
Keluarga besar Ozora sudah sampai di mansion Levi. Semua terlihat sangat bahagia kecuali Silla dan Leon tentunya. Semua barang hantaran juga sudah di terima oleh keluarga Silla. Leon dan Dion duduk berdampingan diapit oleh kedua orang tuanya.
Opa dan Oma Leon tampak sangat bahagia karena sudah sekian lama ia mendambakan seorang cicit. Silla duduk di samping mama dan kakaknya berhadapan tepan dengan Omanya Leon.
"Waaah, cucu menantu oma sangat cantik sekali ya." puji Oma dan Silla hanya tersenyum simpul.
Silla melirik Leon yang malam ini tampak sangat tampan, sayangnya Leon terus menundukkan pandangannya karena tidak mampu memandang Silla yang jelas akan menjadi milik orang lain.
Akhirnya papa Zora pun membuka percakapannya untuk meminang Silla.
"Selamat malam untuk semuanya. Seperti yang sudah diagendakan sejak lima hari yang lalu, kedatangan kami ke kediaman Karenina tidak lain adalah untuk meminang Prisilla Ainsley untuk putra kami." ucap papa Zora.
"Suatu kehormatan besar bagi keluarga besar kami, jika Silla dan keluarga menerima lamaran dari kami." ucap Papa Zora membuat Silla dan Leon dipenuhi banyak pertanyaan dalam benaknya.
"Lima hari yang lalu? Berarti mereka sudah mempersiapkan semuanya." batin Silla.
"Andai saja Silla cepat memberitahukan ke bu Karenina, pasti tidak akan begini jadinya. Tentu saja ini juga bukan hal yang mendadak karena mereka sudah mempersiapkan sejak lima hari yang lalu." gumam Leon dalam hati.
"Bagaimana Nak Silla?" tanya papa Zora.
Silla dan Leon sama sama tidak fokus dengan acara lamaran Silla. Levi yang melihat adiknya melamun langsung menyenggol lengan Silla.
"La, jawab dong pertanyaan om Zora." bisik Levi. Dan Silla mengangguk meng-iya-kan kakak nya. Tapi semua keluarga besar mengira bahwa Silla menyetujui pinangan dari papa Zora.
"Terima kasih Nak Silla atas jawabannya. Meski malu-malu." ucap papa Zora membuat Silla semakin bingung.
Kini waktunya penyematan cincin di jari manis Silla. Nyonya Zora dan Oma langsung berdiri untuk menyematkan cincin di jari manis calon menantu di keluarga besar mereka.
"Untuk sesi foto kali ini lebih baik foto keluarga besar saja ya." ucap Oma. "Foto mempelai biar besok lusa saja saat acara pernikahan mereka." jelas Oma yang langsung membuat Silla terperanjat.
__ADS_1
"What??!! Lusa??!! Menikah??!!" pekik Silla yang langsung mendapat cubitan dari Mama Karen.
"Maaf yaa semuanya, Silla memang belum mengetahui kalau lusa dia menikah. Dia hanya terkejut karena saking bahagianya." ucap Mama Karen yang otomatis membuat Silla kesal.
Setelah acara foto foto dengan keluarga besar, kini mereka menikmati hidangan sambil mengobrol bersama. Silla dan Leon tampak saling curi pandang. Leon langsung memberi kode pada Silla untuk menemuinya di dekat pintu kamar mandi.
Sayangnya Mama Karen yang paham gelagat putrinya, terus saja mengikuti putrinya kemana ia pergi. Akhirnya malam ini, Leon benar-benar gagal mengobrol dengan Silla.
Sejak malam lamarannya, Silla jadi sangat pendiam dan sering mengurung dirinya di kamar. Sedangkan hal itu Mama Karen manfaatkan untuk memberikan perawatan tubuh untuk Silla.
Zella dan Nay yang biasanya bisa membuat Silla tersenyum, kali ini tidak dapat berbuat apa-apa.
Kini hari pernikahan pun tiba, tepat pukul empat pagi Silla sudah siap untuk mulai dirias oleh MUA. Pernikahan Silla akan dihelat di auditorium kampus, sama seperti acara pernikahan Bayu dan Nay.
Tepat pukul tujuh, mobil pengantin mengantarkan Silla ke auditorium kampus. Beriringan dengan mobil Levi dan Bayu.
"Okey, fix. Aku akan jadi istri orang yang nanti setelah nikah, ia akan duduk di samping ku ini." ucap Silla sambil melihat ke arah tempat duduk sampingnya yang masih kosong.
"Tenanglah Silla, ini tidak semenakutlan yang kamu fikirkan." ucap Silla dalam hati menghibur dirinya sendiri.
Keluarga Ozora sudah lebih dulu tiba di auditorium kampus. Seperti biasa, Leon dan Dion duduk berdampingan menggunakan setelan jas yang sama. Leon tidak menaruh curiga sedikit pun tentang jas yang dikenakan olehnya mirip dengan kakaknya.
Kini Levi, selaku wali nikah Silla sudah siap duduk di samping penghulu. Sedangkan Silla dan sahabatnya menunggu di ruangan khusus.
"Leon, kamu masih inget gak nama panjangnya Silla?" tanya Dion yang sontak membuat Leon kesal.
"Gimana sih kak, nama Silla aja gak hafal." gerutu Leon. "Namanya Prisilla Ainsley." jawab Leon.
"Yaudah kalo gitu maju gih kamu, duduk di depan Pak Levi. Jangan lupa ya mahar nikahnya Emas 99 gram dan uang tunai sebesar satu Milyar." ucap Dion membuat Leon makin bingung dibuatnya.
__ADS_1
"Maksudnya apaan sih ini?" tanya Leon kesal merasa dipermainkan.
Dion langsung mengambil undangan dari saku jasnya dan memperlihatkan bahwa nama yang tertulis dalam undangan adalah Leon Ozora bukan Dion Ozora.
"Hari ini adalah hari pernikahanmu, karena sebenarnya aku sudah lebih dulu menikah seminggu yang lalu saat di Australia." jelas Dion membuat Leon kini tak bisa berkata apa-apa.
Tak berapa lama tampak wanita cantik mendekat ke arah Dion. "Kenalkan, dia kakak iparmu. Namanya Luisa." ucap Dion.
Leon berjabat tangan dengan Luisa. Ia tidak habis fikir dengan keluarga Levi dan keluarga besarnya yang benar-benar sukses membuat jantung nya berhenti sesaat.
Leon mengedarkan pandangannya menatap keluarganya satu per satu dengan pandangam kesal.
"Papaaah," panggil Leon dengan sorot mata yang penuh pertanyaan.
"Mau diteruskan pernikahannya atau tidak?" tanya papa Zora dan Leon langsung cepat cepat menganggukkan kepalanya. "Apa kau tidak mendengar bahwa papa melamar Silla untuk putra kami. Papa tidak menyebutkan nama Dion bukan?"
"Tapi papa juga tidak menyebutkan namaku," gerutu Leon yang membuat keluarga besarnya tertawa.
Leon langsung melangkahkan kakinya dan duduk tepat di hadapan Levi. Levi langsung mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Leon.
"Satu sama ya, Leon." ucap Levi pelan membuat Leon memaksakan senyumnya.
"Ini pasti kerjaan Pak Levi, kan?" tanya Leon dengan sorot mata yang tajam.
"Kau yang memulainya lebih dulu, dan juga -SILLA-." jawab Levi pelan membalas tatapan tajam dari Leon, calon adik iparnya.
Saat keduanya beradu pandang, mama Karen menepuk bahu putranya.
"Mau dimulai kapan?" bisik Mama Karen. "Pak penghulu dan yang lainnya udah pada nungguin tuh."
__ADS_1
Akhirnya akad nikah Leon dan Silla pun dimulai. Leon mengucapkan akadnya dengan sekali ucap tanpa pengulangan sama sekali dan sangat lancar. Ada perasan yang bercampur aduk dalam hatinya saat ini yang tidak mampu terungkapkan lewat kata kata.
Tentu saja dia sangat bahagia, dan sangat kesal dengan kakak iparnya yang berhasil membalaskan dendamnya karena terpisah dengan istrinya selama satu minggu.