
Rasanya aku ingin menghajar mereka berdua saat itu, namun karena melihat Kirei dalam kondisi aneh begitu, aku pun mengabaikan mereka dahulu dan langsung berlari mengejar Kirei ke tempat itu sayangnya di saat aku mengikuti pria yang membawa Kirei aku di tahan oleh dua bodyguard pria itu yang berbadan kekar dan tinggi.
"Tidak Kirei... Aku harus menyelamatkan dia sebelum semuanya terlambat.. Kirei...lihatlah kemari Kirei...." Teriakku memanggilnya.
"Mau kemana kau, ini adalah tempat yang sudah di sewa bos kami siapapun dilarang untuk masuk!" Ucap salah satu bodyguard berbadan kekar dan tinggi menahan aku saat itu.
Aku tidak bisa diam saja disaat para bodyguard tersebut menahanku, aku tetap saja berubah berontak dan berusaha untuk melawan kedua bodyguard tersebut yang tengah menahanku saat itu.
"Tidak... Lepaskan aku, biarkan aku masuk itu adikku Kirei aku hanya ingin menyelamatkan dia aku mohon lepaskan aku!" Bentakku sangat keras sambil terus berusaha menerobos kedua bodyguard yang menahan diriku dengan kuat saat itu.
Sayangnya kekuatan mereka dengan aku memang sangat terpaut jauh, mereka juga tidak segan mendorong aku ke belakang dengan sangat keras hingga aku langsung jatuh tersungkur ke lantai dengan cukup keras.
"Kau tidak akan bisa mengganggu kesenangan bos kami, dasar wanita tidak berguna!" Bentak salah satu bodyguard itu sambil mendorong tubuhku ke belakang sangat kuat,
"Brukk.... Aduh.....aaa..a..aahhhh, kalian aku tidak akan pernah berhenti begitu saja aku harus pergi ke sana, eughh....lepaskan aku!" Bentakku sangat keras dan masih berusaha dengan kuat untuk melawan dan melewati kedua bodyguard sialan tersebut.
Aku kembali bangkit dengan segera dan langsung saja aku berusaha kembali memberontak pada mereka dengan sekuat tenagaku aku tidak bisa diam dan menyerah dengan mudah di saat adikku sudah dalam bahaya saat itu, dan aku tidak bisa membiarkan dia kehilangan kehormatan dirinya di usia yang masih sangat muda seperti, di tambah dia di perlakukan seperti itu dengan cara yang sangat buruk seperti ini, tentu saja aku akan terus berusaha keras mempertahankan dia dengan sekuat tenagaku.
__ADS_1
Sayangnya memang kekuatan aku tidak sepadan dengan kedua bodyguard tersebut, mereka sempat menampar pipiku dengan keras hingga aku kembali jatuh ambruk ke lantai dan mereka tertawa melihat aku jatuh kesakitan dengan rok yang aku kenakan langsung sobek cukup besar saat itu.
"Plakk.... Ahhh...sakit sekali" ucapku meringis kesakitan memegangi sebelah pipiku yang mulai memerah saat itu.
"Ahaha... Rasakan saja itu, siapa suruh kau berani mencoba melawan kami berdua, apa kau juga mau bermain dengan kami sama seperti adikmu yang sangat murah itu" ucap salah satu bodyguard mendekatiku.
Aku mulai merasa cukup panik dan dengan perlahan aku mulai mundur menjauhi mereka namun mereka malah semakin mendekati aku dan salah satu dari mereka mulai menarik pakaianku saat itu, aku berusaha keras untuk menahan pakaianku agar tidak sampai robek atau terlepas dari tubuhku, aku berteriak meminta tolong berharap akan ada yang menolongku saat itu, namun sayangnya tidak ada siapapun yang datang untuk menolongku karena itu memang tempat ruangan pribadi mereka.
"Aaaahh....tidak tolong.....tolong aku!" Teriakku masih tetap berusaha meminta tolong saat itu.
Hingga tidak lama kemudian suara pintu yang di tendang keras oleh tuan Arfanka terdengar begitu keras dari belakangku saat itu, dia menatap tajam ke arah dua bodyguard yang saat itu tengah berusaha menganiaya aku dan dia langsung berjalan dengan langkah yang besar menghampiri aku saat itu.
Untuk menutupi pakaianku yang sudah setengah robek saat itu.
"Tu...tu..tuan....kau..." Ucapku terbata-bata karena masih tidak menduga dia datang ke dalam sini dan membantuku,
"Diam, kau sangat bodoh pergi ke tempat seperti ini seorang diri, aishhh kau sangat berantakan membuat aku benci melihatmu sekarang" ujarnya sambil memakaikan jas miliknya ke tubuhku saat itu.
__ADS_1
"Sudah, dimana adikmu?" tambah tuan Arfanka kepadaku.
Aku pun langsung saja teringat dengan adikku dan aku langsung terperangah kaget ketika mengingatnya aku langsung bangkit berdiri dan langsung berubah mendobrak pintu tempat dimana pria bunci yang tua itu membawa masuk adikku Kirei ke dalam sana.
"Aahh...bruk...bruk.....hey .. lepaskan adikku pria sialan lepaskan dia!" Bentakku dengan air mata yang sudah bercucuran sedari tadi tidak dapat aku kendalikan.
Tuan Arfanka memegangi pundakku dan dia langsung mengesampingkan aku segera.
"Minggir aku akan mendobrak pintunya" ucap dia dengan tatapan yang tajam dan dingin.
Aku segera mengangguk dan segera menyingkir dari sana secepatnya, hingga tuan Arfanka benar-benar mendobrak pintu itu hanya dengan satu tendangan saja dan aku sangat kaget ketika melihat adikku sudah hampir di naikki oleh pria tua sialan itu, dia terlihat sangat berantakan dengan pakaian yang sudah berserakan di lantai dan hanya tinggal pakaian dalamnya saja yang tersisa di tubuhnya saat itu.
Dia menjerit ketakutan dalam pengaruh obat dan setengah kesadarannya saat itu, dia masih bisa berteriak memanggil namaku dan meminta tolong padaku.
"AA...a..aahhh...kakak...tolong aaahhh tolong aku!" Ringis Kirei yang masih memiliki setengah dari kesadarannya kala itu.
"Oh ..tidak Kirei!" Ucapku sangat panik dan langsung berlari masuk ke dalam dan menendang pria tua tersebut yang baru saja hampir mencium kening adikku, aku menendangnya dengan sekuat tenagaku hingga kakiku mendarat tepat mengenai pipi pria tua tersebut dan membuatnya langsung tidak sadarkan diri tergeletak di lantai tepat di samping ranjang ruangan tersebut.
__ADS_1
Segera aku menyelimuti seluruh tubuh adikku dengan selimut tebal yang ada di sana dan aku berusaha untuk menenangkan dia sambil mengusap kepalanya dengan lembut, aku sangat hancur dan sakit ketika melihat adikku Kirei yang selama ini aku sangat jaga dan aku rawat dengan seluruh kekuatan dalam diriku kini di perlakukan tidak senonoh oleh pria yang jauh lebih tua darinya bahkan itu di lakukan oleh ibu kandung dan kakak kandung dia sendiri, dan ini sangat memukul hatiku.
"Kirei kau aman sekarang, aku sudah kembali aku akan melindungimu, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun, aku sudah janji padamu Kirei hiks...hiks...hiks...hiks.." ucapku sambil mengusap lembut kepala Kirei dengan tangisan yang terisak karena tidak sanggup melihat kondisinya yang sangat menyedihkan saat itu.