
Leon dan Silla sudah berada di mobil dan menuju perjalanan pulang. Keduanya sama sama canggung dengan apa yang sudah terjadi di acara reuni tadi. Leon menarik nafasnya dalam-dalam dan berusaha mencairkan suasana dengan memulai bicara.
"La, thanks ya buat malam ini. Kamu berhasil meyakinkan teman-teman kalo kamu pacar aku." ucap Leon.
"Sama-sama. Sesuai perjanjian malam ini kau tidak lagi menggangguku." balas Silla.
Leon terhenyak mendengar perkataan Silla. "Adakah selama ini aku mengganggumu?" tanya Leon.
"Tentu saja, kau sangat sangat menggangguku." jawab Zella. "Aku sangat terganggu dengan pesanmu akhir akhir ini."
"Aku sangat tersanjung, Silla. Selama ini bermakna hanya aku yang ada di fikiranmu." ucap Leon.
"Kau terlalu percaya diri Kak Leon." balas Silla. "Kumohon, jangan membuat masalah denganku."
"Aku tidak pernah membuat masalah Silla. Coba kau ingat, siapa yang pertama kali membuat masalah. Aku atau kamu?" tanya Leon.
"Baiklah, aku yang salah. Anggap saja itu tidak pernah terjadi." jawab Silla.
Leon menepikan mobilnya dan kini ia menatap Silla intens.
"Yang pertama memang murni kecelakaan. Itu saja aku tidak dapat melupakannya. Apalagi ciuman keduamu, Silla." ucap Leon dengan posisi yang sangat dekat.
"A . . aku ha . . hanya berakting kak." jawab Silla terbata-bata karena keduanya kini tak berjarak.
"Benarkah?" tanya Leon terus membuat Silla terpojok. "Malam ini kau masih jadi pacarku, bukan? Beraktinglah sebaik mungkin, Prisilla." ucap Leon yang lalu kembali ke posisi duduknya dan menjalankan mobilnya.
Silla mengatur nafasnya pelan. Ia merutuki kebodohannya kali ini. "Katakan padaku, apa mau kak Leon?" tanya Silla. "Aku ingin mengakhiri semuanya."
"Mengakhiri? Bagaimana jika kita mengawali dulu mulai dari awal." balas Leon.
"Kak Leon, aku hanya membantumu tadi. No more!" Jelas Silla.
"Baiklah, terima kasih atas bantuanmu, Prisilla Ainsley." ucap Leon sambil menggenggam tangan Silla.
Silla terkejut saat Leon kembali memegang tangannya. Jantungnya kembali berdegub kencang tak beraturan.
"Biarkan tetap begini, karena kau masih kekasihku malam ini." ucap Leon
"Yaa Ampuuun, kenapa harus berdetak sekencang ini sih." gerutu Silla dalam hati.
"Gak boleh, gak boleh sampai jatuh cinta sama ketua BEM tengil ini." gumam Silla dalam hati.
Kini mereka sudah sampai di halaman Mansion Silla.
"Oke, kak. Selesai sampai disini." ucap Silla melepas genggaman tangan Leon.
"Tunggu Silla." tahan Leon. "Aku akan membukakan pintu untukmu." ucap Leon sambil melepaskan seat belt Silla.
Silla membuang mukanya saat Leon kembali tak berjarak dengannya.
"Aku tidak ingin mengakhiri semua ini. Tapi akan mengawali semuanya, Silla." bisik Leon membuat Silla menatap Leon garang dan mengernyitkan dahinya.
"Kau tetap jadi pacarku, Silla. Sampai kapan pun." ucap Leon.
"Dasar pemaksaan!!! Pulanglah, aku bisa buka pintu sendiri." ucap Silla mendorong tubuh Leon dan membuka pintu mobil Leon.
__ADS_1
Dengan buru-buru Silla masuk ke dalam mansion tanpa menoleh ke arah Leon.
Leon tersenyum geli melihat tingkah Silla. "Aku tidak mendengar penolakan darimu Nona Ondel ondel." gumam Leon sambil menjalankan mobilnya pulang.
Dengan kesal Silla memasuki mansion tanpa memberi salam. Saat naik ke atas, dilihatnya Zella berjalan mondar mandir di depan kamar.
"Hai, La. Sudah selesai acaranya?" tanya Zella.
"Yap," jawab Silla singkat. "Kau kenapa kakak ipar?" tanya Silla melihat Zella terlihat sangat cemas.
"Aku sedang memikirkan sesuatu, La." jawab Zella.
Flash back On
Zella menemani Levi di ruang kerjanya sambil membuat tugas kuliah. Keduanya sama sama fokus dengan kesibukan mereka masing-masing.
Kini Zella yang sudah menyelesaikan tugas kuliahnya, mengambil formulir pendaftaran pertukaran mahasiswa dan mulai mengisinya.
Karena terlalu fokus mengisi formulir, Zella sampai tidak sadar saat Levi sudah berdiri di belakangnya.
"Aku belum mengizinkanmu untuk itu sayang." ucap Levi.
"Ayolaaah kaaak. Pendaftaran hanya sampai besok lusa." ucap Zella yang tetap fokus mengisi formulirnya.
"Selesai!" ucap Zella menutup pulpennya dan memasukkan formulirnya ke dalam map.
"Aku akan memasakkan apapun yang kau inginkan. Bagaimana?" tanya Zella.
Levi menggelengkan kepalanya.
Levi kembali menggelengkan kepalanya.
"Hemm, baiklah. Sebutkan keinginan Kak Levi agar bisa mengabulkan keinginanku?" tanya Zella.
"Apa kau sungguh sungguh ingin ke Jerman, sayang?" tanya Levi dan Zella langsung mengangguk.
"Aku akan membawamu ke sana saat libur semester ini. Bagaimana?" Levi memberikan penawaran.
"Tapi aku ingin punya pengalaman mengikuti pertukaran mahasiswa kak." jelas Zella.
"Pernikahan kita bukan sebagai penghalang untuk aku meraih cita-cita kan Kak Levi?" tanya Zella membuat Levi terdiam.
"Aku sungguh tak ingin mengekangmu dalam pernikahan ini sayang, tapi aku sangat berat untuk melepaskanmu." batin Levi.
Ia mengusap wajahnya kasar dan mulai duduk di samping istrinya.
"Kak Levi." panggil Zella. "Apa yang membuatmu enggan untuk mengizinkan aku?"
"Bukan enggan, lebih tepatnya lagi aku sangat berat melepaskanmu, Zella." jawab Levi.
"Alasannya?" tanya Zella.
"Aku menikahimu untuk menjagamu, kalau kamu pergi bagaimana aku dapat menjagamu?" tanya Levi gusar.
"Apa hanya itu alasan kak Levi? Di sana ada granpa dan granny yang bisa menjagaku. Disana juga banyak keluargaku, Kak." jelas Zella.
__ADS_1
Levi menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku hanya tidak bisa jauh darimu, sayang. Kumohon mengertilah! Semalam tidak bersamamu membuat aku sangat tidak nyaman. Apalagi ini enam bulan, Zella." jelas Levi membuat Zella terdiam.
Kini Zella dalam dilema, disisi lain ia ingin mencari pengalaman, disisi lain ia juga sebenarnya tidak bisa hidup jauh dari Levi.
Levi merasa sangat bersalah sudah membuat istrinya terdiam. Ia langsung memeluk istrinya.
"Maafkan aku, sayang." ucap Levi dan Zella mengangguk dalam pelukan Levi.
"Aku sungguh tidak ingin mengekangmu, Zella. Aku akan mengizinkannya, tapi ini jelas tidak gratis." ucap Levi membuat Zella mendongakkan kepalanya.
"Benarkah kaaak? Kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?" tanya Zella dengan mata yang berbinar.
Levi mengangguk dan Zella kembali memeluk suaminya sangat erat.
"Terima kasih kak Levi. Aku benar-benar mencintaimu." ucap Zella.
"Tapi bagaimana aku harus membayarmu?" tanya Zella lagi. "Bukankah uang kakak sudah banyak."
"Aku tidak butuh uang." jawab Levi.
"Makanan tidak mau, nonton juga tidak mau." ucap Zellaa. "Hemmm, bagaimana kalau aku mentraktirmu berkencan?" tanya Zella.
"Aku tidak mau juga." jawab Levi.
"Baiklah, kalau masih tidak mau. Aku akan menyerahkan bisnis foto copy di depan kampus itu untuk kak Levi. Apa masih kurang?" tanya Zella membuat Levi melotot.
"Hei, kau mau merelakan bisnis yang sudah kau rintis hanya untukku?" tanya Levi sambil menyentil jidat Zella.
"Awh sakit kak. Aku kan hanya memberi penawaran." ucap Zella.
"Apa kak Levi mau ini ni?" tanya Zella sambil menautkan dua ujung telunjuknya berkali-kali.
"Itu bukan bayaran mahal sayang, tapi kau memang masih harus membayar hutangmu." jawab Levi menoel hidung istrinya.
"Oh My God. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Zella kini benar-benar buntu.
"Berfikirlah sayang. Aku akan menunggumu di kamar." ucap Levi meninggalkan Zella sendirian.
Flash back OFF
"Apa yang sebenarnya sedang kau fikirkan?" tanya Silla.
"Aku hanya tidak tahu sebenarnya apa yang paling disukai dan diinginkan kakakmu, La. Susah sekali untuk merayu nya." jawab Zella.
"Mudah saja. Cukup bagaimana kau memberikan pelayanan di atas ranjang." bisik Silla sambil terkekeh.
"Sudah, tapi dia bilang itu tidak termasuk rayuan. Bahkan aku masih harus membayar hutang karena datang bulan kemarin." jawab Zella.
"Bagaimana jika ( . . . . . )," Silla membisikkan ide dan membuat Zella membelalakkan matanya.
"Itu gila," timpal Zella. "Aku tidak mau, La." tolak Zella.
"Yasudah jika tidak mau. Aku tidur dulu ya. Bye kakak ipar." Silla meninggalkan Zella dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Akhirnya Zella masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sofa karena Levi masih ada di dalam kamar mandi.