
Zella keluar dari kamarnya dan memandang takjub seluruh isi mansionnya. Semua didekor dengan sangat cantik membuat dirinya terus bertanya-tanya.
"Sebenarnya ada acara apa kakak sepupu?" tanya Zella sambil turun tangga.
Dilihatnya keponakan Zella sedang berlarian di dalam mansion dan berhenti memandang ke arah Zella.
"Onty Zella cantik sekali." puji anak Livi.
"Iya, bahkan dia terlihat seperti tuan Putri." kini anak Myna ikut memuji.
Keponakan yang lainnya juga berceloteh memuji kecantikan Zella.
"Terima kasih, kalian juga sangat cantik dan tampan." balas Zella.
Livi mengarahkan keponakan Zella untuk mengiringi ontynya dari belakang menuju ke taman.
"Kuharap kau akan bahagia Zella dengan bukti cinta dari kami semua, Keluarga besarmu." ucap Livi dengan mata berkaca-kaca.
Livi menggandeng Zella dan Myna yang dari taman juga datang menjemput Zella. Kini Zella diapit oleh kedua kakak sepupunya.
Seluruh keluarga yang di taman memberi jalan untuk Zella agar ia melihat sendiri apa yang sudah terjadi.
Zella yang sangat penasaran pun membelalakkan matanya saat melihat di ujung taman ada Levi dan keluarga besarnya yang sedang berdiri menatap ke arah Zella.
"Kak Levi, dia ada disini?" gumam Zella pelan membuat kedua sepupunya menahan tawa melihat keterkejutan Zella.
"Jangan-jangan, yang tadi dia bicarakan di telfon . . . " Zella menatap ke arah Livi dan Myna secara bergantian.
Tapi kini Levi langsung mengalihkan tatapan Zella ke arahnya, dengan Levi mulai bicara melalui pengeras suara.
"Aku memanglah laki-laki yang sulit untuk mengungkapkan perasaanku." ucap Levi memulai rangkaian katanya yang akan ia ungkapkan.
"Tapi sekarang, aku akan mengungkapkan semua perasaanku selama ini."
"Grizelle Alexandria, bertemu denganmu adalah awal bagiku merasakan detak jantung yang tak menentu."
"Aku bersyukur telah menabrakmu di kampus saat itu. Kau tahu? Binar matamu sudah membiusku sejak saat itu hingga aku melupakan mamaku sendiri yang hampir tertabrak."
"Hal yang sangat lucu bukan? Bisa-bisanya aku melupakan mamaku sendiri karena terpana olehmu, Zella."
__ADS_1
Kata-kata Levi membuat wajah Zella merona.
"Aku sudah merasa cemburu saat Leon membantumu berdiri. Bodohnya aku saat itu, kenapa malah bukan aku yang membantumu berdiri."
"Jujur ku katakan padamu, sejak saat itu aku memang mulai menguntitmu. Hingga sampai suatu hari, kau dicium dan dipeluk seorang laki-laki membuatku hatiku panas dan sangat cemburu."
Ucapan Levi membuat semua orang yang asa di taman beralih menatap ke arah Zella dengan tatapan penuh tanya, "Siapa yang berani mencium dan memeluk Zella saat itu?"
Levi melanjutkan kata-katanya, "Aku hampir saja menyerah untuk mengejarmu karena itu. Ternyata aku sudah salah kira saat itu, setelah kau mengatakan bahwa laki-laki itu adalah kakak laki-lakimu."
"Perjalanan ke Bogor karena kecelakaan orang tua Nay, menjadi peluang bagiku untuk lebih dekat denganmu. Terlebih kau berkenan untuk mampir sebentar di mansionku."
Zella membelalakkan matanya dan menggelengkan kepalanya, berharap Levi tidak menceritakan bahwa ia sudah salab masuk kamar.
"Maafkan aku yang sudah banyak menghukummu saat awal perkuliahan, Zella. Sungguh . . . Aku hanya ingin lebih dek,at denganmu, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi caranya."
"Aku sangat gusar saat sebulan lebih kau mengacuhkanku. Tapi aku tidak berani mengejarmu, karena aku takut kau akan makjn jauh dariku dan makin mengacuhkan diriku."
"Hingga akhirnya, karena Bang Azel kecelakaan aku bisa kembali dekat denganmu. Aku rela memberi kuliah privat dan mengambil alih rukomu saat kau masih harus disini. Lagi-lagi karena aku sangat mencintaimu, Zella."
Kini mata Zella mulai berkaca-kaca.Levi masih terus mengungkapkan isi hatinya.
"Dari saat itu, aku bertekad ingin segera menikahimu dan menjagamu. Aku beranikan untuk mengakui perasaanku di depanmu. Meskipun masih ada rasa takut dalam hatiku kecilku untuk menggapai cintamu."
"Aku bersyukur sudah terbiasa menguntitmu dari awal perjumpaan kita. Kejadian di Villa membuatku sangat takut terjadi apa-apa denganmu. Maafkan aku yang datang terlambat saat itu, Zella."
"Aku makin kagum dengan pribadimu, Zella. Kebaikan hatimu memaafkan semua tersangka di pengadilan dan ketangguhanmu untuk menyelamatkan dirimu sendiri membuat aku makin jatuh cinta. Aku sangat ingin menikahimu, tapi aku takut kau akan menolakku."
"Acara pertunangan Bang Azel, membuatku berfikir keras tentang apa yang terjadi dalam kamar hotel. Aku sudah lama mengenal Leon, dan ia tidak mungkin bertindak keji hanya untuk mendapatkanmu. Lagi-lagi aku bersyukur, masalah itu dapat selesai dengan sangat cepat. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika saat itu aku mengedepankan egoku."
Kini tanpa terasa air mata Zella sudah jatuh mengenai pipinya, tapi buru-buru Zella menghapusnya.
"Terima kasih Granpa dan Granny, yang sudah memperbolehkan aku menikahi Zella malam ini. Satu hal yang terjadi malam ini memang keinginanku, Zella. Aku sudah meminta izin pada papa Green dan Bang Azel untuk menikahimu malam ini setelah mengurus Renata di kantor polisi."
"Dan kemarin pertemuanku dengan Granpa dan Granny hanya sekedar untuk meminta persetujuan mereka."
"Malam ini, aku utarakan semua isi hatiku agar dalam pernikahan kita tidak ada satu pun yang aku tutup-tutupi atau aku rahasiakan denganmu."
"Aku sangat mencintaimu, istriku." Ucap Levi di akhir untaian kata-kata panjangnya sambil berjalan ke arah Zella.
__ADS_1
Levi meraih tangan Zella dan mengecup punggung tangan Zella di hadapan semua orang. Setelah itu, Levi menyematkan cincin di jari manis tangan Zella.
Kini gantian Zella yang mencium punggung tangan Levi yang kini sudah menjadi suaminya.
Kini Zella mengambil pengeras suara untuk membalas kata-kata Levi. "Ich weiß nicht, wie ich auf all deine Herzensäußerungen antworten soll, ich weiß nur, dass ich dich sehr liebe, mein Mann, Pahlevi Ainsley." (Aku tidak tau harus bagaimana membalas semua ungkapan hatimu, yang aku tahu adalah aku sangat mencintaimu suamiku, Pahlevi Ainsley) ucap Zella membuat Levi mengerutkan dahinya.
"Aku tidak paham bahasamu, sayang." ucap Levi membuat orang yang ada didekat Zella tertawa geli.
Setelah itu Zella berjalan ke arah papanya yang berdiri diantara Granpa dan Granny.
"Apa papa sungguh akan melepaskanku?" tanya Zella.
"Bukan melepasmu, sayang. Tetapi mengikatmu lebih kuat dan ini hanya untuk kebaikanmu." ucap papa Green memeluk putrinya.
"Apa kau bahagia?" tanya papa Green dan Zella mengangguk dalam pelukan papanya.
Kini semuanya bergantian memberi selamat pada Zella.
"Selamat ya sayang, akhirnya kau resmi jadi anak mama." ucap Mama Karen memeluk Zella.
"Terima kasih mama, sudah mau menerimaku jadi putri mama." ucap Zella.
"Hei, seharusnya mama yang berterima kasih karena kau mau menerima putra mama menjadi suamimu." ucap mama Karen.
Silla dan Nay bergantian memberi selamat pada Zella. Dan kini tiba saatnya Leon yang memberi selamat.
"Selamat ya Zella," ucap Leon menjabat tangan Zella.
"Thank's ya kak. Sampai kapanpun kau adalah sahabat baik bagiku." ucap Zella.
"Pak Levi, boleh gak saya peluk istri bapak sebentar aja." pinta Leon bercanda membuat Zella mendelik.
"Enak aja," Levi langsung menarik pinggang Zella dan Leon terkekeh geli.
Kini waktunya pelemparan bunga yang sangat ditunggu-tunggu oleh orang yang hadir. Saat Zella melemparnya, Leon dan Bayu dengan sigap berebut menangkap bunga itu namun akhirnya bunga itu jatuh di tangan Nay.
"Hemmm, sepertinya aku cocok dengan Nay." ucap Bayu pada Leon.
Leon hanya mengedikkan bahunya dan meninggalkan Bayu yang mencoba pendekatan dengan Nay.
__ADS_1