Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 20


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Levi langsung memegang tangan Zella menuju ke ruangan Azel. Winda terus memotret Levi dan Zella. Belum sempat terkirim ke Luna, ponsel Winda langsung diambil Levi dan Levi mendelete gambar yang baru saja di ambil Winda.


"Jangan membuat masalah baru lagi atau kamu akan tahu akibatnya!" ancam Levi dan mengembalikan ponsel Winda.


Winda berdecih pelan, "Huft, resek banget sih." Ia menyimpan ponselnya dalam tas.


Tepat di depan ruang inap Azel, papa Green langsung memeluk putrinya. "Kak Azel kenapa pah?" tanya Zella.


"Kakakmu kena tabrak lari saat di proyek baru kita. Polisi sedang mencari tersangkanya karena ini sulit karena kejadiannya bukan di tempat yang ramai." jelas papa Green.


"Ini pasti ada yang sengaja melakukannya pah." ucap Zella terisak. Papa Green yang belum tahu kepastiannya hanya diam. Tapi dia terus mengerahkan anak buahnya untuk mencari tahu dalang atas kejadian ini.


Zella masuk ke ruangan Azel bersama Levi. Sedangkan Winda dan mama tirinya pulang ke mansion dengan alasan Winda terlalu lelah dan tidak enak badan. Papa Green menyuruh supirnya untuk mengantarnya pulang.


Azel mengalami cedera di bagian tangan dan kakinya. Tulang di tangan kiri Azel retak dan pergelangan kakinya patah. Zella menangis di samping kakaknya dan menggenggam erat tangan Azel.


"Hei, jangan menangis! Aku tidak apa-apa adikku sayang." ucap Azel mengusap kepala adiknya.


"Kau ini sudah seperti ini masih bilang tidak apa-apa. Kau membuatku cemas." jawab Zella sendu.


"Ini masih bisa disembuhkan, Zella. Percayalah. Aku akan segera membaik." ucap Azel meyakinkan adiknya.


"Apa kau memiliki musuh?" tanya Zella kemudian.


"Aku tidak tahu." jawab Azel. "Sebenarnya beberapa minggu yang lalu aku sudah merasa diikuti beberapa orang dan berkali-kali aku hampir celaka." jelas Azel.


"Jangan khawatir, Zella. Oh iya, bagaimana bisnismu? Lancar kan?" tanya Azel.


Zella kemudian menceritakan perkembangan bisnisnya dan rencana untuk ke depannya. Levi jadi makin kagum dengan pujaan hatinya.


"Kau tahu kak, Pak Levi lah yang banyak mengajarkanku tentang mengelola bisnis." ucap Zella dan membuat Levi tersedak padahal tidak sedang minum.


"Thank's ya Bro, I trust you." ucap Azel senang mendengar cerita Zella.


"Bukan apa-apa, bang. Zella memang anak yang cerdas. Jadi mudah saja bagi dia untuk mengelola perusahaan." puji Levi dan membuat wajah Zella merona seketika.


Azel melihat Zella jadi tersenyum dan mengusap kepala Zella, "Adik kakak ternyata sudah besar ya." ucap Azel.


"Oh iya, Levi. Bisakah Zella disini sementara waktu. Aku membutuhkannya untuk mengelola perusahaan." jelas Azel.


"Aku akan memberikan izin untuknya dan dia bisa tetap mengikuti kuliah secara online atau privat." ucap Levi sedikit berat tidak membawa Zella pulang ke Bandung.


"Waaaah, terima kasih banyak Pak Levi." ucap Zella girang dan tanpa sadar langsung memeluk Levi.


Levi terdiam kaku dalam pelukan Zella. Ia ingin membalas memeluk Zella, tapi ia malu dengan Azel. Dada Levi bergemuruh merasa sangat bahagia. Degub jantungnya bagai derap langkah kaki kuda saking senangnya.

__ADS_1


Azel menepuk dahinya melihat kelakuan adiknya, "Tidak bisakah kalian bermesraan di tempat lain?" tanya Azel membuat Zella sadar atas perilakunya.


Zella melepaskan pelukannya dan berbalik dari Levi. "Maaf pak, saya tidak sengaja." ucap Zella kembali duduk di samping kakaknya.


"Oke." jawab Levi singkat.


Azel tertawa melihat tingkah adiknya. "Jangan tertawa! Aku tidak sengaja kak Azel." ucap Zella yang saat ini dirundung malu.


"Kalaupun sengaja, Levi juga pasti sangat menyukainya." Azel meledek adiknya. Levi mencoba tidak gugup disuasana seperti itu.


"Zella pasti terlampau senang tidak bertemu saya dalam waktu yang lama. Benarkan Zell? Tanya Levi.


"Tentu saja." jawab Zella yang mulai bisa menguasai keadaan.


"Aku akan memegang kendali ruko Zella, jadi Zella bisa fokus disini." ucap Levi membuat Zella dan kakaknya sangat berterima kasih.


Di area parkir rumah sakit, Papa Green sangat marah setelah mendapat laporan dari anak buahnya tentang siapa dalang dari kecelakaan Azel. Dia mengerahkan bodyguard untuk menjaga di rumah sakit dan putri kesayangannya.


Papa Green menuju ke ruangan putranya. Ia meminta Levi dan Zella pulang untuk beristirahat, tetapi Levi bersikeras untuk menjaga Azel malam ini. Akhirnya Zella pulang bersama papa Green ke apartemen Azel.


"Kenapa tidak pulang ke mansion, pah?" tanya Zella.


"Ada beberapa hal yang ingin papa sampaikan padamu malam ini, sayang." ucap Papa Green.


"Yap, tepat sekali. Papa sedang kumpulkan beberapa bukti. Dan kau harus bantu papah kali ini." ucap Papa Green.


"Baiklah, apa yang harus Zella lakukan?"


Papa Green menjelaskan beberapa tahap rencana yang harus Zella lakukan untuk menjebloskan dalang kecelakaan Azel ke penjara.


Zella pun menyetujui rencana papanya dan segera pergi tidur. Papa Green mulai bergerak cepat meminta asistennya meretas berbagai informasi yang ia butuhkan sebagai bukti dan kelancaran rencananya.


Kurang dari satu jam, papa Green mendapatkan apa yang ia butuhkan. "Ternyata lawanku kali ini hanya orang yang lemah dan bukan tandingan yang sebenarnya." gumam Papa Green.


Papa Green pun beristirahat karena besok ia harus mulai menjalankan rencananya.


***


Pagi harinya, Zella sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan papanya. Ia juga membuatkan sarapan untuk Levi di rumah sakit.


"Papa akan pergi ke kantor setelah mengantarmu ke rumah sakit, mama dan Winda kemungkinan akan ke rumah sakit nanti agak siang." ucap papa.


Zella mengangguk dan langsung menghabiskan sarapannya. Setelah selesai, papa Green langsung mengantar Zella dan pergi ke kantor.


Sesampainya di ruangan Azel, Zella tidak melihat Levi. Di samping Azel sudah ada wanita cantik yang belum pernah Zella lihat sebelumnya.

__ADS_1


"Zella, sini dek. Kenalan sama Lily." panggil Azel.


"Hai Kak Lily, aku Zella. Adiknya kak Azel." ucap Zella memperkenalkan diri.


"Anda ternyata cantik sekali Nona Zella," puji Lily. "Saya Lily, emmm sekretaris Pak Ghazel." ucap Lily.


"Calon kakak ipar aku ya?" tembak Zella to the point. Lily langsung menggelengkan kepalanya, "Bukan kok. Hanya karyawan biasa." jawab Lily santun


Azel terkekeh mendengar jawaban Lily "Doain aja ya, dek. Lily ini suka malu kalo harus jujur." ucap Azel membuat kening Lily berkerut.


"Pak Ghazel suka mengada-ada. Nona Zella, saya yang akan mendampingi anda menggantikan Pak Ghazel di perusahaan." ucap Lily.


"Waow, Nice to meet you Kak Lily." ucap Zella menjabat tangan Lily.


Lily pun segera undur diri karena harus pergi ke kantor. Setelah Lily keluar dari ruang Azel, Levi keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Pak Levi, saya bawakan sarapan." ucap Zella menyodorkan bekal yang sudah disiapkannya.


"Terima kasih, Zella. Oh iya, Saya akan kembali ke Bandung setelah sarapan." ucap Levi.


"Baik pak. Emmmh, terima kasih sudah mengantar saya."


"Sama-sama." jawab Levi yang langsung menyantap masakan Zella.


Selesai sarapan, Zella mengantar Levi sampai di area parkir. "Hati-hati di jalan ya Pak. Kabarin saya kalau sudah sampai." ucap Zella.


"Oke, jangan lupa untuk tidak mengikat rambutmu dan jangan berlaku ceroboh. Jaga dirimu baik-baik," pesan Levi sambil mengacak rambut Zella.


"Baiklah." jawab Zella merapikan rambutnya.


"Tidak mau memelukku lagi?" tanya Levi membuat Zella menggeleng dan tertunduk malu.


"Izinkan aku yang memelukmu." ucap Levi dan memeluk Zella erat.


Zella terdiam beberapa saat menetralkan detak jantungnya. Ia pun membalas pelukan Levi hingga membuat Levi enggan melepaskannya.


"Titip salam untuk Mama, Silla, dan Nay. Katakan pada mereka bahwa aku baik-baik saja." ucap Zella yang masih dalam pelukan Levi.


"Akan kusampaikan salammu, sayang" jawab Levi pelan tapi masih didengar oleh Zella.


"Terima kasih sudah menyayangiku seperti anda menyayangi Silla." ucap Zella dan membuat Levi melepaskan pelukannya.


"Aku pergi dulu ya," pamit Levi dan langsung masuk ke mobil. Zella mengangguk dan melambaikan tangannya.


"Ya Ampuuuun Zella. Aku kira kita sudah memiliki perasaan yang sama," batin Levi sedikit kecewa dengan kata-kata Zella yang terakhir. Ia pun segera menjalankan mobilmya menuju ke Bandung.

__ADS_1


__ADS_2