh aku lihat lagi?" tanya Renata.


"Tentu saja," jawab Leon membuka ponselnya dan menunjukkan fotonya bersama Zella.


"Apá kau mencintainya?" tanya Renata lagi sambil mengirimkan foto Zella ke ponselnya.


"Sangat mencintainya, tapi dia mencintai orang lain." jawab Leon mengambil lagi ponselnya.


"Aku bisa membantumu untuk mendapatkannya." tawar Renata. "Bagaimana jika kita bekerja sama?"


"Meskipun aku mendapatkannya, aku tak akan bisa memiliki hatinya. Aku sudah berjanji akan mundur jika dia sudah menetapkan hatinya pada orang lain." Jawab Leon.


"Heei anak muda, kau ini tidak gentle. Baru segitu aja udah kalah." ledek Renata tapi Leon tidak bergeming.


"Aku tidak mau memaksakan perasaan seseorang Kak. Oh iya, ada apá kau memanggilku kemari?" tanya Leon kemudian.


"Aku hanya ingin memberi tahu kamu kalau aku menginginkan Levi." jawab Renata.


"Tolong jangan bertindak macam-macam kak. Jaga harga diri dan Nama baikmu sendiri. Kali ini aku tidak setuju denganmu." ucap Leon.

__ADS_1


"Ayolaaah Leon, bukankah kalo kita bekerja sama, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan." balas Renata.


"Bukannya usia Pak Levi lebih muda darimu?" tanya Leon. "Sudahlah kak Renata, aku tegas kan untuk menolak tawaranmu. Aku kembali ke kampus ya." pamit Leon meninggalkan Renata sendirian.


Renata jadi kesal dengan sikap Leon yang menurutnya sangat lemah terhadap perempuan. "Baiklah, akan ku buktikan sendiri pada dunia bahwa aku bisa menaklukkan seorang Pahlevi Ainsley." gumam Renata sambil memesan makanan dan minuman pada waiters.


***


Keesokan harinya kampus sudah ramai dengan pemilihan sekretaris BEM dan satu anggota BEM yang baru. Carina dan Laluna masih di Terima untuk melanjutkan kuliah, tetapi Leon meminta mereka untuk mengundurkan diri dari jabatan mereka.


Zella, Nay, dan Silla yang sudah sampai di kampus mendapat tawaran langsung dari Leon untuk mendaftarkan diri.


"Aku akan repot Kak Leon jika harus ikut kegiatan BEM dan mengurus ruko." jawab Zella yang memang dari awal tidak berminat sama sekali.


"Kalo aku juga gak bisa ikut daftar kak Leon, mau belajar ngurus ruko Zella." Ucap Silla tak mau kalah. Ia hanya tidak mau berurusan lagi dengan Reza.


"Baiklah kalo begitu, Nay harus ikut." ucap Leon menarik tangan Nay ke tempat pendaftaran.


Mau tidak mau, Nay mendaftar karena desakan Leon. "Ini namanya pemaksaan tau Kak." gerutu Nay yang kembali bergabung dengan temannya.


"Boleh laaaaah." jawab Silla.


Pagi ini mereka ada jadwal kuliah dengan Dosen baru. Tepat pukul delapan, Dosen baru yang akan mengajar di kelas Zella pun datang.


"Good Morning, Class. Saya Renata yang akan menggantikan Bu Karenina mengajar."


"Pagi Bu Renata." jawab Seluruh mahasiswa.


Renata mengabsen setiap mahasiswa dan memperhatikan satu per satu dari mereka. "Hemm, namanya Grizelle Alexandria ternyata. Kenapa familiár sekali ya dengan nama belakangnya." gumam Renata.


Sampai pada Nama Silla, Renata pun menyunggingkan senyumnya. "Ternyata aku mengajar adik Levi juga, Prisilla Ainsley." batin Renata. Setelah mengabsen, Renata pun memulai kuliahnya.


Penyampaian materi Renata sangat baik dan mudah dipahami oleh mahasiswa. Hingga akhir perkuliahan, mahasiswa tidak merasa jenuh dengan penyampaian Renata.


"Prisilla," panggil Renata. "Kamu ikut Saya ke ruangan untuk mengambil tugas teman-teman kamu ya." pinta Renata.

__ADS_1


"Baik Bu Renata." jawab Silla mengikuti Renata ke ruangannya.


Renata mulai mengambil hati Silla agar misinya mendapatkan Levi berjalan dengan mulus. Ia mulai menawarkan pertemanan dengan Silla dengan mengajak berjalan ke Mall sore nanti.


Silla pun menyetujui ajakan dosennya. Setelah Silla keluar dari ruangannya, Renata pergi ke ruangan Levi untuk menyerahkan berkas rancangan materi yang baru Ia buat.


Sesampainya Renata di ruangan Levi, berkas miliknya langsung di periksa. "Good job, Bu Renata. Saya puas dengan hasil kinerja anda." puji Levi membuat Renata senang bukan main.


"Terima kasih Pak Levi." ucap Renata. "Sepertinya anda sedang kerepotan, apá ada yang bisa Saya bantu?" tanya Renata yang melihat beberapa berkas tertumpuk di atas meja Levi.


Tawaran Renata membuat Levi terdiam, dia sungguh kerepotan karena salah satu asistennya ada yang sedang cuti hamil. "Saya memang sangat repot hari ini, tapi Saya tidak ingin merepotkan anda Bu Renata." jawab Levi.


"Saya Tentu tidak kerepotan Pak Levi, dengan senang hati Saya akan membantu anda." ucap Renata.


"Tidak perlu Bu Renata, Saya bisa melakukannya. Silahkan anda kembali ke ruangan anda." ucap Levi.


"Kehormatan besar bagi saya dapat membantu anda, Pak Levi. Setidaknya sebagai ungkapan terima kasih saya yang sudah diterima mengajar di sini." desak Renata.


"Baiklah," Levi langsung beranjak memberi berkas pada Renata dan menjelaskan apá yang harus dikerjakan.


Renata langsung cepat paham dan mengerjakan tugas dari Levi dengan sangat gembira. Hanya dalam waktu sekejap, Renata menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Levi.


Levi sangat puas melihat hasil kerja Renata, "Terima kasih Bu Renata atas bantuannya. Saya memang sedikit kerepotan sejak satu asisten saya cuti hamil." ucap Levi.


"Saya bisa menggantikan asisten anda untuk sementara waktu, Pak Levi." tawar Renata.


"Tidak perlu Bu, Terima kasih." ucap Levi.


"Ayolah Pak Levi, jangan merasa sungkan dengan saya. Bukankah anda dengan Dion juga berteman dekat?" Renata terus mendesak Levi.


"Baiklah Bu Renata, nanti anda dapat menggantikan kerjaan asisten saya yang sedang cuti. Anda dapat mengerjakan di ruangan anda tanpa harus kemari." Jawab Levi.


"Baiklah kalo begitu Saya undur diri, Pak Levi." Renata meninggalkan ruangan Levi dengan hati yang sangat gembira.


"Ternyata bukan hal yang sulit untuk mendekati seorang Pahlevi Ainsley. Aku harus pelan-pelan mendekati dan merebutnya dari anak ingusan itu." gumam Renata dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2