
"Aku mau langsung pulang ke mansion." pinta Silla pada Leon saat motornya sudah selesai diservice.
"Baiklah, as you wish Silla." ucap Leon yang langsung mengantarkan Silla.
Leon mulai menjalankan motornya, kali ini Silla tidak memegang pinggang Leon sedikitpun.
"Pegangan Silla!" perintah Leon.
"No, thanks!" jawab Silla.
Leon tidak memaksa Silla dan tetap menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Tanpa menunggu lama, Kini keduanya sudah sampai di mansion Silla.
"Masih marah?" tanya Leon saat Silla sudah turun dari motornya.
"Aku hanya tidak ingin banyak terlibat denganmu, Kak Leon."
"Kau yang membuat kita saling terlibat Silla." jelas Leon mengingatkan Silla.
"Kalau begitu, aku minta maaf. Kita sama sama memiliki batas masing-masing. Kumohon jangan melewati batasmu, Kak Leon." pinta Silla.
Leon benar-benar tidak percaya apa yang dikatakan Silla.
"Oke jika memang itu maumu," jawab Leon kesal. "Aku pamit." Leon langsung menjalankan motornya keluar gerbang mansion Silla.
Silla memandang kepergian Leon dengan tatapan nanar. Baru saja Silla berbalik mau masuk ke dalam mansion, terdengar suara kencang dari luar gerbangnya.
Brakkkk!!!
"Kak Leon." Silla berbalik.
Duarrrr!!!
Kini terlihat ledakan api di depan gerbang mansion Silla. Dengan panik Silla langsung berlari keluar gerbang. Satpam mansion Silla sudah lebih dulu keluar saat suara tabrakan pertama.
"Kak Leoooon." teriak Silla panik saat melihat kobaran api di motor tepat di tengah jalan.
Satpam mansion mencegah Silla untuk mendekat dan satpam yang satunya membantu korban kecelakaan. Silla terus memanggil nama Leon histeris.
Kobaran api makin besar dan Silla ditarik mundur oleh satpam dan salah satu asisten rumah tangganya.
"Jangan mendekat, non. Bahaya." bibi menarik tangan Silla.
"Aku mau lihat bi, itu Kak Leon bi." isak Silla.
"Kak Leooooon," Silla terus berteriak.
Kini ambulan dan pemadam kebakaran sudah tiba di tempat. Silla terduduk lemas bersandar di depan gerbang ditemani bibi.
"Aku menyesal mengabaikanmu, kak Leon." Silla melipat kakinya dan menelungkupkan wajahnya.
Depan mansion Silla sangat ramai dan terjadi kemacetan panjang. Zella yang mendengar kabar kecelakaan di depan mansion langsung bergegas pulang. Sayangnya Zella dan supirnya terjebak dalam kemacetan yang panjang.
__ADS_1
Zella mencoba menghubungi Silla untuk menanyakan keberadaannya.
"Silla, apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik, Zella. Tapi kak Leon . . . Aku mengkhawatirkannya."
Silla terjatuh pingsan dan panggilan Zella terputus. Silla pun diangkat masuk ke dalam mansion.
Polisi yang datang langsung memeriksa lokasi kecelakaan dan mengurai kemacetan panjang. Zella akhirnya tiba di mansion setelah setengah jam terjebak macet.
Setelah memberi keterangan untuk Berita Acara Polisi, Leon langsung menuju ke mansion Silla untuk melihat keadaannya.
"Kak Leon," Zella sedikit terkejut saat melihat Leon ada disamping tempat tidur Silla.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Zella.
"Aku baik-baik saja. Mungkin Silla terlalu mengkhawatirkan aku hingga tidak sadarkan diri." jawab Leon.
"Oh, Syukurlah. Kalau begitu aku kembali ke kamar ya." Zella menutup pintu kamar Silla dan kembali ke kamarnya.
Berbagai upaya dilakukan Leon agar Silla siuman dari pingsannya. Tak berapa lama, Silla mengerjapkan matanya dan membukanya perlahan.
"Kau sudah sadar?" tanya Leon sambil menyodorkan minuman ke Silla.
"Kak Leon," mata Silla berbinar mendapati Leon selamat dari kecelakaan di depan mansionnya.
"Minumlah dulu." Leon membantu Silla duduk dan minum.
"Kau sungguh mengkhawatirkan diriku ya sampai tidak sadarkan diri begitu lama?" tanya Leon.
"What? Jangan terlalu percaya diri kak." sanggah Silla.
"A a aku hanya . . Emmm . . Terkejut saja melihat api di depan gerbang." jelas Silla.
"Oh yaaaa. Lalu siapa yang berteriak memanggilku tadi ya saat aku hendak menelfon ambulan dan pemadam kebakaran?" selidik Leon.
"Haaah, memanggilmu ya? Mana aku tahu." jawab Silla terus berkelit.
"Kau ini masih saja angkuh tidak mau mengakui perasaanmu sendiri, Silla." Leon mengusap kepala Silla.
"Tak mau memelukku?" tanya Leon sambil merentangkan tangannya.
Dengan ragu Silla mendekatkan dirinya dan Leon langsung merengkuh tubuh Silla memeluknya erat.
"Aku senang kau mengkhawatirkan aku, Silla." ucap Leon mengusap punggung Silla.
Silla diam tidak menjawab dan hanya menikmati pelukan Leon. Dia sangat bersyukur bukan Leon yang menjadi korban kecelakaan. Silla sangat ingin menyampaikan penyesalannya sudah mengabaikan Leon. Tapi lagi lagi rasa gengsinya mengalahkan segalanya.
Tiba-tiba pintu kamar Silla terbuka dan Zella menghentikan langkahnya untuk masuk setelah melihat Silla dan Leon sedang berpelukan.
"Upz, Sorry. Sepertinya aku mengganggu kalian." Zella berbalik dan kembali menutup pintu kamar Silla.
__ADS_1
Dengan cepat Silla melepaskan pelukan Leon dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Keluarlah kak, aku mau istirahat." usir Silla.
"Apa??!!! Kau mengusirku?" tanya Leon menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Silla. "Benar-benar tega." lanjut Leon kesal.
"Aku sudah mengatakannya bukan? Jangan melewati batasmu!" jawab Silla.
"Sebutkan batas-batasnya Silla!" Leon masih belum beranjak dari duduknya.
Silla terdiam, berkali-kali memang Silla yang memulai melibatkan Leon dalam dirinya. Berawal dari ketidaksengajaannya di kampus saat senam dan dilanjut dengan kesengajaannya mencium Leon di depan teman temannya saat reuni.
"Jawab aku, Prisilla Ainsley!" Leon kembali mendesak Silla.
"Aku hanya tidak ingin bersamamu, tidak ingin terlibat terlalu jauh denganmu, dan satu lagi aku benar benar ingin sendiri sekarang. Jadi kumohon, keluarlah." ucap Silla.
"Oke, aku menuruti keinginanmu. Aku permisi." Leon berjalan meninggalkan Silla.
Sesampainya di ruang tamu, Leon mendapati Zella yang sedang membaca majalah.
"Aku pamit ya Zell." Leon terus berjalan ke arah pintu.
"Tunggu kak, buru buru amat. Makan dulu yuk." ajak Zella.
"Gak usah Zell, aku pulang aja." jawab Leon tidak bersemangat.
"Duduk dulu deh, biar dibuatkan minum sama bibi." ucap Zella dan Leon pun menurut.
"Aku gak paham deh, Zell sama adik ipar kamu tuh." ucap Leon.
"Kenapa emangnya?" tanya Zella.
Akhirnya Leon menceritakan tentang apa yang terjadi di kamar Silla, dan Zella hanya mengangguk angguk mendengarkan cerita Leon.
"Menurut kamu gimana, Zell?" tanya Leon.
"Emmm. Menurut aku sih kalo suka ya perjuangin dong. Kalo gak suka ya mundur aja." jawab Zella.
"Diiiih, bantuin napa Zell." pinta Leon.
"Usaha dong. Masa gitu aja nyerah." jawab Zella.
Akhirnya Leon pamit pulang dan Zella langsung masuk ke kamar Silla.
"Laaa, kamu kenapa sebenernya ama kak Leon?" tanya Zella.
"Pasti dia ngadu ya sama kamu ya." balas Silla dan Zella menggelengkan kepalanya.
"Kamu kalo suka, jangan sampe nyesel loooh, Laaaa." ucap Zella.
"Coba kamu fikir baik-baik deh, sekarang kita makan yuk. Laper nih." ajak Zella.
__ADS_1
Silla pun mengikuti langkah Zella menuju meja makan.