
Malam harinya, keluarga besar Zella berkumpul semua di Mansion papa Green. Ini adalah hal yang sangat langka di keluarga Zella, kecuali jika ada acara besar. Winda juga sudah tampak hadir di mansion.
Papa Green adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, kakak pertamanya Jingga Alexia hanya mempunyai seorang putri dan sudah menikah. Kakak keduanya Turqoise Alexio memiliki tiga orang anak dan semuanya juga sudah menikah.
Tinggal anak papa Green saja yang belum menikah. Zella adalah cucu Granny yang paling muda usianya. Zella sangat senang berkumpul bersama kakak sepupunya, hanya saja kakak sepupu Zella terlihat sangat mengacuhkan Winda.
Setelah melepas kerinduan, mereka memutuskan untuk beristirahat setelah melewati perjalanan panjang mereka. Ada yang dari Australia, Belanda, dan yang terdekat adalah keluarga Jingga Alexia yang tinggal di Manado.
Pagi harinya, mansion Zella sudah mulai didekor dengan seindah mungkin. Hanya saja, Zella tidak diperbolehkan sedikitpun keluar dari kamarnya. Bahkan makan pun harus di kamar.
"Granny, kenapa aku tidak boleh keluar kamar?" tanya Zella.
"Hei anak kecil, memang seperti ini jika akan bertunangan," ucap Myna, kakak Sepupu Zella. "Kau hanya boleh keluar kamar jika sudah tiba waktu malam." jelasnya lagi.
"Benar kata Myna, kau memang harus dikurung agar terlihat cantik Zella," jelas Livi, kakak sepupu tertua Zella sambil terkekeh.
"Benarkah itu, Granny?" tanya Zella dan Granny hanya tersenyum.
"Ceritakan pada kami bagaimana kau menghabisi pemuda yang hampir melecehkanmu?" tanya Myna yang belum mendengar ceritanya secara detail.
"Ayolah kaaaak, ini sudah berlalu. Aku juga tidak mau mengingatnya lagi." jelas Zella membuat Granny dan kakak sepupunya memeluk Zella.
"Kau adik tersayang kami, aku akan membalaskan kejahatan mereka jika kau kembali tersakiti." ucap Livi.
Granny memeluk Zella sangat erat, "Terima kasih sudah menjaga dirimu dengan baik. Granny sungguh mengkhawatirkanmu, sayang." ucap Granny sendu.
"Aku akan baik-baik saja selama kalian terus bersamaku." ucap Zella. "Maaf sudah membuat kalian khawatir."
***
Sore harinya, setelah Zella membersihkan dirinya MUA yang biasa dipakai keluarga besar Zella sudah siap di kamar Zella.
"Kita akan berpesta malam ini, kau akan dirias dengan mereka." ucap Granny menunjuk MUA yang ada dk kamar Zella. "Semua juga sedang dirias di kamar mereka."
"Baiklah, Granny." ucap Zella tanpa curiga dan membantah sedikit pun.
Tepat jam enam petang, Zella sudah siap dengan memakai gaunnya. MUA yang merias Zella juga sudah keluar dari kamar Zella.
__ADS_1
"Kenapa gaun ini mewah sekali? Biasanya pesta keluarga tidak semewah ini." gumam Zella dalam hati.
Tak lama kemudian papa Green masuk ke kamar Zella. "Kau sangat cantik, sayang." puji papa Green.
"Papa, terima kasih. Tapi apakah gaun ini tidak berlebihan?" tanya Zella.
Papa Green langsung menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak." jawab papa Green.
"Kau tau, gaun ini adalah desain yang mama buat khusus untuk putri tersayangnya." jelas papa Green yang langsung membuat mata Zella berkaca-kaca.
"Benarkah pa?" tanya Zella dan papa Green mengangguk.
"Tentu saja, dia bahkan sudah menyiapkan ukurannya agar kau nyaman memakainya." ucap papa Green.
Kini air mata di pelupuk mata Zella sudah tidak mampu terbendung dan jatuh membasahi pipi Zella.
"Mama meluangkan waktunya untuk menjahit sendiri gaunmu, agar kau bisa merasakan betapa sayangnya Mama padamu, Zella." ucap Papa Green dengan mata berkaca-kaca.
Papa Green menghapus air mata Zella. "Mama tidak suka kau menangis sayang, mama sangat berharap kau menjadi wanita yang sangat tangguh." jelas papa Green.
"Apapun yang akan terjadi, kau tetap putri kecil kesayangan papa, mama dan kak Azel." ucap papa Green mulai meneteskan air matanya tapi buru-buru langsung dihapusnya.
"Dan kau tetap menjadi kesayangan kami semua, Zella." ucap Granpa yang sudah berdiri di belakang papa Green.
Zella kini memeluk Granpanya dan seluruh keluarga Zella bergantian memeluk Zella bergantian.
"Kau tahu, kami kemari datang karena sangat mengkhawatirkanmu. Setelah Green menceritakan beberapa kejadian yang menimpamu, kami langsung putuskan untuk melihat keadaanmu, Zella." jelas binda Jingga.
Zella sangat terharu betapa keluarganya sangat menyayanginya. Granny kembali memanggil MUA yang merias Zella untuk sedikit touch up wajah Zella yang baru saja menangis.
Kini keluarga besar Zella keluar dari kamar Zella dan menunggu di luar. Kini Zella sendirian di kamar, dan tak lama Sepupu Livi datang menemaninya dengan alasan memoles kembali riasannya yang sedikit luntur.
Diluar mansion, keluarga besar Levi sudah datang dengan berbagai macam hantaran pernikahan.
Granpa dan Granny memang memutuskan agar Levi segera menikahi Zella agar dapat mengawasi Zella dengan baik.
Seluruh keluarga besar juga sangat setuju dengan keputusan Granpa dan Granny meski terdengar seperti keputusan sepihak karena mereka tidak ingin sampai terulang kembali kisah meninggalnya Mama Ayumi, mama kandung Zella.
__ADS_1
Mereka sudah mengatur semuanya meski sangat mendadak.
Malam ini, adalah malam pernikahan Zella dengan Levi. Bukan lagi pertunangan antara keduanya. Akhir pekan baru mereka adakan pesta besar mengundang seluruh kolega papa Green maupun mama Karen.
Levi juga sangat siap menuruti kemauan Granpa dan Granny Zella. Karena ia sudah lama mendambakan hal ini.
Semua prosesi pernikahan sudah siap, tinggal persetujuan dari mempelai wanita. Sesuai rencana, kini Levi menelfon Zella untuk memastikan persetujuan dari Zella.
Ponsel Zella berdering, dan ia langsung mengangkatnya.
"Hai sayang, apa kabar?" tanya Levi diujung panggilan
"Apa kau baru mengingatku?" tanya Zella balik mengingat seharian penuh Levi tidak menghubunginya sama sekali.
"Tentu saja tidak, Aku bahkan ingin menikahimu malam ini." jawab Levi
"Lakukan saja kalau memang kau mampu, Pak Dosen. Kau akan langsung habis diterkam seluruh keluarga besarku." ucap Zella sambil terkekeh mengingat sekarang adalah pesta besar keluarganya.
"Kau menyetujuinya? Menikah denganku malam ini?" tanya Levi memastikan jawaban dari Zella.
"Aku sangat setuju, jika kau mampu menghadapi keluargaku." tantang Zella.
Dan Levi langsung mematikan panggilannya.
"Terputus." gumam Zella. "Sudah kuduga, kau tak akan berani menantang maut, Kak Levi." batin Zella yang mengira bahwa Levi hanya menggodanya dengan ucapannya tentang pernikahan.
Sedangkan di taman mansion Zella, semua keluarga mendengar persetujuan dari Zella tentang pernikahannya meskipun mereka tahu bahwa Zella pasti hanya bermain-main menantang Levi.
Prosesi akad pernikahan pun berjalan dengan sangat mulus dan sesuai rencana.
SAH ! ! !
Kini Zella dan Levi seudah menjadi sepasang suami istri. Sepupu Livi yang baru saja mendapat perintah dari Myna pun menyudahi berbenah rambutnya dan mengajak Zella turun.
"Zella, ayo turun. Pesta akan segera dimulai. Nanti kita gak kebagian makanan lagi" ajak Livi sambil berseloroh.
"Dari tadi juga udah mau turun kali. Lagi pula, kapan kita kehabisan makanan saat berpesta?" tanya Zella yang sedikit geli dengan gurauan sepupunya.
__ADS_1