
Bi Elin mengintip di balik pintu kamar Klara dan dia menunggu beberapa saat hingga obatnya itu bereaksi, hingga setelah beberapa saat berlalu bi Elin kembali masuk ke dalam kamar Klara dan dia melihat Klara yang mulai terlihat tidak sadarkan diri juga kepanasan.
Dia segera mendekati aku dan saat itu aku benar-benar merasa tubuhku sangat panas dan tidak nyaman aku sungguh tidak bisa menahan diriku sendiri saat itu dan rasanya aku sangat menginginkan sesuatu untuk memuaskan nafsu di dalam diriku.
Sampai bi Elin datang menghampiriku dan dia mulai menyuruh aku untuk menemui tuan Arfanka di kamarnya.
"Klara kemari kau" ucap bi Elin kepadaku.
Dengan mata yang sedikit tidak bisa melihat jelas aku berusaha menghampirinya dan berjalan sempoyongan sampai bi Elin menghampiriku dan dia meminta aku untuk pergi ke kamar tuan Arfanka.
"Klara kau di panggil oleh tuan Arfanka ke kamarnya, sana bersihkan kamar mandi tuan Arfanka, ayo cepat tunggu apa lagi dia mau kau membersihkannya sekarang juga" ucap bi Elin kepadaku.
Awalnya aku meminta maaf pada bi Elin dan mengatakan kepadanya bahwa aku sedang tidak enak badan dan tidak bisa pergi ke sana saat itu, namun bi Elin terus mendesakku dan mengatakan beberapa ancaman kepadaku saat itu.
"Maafkan aku bi, tapi aku sungguh sedang tidak enak badan kali ini, badanku terasa panas semua aku tidak bisa melihat dengan benar juga, jadi aku tidak bisa pergi membersihkan kamar mandinya" ujarku kepada bi Elin.
Dia langsung saja menarik tanganku dan menyeret aku keluar dengan paksa, sehingga aku tidak memiliki pilihan lain.
"Ayo cepat pergi saja, apa kau mau tuan Arfanka marah besar, dia bisa menghajarmu sangat parah jika dia marah, ayo cepat pergi!" Ucap bi Elin terus mendorong tubuhku.
Aku pun berjalan menaiki tangga dan segera mengetuk pintu kamar tuan Arfanka dengan kesadaran di dalam tubuhku yang kian memudar dengan perlahan.
"Aah....tuan... Tok....tok...tok... Tuan" ucapku sambil mengetuk pintu kamarnya pelan.
__ADS_1
Hingga tidak lama tuan Arfanka membuka pintu kamarnya dan aku langsung saja jatuh pada pelukannya karena saat itu aku sudah tidak kuat lagi untuk berdiri.
"Hey... Ada apa denganmu, apa kau sakit lagi, wanita rendahan kenapa tubuhmu terasa panas dan kenapa wajahmu memerah seperti ini?" Ucap tuan Arfanka sambil memegangi tubuh Klara.
Saat itu aku sudah benar-benar kehilangan kesadaranku aku melihat wajah tuan Arfanka yang terlihat sangat tampan dengan rambutnya yang sedikit Basar saat itu, aku semakin tidak bisa menahan dorongan dalam diriku.
"Aahhh... Tuan tubuhku sangat panas aku tidak bisa menahannya, bisakah kau membantuku" ucapku sambil mulai membuka pakaianku saat itu.
Aku segera mengipasi tubuhku sendiri dan rasanya semua itu terasa semakin panas, sedangkan tuan Arfanka yang melihat Klara dalam kondisi seperti itu dia mulai mengetahui bahwa Klara dalam kondisi dan pengaruh obat yang sangat kuat saat itu, dia pun langsung menggendong Klara dengan cepat dan dia langsung membawa Klara ke dalam kamar mandinya lalu dengan sengaja tuan Arfanka memasukkan tubuh Klara yang terus menggeliat dan membuka pakaiannya sendiri ke dalam bak mandi dirinya.
Setelah itu tuan Arfanka dengan cepat mengambil shower disana dan langsung mengguyur kepala Klara untuk menyadarkan dia dari pengaruh obat tersebut, namun sayangnya Klara tetap tidak sadarkan diri dan dia malah terus menjadi lebih panas saat itu, hingga tuan Arfanka segera menghubungi dokter pribadinya untuk mengobati Klara.
"Hallo Jeno, bawa dokter Bil kemari" ucap tuan Arfanka lalu langsung saja menutup telponnya begitu saja.
Dia langsung mendekati wajah Klara dan terus menampar wajahnya dengan pelan untuk menyadarkan Klara saat itu.
"Tidak .. aku ingin melakukannya tolong bantu aku, ini sangat panas aku tidak bisa menahannya lagi, aku mohon tuan" ucap Klara sambil terus saja merasakan tubuhnya yang semakin memanas.
Tuan Arfanka juga tidak bisa menahan dirinya sebab mau bagaimana pun dia adalah seorang pria dan dia berusaha menahan dirinya sendiri sedari tadi namun disaat dia memalingkan pandangan dan berusaha untuk menyegarkan wajahnya tiba-tiba saja Klara menarik kerah kemeja tuan Arfanka dan langsung mencium bibir tuan Arfanka begitu saja.
Mendapatkan hal tersebut tuan Arfanka sangat kaget dan dia refleks langsung membelalakkan matanya dan dia langsung saja mendorong tubuh Klara dan dia memegangi bibirnya yang sudah kehilangan ciuman pertamanya saat itu.
"Wa...waahh... Astaga bagaimana bisa aku kehilangan hal paling berharga dari seorang wanita bodoh dan konyol sepertinya, aishhh.... Sial sekali" ucap tuan Arfanka terus merasa sedikit kesal.
__ADS_1
Namun di bandingkan dengan kekesalannya dia lebih merasa senang dan jantungnya terasa berdetak sangat kencang saat itu dan dia terus saja memegangi jantungnya yang terasa bergetar saat itu.
Dia juga menahan nafsu di dalam dirinya dengan sekuat tenaga dan dia merasa sulit untuk menelan salivanya sendiri.
"Astaga... Aku tidak akan bisa menahan diriku lagi jika dia terus menjadi liar seperti ini, aaishh.. sial sekali" gerutu tuan Arfanka yang langsung mencuci wajahnya sendiri.
Hingga ketika Klara sudah mulai tenang dan tidak banyak berulah lagi barulah tuan Arfanka menggendongnya dan segera memindahkan dia ke ranjangnya dan tidak lupa tuan Arfanka juga menggantikan pakaian Klara dengan cepat sambil terus memalingkan pandangannya dan dia berkali-kali menghirup nafas panjang untuk menenangkan dirinya dan berusaha mengontrol dirinya sendiri.
"Huuufttt... Aishh.... Aku harus menahan semuanya, tahan Arfanka kau harus bisa" ucap tuan Arfanka berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Untunglah saat itu Klara masih memiliki sedikit kesadaran, dan disaat tuan Arfanka akan menggantikan pakaiannya dia langsung menepis tangan tuan Arfanka dan dia mengatakan bisa mengganti pakaiannya sendiri.
"Aaarrrtghhh... Kau tidak mau membantuku, aku bisa mengganti pakaian sendiri, pergi kau aaarkkk" ucap Klara berteriak sendiri,
"Oke...oke... Aku akan pergi ke kamar mandi dan kau cepat ganti pakaianmu dengan benar apa kau mengerti?" Ucap tuan Arfanka dan segera pergi masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat.
Hingga beberapa menit berlalu barulah dia berteriak lagi memanggil Klara dan menanyakan apakah dia sudah mengganti pakaiannya atau tidak.
"Hey.... Gadis idiot apa kau sudah selesai? Ini sudah sangat lama" teriak tuan Arfanka.
Dia tidak mendapatkan balasan sehingga tuan Arfanka langsung keluar dari kamar mandi sambil menutupi mata dengan tangannya hingga ketika di lihat akhirnya Klara sudah berganti pakaian dengan memakai kemeja putih miliknya yang kebesaran.
Tuan Arfanka pun baru bisa menghembuskan nafas dengan lega saat itu saat melihat akhirnya Klara sudah mengganti pakaiannya dan tergeletak terlentang di ranjangnya begitu saja, namun sayangnya dia tidak memakai celana dan hanya memakai kemeja itu saja, sehingga walau begitu tetap saja tuan Arfanka merasa tergoda dengan tubuhnya yang cantik.
__ADS_1
"Astaga... Baru juga aku bisa bernafas lega, dia benar-benar menguji kesabaranku" ucap tuan Arfanka.
Sampai tidak lama ketukan pintu dan suara sekretaris Jeno terdengar dari luar sehingga tuan Arfanka langsung panik dan refleks dia segera menyelimuti Klara dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai lalu menyembunyikannya ke dalam lemari pakaian miliknya dengan sangat cepat.