
"Bagaimana keadaan kakakmu, sayang?" tanya mama Karen pada Zella.
"Sudah lebih baik, Ma. Tinggal latihan berjalan pelan-pelan." jawab Zella.
"Maaf ya, Mama belum sempat menjenguk kakakmu. Jadwal mama sangat padat dua minggu ini." ucap Mama Karen.
"Gak papa Ma, Silla dengan Pak Levi juga sudah kesana." jawab Zella.
"Nginep dulu ya, Zell. Aku kangen banget sama kamu." pinta Silla. Zella masih diam menimang jawaban dari permintaan Silla.
"Kamu aja yang nginep di ruko, La. Nanti kita masak masak bareng sama Nay" jawab Zella.
Silla pun meminta persetujuan mamanya, dan mama Karen memperbolehkan karena besok masih hari libur.
"Minggu depan gantian Zella dan Nay ya yang nginep sini." pinta Mama Karen dan Zella mengangguk setuju.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Levi langsung kembali ke kamar. Silla pun mengajak Zella ke kamarnya.
"Zell, aku udah jadian sama Kak Reza." ucap Silla bahagia.
"Congrats, Laaaa. Aku seneng banget dengernya. Kapan jadiannya?" tanya Zella.
"Minggu lalu, sepulang dari mansion kamu. Tapi Zell, waktu aku diajak ke rumah Kak Reza . . . " Silla memotong ceritanya mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia pun langsung membuka pintu kamarnya.
"La, temenin mama belanja sebentar yuk." ajak Mama Karen. "Zella biar istirahat dulu."
"Oke deh, Ma. Tunggu di bawah ya." ucap Silla dan kembali menutup pintu.
"Zell, nanti kita lanjut lagi yaa. Aku mau nemenin mamah belanja dulu. Kamu istrirahat dulu ya." ucap Silla sambil meraih tas selempangnya dan mengambil kunci mobil.
"Hati-hati ya, Laa." ucap Zella merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Silla langsung keluar kamar dan menemui mamanya. Zella yang hampir memejamkan matanya seketika teringat ponselnya masih dipegang Levi. Ia pun bergegas keluar dari kamar Silla dan menggedor pintu kamar Levi.
"Pak Levi, ponsel saya mana?" tanya Zella sambil terus menggedor pintu.
Levi membuka pintu kamarnya dan menarik Zella masuk ke dalam.
"Kembalikan ponsel saya!" pinta Zella.
"Ambil saja sendiri." ucap Levi sambil menutup pintu kamarnya. "Nih, masih disini." Levi menunjuk ke arah saku kanan celananya.
__ADS_1
"Ambilin dong pak?" pinta Zella kesal.
Levi memegang tangan Zella dan mengarahkan ke saku celananya. Jangan ditanya bagaimana perasaan Zella saat ini yang campur aduk tak menentu.
"Pak Levi," panggil Zella sambil menetralkan detak jantungnya dan menarik tangannya. "Cepet balikin!" pinta Zella menatap Levi kesal.
Levi mengambil ponsel Zella dari sakunya dan menyerahkannya pada Zella. Zella pun langsung meraih ponselnya tapi dengan cepat Levi menyembunyikan tangannya ke punggungnya, hingga membuat Zella menabrak dada Levi.
Levi kembali memasukkan ponsel Zella ke dalam sakunya. Ia langsung memegang bahu Zella hingga keduanya saling memandang.
"Zella, izinkan aku . . . " Levi mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Zella. "Melakukannya saat kau sadar." ucap Levi dan Zella mulai memejamkan matanya.
Levi meraih tengkuk Zella dan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Zella. Bibir mereka pun bersentuhan dan menciptakan gelenyar aneh dalam tubuh Zella. Ini adalah pertama kalinya untuk Zella dan ia hanya diam saat Levi mulai menyes*p bibirnya.
Dengan reflek Zella membuka sedikit bibirnya dan Levi mendapatkan ruang untuk semakin dalam mencium Zella. Hingga Zella hampir kehabisan nafas karena permainan Levi, dan Levi pun melepas pagutannya.
Zella tersipu malu dan membuang mukanya. Levi mengembalikan ponsel Zella dan Zella langsung keluar dari kamar Levi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Levi tersenyum melihat Zella yang salah tingkah dan merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya.
"Bahasa tubuhmu sudah menerima cintaku, Zella. Akan kupastikan jika kali ini aku memenangkan persaingan dengan Leon." gumam Levi sambil memejamkan matanya mengingat lezat bibir Zella yang baru saja direguknya.
Tapi disisi lain, Zella takut kecewa jika Levi ternyata tidak mencintainya. "Aduh, Zellaaa. Ayo dong berfikir cerdas apa yang harus kamu lakukan. Jangan sampai terlihat bodoh di depan Pak Levi." batin Zella hingga lama kelamaan ia tertidur di kasur Silla.
Sore harinya, setelah mandi Zella dan Silla bersiap-siap pergi ke ruko Zella. Levi juga sudah siap mengantar keduanya dan menunggu di mobil.
Setelah berpamitan pada mama Karen, keduanya langsung masuk ke mobil Levi. Zella memperhatikan Levi masih seperti biasanya, seperti tidak pernah terjadi sesuatu antara dia dan Zella.
"Pak Levi sepertinya tidak seperti yang aku harapkan." batin Zella menatap keluar jendela. Hingga sampai di ruko, tidak ada pembicaraan antara dia dan dosennya.
"Zella, kayaknya ada yang kangen banget tuh sampe nunggu depan ruko." ucap Silla menunjuk ke arah Leon.
Zella langsung turun dari mobil Levi setelah mengucapkan terima kasih dan berjalan ke arah Leon.
"Hai Kak Leon, apa kabar?" tanya Zella.
"Kangen banget lah kabarnya." jawab Leon yang langsung diajak masuk ke ruko Zella.
Levi yang tidak mau melihat kedekatan Zella dengan Leon pun langsung putar balik menuju ke mansionnya. Sedangkan Leon tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mendekati Zella.
Baru saja naik ke lantai 2 di ruko Zella, Leon sudah ditelfon mamanya dan diminta untuk segera pulang. Dengan berat hati, Leon harus meninggalkan ruko Zella dan pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Kini Zella, Silla, dan Nay melepas rindu mereka sambil bercerita.
"Lanjutin cerita yang tadi dong, La." pinta Zella pada Silla.
Silla pun akhirnya melanjutkan ceritanya yang terpotong. "Orang tua Kak Reza gak setuju kalo anaknya pacaran." ucap Silla.
Zella dan Nay pun terkejut atas ucapan Silla. "Trus gimana dong, La?" tanya Nay.
"Mereka setujunya kalo Kak Reza langsung nikah sama aku." jelas Silla dan membuat Nay dan Zella melongo.
"Bagus itu, La. Jadi pacaran setelah nikah." timpal Zella. "Mama Karen udah tau?" tanya Zella.
Silla mengangguk, " Tapi mamah belum kasih jawaban dan kepastian. Mamah maunya Kak Levi dulu yang nikah." jawab Silla.
"Yaudah kalo gitu suruh aja kakakmu nikah." ucap Nay asal.
Silla pun terdiam, "Bener juga usul Nay." jawab Silla yang langsung menoleh ke arah Zella.
"Kak Levi nikah sama kamu aja Zell. Biar aku bisa nikah sama Reza." ucap Silla.
Zella langsung menepuk paha sahabatnya. "Enak aja kalo ngomong. Pak Levi aja gak suka sama aku, gimana ceritanya bisa nikah?" tanya Zella balik.
"Kalo aku lihat sih, Pak Levi suka deh sama kamu, Zell." jawab Nay. "Menurut kamu gimana, La?"
"Aku setuju tuh sama Nay." jawab Silla. "Emang kak Levi gak pernah kasih tanda-tanda kalo dia suka sama kamu?" tanya Silla.
Zella terdiam mengingat saat dia bersama Levi, "Dia baik aja sih tapi kadang ngeselin. Dan Pak Levi gak pernah bilang suka sama aku." jawab Zella.
"Kak Levi memang tipe orang yang susah mengungkapkan perasaannya." jelas Silla. "Gimana kalo kita coba bikin Kak Levi cemburu?" tanya Silla memberi ide.
"Gak deh, La." tolak Zella tidak setuju.
"Kalo gitu, katakan pada kami bagaimana perasaanmu dengan Pak Levi?" tanya Nay.
"Kau ada perasaan khusus bukan dengan kakakku?" tanya Silla mendesak.
"Baiklah, aku rasa begitu." jawab Zella menyerah. Silla dan Nay pun langsung tosh bahagia. "Tapi kumohon, jangan pernah bilang dengan siapa pun itu." pinta Zella sungguh-sungguh.
"Kita akan menjaga rahasia ini, Zella. Tapi aku akan membakar api cemburu kakakku agar dia segera menyatakan perasaan cintanya padamu." ucap Silla.
Ketiganya terus bercerita hingga larut malam sampai akhirnya mereka tertidur.
__ADS_1