
Satu minggu ini Zella banyak menghabiskan waktunya bersama Silla untuk mempersiapkan Tes Pemilihan Pertukaran Mahasiswa ke Jerman. Selain itu, mereka juga harus mempersiapkan tes semesteran yang akan dihelat dua minggu lagi.
Levi juga sangat sibuk mengurusi beberapa urusannya di kampus dan di proyek pertambangan miliknya. Hari ini, dia juga harus pergi ke Serang untuk mengecek pekerjaannya selama satu minggu ke depan.
"Jaga dirimu baik-baik ya sayang. Aku akan mengabarimu setelah kerjaanku beres." ucap Levi saat Zella memakaikan dasinya.
"Aku akan menunggu kabar darimu, sayang." jawab Zella. "Jangan terlambat makan, istirahat yang cukup, dan jangan terlalu memforsir dirimu, sayang. Aku tidak mau mendengar suamiku sakit." ucap Zella.
"Siap istri bawelku." jawab Levi sambil mengecup bibir Zella.
Kini keduanya keluar dari kamar dan sarapan bersama. Silla tampak sudah menunggu di meja makan sambil bermain ponsel.
"Dek, udah siap untuk tes audisi tertulisnya?" tanya Levi. "Jangan contek-contekan loh ama Zella." Levi mengingatkan.
"Tenang aja pak Dosen. Aku udah siap. Aku juga udah sedikit bisa bahasa jerman." ucap Silla.
"Dengerin deh, Heute gehe ich mit Zella auf den Campus (hari ini aku akan pergi ke kampus bersama Zella)." ucap Silla memamerkan bahasa jermannya.
"Okey. Sei vorsichtig auf dem Weg (hati hati di jalan)" jawab Levi yang mulai menikmati sarapannya.
"Hei, sejak kapan kakak pintar berbahasa Jerman?" tanya Silla.
"Tentu saja sejak mengetahui kalau istriku lahir disana." jawab Levi menatap Zella. "Benarkan sayang?" tanya Levi pada Zella.
Zella hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah sarapan, Levi segera berangkat menuju ke Serang bersama asistennya. Sedangkan Zella dan Silla langsung berangkat ke kampus.
Sesampainya di kampus, Zella dan Silla mengecek ruang yang akan digunakannya untuk tes. Ternyata ruangan mereka terpisah sangat jauh.
"Aku kesana dulu ya, La." ucap Zella menunjuk ruangan yang paling ujung. "Aku akan mengabarimu saat selesai nanti."
"Baiklah." ucap Silla yang kemudian duduk di depan ruangannya dan mengingat ingat lagi beberapa materi yang sudah ia pelajari bersama Zella.
Silla kini membuka buka materi yang telah dipelajarinya bersama Zella. Karena terlalu fokus, ia sampai tidak menyadari saat Leon sudah duduk di sampingnya dan terus menatapnya.
"Kangen banget aku, La sama kamu." ucap Leon membuat Silla menurunkan bukunya.
"Kangen?" tanya Silla dengan raut wajah tidak percaya.
"Kangen ribut. Beberapa hari ini sibuk banget jadi gak bisa ribut sama kamu." ucap Leon membuat Silla kembali lagi fokus ke bukunya.
"Bodo amat dah." jawab Silla.
"Masuk yuk, La. Ikutan tes ke Jerman kan?" tanya Leon.
__ADS_1
Silla tidak menjawab, ia langsung menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Kenapa sih Ketua BEM tengil ini ikutan tes audisi segala?" gumam Silla dalam hati. "Bikin gak mood aja deh." batin Silla.
Tes audisi pun dimulai, Silla duduk tepat di samping Leon. Keduanya sama sama fokus mengisi jawaban dalam setiap pertanyaan.
Satu setengah jam terlewati. Leon lebih dulu meninggalkan ruangan, sedangkan Silla masih harus menelitinya satu per satu. Tepat saat waktu yang diberikan berakhir, Silla selesai memeriksa hasil kerjaannya.
Setelah mengumpulkan ke dosen pengawas, Silla langsung ke luar ruangan dan mencari Zella. Ia membuka pesan dari Zella yang memberi tahu bahwa Zella harus ke ruko lebih dulu karena ada kepentingan.
Zella
Adik iparku sayang, maaf ya aku ke ruko duluan sama supir. Ada keperluan mendadak di ruko.
Sent : 09.55
Setelah membaca pesan dari Zella, Silla langsung menelfon ponsel Zella.
"Yaaaah, Zella. Aku gimana dong? Mang supirnya suruh balik bentar jemput aku bisa kan?" pinta Silla sedikit kesal.
"Oke tunggu bentar ya, La. Mang supir lagi anter karyawan ke rumah sakit, tadi sempet cidera sedikit tangannya kena alat potong kertas. Nanti kamu aku jemput aja pake motor." ucap Zella.
"Silla biar pulang sama aku, Zell. Kamu tenang aja." ucap Leon yang tiba tiba berdiri di samping Silla.
"Kasihan Zella bolak balik. Tadi dia juga sempet panik. Kamu ngerti dong!" ucap Leon.
"Huft." gerutu Silla. "Iya aku ngerti. Puas!!" Silla berjalan mendahului Leon.
"Buruan mobilnya di parkir dimana?" tanya Silla yang terlihat sangat jutek.
"Aku bawa motor, yuk kita kesana." Ajak Leon menggandeng tangan Silla menuju ke parkiran motor.
"Gak usah pake pegangan tangan." ucap Silla menghempaskan tangan Leon.
"Oh My God, kenapa sih harus naik motor bareng anak tengil ini." gumam Silla pelan.
Leon hanya tersenyum menanggapi kejutekan Silla. Kini keduanya sudah sampai di parkiran motor, dan Leon memberikan helm pada Silla.
"Gak usah pake helm. Kita pergi ke ruko saja." ucap Silla menolak untuk memakai helm.
"Pakai helm bukan untuk jauh atau dekat perjalanannya, melainkan agar kepalamu aman, Nona." jelas Leon sambil memakaikan helm di kepala Silla.
Kini keduanya sufah ada di atas motor. Leon langsung menjalankan motornya dengan laju yang santai.
__ADS_1
"Temenin aku service motor dulu ya. Nanti baru aku antar pulang ke mansion." ucap Leon.
"Gak mau ah, anter aku ke ruko aja sekarang." pinta Silla.
Leon langsung menjalankan motornya ke ruko Zella. "Lihat tuh rukonya tutup, kamu gak pegang kuncinya kan?" tanya Leon dan Silla menggeleng.
Akhirnya dengan berat hati, Silla menemani Leon ke bengkel motor. Tiba-tiba seekor kucing lewat tepat di depan motor Leon dan membuat Leon menginjak rem nya mendadak.
Silla seketika menabrak punggung Leon dan membuatnya memeluk Leon sangat kencang. Keduanya terdiam sama sama menetralkan detak jantungnya masing-masing.
Leon kembali menyalakan motornya dan memegang tangan Silla ketika Silla mulai merenggangkan pelukannya.
"Jangan dilepas. Biarkan tetap seperti ini, La." pinta Leon dan Silla mengeratkan pelukannya dan bersandar di punggung Leon.
Leon tersenyum dan menjalankan motornya pelan. Kini keduanya sampai di bengkel. Silla langsung turun dari motor Leon dan mencari tempat duduk.
"La, kita nunggu di cafe seberang aja yuk." ajak Leon.
Keduanya pun berjalan ke seberang bengkel dan masuk ke dalam cafe.
"Inget gak dulu, kamu pernah suruh aku traktir kamu sering-sering?" tanya Leon.
"Gak inget." jawab Zella.
"Ooooh gituuuu. Terus ingetnya apa?" tanya Leon sambil melihat menu makanan dan memesannya.
"Gak inget apa apa tuh." jawab Silla sambil menuliskan pesanan miliknya.
Leon terus menatap Silla, "Kalau menciumku, pasti kamu tidak akan lupa bukan?" goda Leon.
Silla memutar matanya malas. "Aku tidak mau bahas itu." balas Silla.
"Tapi aku ingin membahasnya, Silla. Bahkan mengulanginya." ucap Leon.
"Bahas saja sendiri, aku akan pergi." ucap Silla berdiri dari duduknya.
"Oke oke. Maafkan aku. Jangan pergi. Duduklah, Silla. Aku tidak akan membahasnya sekarang." ucap Leon dan Silla kembali duduk.
"Gengsi mu sangat besar ternyata. Kau tidak mau mengakui perasaanmu sendiri, Silla." gumam Leon dalam hati.
"Syukurlah, Kak Leon tidak membahas masalah ciuman lagi. Mau ditaruh mana mukaku jika ia terus membahasnya. Jujur aku sangat malu sudah berbuat seperti itu." batin Silla sambil memainkan tisue di meja.
"Oke Leon, kau harus lebih sabar menghadapinya. Ikuti dulu alurnya." Leon masih bergumam dalam hati dan menatap Silla.
__ADS_1
Kini keduanya sama sama terdiam dan menikmati pesanan mereka.