
Keesokan harinya, Zella didampingi papanya menghadiri persidangan di pengadilan. Levi, Bu Karenina, dan Silla ikut serta. Begitu pula Dion yang mengajak Leon untuk turut menghadirinya.
"Papa yakin, kamu akan memberi keputusan yang terbaik Zella. Apapun keputusanmu, papa akan selalu dukung." ucap Papa Green.
"Thank's papa." balas Zella.
Sesampainya di pengadilan, semua orang sudah berkumpul menunggu kedatangan Zella. Carina, Laluna, dan Winda tampak menundukkan wajahnya tak berani mengangkatnya sedikit pun.
Zella berjalan ditengah tatapan orang orang yang sudah hadir di pengadilan. Tak menunggu lama, persidangan pun di mulai. Masing-masing dari Carina, Laluna dan Winda sudah menyatakan bahwa mereka memang bersalah dan meminta maaf.
Pelaku kejahatan yang turut dalam persidangan juga sudah mengakui segala yang ia perbuat. Istri setiap Pelaku yang hadir merasa geram dengan apá yang sudah diperbuat oleh suaminya terlebih setelah mengetahui bahwa suaminya menuruti perintah gadis yang usianya jauh di bawah mereka.
Setelah semuanya sudah mengakui, kini waktunya Zella dan Nay menyampaikan keputusan selaku korban dari ke enam Pelaku kejahatan.
"Saya Grizelle Alexandria selalu korban sungguh tidak pernah menyangka terhadap apá yang Saya alami. Tapi Saya sangat bersyukur tidak terjadi apá-apá terhadap diri Saya sendiri." ucap Zella sambil terus memandang ke arah Levi.
"Saya menerima alasan ketiga dalang kejahatan dalam mencelakai Saya. Mereka bukanlah orang jahat, hanya saja belum dapat memikirkan tentang hal buruk yang akan menimpa mereka seperti saat ini." Zella masih terus memandang ke arah Levi hingga membuat Leon merasa sangat cemburu.
"Carina, Laluna, dan Winda adalah gadis yang baru akan beranjak dewasa sama seperti Saya. Tentunya dalam masa peralihan seperti ini sangat wajar jika melakukan kesalahan. Sebelum mereka meminta maaf pun Saya sudah dengan lapang dada memafkan mereka."
Seluruh hadirin memandang takjub ke arah Zella, begitu pula jajaran jaksa dan penasehat hukum yang hadir dalam persidangan tersebut. Riuh ramai sontak terjadi dalam ruang sidang, tetapi hakim langsung mengetuk palu sebagai peringatan agar semua kembali tenang.
"Kalian bisa tetap belajar dan melanjutkan kuliah tanpa harus kembali melakukan kejahatan seperti ini lagi. Jangan pernah lagi mengecewakan orang tua kalian."
"Untuk tiga orang Pelaku kejahatan, Saya yakin kalian melakukan semua ini hanya karena uang. Tentunya untuk menghidupi anak dan istri kalian. Saya akan melepas tuntutan pada kalian bertiga tapi dengan janji bahwa Kalian tidak akan mengulanginya."
Ketiga Pelaku suruhan langsung tersungkur bersujud di hadapan semua hadirin. Tampak istri mereka menangis mendengar pertanyaan Zella.
"Dewan Hakim Yang Mulia, Saya mencabut semua tuntutan Saya. Tetapi, Saya tetap menghargai keputusan anda. Terima kasih." ucap Zella dan disambut riuh tepuk tangan Seluruh hadirin sidang.
Leon makin takjub dengan Zella saat ini. Tapi dilihatnya Zella terus memandang ke arah Levi membuat nyali Leon ciut.
"Sepertinya aku kalah dengan pemilik kampus kita kak." ucap Leon pada kakaknya.
__ADS_1
"Kau salah mencari lawan bersaing," Dion menepuk bahu adiknya. "Sepertinya mereka berdua memang cocok bukan?" tanta Dion pada adiknya.
"Yupz, Zella terlalu tinggi untuk kugapai." gumam Leon yang sudah mengibarkan bendera putihnya.
Sekarang adalah waktu Nay untuk berbicara. Leon masih memperhatikan Zella yang hari ini tidak sedikit pun melihat ke arahnya. Nay tidak berbicara banyak, sebab ia setuju dengan apá yang Zella ucapkan.
Kini semua tinggal menunggu keputusan dari pengadilan.
"Levi, kapan kau akan memperkenalkan calon menantu mama?" tanya Bu Karen yang sedari awal memperhatikan putranya dan Zella beradu pandang.
"Bukankah mama sudah kenal?" tanya Levi menutupi rasa malunya.
"Kapan pun kau minta mama untuk melamarkan Zella, mama akan selalu siap." ucap Bu Karen menepuk bahu putranya.
Levi tersenyum pada mamanya. "Adakah selera kita sama?" tanya Levi dan Bu Karen mengangguk.
Keputusan pengadilan berpihak pada Zella untuk membebaskan semua tersangka pada sidang pagi ini. Papa Green memeluk putrinya bangga.
Carina dan Laluna langsung menangis menemui orang tua mereka, Winda berjalan ke arah papa Green dan membuat papa Green melepaskan pelukannya pada Zella.
"Harusnya kau meminta maaf pada Zella." ucap Papa Green sambil melirik ke sampingnya. Kosong. "Kemana Zella?" batin papa Green mengedarkan pandangannya mencari putrinya.
Dilihatnya Zella sudah bersama Levi dan seorang perempuan yang ditebak usianya hampir sama dengannya.
"Aku akan meminta maaf pada Zella, tapi kumohon papa memaafkanku." isak Winda yang berharap dipeluk papa Green.
"Aku memaafkanmu," kawab Papa Green tanpa memeluk Winda.
Orang tua Carina dan Laluna langsung menemui Papa Green dan mengucapkan banyak Terima kasih. Mereka menyampaikan keinginannya untuk mengajak Zella dan papanya untuk jamuan makan siang di sebuah resto yang sudah mereka tentukan. Mereka juga akan mengajak Leon dan Levi ikut serta.
Leon yang melihat Zella yang menemui Levi membuatnya makin sadar bahwa Zella mencintai Levi. Ia tidak mau terpuruk karena memang berulang kali Zella mengingatkannya untuk mundur.
Leon pun membuka ponselnya dan mengirim pesan pada Levi.
__ADS_1
Leon
Saya sudah mengangkat bendera putih untuk mengakui kemenangan anda hari ini Pak Levi. Dan Saya juga angkat topi untuk anda, tapi ketika anda membuat Zella tersakiti. Maka secepat mungkin Saya akan merebut Zella dari anda.
Sent: 10.07
Levi
Oke. Saya pasti akan menjaganya.
Sent: 10.09
Setelah mendapat balasan dari Levi, Leon dan Dion pun mendekat ke arah Zella.
"Kau sangat luar biasa, Zella." puji Leon.
"Terima kasih Kak Leon, Kapan dateng?" tanya Zella membuat Leon tersenyum tipis.
"Aku sudah datang sebelum kau datang. Hemmmm, ternyata Sekarang hanya ada Pak Levi ya dalam pandanganmu?" ledek Leon membuat Bu Karen sontak tertawa.
"Aku tidak akan menjadi pengganggu kalian," ucap Leon kemudian. "Tapi izinkan aku untuk menjadi teman baikmu, Zella." pinta Leon.
Zella menatap ke arah Levi meminta persetujuan dan Levi pun mengangguk.
"Bukan kah dari dulu kau memang temanku? Kita juga rekan bisnis bukan?" tanya Zella.
"Tentu saja." jawab Leon.
Istri dari ketiga tersangka menemui Zella dan menyampaikan rasa Terima kasihnya. Begitu pula ketiga tersangka yang sangat bersyukur atas kebaikan Zella.
"Kalian bisa bekerja bersamaku jika kalian benar-benar membutuhkan uang." ucap Zella dan disambut baik oleh ketiga tersangka itu.
"Terima kasih, nona. Kami benar-benar minta maaf atas apá yang kami lakukan. Kakí berjanji tidak akan mengulanginya lagi." ucap salah satu dari mereka. Mereka pun berpamitan pulang.
__ADS_1
Papa Green menyampaikan keinginan orang tua Carina dan Laluna mengajak makan siang pada Zella dan semua yang ada disana. Zella pun menyetujuinya dan mereka pergi ke tempat yang sudah dipesan.