Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Sakit


__ADS_3

Aku membersihkan semuanya dan bersih keras mengesampingkan rasa pusing pada kepalaku saat itu, meskipun rasanya sedikit berat dan aku sulit sekali untuk mengendalikan rasa pusing di kepalaku tersebut hingga perlahan pandanganku mulai kabur sedikit demi sedikit dan aku langsung jatuh pindang saat itu juga.


Bi Evi yang melihat aku pingsan dia langsung datang menghampiri aku dengan panik dan langsung berteriak meminta bantuan pada pak Tino untuk membawaku ke kamar dan pak Tino pun segera menggendong Klara dengan cepat dan menidurkannya di ranjang secara perlahan dan hati-hati.


"Ohh.. ya ampun Klara bangun, nona Klara bangunlah ada apa denganmu, aahhh aku sudah menduga dia tidak akan kuat terus bekerja dan di perlakukan seperti robot tanpa istirahat dan makan seperti itu, semua ini karenamu Elin, kau yang membuat nona Klara sampai seperti ini, kau harus bertanggung jawab!" Ucap bi Evi kepada bi Elin yang saat itu juga terlihat sedikit takut.


Bukan karena takut mengkhawatirkan keadaan Klara justru dia takut akan di laporkan oleh pak Tino kepada tuan besar Arfanka saat itu, sehingga ketika bi Evi mengatakan hal tersebut dia langsung berpura-pura menyesal dan meminta maaf pada bi Evi juga pada pak Tino saat itu.


"Ahh.... Maafkan aku bi, maafkan aku pak Tino, aku tahu apa yang aku lakukan padanya salah, aku pikir dia akan kuat aku sungguh tidak menduga jika dia akan seperti ini, maafkan aku, ini kecerobohanku, aku akan merawatnya kalian tidak perlu mengkhawatirkan dia" ucap bi Elin yang tiba-tiba saja menjadi baik.


Dia memasang wajah yang penuh akan penyesalan di hadapan pak Tino dan sayangnya bi Evi juga tertipu dengan wajahnya tersebut sehingga dia langsung memaafkannya dan meminta dia untuk menjaga dan memperlakukan Klara dengan baik kedepannya.


Terlebih dia juga akan pergi ke kampung halamannya besok, sebab dia harus mengurusi orang tuanya yang tengah sakit parah di desa saat itu dan bi Evi juga sudah meminta izin kepada tuan Arfanka untuk izin dari pekerjaannya hingga orangtuanya di kampung membaik nanti barulah dia akan kembali ke sana.


"Baiklah Elin, aku memaafkanmu tapi ingat kau harus memperlakukan Klara dengan baik dan merawatnya, aku akan pergi ke kampung besok kau jangan sampai berani-berani menindasnya atau aku akan melaporkan kelakuanmu pada tuan Arfanka" ucap bi Evi mengancamnya.


"Elin aku memberimu kesempatan hanya satu kali ini saja" tambah pak Tino kepadanya dengan tatapan yang tajam dan lekat,


"Ahaha... Iya pak Tino, bi Evi kalian tenang saja aku sudah pernah melakukan kesalahan-kesalahan dan aku akan mengambil pelajaran berharga dari kejadian sebelumnya kalian tidak perlu terlalu mencemaskan Klara aku akan merawatnya dengan baik" ucap bi Elin penuh dengan ke kepura-puraan.


Akhirnya setelah bi Evi mengompres kepala Klara dan membiarkan dia beristirahat sebab mereka berdua sudah harus pulang dari rumah itu dan bi Evi juga sudah harus bersiap-siap untuk menyiapkan semua barang-barangnya demi keberangkatan dia ke desa besok pagi.

__ADS_1


Sebelum itu, bi Evi juga menitipkan Klara terhadap pak Tino suaminya sebab entah kenapa saat itu bi Evi merasa sangat cemas dengan Klara sebab dia bagaimana pun masih belum mempercayai bi Elin sepenuhnya.


"Mas aku titip nona Klara padamu yah selama aku tidak ada di rumah ini, kau tahu seperti apa Elin dia tidak mungkin tiba-tiba menjadi baik seperti itu" ucap bi Evi mengutarakan kecemasannya,


"Sudahlah jangan mencemaskan gadis itu, kau terlalu baik kepadanya, lagi pula Elin pasti takut dengan ancaman dariku dia tidak akan berani memperlakukannya dengan buruk lagi" balas pak Tino meyakinkan bi Evi.


Hingga ke esokan paginya aku masih merasa sedikit pusing dan lemas karena aku tidak di beri makan sejak kemari dan sekarang aku sudah harus bekerja lagi, saat itu pak Tino tidak ada di rumah karena dia pergi mengantarkan bi Evi, dan aku tidak mengetahui tentang kepergian bi Evi pagi itu.


"Oh... Kau sudah bangun yah, bagus kalau begitu ini cepat kau bersihkan semua area ini aku akan memasak sarapan untuk tuan" ucap bi Elin memerintah aku lagi.


Aku segera mengambil alat pembersih yang dia berikan kepadaku dan mulai membersihkannya dengan perlahan, tapi kepalaku masih sedikit sakit dan tenagaku sungguh sangat lemah saat itu, aku berusaha mendekati bi Elin dan meminta sedikit makanan kepadanya.


"CK... Jangan harap kau bisa makan, kau harus makan setelah tuan sarapan nanti dan setelah aku sudah makan, sudah sana cepat kembali lanjutkan pekerjaanmu, dan jangan harap bi Evi akan menolongmu lagi dia sudah pergi dan tidak akan kemari dalam waktu yang lama" ucap bi Elin membicarakannya.


Aku kaget dan tidak menduga bi Evi satu satunya orang yang baik dan perduli padaku justru malah pergi dari rumah ini dan sekarang aku tidak memiliki siapapun yang bisa membelaku, aku sangat lapar dan lemas saat itu. Hingga ketika tuan Arfanka menuruni tangga, aku tidak melihatnya dan aku tidak sengaja menabrak tubuhnya hingga aku jatuh ke lantai.


"Aahh... Brukkkk" suaraku yang jatuh terpental setelah menabrak tubuh tuan Arfanka saat itu.


Bukan aku yang lemah tapi memang saat itu kondisi tubuhku tengah sangat buruk, aku tidak makan sejak kemarin pagi dan tenagaku terus terkuras, di tambah kepalaku yang masih terasa pusing membuat aku sulit berdiri dengan tegak.


Tuan Arfanka yang melihat itu dia langsung berjongkok dan kembali mencengkram daguku sedangkan aku sangat lemah dan tidak memiliki energi lagi saat itu, aku pun langsung jatuh pingsan dan tidak menduga jika tuan Arfanka akan menggendong aku dan membawaku ke rumah sakit saat itu.

__ADS_1


"Hey... Hey... Bangun, pelayan bodoh aishh... Apa yang terjadi dengannya bagaimana bisa pelan ini jatuh pingsan setelah menabrakku, aku tidak memiliki badan besi sekuat itu" ucap tuan Arfanka merasa sedikit kesal.


Dia segera menggendong Klara dan membawanya ke rumah sakit terdekat hingga dokter memberitahu kepadanya bahwa Klara kekurangan gizi sebab tidak mendapatkan asupan makanan dalam waktu yang cukup lama dan dia memiliki anemia atau tekanan darah rendah dimana dia tidak bisa melakukan pekerjaan yang terlalu berat dalam kurun waktu yang terlalu lama dan tidak bisa terus terpapar sinar matahari di tengah hari.


Mendengar penjelasan dokter seperti itu mengenai Klara, tuan Arfanka mulai merasa curiga dan aneh, dia tidak tahu kenapa Klara tidak memakan apapun sejak kemarin hingga pagi ini, padahal dia sendiri tidak pernah melarang Klara untuk makan di rumahnya, bahkan dalam peraturan pelayan pun tidak ada aturan untuk makan.


"Tuan sebaiknya anda memperlakukan manusia layaknya seorang manusia karena meski dia seorang pelayan dia tetap membutuhkan makan" ucap dokter lalu pergi meninggalkan Arfanka di ruangan tersebut sendiri,


"CK.... Beraninya dokter itu berbicara sinis seperti itu kepadaku, dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, sialan siapapun yang melakukan ini aku tidak akan meloloskan dia dengan mudah!" Ucap tuan Arfanka dengan kesan dan dia menggenggam tangannya dengan kuat.


Dia segera memerintah asistennya untuk menyelesaikan permasalahan ini sekaligus membayar administrasi rumah sakit saat itu sedangkan dia menghampiri Klara dan menunggunya hingga siuman.


Dan tidak lama aku mulai tersadar, dan hal pertama yang aku lihat saat aku sadar adalah wajah tuan Arfanka yang menatapku dengan tajam dan dia melipatkan kedua tangannya di dada dengan tegas, aku bahkan sempat kaget saat pertama melihatnya saat itu.


"Astaga.... Tu... Tu tuan sedang apa kau berada di kamarku?" Tanyaku yang masih belum sadar sepenuhnya.


"Bodoh, lihat dimana kamu sebenarnya saat ini" balas tuan Arfanka sangat menjengkelkan untuk di dengar,


Aku segera memeriksa ke sekeliling ruangan dan melihat selang infus menancap di tanganku, aku pun langsung menghembuskan nafas dengan lesu karena aku sudah tahu sekarang bahwa aku berada di rumah sakit.


"Ohh... Aku di rumah sakit, maaf sudah merepotkan mu tuan" ucapku sambil menunduk lesu padanya.

__ADS_1


__ADS_2