Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 11


__ADS_3

Hari ini Zella bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah membuat sarapan, ia bersemangat membuka rukonya dan memulai bisnis kecil pertamanya.


Karyawan sift paginya datang tepat jam 6 pagi. Dan langsung mengerjakan tugasnya. Pagi ini mahasiswa sudah ramai memenuhi ruko Zella untuk memfotocopy tugas makalah dan beberapa referensi. Mereka tidak mau ketinggalan diskon 50% yang dijanjikan oleh Arion Fotocopy.


Zella tampak rileks menyibukkan dirinya dengan kertas dan mesin fotocopy. Hingga tidak sadar Leon sudah di sampingnya.


"Biar aku bantu ya." Leon langsung mengambil strapler dan membantu Zella.


"Eh Kak Leon. Kapan dateng?" tanya Zella masih fokus dengan kerjaannya.


"Baru aja kok. Kuliah masih ntar jam 8. Liat ruko rame, jadi aku kesini aja deh." jawab Leon.


"Thanks ya kak, jadi ngrepotin nih." ucap Zella.


"Papa aku perusahaan percetakan. Kita bisa loh kerja sama Zell." ajak Leon.


"Boleh boleh kak. Mau banget aku." ucap Zella antusias.


"Nanti kita bicarain lagi ya. Di Cafe Tri A yuk. Ntar malem bisa?" tanya Leon berharap Zella menyetujuinya.


"Oke. Jam 7 malem yaa kak. Kali ini aku aja yang traktir." jawab Zella.


"Masalah traktir gampang deh. Yang penting nanti dateng ya." ucap Leon. "Eh bentar deh Zell. Di rambut kamu ada sesuatu."


Leon mendekat ke wajah Zella dan mengambil beberapa remah kertas yang menempel di rambut Zella. Tapi setelah semuanya diambil, Leon tidak langsung menjauh dari Zella justru makin mendekat. Dan siapapun yang melihat, pasti mengira mereka akan berci*man.


"Zella! Saya tunggu 5 menit lagi di ruangan saya." suara Levi mengagetkan Zella dan Leon.


Zella pun melihat ke arah jam. "Baru setengah 8," batin Zella.


"Ada apa di ruang pak Levi?" tanya Leon penasaran.


"Kena hukuman kak. Bentar ya aku siap2 dulu." Zella langsung naik ke lantai 2 untuk mengambil tasnya.


Karena terburu buru menuruni tangga, Zella hampir terjatuh dan Leon dengan sigap menangkap Zella.


Kini Zella berada dalam pelukan Leon. "Jangan terburu-buru. Aku antar yuk biar cepet." ucap Leon menatap Zella.


Zella langsung berdiri dari pelukan Leon dan langsung menarik tangan Leon. "Ayo kak, anterin aku."


Leon pun langsung mengikuti langkah Zella dan naik ke atas motornya. "Pegangan yang kenceng, Zell. Kita ngebut."


Zella pun menurut permintaan Leon. Dekapan Zella membuat Leon tidak mau menurunkan Zella dari motornya.


Sampai di delan ruangan Levi, Zella langsung turun dari motor Leon. "Makasih banyak ya kak" ucap Zella yang langsung meninggalkan Leon.

__ADS_1


Tapi Leon menarik tangan Zella, "tunggu Zell." cegah Leon. Zella pun berbalik ke arah Leon.


"Ada apa Kak?" tanya Zella.


"Buat kamu." Leon menyerahkan coklat pada Zella. Belum sempat Zella berterima kasih, Leon sudah memacu motornya pergi meninggalkan Zella.


Levi yang melihat dari dalam ruangannya menahan rasa kesal dan mengepalkan tangannya. Ia kembali duduk menunggu Zella masuk ke ruangannya.


Tapi saat Zella berbalik hendak ke ruang Levi, ia dicegat oleh Carina yang langsung merebut coklat dari tangan Zella.


"Berani ya godain pacar aku!" hardik Carina.


"Apaan sih kak. Siniin coklatnya." ucap Zella tanpa takut.


Carina makin geram dengan keberanian Zella. Ia langsung menyiramkan minuman yang di bawanya ke arah Zella.


"Aku peringatin yaa. Kalo sampai aku lihat lagi kamu goda Leon, aku akan bikin kamu hengkang sari kampus ini." gertak Carina langsung pergi meninggalkan Zella.


"Aaaaaaargh, ngeselin banget sih tuh orang." umpat Zella. "Gimana dong, masa pake baju basah ke ruang Pak Levi." batin Zella.


Zella pun bertekad meminta izin untuk mengganti pakaiannya. Ia mengetuk ruang Pak Levi dan masuk ke dalam.


"Maaf Pak, baju saya basah. Saya izin dulu untuk mengganti pakaian saya, boleh?" tanya Zella.


"TIDAK!" Jawab Levi tegas.


Levi melihat ke arah Zella, dan benar baju putih Zella basah dan memperlihatkan warna tanktop dalam Zella. Pikiran Levi mulai kemana-mana.


"Kamu bisa pakai baju Silla di ruang ini." jawab Levi menunjuk pintu di belakang kursinya.


Zella pun memasuki ruang yang ditunjukkan Levi. Ia sedikit terkejut, ada kamar dalam ruangan dosennya. Tapi Zella bingung, dimana lemari yang menyimpan baju Silla.


Zella pun balik keluar dan bertanya pada Levi. "Maaf pak, saya tidak tahu lemarinya yang mana." ucap Zella.


"Huft, merepotkan." gerutu Levi dan berjalan menuju lemari paling ujung. Ia pun membukakan lemarinya.


Zella kemudian memilih baju yang ada di lemari. "Masih baru semua ya pak. Emang gak papa kalo saya yang pake?" tanya Zella.


"Cepat pilih! Hukuman sudah menunggu." Levi langsung meninggalkan Zella.


Zella segera memilih satu dress dan memakainya. Ia langsung berdiri di hadapan Levi.


Levi menyerahkan laptop dan berkas yang harus dikerjakan Zella. Sedangkan Levi keluar dari ruangannya karena ada jadwal mengajar.


"Huuuuuuh, akhirnya Pak Levi pergi juga." Zella bernafas lega. Ia langsung mengerjakan tugas yang diberikan Levi. Kurang dari satu jam, Zella berhasil mengerjakan hukuman dari Levi.

__ADS_1


Zella segera merapikannya dan bersiap-siap pergi ke kantin karena dilihatnya masih jam 9 kurang.


Belum sempat keluar dari ruangan Levi, pintu sudah terbuka dan Zella sedikit terkejut dengan kedatangan Levi.


"Pak, saya sudah selesai dan mau pergi ke kantin dulu." ucap Zella.


"Kalau lapar, kau boleh ambil makanan dalam kulkas." jawab Levi.


Zella mendengus kesal dan kembali duduk di sofa. "Pak, saya cuma terlambat sedikit dan hukuman juga sudah selesai. Saya bisa keluar kan?" tanya Zella kemudian.


"Kata siapa sudah selesai?" tanya Levi ketus sambil mengecek pekerjaan Zella.


"Kemarilah!" panggil Levi dan Zella menurut. Levi kemudian mengajarkan cara mengelola administrasi bisnis kecil dan Zella diperintahkan untuk membuat administrasi bisnisnya sendiri.


"Wah, bapak ternyata perhatian sekali ya." puji Zella.


"Jangan gE-Er kamu. Itu buat bahan saya mengajar di kelas lain." jawaban Levi membuat Zella menyesal sudah memujinya.


"Dasar memanfaatkan!" gerutu Zella pelan.


"Apa kamu bilang?" gertak Levi yang langsung mendekat ke arah Zella.


Zella makin gugup Levi berjalan ke arahnya. "Kamu mau tahu bagaimana saya memanfaat kamu?" tanya Levi dan Zella menggeleng.


Kini jarak mereka semakin dekat. Zella merasa detak jantungnya makin tidak beraturan. Berbeda dengan Levi yang senang melihat Zella terpojok karenanya.


Pintu ruangannya diketuk dan Levi langsung menjauhkan dirinya dari Zella. Nampak Silla memperlihatkan senyumannya setelah pintu di buka.


"Aku masuk ya kak." Silla langsung mendorong pintu.


"Zella disini?" tanya Silla. "Pantesan tadi aku ke ruko gak ada."


"Iya, La. Lagi dihukum sama dosen galak." jawab Zella pelan. Silla pun terkekeh mendengar jawaban Zella.


Zella sangat lega dengan kedatangan sahabatnya. Setidaknya dia tidak harus lama-lama mengahadapi dosen gilanya sendirian.


Zella menceritakan kejadian di depan ruangan Levi saat Carina menyiram dirinya dengan air. "Maaf ya, La. Jadi pinjem dress kamu deh." ucap Zella.


"Aku kayaknya gak punya dress kayak gini deh, Zell. Emang kamu dapet dari mana?" tanya Silla.


"Tadi aku juga baru buka bandrolnya sih. Ada banyak kok di lemari itu." Zella menunjuk ruangan tertutup di belakang kursi Levi.


"Emmmmh gitu yaaa. Yaudah buat kamu aja kalo gitu Zell." ucap Silla yang sebenarnya juga penasaran kakaknya menyimpan dress perempuan.


Setahu Silla, kakaknya tidak pernah punya kekasih. Jangankan untuk memiliki, dekat dengan perempuan saja tidak pernah. Dan Silla berkali-kali masuk ruang kakaknya juga tidak pernah melihat dress perempuan.

__ADS_1


Tapi beberapa hari sebelum ke Bogor, kakaknya memang membelikan 3 dress untuk Silla dan itu diberikannya di mansion, bukan di kampus.


__ADS_2