
Silla sedang berdiri di balkon kamar sambil menatap keluar. Ia menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Ehhmm." Leon berdehem tepat di belakang Silla. "Ngecharge ponsel ya?" tanya Leon dan membuat Silla berbalik menatap ke arah Leon.
"Kak Leon ngapain disini?" tanya Silla sedikit ketakutan Kak Levi akan marah padanya. "Keluar gih, gak sopan tau masuk masuk ke kamar cewek." usir Silla sambil mendorong tubuh Leon mengarah ke pintu kamarnya.
"Aku udah ijin kok sama Kak Levi." ucap Leon membuat Silla melepaskan tangannya dari tubuh Leon.
"Mau apa sih kesini?" tanya Silla dengan nada ketusnya.
"Aku hanya ingin memastikan saja, wanitaku yang sedang cemburu ini baik baik saja." ucap Leon membuat Silla langsung berbalik membuang muka.
"Kau tau, Silla. Aku sempat kecewa kau tidak memakai jam pemberianku."
"Aku sudah tahu perasaanmu, Silla. Kau pernah takut kehilangan diriku, bukan. Kau begitu mencemaskan aku saat kau kira aku adalah korban kecelakaan."
"Kini, kau pasti sangat cemburu saat aku hampir saja dicium Carina."
"Mana ada begitu," sanggah Silla tanpa menatap wajah Leon.
"Kau masih saja keras kepala. Tapi aku sangat suka sikapmu, Prisilla. Aku justru sangat tertantang untung mendapatkanmu." ucap Leon.
"Untuk Zella, aku pernah mengalah untuk mendapatkannya karena Kak Levi bukan saingan yang sepadan untukku. Tapi untuk Silla, aku harus mendapatkanmu karena Reza sungguh tidak pantas untukmu."
Silla terdiam tidak tahu harus berbicara apa. Dia baru tahu, laki-laki tidak selalu mengatakan "I Love You" untuk mengawali sebuah hubungan. Tapi Leon, dia sungguh terlihat sangat serius untuk menjalani hubungan dengan dirinya malam ini.
Melihat Silla terdiam, Leon memberanikan dirinya memeluk Silla dari belakang. Detak jantung Silla makin tidak beraturan saat keduanya kini tak berjarak. Leon meraih sesuatu di saku dress Silla dan mengambilnya.
"Aku akan memakaikannya untukmu, dan kau akan selamanya bersamaku, Silla." ucap Leon membuka kotak jam tangan yang sudah Silla bawa sejak tadi hanya saja Silla masih gengsi untuk memakainya.
Leon membalikkan tubuh Silla dan langsung memakaikan jam tangan ke tangan Silla dan mengecup punggung tangan Silla.
"Pemaksaan." ucap Silla dengan wajah yang sudah merona.
"Terserah apapun itu namanya, yang penting kau sekarang adalah pacarku." jawab Leon.
__ADS_1
"Ayo, gabung ke bawah." Leon menarik tangan Silla dan Silla masih menahannya.
"Aku tidak ingin mempublikasikannya sekarang." ucap Silla membuat Leon tersenyum.
Leon langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Silla hingga Silla terpojok di dinding kamarnya karena ia terus menghindar.
"Let me . . ." Leon meminta izin dengan mengusap bibir Silla dengan jarinya.
Silla tidak mengangguk sama sekali, tapi memejamkan matanya menanti bibir Leon menyentuh bibirnya. Melihat reaksi Silla, Leon langsung menarik tengkuk Silla dan mendaratkan bibirnya ke bibir wanita pujaannya.
Leon terus memagut pelan dan Silla mulai membalasnya. Baru saja dimulai, terdengar pintu kamar Silla diketuk dan Zella berteriak dari luar kamar memanggil Silla.
"La, are you okay?" tanya Zella dari luar kamar Silla.
Silla langsung melepaskan pagutan Leon dan menjawab panggilan Zella. "Iya Zell. Bentar lagi aku keluar." jawab Silla merapikan rambut dan penampilannya.
Zella pun kembali ke taman, sedangkan Silla dan Leon keluar dari kamar Silla. "Kak Leon duluan aja. Nanti aku nyusul." ucap Silla dan Leon pun menurut.
Mereka kembali berkumpul di taman. Tidak ada yang curiga sama sekali dengan Silla dan Leon. Sedangkan Reza kembali mendekati Silla dan terus membujuknya untuk kembali berpacaran.
Nay dan Om Bayu pamit pulang duluan, disusul Laluna dan Ibel. "Reza, kamu anterin Carina pulang ya. Aku maaih ada urusan nih sama Pak Levi." ucap Leon.
"La, kita ke kamar dulu yuk." ajak Zella.
Silla pun mengikuti langkah kaki Zella menuju ke kamar. Sedangkan Leon dan Levi masih mengobrol di taman.
"Aku boleh gak pacaran sama Silla?" tanya Leon.
"Bukan pelampiasan kan?" selidik Levi.
"Tentu saja bukan, aku sudah menyerah dari awal untuk memiliki Zella. Dia terlalu tinggi untuk kugapai. Terlebih saingannya Kak Levi." jawab Leon yang mulai memberanikan dirinya memanggil -kakak-.
"Kalau kau sampai menyakiti Silla, kau akan berhadapan denganku, Anak muda." ucap Levi sambil menepuk bahu Leon.
"Persiapkan dirimu untuk kenaikan semester, dan juga pertukaran mahasiswa ke Jerman. Jangan sampai karena pacaran, cita citamu jadi terbengkalai." jelas Levi.
__ADS_1
"Terima kasih calon kakak iparku, kak Levi juga harus sportif saat di Jerman nanti. Jangan berdua terus sama Zella." ucap Leon.
"Ssstttt, Zella dan Silla belum tahu aku ikut ke Jerman. Diamlah." hardik Levi. "Jangan beritahu mereka tentang ini!"
"Oke, berarti nanti kita akan tidur sekamar bukan saat di Jerman?" tanya Leon.
"Enak saja. Kamu tidur sendiri. Aku kan sudah beristri tentu saja akan tidur bersama istriku." ucap Levi membuat Leon mencebik kesal.
"Pulanglah," usir Levi. "Aku ingin segera beristirahat."
"Baiklah, good night kakak Ipar." ucap Leon yang langsung melangkahkan kakijya ke luar mansion.
Sampai di luar mansion, Leon langsung mengirimkan pesan untuk Silla.
Leon
Aku pamit ya sayang. Jangan lupa mimpiin aku malam ini. Emuah.
Sent : 23.59
Silla yang sedang bercerita dengan Zella langsung tersenyum mendapat pesan dari Leon.
"Zell, kak Levi kayaknya udah nungguin kamu di kamar deh." ucap Silla yang sebenarnya sudah ingin berbalas pesan dengan Leon.
"Bilang aja gak mau diganggu. Mau chatingan sama Leon kaaaan?" goda Zella.
"Yaudah aku ke kamar dulu deh. Udah diusir ama yang lagi jatuh cinta." ucap Zella meninggalkan Silla.
"Diiiiiih, apaan sih. Tau aja ni orang." jawab Silla menutup mukanya dengan bantal.
Silla mulai membalas pesan dari Leon.
Silla
Oke. Hati-hati di jalan ya
__ADS_1
Sent : 00.00
Leon tersenyum membaca pesan dari Silla. Ia pun menjalankan motornya meninggalkan mansion dengan perasaan yang sangat gembira.