Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 24


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Zella dikejutkan dengan kedatangan Granny dan Granpanya yang sudah ada di ruangan Azel.


"Sungguh, aku belum siap bertemu Granny saat ini." batin Zella yang terdiam di depan pintu dan enggan melangkahkan kakinya masuk. Ia pun langsung berbalik dan keluar dari ruangan Azel.


"Zella," panggil Granny. "Kemarilah sayang. Apa kau tidak merindukan Granny?"


Zella tidak menghiraukan panggilan Granny dan tetap keluar dari ruangan Azel. Baru kali ini Zella mengabaikan Granny-nya dan itu membuat Granny sangat sedih.


Granpa pun menemui Zella yang duduk terdiam di luar ruangan Azel. "Aku belum siap bertemu Granny." ucap Zella.


"Granny tidak bersalah, Zella. Mana mungkin Granny melakukan hal keji terhadap orang uang sangat disayanginya." ucap Granpa sambil mengusap kepala Zella.


Zella pun mulai berfikir dalam diamnya. "Benar juga kata Granpa, sudah jelas jika Granny sangat menyayangi mamanya. Granny selalu pergi berdua dengan mama dan menghabiskan waktunya berdua. Saat mama meninggal juga Granny lah yang paling terpukul." batin Zella.


Zella mengangkat kepalanya dan menatap Granpanya dalam. "Kita akan kuak bersama masalah ini, Zella. Masuklah! Temui Granny di dalam." perintah Granpa.


Zella hanya mengangguk menuruti Granpa, ia langsung melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Azel. Dion dan Leon langsung berpamitan karena tidak mau mengganggu urusan keluarga Zella.


"Zella, kemarilah sayang." panggil Granny membuka tangannya. Zella menghambur memeluk Granny dan menangis terisak. "Terima kasih sudah mempercayai Granny." ucap Granny.


"Maafkan Zella." ucap Zella dalam tangisnya.


"Kamu tidak bersalah sayang." jawab Granny terus memeluk cucunya.


Granny pun bercerita bahwa dulu memang Granny memegang botol racun yang ada di pantry mansion. Saat Granny mengeceknya, Maya mengambil kesempatan untuk memvideo dan memotret Granny.


Maya yang dulu bekerja sebagai karyawan Green langsung memberi tuduhan pada Granny. Saat itu, Granny shock dan tak mampu berbicara apapun terlebih melihat menantu kesayangannya dibawa ke rumah sakit.


Granny yang sangat terkejut hanya mampu bungkam karena situasinya sedang hectic. Dalam situasi tersebut, Granny juga terancam oleh Maya yang terobsesi dengan Papa Green. Yang membuat Granny makin terpuruk adalah ketika Ayumi, menantu kesayangan Granny meninggal tidak terselamatkan.


Zella terus mendengarkan cerita Granny begitu pula Azel. Tak lupa Azel merekam cerita Granny karena baru kali ini ia mendengar cerita Granny-nya. Sampai saat ini, Granny belum menemukan siapa dalang dari kematian dari menantunya.


"Apa mungkin Mamanya Winda yang meracuni mamaku?" tanya Zella dengan tangan terkepal geram.


"Benar, Maya lah yang membunuh istriku. Salah satu asisten rumah tangga kepercayaanku juga terlibat di dalamnya. Dan segera mungkin aku akan melaporkannya ke kantor polisi." ucap Papa Green yang baru datang di ruang Azel.


"Aku sudah bisa mengembalikan data CCTV mansion yang sempat terhapus. Ternyata Maya belum lihai menguasai teknologi di mansion kita." jelas Papa Green.

__ADS_1


"Jangan sampai lengah, karena ia bisa mencelakai Zella seperti Maya mencelakai aku." ucap Azel.


"Green, kau urus masalah Maya secepatnya. Dan tetap harus berhati-hati." Granpa menasehati. "Untuk sementara waktu, Zella akan tinggal di rumah kami." ucap Granpa.


Setelah semuanya menyetujui, Zella pun pulang ke rumah Granpa dan Granny-nya. Ia sudah sangat lelah dan butuh untuk istirahat. Besok ia harus kembali ke perusahaan kakaknya.


Sesampainya di rumah Granpa, Zella langsung beristirahat di kamar papanya dulu.


***


Tiga hari sudah Zella memegang perusahaan kakaknya. Kini Azel sudah pulang dari rumah sakit dan harus memakai kursi roda. Maya dan salah satu asisten rumah tangga Green sudah mendekam di kantor polisi, sedangkan Winda masih ada di mansion Green.


Pagi ini jadwal Zella mengejar keterlambatan kuliahnya. Dua hari weekend ia habiskan untuk mengikuti kuliah secara online. Setekah membersihkan diri, ia turun untuk sarapan bersama yang lain.


Papa dan Kak Azel sudah duduk di kursi makan menunggu Zella. Winda juga turut bergabung bersama mereka.


"Pah, aku sungguh tidak tahu kesalahan mama sebesar itu." ucap Winda yang sudah kesekian kalinya. "Kumohon pah, biarkan aku tetap disini. Aku tidak punya siapa-siapa lagi." Winda terus memohon sejak mamanya ditangkap polisi.


Papa Green yang biasanya tidak menjawab ocehan Winda pun kali ini angkat suara. "Aku sudah menceraikan mamamu dan akan mengurus surat perceraian secepat mungkin. Kau bisa kembali ke papa kandungmu, Winda." ucap Papa Green.


Papa kandung Winda tinggal di Kota yang sama dan bekerja sebagai kontraktor sekarang. Sejak memiliki pekerjaan yang tetap, sekarang Papa Winda sudah memiliki istri lagi.


Azel dan Zella hanya diam menikmati sarapannya. Papa Green pun ikut diam sambil berfikir apa yang harus dia lakukan.


"Aku akan memikirkannya nanti. Hari ini kembalilah ke Bandung. Kau harus meneruskan kuliahmu disana." ucap Papa Green pada Winda.


"Aku akan kembali ke Bandung bersama Zella kan pah?" tanya Winda.


"Aku masih akan disini menemani kak Azel dan papa untuk beberapa hari ke depan." jawab Zella.


"Baiklah." jawab Winda menyerah. Kini ia tidak bisa semena-mena di keluarga Papa Green karena ia juga tidak mau kehilangan kemewahan yang ia dapatkan selama ini.


Zella yang sudah menyelesaikan sarapannya langsung mengambil laptop dan bahan kuliahnya menuju ke taman. Ia langsung menghubungi Levi untuk memulai kuliah online pertamanya.


"Halo Pak Levi, saya sudah siap untuk kuliah hari ini." ucap Zella saat panggilannya terhubung.


"Saya juga sudah siap memberikan kuliah privat untuk kamu." jawab Levi yang sudah berdiri tepat di belakang Zella.

__ADS_1


Zella langsung membalikkan badannya. Entah apa yang kali ini Zella rasakan, yang ia tahu hanya dia merasa sangat senang dengan kehadiran Levi di mansionnya.


"Pak Levi perhatian banget sih sama saya." ucap Zella sambil mempersilahkan Levi duduk.


"Jangan Ge-eR kamu. Saya hanya tidak mau kamu menyepelekan mata kuliah saya." jawab Levi.


"Tenang saja Pak Levi, saya juga tidak akan menyepelekan Bapak yang sudah jauh-jauh kemari." ucap Zella.


Levi hanya tersenyum, rindunya pada wanita pujaannya sedikit terobati. Keduanya langsung memulai kuliah privatnya.


"Hari ini kau sudah melewati beberapa mata kuliahmu dengan baik." puji Levi yang sangat puas dengan hasil kerja Zella.


"Ini juga karena Dosen yang sangat hebat bukan?" tanya Zella. "Saya tahu, bapak pasti rindu kan dengan saya?"


"Jangan ngaco deh kamu," jawab Levi. "Saya mau mencari beberapa reverensi baru untuk penelitian. Bisa temani?" tanya Levi datar.


"Tentu saja. Tapi kali ini tidak gratis ya." jawab Zella merapikan barang barangnya.


"Hei, gak kebalik?" tanya Levi dan Zella hanya terkekeh. Zella menarik tangan Levi dan mengajaknya masuk ke mansionnya.


"Mau makan siang disini atau . . ." belum selesai Zella bicara, Levi sudah memotongnya.


"Diluar saja," jawab Levi.


Zella pun bergegas ke kamarnya dan mengganti bajunya. Ia mengikat rambut panjangnya dan memoles tipis wajahnya.


"I'm ready. Let's go!" ucap Zella yang sudah berdiri di depan Levi.


"Zella." ucap Levi sedikit tercekat melihat penampilan Zella.


"Apa ada yang salah?" tanya Zella memeriksa penampilannya. Levi terus memandangi Zella yang terlihat sangat cantik di mata Levi.


"Saya boleh kan mengikat rambut seperti ini?" tanya Zella dan Levi mengangguk. Setelah berpamitan pada Papa Green dan Azel, keduanya pun langsung melangkah keluar dari mansion.


"Azel, menurut kamu Zella lebih cocok dengan Levi atau Leon?" tanya papa Green.


"Siapapun itu biar Zella yang menentukan pah. Dua-duanya sama-sama baik dan memiliki kharisma tersendiri." jawab Azel di atas kursi rodanya.

__ADS_1


Papa Green hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban putranya. "Tak terasa, Zella sudah beranjak dewasa" batinnya memandang putrinya yang sudah keluar sari mansion.


__ADS_2