Dosen VS Ketua BEM

Dosen VS Ketua BEM
Part 45


__ADS_3

"Hai, Levi. Apa kabar Bro." tepuk seorang lelaki dari belakang Levi.


"Rio, aku baik. Bagaimana denganmu?" tanya Levi balik.


Rio adalah teman kecil Levi karena dulu rumah mereka saling berhadapan. Tapi sejak kelas dua SMA, Rio mengikuti orang tuanya untuk pindah ke Jakarta. Setelah mendirikan hotel Andreas, mereka menjalin kerja sama dengan perusahaan GA Corporation milik Green Alexio.


"Mana Silla?" tanya Rio langsung mengedarkan pandangannya.


"Ada, kau pasti sangat terkejut melihat kecantikannya sekarang." jawab Levi dan berbalik menunjuk ke arah Silla dan teman-temannya. "Tuuuuh, anaknya pakai gaun warna peach."


Rio langsung meninggalkan Levi dan berjalan ke arah Silla. "Kemana Zella?" batin Levi yang tidak mendapati Zella di samping Silla. Levi mengikuti langkah kaki Rio yang mendekat ke arah Silla.


"Hai Silla," sapa Rio. "Masih inget gak sama aku?"


Belum Silla menjawab sapaan Rio, Levi sudah menanyakan keberadaan Zella pada adiknya.


"Zella kemana, dek?" tanya Levi.


"Tadi kepalanya sakit, trus diantar sama Kak Renata untuk istirahat." jawab Silla dan Levi langsung pergi meninggalkan adiknya.


Silla beralih pada Rio sambil mengingat ingat lelaki yang baru menyapanya.


"Kak Rio, bukan?" tanya Silla memastikan dan Rio pun mengangguk. Akhirnya mereka berdua saling bertukar cerita bersama.


Levi yang melihat Renata mengobrol dengan seorang pria bule langsung berjalan ke arahnya untuk menanyakan keberadaan Zella.


"Renata, dimana Zella?" tanya Levi tanpa basa basi membuat Renata langsung menarik tangan Levi keluar Hall.


"Hei, Jawab aku dimana Zella?" tanya Levi kencang.


"Saya mohon maaf Pak Levi, tadi saya disuruh Leon memberikan sesuatu pada minuman Zella dan memasukkan Zella ke dalam kamar hotel yang sudah ia pesan." jelas Renata membuat Levi sangat terkejut dan gusar.

__ADS_1


"Kenapa kau menuruti perintahnya?" bentak Levi. "Kau bersekongkol dengan Leon?"


"Tentu saja tidak, maka dari itu saya melaporkan hal ini pada anda." Jelas Renata.


"Sekarang antar aku ke kamar hotel yang kau maksud." ucap Levi dan Renata langsung mengantarkan Levi.


Sesampainya di kamar yang ditunjukkan Renata, Levi diam sejenak di depan pintu dan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Aku harus tenang dan jangan sampai bertindak gegabah." ucap Levi dalam hati dan mengetuk pintu kamar.


"Pak Levi, kita langsung masuk saja. Pintunya tidak terkunci." ucap Renata yang langsung membuka pintu.


"Apaaaaa?!!!" tanya Leon kaget.


Levi justru sangat terkejut dengan Renata, "Apa benar Leon yang merencanakan ini? Kenapa jika ia menginginkan Zella malah tidak mengunci pintunya? Sebenarnya apa maksud semua ini?" tanya Levi dalam hati yang tetap mengikuti Renata.


Dilihatnya Zella dan Leon masih tak sadarkan diri di atas kasur tanpa busana. Levi sangat geram melihat gaun Zella dan pakaian Leon yang berserakan melihat Renata tersenyum menang.


"Leoooon," pekik Levi membuat Leon sedikit demi sedikit membuka matanya dan memegang kepalanya yang masih sangat sakit.


"Jangan percaya dia, Pak." ucap Leon yang masih memegangi kepalanya. "Dia yang merencanakan ini." Leon menunjuk ke arah Renata.


"Kau yang menyuruhku membawa Zella kemari, Leon!" sarkas Renata, tapi dilihatnya sikap Levi tidak sesuai dengan harapannya.


"Pak Levi, mengapa kau diam saja? Cepatlah bertindak!" Renata makin gusar.


"Pakai pakianmu, dan jelaskan padaku apa yang sudah kau lakukan Leon!." perintah Levi melempar pakaian Leon ke atas tempat tidur.


Levi duduk di sofa menunggu Leon memakai kembali pakaiannya. "Tidak ada bekas percintaan." gumam Levi. "Ku lihat Leon seperti baru saja kehilangan kesadarannya. Dia tidak seperti orang baru bercinta." batin Levi.


Renata tidak memberi kesempatan Leon untuk menjelaskan pada Levi.

__ADS_1


"Pak Levi, mengapa anda tidak marah? Kenapa anda jadi laki-laki yang sangat lemah ketika melihat Zella tidur dengan laki-laki lain? Apa ini yang dinamakan seorang Pahlevi Ainsley?" tanya Renata bertubi-tubi dan membuat Levi semakin kesal.


"Aku hanya tidak ingin membuat kegaduhan di acara Azel. Kau diam saja atau kembalilah ke Hall tanpa menceritakan hal ini pada siapapun." jawab Levi.


Tapi terlambat, karena papa Green dan Nay sudah tiba di kamar hotel. "Apa yang terjadi dengan putriku?" tanya papa Green yang langsung ke kamar.


Teriakan papa Green membuat Zella membuka matanya dan berteriak, "Aaaaaaaaa . . . Apa yang terjadi denganku?" tanya Zella melihat sudah banyak orang mengelilinginya dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Kalian semua keluar!" perintah papa Green pada Levi dan Leon. "Nay dan bu Renata, saya minta tolong kalian temani Zella dulu." ucap papa Green.


Setelah keluar, Papa Green menggiring keduanya ke ruangan khusus di dekat hall yang disiapkan hanya untuk keluarga.


"Jelaskan padaku, apa yang telah terjadi dengan putriku?" tanya papa Green dengan sangat marah.


Levi pun angkat bicara, "Maaf sebelumnya, tadi putri anda sakit kepala. Berdasarkan cerita dari Renata, ia sengaja menaruh sesuatu dalam minuman Zella dan mengajaknya ke kamar hotel yang sudah dipesannya. Renata mengaku melakukan ini atas dasar perintah Leon." jawab Levi menatap Leon.


Papa Green beranjak dan hampir melayangkan tinjunya pada Leon. Tapi Levi mencegahnya, "Jangan Pa, lebih baik kita dengarkan dulu argumen Leon." ucap Levi.


Papa Green duduk dan menunggu Leon buka suara.


"Aku dijebak Renata," ucap Leon. "Karena aku sudah mengetahui dalang kejahatan di Villa adalah Renata." jawab Leon singkat membuat semua terkejut.


"Jangan berbohong hanya untuk menyelamatkan dirimu, Leon." sanggah papa Green tidak percaya karena selama ini ia mendengar cerita Renata sangat baik pada Zella.


"Dia tidak berbohong, pa." ucap Azel yang tiba-tiba masuk karena pestanya baru saja usai. "Aku mengenal Renata sejak lama. Sekarang kita hanya tinggal mengumpulkan segala bukti untuk menjebloskan Renata dalam penjara." jelas Azel.


Leon pun memperlihatkan semua bukti yang sudah ia dapatkan. Azel yang sudah menduga sejak awal makin geram pada Renata. Terlebih Papa Green yang sudah sangat terbakar emosi sedari awal.


Sedangkan Levi langsung mencari Rio, untuk meminta data CCTV di hotelnya untuk melihat segala tindakan Renata. Zella kini masih di kamar bersama Nay dan Silla. Renata berdalih sedang memesankan makanan untuk Zella. Tapi sebenarnya ia melarikan diri karena Leon sudah pasti akan melaporkan tindak kejahatan yang sudah ia lakukan.


"Itu Renata," tunjuk Levi pada CCTV loby hotel. Renata terekam menuju ke luar hotel. "Dia pasti akan melarikan diri," ucap Levi.

__ADS_1


"Rio, bisa kau perintahkan satpam untuk menangkapnya sekarang?" pinta Levi dan Rio langsung menelfon satpam untuk menahan Renata.


Kini Renata sudah tidak bisa lari kemana-mana dan Ia langsung dibawa menuju ruang kerja Rio.


__ADS_2