Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 69


__ADS_3

"Haruskah aku mengikuti saran dari Silla?" tanya Zella dalam hati.


Zella kini berfikir keras, besok dia harus mengumpulkan formulir ke sekretariatan kampus. Kalau besok lusa itu terlalu mepet waktunya. Dia hanya harus berterima kasih saja pada suaminya yang sudah mengizinkannya untum mengikuti audisi.


"Baiklah, aku harus berjuang untuk diriku sendiri." ucap Zella berjalan ke arah lemari dan mengambil sesuatu.


Setelah Levi keluar dari kamar mandi, Zella yang gantian masuk ke kamar mandi.


Zella langsung mencuci mukanya dan mengganti bajunya dengan lingerie warna merah seperti saran Silla. Kemudian ia sedikit memoles wajahnya dan SIAP.


Zella kini terlihat sangat cantik dan seksi. Tak lupa ia mengikat rambutnya tinggi ke atas. Levi yang sudah menunggu lama pun khawatir karena Zella tidak kunjung keluar dan akhirnya ia mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang, kau tidak apa apa kan?" tanya Levi setengah berteriak.


"I'm okey kaaak." jawab Zella dan Levi kembali duduk di sofa.


Tak lama kemudian Zella keluar dari kamar mandi dan membuat Levi sangat terperanjat melihat penampilan istrinya.


"Sa . . yang . . " panggil Levi tergagap saat Zella memberanikan dirinya mendekati Levi dan duduk di atas pangkuannya.


Kini Zella harus membuang rasa malunya di depan suaminya sendiri. Dia mulai meraba dada suaminya dan membuka kancingnya satu persatu.


"Jangan terlalu terkejut sayang. Aku hanya ingin membayar hutangku." ucap Zella terlihat sangat berani dan menantang membuat Levi menelan ludahnya kasar.


"Kau mulai nakal ya." balas Levi menatap istrinya dan mendekatkan wajahnya untuk mencium Zella.


Sayangnya, Zella langsung menahan bibir Levi dengan jarinya. "Now, I am a leader." ucap Zella melepaskan kemeja Levi dan membuangnya.


Zella mulai memainkan jarinya menelusuri wajah Levi. Jangan ditanya bagaimana Levi saat ini yang sudah menahan hasratnya yang menggebu. Zella langsung menempelkan bibirnya ke bibir Levi dan memagutnya pelan.


Levi benar benar menikmati ciuman istrinya. Zella semakin berani membuka celana Levi dan melihat senjata milik suaminya sudah ON. Kali ini Levi benar benar dibuat mabuk kepayang oleh istrinya sendiri.


Zella benar benar memimpin permainan panas mereka malam ini. Kini Zella berada di atas tubuh suaminya tanpa sehelai benang pun. Sofa di kamar Levi menjadi saksi permainan panas mereka yang. Mereka terus bermain sampai pelepasan pertama dan membuat Zella jatuh dipelukan suaminya.


Levi langsung menggendong istrinya dan membawanya ke atas ranjang.


"Kau benar-benar nakal sayang." ucap Levi mulai memainkan jarinya di dada istrinya yang sekarang menjadi tempat bermain favoritnya.


"Masih ingin memimpin atau akan dipimpin sayang?" tanya Levi membuat Zella menarik selimutnya dan menutupi mukanya.


"Rayuan mautmu berhasil, cinta. Aku mengizinkanmu mendaftar pertukaran mahasiswa ke Jerman." bisik Levi membuat mata Zella berbinar dan membalikkan tubuhnya menatap suaminya.


"Benarkah kak?" tanya Zella sambil dua tangannya memegang rahang Levi.

__ADS_1


"Kamu ini, tadi sudah panggil sayang, kenapa sekarang berubah lagi." gerutu Levi menoel hidung istrinya.


"Mulai sekarang aku akan memanggilmu sayang," ucap Zella. "Emmmmuah" Zella mengecup bibir suaminya.


"Kau yang memulai, sayang. Jangan pernah menyesal dengan apa pun yang sudah kau mulai." ucap Levi menarik tengkuk istrinya dan mulai ******* bibirnya.


Levi terus mencumbu Zella dan mereka kembali bergelut dalam permainan panas mereka. Satu ronde Zella sudah memimpin, kini ronde kedua berganti Levi yang memimpin. Tidak berhenti disitu, Levi terus meminta berlanjut hingga ronde ketiga.


"Cukup sayang, aku sangat lelah." ucap Zella kewalahan.


"Istirahatlah cinta." ucap Levi mengecup kening istrinya. "Kau sangat liar malam ini, dan aku suka itu."


Levi pun menyelimuti tubuh istrinya, setelah itu ia mengambil air minum dan duduk di sofa memandangi istrinya di balik selimut.


Levi tersenyum mengingat keberanian Zella merayunya bermain di sofa.


"Si*l, hanya mengingatnya saja membuat senjataku bangun lagi." gerutu Levi meletakkan air minum di atas meja dan kembali mendekati Zella.


Tangan Levi mulai bergerilya di leher Zella, turun ke punggung istrinya dan kini terhenti di dada istrinya.


"Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukai ini." ucap Levi terus bermain di ujung dada Zella dan membuat Zella mulai melenguh.


Lenguhan Zella membuat Levi mendekatkan mulutnya ke dada istrinya dan mulai memainkan ni**le Zella dengan lidahnya.


"Aaaaaaah sayaaaang," desah Zella kembali membuka matanya. Ronde ke empat akhirnya tak terhindarkan dan Zella juga menikmati semua service Levi.


***


Pagi harinya, Zella tampak sangat lelah akibat ulahnya semalam. Berbeda dengan Levi yang hari ini tampak makin segar.


"Kau pasti lelah," ucap Levi. "Saat jam kosong, istirahatlah di ruanganku sayang." tawar Levi dan Zella langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak sayang, aku sudah kapok bermain-main denganmu." jawab Zella. "Aku akan beristirahat di ruko saja."


Levi tertawa mendengar jawaban istrinya. "Tapi, aku sangat menyukainya sayang." balas Levi membuat wajah Zella merona.


Keduanya kini turun ke bawah untuk sarapan. Silla sudah menunggu di meja makan dan melambaikan tangannya ke Zella.


"Kakak ipar, kemarilah. Ayo sarapan. Kita harus segera mengumpulkan formulir." ucap Silla dan Zella hanya menjawab dengan kedua jempol tangannya.


"Kau serius akan mengikuti audisi ke Jerman?" tanya Levi pada Silla.


"Tentu saja. Aku akan menjaga kakak iparku disana." jawab Silla dan Levi hanya mengangguk.

__ADS_1


Setelah sarapan, Levi mengajak Zella dan Silla ke kampus bersama. Sayangnya Zella langsung menolak dengan alasan jam istirahat mereka tidak sama. Akhirnya Levi lebih dulu berangkat ke kampus, disusul dengan Zella dan Silla yang diantar supir.


"Apa kau sakit Zella?" tanya Silla saat di mobil.


"Ini gara-gara ide gilamu, La." jawab Zella bersungut-sungut.


"Aku menyesal sudah menurutimu, Kak Levi bener bener gempur aku habis-habisan sampai jam tiga." jelas Zella membuat Silla menutup mulutnya terkejut. "Puas kamu!"


Silla terkikik mendengar kekesalan Zella. "Maaf deh, tapi langsung diizinin kaaaaan?" tanya Silla dan Zella mengangguk.


"Awas aja kamu ya. Aku bales pasti. Dendam banget aku sama kamu." timpal Zella geregetan dengan adik ipar yang juga sahabatnya ini.


"Maaf Zell. Aku gak nyangka kalo akhirnya jadi begitu. I'm so sorry." ucap Silla sambil memegang kedua cuping telinganya.


"Iya deh. Dimaafin, tapi gak gratis yaaa." jawab Zella.


"Oke, siap kakak iparku sayang. Sebutin aja mau ditraktir apa!" ucap Silla membuat Zella diam sejenak dan berfikir.


"Nanti deh aku fikirin dulu." jawab Zella. "Oh iya, semalem ceritanya gimana ama Kak Leon?" tanya Zella yang membuat rona wajah Silla berubah seketika.


"Lancar kok, aku malah ketemu ama mantannya Kak Leon." jawab Silla.


"Trus gimana? Cerita dong Laaaa." pinta Zella dan Silla masih enggan untuk menceritakannya pada Zella.


"Kapan-kapan aja deh. Males nyeritain Kak Leon." sanggah Silla.


Bukannya menceritakan tentang acara reuni semalam, Silla justru menceritakan tentang permainan Truth or Dare antara dia, Nay, Leon dan Om Bayu.


"Hemmm. Rumit juga yaaa." ucap Zella setelah mendengar cerita dari Silla.


"Apanya yang rumit, Zell?" tanya Silla.


"Om Bayu suka sama Nay, trus Nay suka sama Kak Leon. Dan kamu tau gak rumitnya dimana?" tanya Zella dan Silla langsung menggelengkan kepalanya.


"Kak Leon udah mulai suka nieh sama kamu. Tapi kamunya masih jual mahal sama dia. Plus aku yakin, kamu pasti ngerasa gak enak kan sama Nay?" ucap Zella membuat Silla melotot tak percaya sahabatnya bisa menyimpulkan seperti itu.


"Kamu itu dukun apa paranormal bisa bikin kesimpulan kayak gitu, Zell?" tanya Silla.


"Aku itu gak ada perasaan apa apa loh sama Kak Leon." jelas Silla.


"Oh yaaa?" Zella balik bertanya. "Sepertinya aku salah tebak ya?"


"Gini deh adik iparku sayang, Nay itu orangnya gak ribet dan easy going. Gimana kalo kita comblangin aja ama Om Bayu?" tanya Zella.

__ADS_1


"Naaaah boleh juga tuuuh. Aku setuju." timpal Silla.


Keduanya kini sampai di depan gedung kesekretariatan kampus. Percakapan mereka pun terhenti dan mereka turun dari mobil untuk mendaftar audisi pertukaran mahasiswa ke Jerman.


__ADS_2