
Silla sudah siap dengan dress biru selutut, rambut digerai dan riasan wajah yang tidak terlalu mencolok membuat Silla terlihat cantik natural.
"Jangan gugup, La." ucap Zella.
"Enak aja gugup. Mana ada. Males aku tuh sebenernya." jawab Silla.
"Yaudah, senyuuum doong." Zella memegang dagu sahabatnya. "Naaah, gitu kan cantiiik."
Silla keluar dari kamarnya didampingi Zella. Leon yang sedang bermain ponsel langsung mengangkat wajahnya melihat Silla yang turun dari tangga.
"Ondel-ondel cantik juga ternyata. Sebelas dua belas lah sama iparnya." gumam Leon dengan mulut sedikit terbuka melihat Silla.
Zella tersenyum melihat cara Leon menatap sahabatnya.
"Awas ngiler," Silla menepuk dada Leon. "Kenapa? Cantik kan aku?" tanya Silla ke Leon membuat Leon sedikit tergagap.
"Iya deh cantik. Yuuk buruan kita pergi." jawab Leon meraih tangan Silla.
"Aku pamit ya Zell. Salam buat Pak Levi. Pinjem adiknya sebentar." ucap Leon membawa Silla pergi.
"Hati-hati yaa adik adik iparku." ucap Zella sambil melambaikan tangannya.
Mendengar ucapan Zella, Silla mengepalkan tangan kirinya.
"Awas ya Zell." ancam Silla sambil masuk ke mobil Leon.
Kini Silla sudah di dalam mobil bersama Leon. Mereka sama-sama terdiam, Leon tampak berkali-kali curi pandang ke Silla.
"Awas aja kalo ampe naksir! Aku cincang abis." ancam Silla yang mendapati Leon curi pandang ke arahnya berkali-kali.
"Bukan naksir, lebih tepatnya gak habis pikir aja." jawab Leon mengulum senyumnya.
"Kenapa emang?" tanya Silla ketus.
"Ondel-ondel bisa cantik juga yaaa." puji Leon membuat wajah Silla merona.
"Enak aja ondel-ondel." ucap Silla. "Aku mah udah cantik kali dari lahir."
"Kamu pasti seneng banget ya aku bilang cantik." balas Leon sambil memegang dagu Silla. "Mukanya ampe merah begini kayak kepiting rebus."
Silla langsung menampik tangan Leon dan membuang wajahnya ke jendela mobil.
"Emang ya, laki-laki mana bisa bedain blash on sama kepiting rebus. Taunya makan aja sih." gerutu Silla.
Leon tersenyum melihat Silla bisa salah tingkah di dekatnya.
"By the way, thanks ya udah mau nemenin aku reuni." ucap Leon.
"Setelah ini kita impas ya. Gak perlu hubungin aku lagi. Ini untuk terakhir kalinya." ucap Silla membuat Leon sedikit kecewa akan perkataan Silla.
"Kita lihat aja nanti, yang jelas aku gak mau bikin kamu sakit hati." jawab Leon membuat Silla menatap ke arahnya dan mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Maksudnya???" tanya Silla.
Leon langsung berkelit membahas hal lain. "Oh iya, La. Nanti kamu bakal ketemu ama mantan aku. Emmh, namanya Rima." jelas Leon.
"Dia sedikit resek sih, jadi kamu harus bisa jaga diri ya." pesan Leon dan Silla mengangguk.
"Dasar! Kenapa gak balikan aja ama dia. Malah bawa-bawa pacar sewaan." jawab Silla membuat Leon menginjak rem mendadak.
"Pacar sewaan?" Leon mengulang ucapan Silla. "Gimana kalau kamu jadi pacar sewaan aku selama satu minggu." ucap Leon.
"Diiiiih, ogah banget. Semalem aja aku males apalagi satu minggu. Aku ralat deh." jawab Silla.
"Bukan pacar sewaan, tapi lebih tepatnya pacar ancaman." jelas Silla.
Leon diam tidak membalas kata-kata Silla. "Awas aja ya, Prisilla Ainsley, akan kubuat kamu jatuh cinta sama aku." gumam Leon dalam hati.
Akhirnya mereka sampai di tempat acara reuni SMA Leon.
Leon membukakan pintu untuk Silla dan meraih tangan Silla.
"Beraktinglah yang baik pada malam ini, maka aku akan membalas kebaikanmu, Silla." bisik Leon membuat Silla meremang.
Dengan sengaja Leon memeluk pinggang Silla dan membuat Silla terkejut dengan perlakuan Leon.
"Hanya malam ini kan?" ucap Leon melihat tatapan protes dari Silla. Keduanya masuk ke ruang yang sudah ramai orang.
"Hai Leon, makin cakep aja." sapa Lusi.
"Wah, Leon makin cool deh kamu." sapa Widy. "Pacar kamu?" tanya Widy ke arah Silla.
"Iya, kenalin pacar aku. Namanya Prisilla." ucap Leon memperkenalkan Silla pada teman yang lain.
Silla berkenalan dengan Lusi dan Widy. Ketiganya tampak mulai akrab dan mengobrol.
"Sayang, aku tinggal gak papa kan?" tanya Leon.
"It's okey." jawab Silla dan Leon langsung berbaur dengan teman laki-lakinya yang lain.
Rima yang dari kejauhan melihat Leon datang membawa Silla merasa sangat cemburu. Ia pun berjala mendekat ke arah Silla setelah Leon berbaur dengan teman laki-lakinya.
"Oh iya, Silla. Kenalin ini Rima. Mantan pacarnya Leon waktu SMA." ucap Lusi saat Rima datang mendekat.
"Oh, ini pacar baru Leon. Lumayan juga seleranya." ucap Rima. "Kenalin, aku Rima. Mantan pacarnya Leon yang paling lama."
"Hai, aku Silla." balas Silla.
Setelah saling berkenalan, mereka berempat mencari tempat duduk dan saling bertukar cerita.
"Aku dulu hampir dua tahun loh pacaran sama Leon. Dia sempat frustasi gara-gara aku putusin." ucap Rima.
"Oh ya," balas Silla yang sebenarnya malas untuk menanggapi.
__ADS_1
Rima mengangguk, "Ternyata dia bisa move on juga ya dari aku." ucap Rima.
"Lagi pula untuk apa berharap yang tidak pasti." balas Silla.
Mereka berempat saling bertukar cerita, hanya saja Rima terlalu memojokkan Silla dan selalu berusaha membuat Silla cemburu akan kedekatannya dengan Leon saat pacaran dulu.
"Silla, aku curiga deh sama kamu. Perasaan dari tadi kita ngobrol kok kamu gak ada gitu kelihatan cemburu sama Leon." ucap Rima kesal karena Silla selalu menjawab ucapannya dengan santai.
"Memang terkadang setiap pasangan itu ada rasa cemburu. Tapi kepercayaanku penuh buat pasanganku, jadi buat apa merasa cemburu." jelas Silla.
"Aku percaya jika Leon tidak akan terjatuh lagi di lubang yang sama, dia pasti akan meninggalkan masa lalunya dan terus melangkah untuk masa depannya." ucap Silla membuat Rima kalah telak.
Leon yang melihat Rima ada di dekat Silla pun mulai merasa gusar. Ia langsung mendekat ke meja dimana Silla duduk.
"Sayang," panggil Leon. "Are you okay?" tanya Leon.
"Tentu saja. Mereka sangat baik denganku." jawab Silla.
Kini tiba di acara bermain game. Pembawa acara meminta semua yang membawa pasangan semua berkumpul untuk mengikuti duet joget balon terlama.
Rima langsung menggandeng pacarnya, begitu pula Leon yang langsung memeluk pinggang Silla. Tentu saja Leon tidak ingin menyia-nyiakan kebersamaannya dengan Silla malam ini.
"Kau siap, sayang?" tanya Leon dan Silla hanya mencebik pelan.
Musik sudah mulai diputar, setiap pasangan mulai berjoget dengan balon di tengah mereka. Satu menit berlalu, balon Lusi dan pasangannya yang pertama kali pecah.
Disusul dengan pasangan yang lainnya, satu persatu balonnya pecah hingga menit ke empat, Leon dan Silla masih bertahan. Menit kelima kini tinggal pasangan Rima dan pasangan Leon yang masih bertahan.
Teman teman Leon bersorak riuh ramai menantikan siapa diantara mereka berdua yang kalah dan yang akan menang.
Dor!! Balon milik pasangan Rima pecah, dan Leon tentu menjadi pemenangnya. Leon dan Silla dinobatkan menjadi pasangan paling kompak dan paling serasi.
Leon tersenyum ke arah Silla yang terlihat sangat bahagia dapat memenangkan game ini.
"Tunggu dulu," ucap Rima di tengah-tengah keramaian teman-temannya. Semua yang hadir pun terdiam tanpa terkecuali.
"Mana bisa game seperti ini dapat menilai pasangan tersebut kompak atau serasi. Aku tidak yakin jika dia adalah pacar Leon." ucap Rima menunjuk ke arah Silla.
Kini Silla menjadi pusat perhatian seluruh teman-teman Leon yang hadir.
"Kau hanya pacar sewaan Leon bukan?" tanya Rima kencang ke arah Silla.
"Aku benar-benar pacar Leon" ucap Silla tegas dan langsung mengecup bibir Leon di depan teman-temannya.
Dengan sigap, Leon langsung memegang tengkuk Silla dan membalas ciuman Silla. Kini Silla merasakan detak jantungnya tidak karuan saat Leon makin memperdalam ciumannya. Silla mencubit kecil dada Leon dan perlahan melepaskan ciumannya.
"Bagaimana?" tanya Leon memeluk pinggang Silla. "Masih belum percaya kalau kita berpacaran?"
Rima pun langsung menarik tangan pasangannya dan pergi dari acara reuni. Sedangkan yang lainnya kini menikmati jamuan acara reuni.
Tepat pukul sembilan malam, Leon undur diri dari teman-temannya dan mengantar Silla pulang.
__ADS_1