Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Mengunjungi Rumah Sakit Jiwa


__ADS_3

Aku pun membiarkan tuan Arfanka untuk mengambil lauk apapun yang dia inginkan sendiri, meski sebelumnya dia terlihat tegang dan menatap kepadaku dengan tatapan yang cukup aneh dan sedikit sinis namun aku sama sekali tidak terganggu dengan hal tersebut, lagi pula hari ini aku juga ingin meminta izin kepada dia untuk menjenguk adikku sehingga aku pikir tidak ada salahnya jika aku harus bersikap baik kepadanya.


"Ada apa dengan wanita bodoh dan konyol ini, kenapa dia tiba-tiba saja bersikap baik dan terus tersenyum kepadaku?" Batin tuan Arfanka dengan keheranan sendiri.


Dia terus saja menikmati makanannya dan mengabaikan Klara yang berdiri di sampingnya saat itu sambil terus menatap dia dengan tersenyum lebar, hingga ketika dia selesai makan tuan Arfanka langsung saja membentak Klara karena dia sangat terganggu mendapatkan tatapan seperti itu dalam waktu yang cukup lama dari seorang Klara kepada dirinya.


"Hey....gadis konyol, sedang apa kau terus berdiri mematung disana sambil tersenyum kepadaku, apa kau menyukai aku yah?" Bentak tuan Arfanka dengan membuka matanya cukup lebar,


"Ehh .... tidak-tidak tuan saya tidak berani seperti itusaya hanya mau bersikap baik dan menjadi pelayan yang patuh saja sesuai dengan janji saya sebelumnya dan karena bi Elin dan bi Evi tidak ada maka aku harus melayani mu sepenuhnya bukan jadi aku berjaga-jaga disini untuk menunggu jika kau membutuhkan apapun" balasku beralasan kepadanya saat itu.


"Aku tidak butuh apapun, sana pergi bereskan rumah atau kerjakan apapun saja" balas tuan Arfanka kepadaku saat itu,


"Ta....tapi tuan ada yang mau aku bicarakan dahulu kepadamu" balasku dengan cepat.


Karena memang niat utamaku adalah untuk meminta izin kepadanya sebab aku ingin melihat keadaan adikku Kirei saat itu.


"Ada apa lagi, ayo cepat katakan!" Balas tuan Arfanka dengan sinis.


Terlihat jelas seki saat itu bahwa tuan Arfanka seperti tidak ingin mendengarkan ucapan atau permintaan dariku, tapi walau aku merasa sedikit takut kepadanya aku tetap memberanikan diri untuk mengatakan apa yang aku inginkan sebab aku tidak bisa menahannya sendirian.


"Tuan aku ingin meminta izin untuk menjenguk adikku hari ini, aku janji akan kembali ke rumah sebelum kau tiba dan akan pergi ke sana saat semua pekerjaan rumah selesai" ucapku kepadanya sambil tersenyum dan memasang wajah dengan sebaik-baiknya.


Saat itu aku sudah berusaha dengan keras untuk memperlihatkan wajah terbaikku kepadanya agar dia mau mengijinkan aku untuk pergi menjenguk adikku Kirei karena aku sangat mencemaskannya, terlebih semalam aku juga tidak mengantarkan dia ke tempat rumah sakit jiwa binaan tersebut, aku belum tahu apakah dia nyaman dan tinggal dengan baik disana atau tidak.


Ku lihat wajah tuan Arfanka hanya menatapku dengan serius sambil mengerutkan kedua alisnya saat itu, dia terlihat cukup menyeramkan dan aku begitu gugup saat itu, aku takut dia tidak akan mengijinkan aku untuk pergi menjenguk adikku namun tidak lama kemudian rupanya dia malah memberikan aku izin aku langsung saja merasa sangat senang dan bahagia sekali hingga aku langsung tersenyum lebar saat itu.


"Baiklah kau boleh pergi cepat bersikap-siap kita akan pergi bersama" balasnya mengijinkan aku.


Aku sungguh sangat senang dan segera bergegas pergi hendak menuju kamarku namun disaat aku baru sampai di depan pintu aku baru saja terpikirkan dengan ucapannya barusan dimana dia mengatakan bahwa kita akan pergi bersama sehingga aku kembali berjalan cepat menghampiri tuan Arfanka lagi.


"Ehh ... Tunggu tuan apakah tadi mau bilang kita akan pergi bersama? Siapa yang kau sebut sebagai kita bukankah hanya aku sendiri yang akan pergi ke sana?" Tanyaku dengan heran dan penasaran kepadanya,


"Bodoh memangnya kau akan ke sana menggunakan apa jika tidak diantar oleh pak Tiko bersamaku, sudah cepat ganti pakaianmu dan bersiap-siap aku hanya punya waktu setengah jam saja untuk mengantarmu kesana" balas tuan Arfanka dengan tegas.


Aku pun segera mengangguk patuh dan langsung pergi dari sana secepatnya, aku langsung berganti pakaian dan dengan cepat langsung memilih pakaian mana saja yang paling dekat dengan tanganku saat itu, lalu segera memakainya dan langsung pergi menemui tuan Arfanka dengan cepat, bahkan saat itu aku tidak sempat mengikat rambutku sehingga aku harus mengikat rambut panjangku sambil berlari hingga masuk ke dalam mobil.


Tuan Arfanka yang saat itu melihat aku berlari sambil mengikat rambutku tinggi dia menatapku dengan tatapan yang aneh dan tidak berkedip sedikitpun, aku tentu merasa heran karena dia menatap aku dengan tatapan seperti itu sedari tadi, sejak awal aku masuk ke dalam mobil sampai kini mobil sudah di kemudikan dan melaju keluar dari wilayah kediaman tuan Arfanka sendiri.


"Tuan....tuan apakah kau baik-baik saja? Tuan" ucapku menyadarkan dia sambil mengibaskan tanganku ke depan wajahnya saat itu.

__ADS_1


Hingga akhirnya setelah aku mengibaskan tanganku beberapa kali di depan wajahnya dan berusaha untuk menyadarkan dia, dia pun langsung tersentak dan sadar sambil langsung memalingkan pandangannya ke samping secepat kilat saat itu.


Aku juga merasa sedikit heran karena dia tidak menjawab aku sedikitpun dan hanya menatap ke depan begitu saja, bahkan cara dia duduk sangat terlihat tegang bagiku dan aku pikir dia sedang tidak enak badan saat itu, makanya aku mencoba mencari tahu dengan berniat memegangi jidatnya saat itu untuk memeriksa suhu tubuhnya.


"Tuan apakah kau sakit, coba aku periksa" ujarku sambil berniat menyentuh jidatnya pelan,


Namun dengan cepat tiba-tiba saja tuan Arfanka langsung menahan tanganku dan dia menatap ke arah aku dengan cepat dan tatapannya terlihat cukup menyeramkan.


"Jangan berani-beraninya menyentuhku, aishh kau ini sudah aku beri kebaikan malah mencoba melewati batas sana duduklah yang jauh dariku kau harus tahu batasan antara pelayan dengan bos nya!" Ucap tuan Arfanka dengan membelalakkan matanya kepadaku dan dia juga menghempaskan tanganku dengan cukup kuat saat itu.


Aku refleks langsung mengerutkan kedua alisku dengan heran, tentu saja aku kaget dan merasa kebingungan sebab dia sebelumnya yang bersikap baik dan seakan tidak menjaga jarak denganku maka dari itu tadi aku berani untuk mencoba memegangi jidatnya, namun tiba-tiba saja dia malah terlihat kesal dan marah kepadaku bahkan sampai membentak aku dan menepis tanganku cukup kasar.


Dengan menaikkan kedua alisku penuh kebingungan, aku langsung berjalan mundur menjauhinya karena aku merasa dia benar-benar sudah berubah.


Aku juga merasa heran dan bingung dengan sifatnya itu yang seperti mudah berubah-ubah tidak jelas, entah sesuai dengan mood di dalam dirinya atau adanya hal lain yang membuat dia menjadi seperti itu sehingga cukup menyebalkan jika berbicara terlalu lama dengannya.


Aku segera menggeser posisi dudukku dan menjauh darinya hingga aku sudah benar-benar menjaga jarak dari dia, namun dia tetap saja terus menyuruh aku untuk menggeser dan menjauh darinya saat itu padahal dudukku sudah mentok ke samping pintu mobil dan tanganku sudah menyentuh bagian dinding pintu mobil saat itu.


"Hey ...apa lagi yang kau tunggu kenapa malah menatap aku dengan tatapan anehmu itu, ayo cepat mundur lagi, mundur yang jauh dariku kalau bisa kau buat benteng pembatas aahhh kau benar-benar membuat aku kesal dan sebal tiap kali melihat wajahmu itu" gerutu tuan Arfanka sambil memalingkan pandangannya ke arah samping berlawanan dengan tempatku duduk di sampingnya saat itu,


"Ta ...ta..tapi tuan ini aku sudah mentok, apa kau tidak lihat aku sudah benar-benar ada di samping pintu bahkan badanku sudah cukup menempel pada bagian pintu mobil ini" balasku dengan jujur kepadanya agar dia tidak memaksa aku untu terus bergeser dan mundur sedari tadi terus.


Padahal pada awalnya dia juga biasa saja bahkan dia sudah pernah menggendongku, sehingga aku pikir hal pisjk seperti ini tidak akan terlalu bermasalah baginya namun rupanya aku telah salah besar sekarang, dia sama sekali bukan orang yang bisa aku tebak kepribadiannya dengan hanya melihat cara dia bersikap kepadaku dalam beberapa hari ini saja.


"Ada apa dengan orang ini, apakah dia memiliki kepribadian ganda, sekejap menjadi baik dan setelah itu kembali sangat kejam dan jahat aaahh apa aku akan gila jika terus bekerja melayani dia di rumahnya itu" batinku merasa heran sendiri.


Hingga tidak lama kemudian akhirnya kami sampai di depan sebuah rumah sakit jiwa yang cukup besar dan tuan Arfanka langsung menyuruh aku keluar dengan nada bicara yang lebih mirip seperti mengusir seorang pengemis dari dalam mobilnya, dia bahkan melemparkan sebuah kartu kepadaku dan memberitahu aku pin dari kartu itu.


"Sana kau keluar dan tunggu jangan lupakan ini ambil kartu itu dan pakailah uang di dalamnya jika kau membutuhkan apapun jadi aku tidak perlu membantumu untuk apapun lagi nanti, kau bisa melakukannya sendiri aahhh kau merepotkanku saja, sudah sana cepat pergi jangan lupa pulang tepat waktu jika tidak aku tidak akan membuka intu untukmu!" Bentak tuan Arfanka kepadaku dan dia langsung saja membanting pintu mobilnya cukup keras saat itu hingga membuat aku sangat kaget melihatnya.


"Brakk....." Suara pintu mobil yang di tutup oleh ya cukup keras, sedangkan saat itu aku segera mengambil kartu yang dia lemparkan tepat tergeletak di depan kakiku.


Saat mobilnya sudah pergi dari sana aku terus menggerutu dan merutuki dia dengan sesuka hatiku untuk meluapkan emosi yang sedari tadi berusaha untuk aku pendam di dalam hatiku sendirian.


"Aaahhh.... Dia benar-benar sangat menyebalkan, apakah dia harus melepaskan kartunya seperti itu kepadaku, aku juga tidak semiskin itu tuan!" Teriakku sangat kesal.


Tapi aku tentu saja tetap mengambil kartu yang dia berikan kepadaku saat itu, karena aku juga tidak bisa membuangnya sembarangan begitu saja terlebih aku juga siapa tahu saja akan membutuhkan uang yang banyak di kemudian hari, jadi aku segera menyimpannya di dompetku dan segera masuk ke dalam rumah sakit jiwa tersebut.


Aku pergi menemui dokter yang menangani adikku dan dia segera mengantarkan aku untuk menemui tempat dimana adikku di rawat, aku melihat dengan jelas dia tengah duduk melamun di dalam ruangan kosong yang hanya tersedia sebuah kursi juga ranjang cukup luas disana, dia duduk di pojokan dengan kedua kaki yang di tekuk dan dia peluk dengan erat.

__ADS_1


Aku sungguh merasa miris dan kasihan melihatnya dia masih berusia 14 tahun saat ini, namun harus mengalami hal seperti ini di dalam hidupnya hingga menyebabkan pikirannya terguncang dan dia tidak bisa menjadi orang dengan pikiran normal seperti sebelumnya.


"Dokter apakah aku boleh masuk ke dalam, aku ingin menyentuh adikku" ucapku memohon pada dokter.


Saat itu aku sangat berharap untuk bisa masuk dan menyapanya namun sayangnya dokter tidak mengijinkan aku dengan alasan bahwa adikku masih dalam keadaan yang kurang baik dan dia masih belum bisa tenang ketika ada orang lain yang masuk ke dalam ruangannya tersebut, dia selalu ingin sendirian dan dengan begitu barulah dia bersikap tenang seperti itu.


Aku hanya bisa menatap dia di balik sebuah jendela dengan besi kecil yang menghalanginya, aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menatapnya dari jauh, aku juga tidak bisa membangkang pada dokter karena aku tahu itu semua demi kebaikan dirinya juga.


"Dokter apakah dia bisa kembali pulih seperti sedia kala?" Tanyaku kepada sang dokter saat itu,


"Tentu saja bisa, tetapi mungkin itu sedikit membutuhkan waktu untuk saya mengobati psikis dan pikirannya yang sudah terlanjur terluka, meski dia tidak sempat di nodai oleh orang tersebut tetapi sepertinya dia sudah mengalami tragedi yang cukup besar sehingga dalam pikirannya sulit untuk dia hilangkan dan selalu merasa terbayang-bayang dengan hal itu, apakah saya boleh tahu kejadian apa selain dari pencobaan pemerkosaan yang dia alami?" Tanya dokter tersebut kepadaku.


Aku langsung tertunduk dengan lesu dan tidak tahu bagaimana cara aku bisa menyampaikan semua penderitaan aku dan adikku terhadapnya saat itu, hingga sang dokter mengeluk pundakku dengan pelan dan dia mengajak aku untuk bicara di ruangannya agar lebih nyaman saat itu.


"Tenangkan dirimu, mati kita bicara di ruangan saya" ucap sang dokter sangat baik dan ramah.


Aku mengangguk dan segera pergi ke sana hingga terpaksa aku memang harus mengatakan semua kejadian yang dialami oleh Kirei kepada dokter yang menangani kesembuhan mental serta jiwanya saat itu.


"Dokter aku akan bicara jujur kepada anda bahwa adikku sudah sering mengalami banyak sekali tekanan serta peny*ksaan oleh ibu dan kakak laki-lakinya, dia banyak menerima perlakuan tidak adil dari mereka hingga puncaknya terjadi malam itu ketika dia di paksa harus memakai pakaian yang terbuka dan di bawa ke bar juga di pertontonkan kepada banyak pria hidung belang dalam keadaan tubuhnya yang terbuka saat itu, dia juga sempat di berikan obat p*rangsang dengan dosis yang tinggi sehingga itu hampir saja mengancam nyawanya, namun setelah dokter menekan efek dari obat itu dan sudah menghilangkannya dia justru malah seperti sekarang ini, dan aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuknya" ujarku menuturkan semua kejadiannya dengan jelas dan jujur kepada sang dokter.


Meski hatiku sangat berat dan malu untuk membicarakan aib yang sangat menyakitkan dan memalukan ini, namun aku memang harus memberikan semua informasi yang benar kepada sang dokter agar adikku bisa di tangani dengan cara yang tepat.


Sang dokter langsung terlihat menghembuskan nafas yang berat dan dia tiba-tiba saja langsung memegangi tanganku dengan lembut lalu memberikan semangat kepadaku.


"Aku tahu itu semua sangat berat untuk adikmu tapi aku juga mengerti kau jauh lebih banyak menanggung beban darinya, hanya saja mental adikmu tidak sekuat dirimu dia akan baik-baik saja di sampingku, aku akan merawatnya seperti adikku sendiri, kamu tidak perlu banyak mencemaskan tentang dia dan kamu bisa mengunjungi dia kapan saja aku akan membuat dia kembali mengenalimu dan akan selalu mengingatkan dia pada kenangan-kenangan indahnya di masa lalu" ujar sang dokter kepadaku.


Aku sangat senang mendengar perkataan dari dokter tersebut dan aku merasa sangat yakin juga percaya terhadap sepenuhnya semenjak itu.


"Terimakasih dokter, tapi apakah biaya untuk mengobati adikku cukup besar aku tidak bekerja sekarang dan aku hanya memiliki sedikit tabungan aku hanya takut tidak bisa membayarnya tepat waktu kepadamu" ucapku dengan jujur terhadapnya.


Namun sang dokter terlihat menaikkan kedua alisnya dan dia tersenyum kepadaku secepatnya.


"Jangan mengkhawatirkan masalah biaya, semuanya sudah di tanggung oleh seseorang di belakangmu, ada seseorang yang sangat perduli dan menyayangi kamu di belakang tapi dia tidak mengijinkan aku untuk memberitahu kamu" balas sang dokter membuat aku kebingungan sendiri di buatnya.


"Tapi dokter siapa orang itu apakah aku juga mengenalinya kenapa dia bisa berbuat baik kepadaku seperti ini?" Tanyaku kebingungan,


"Sudahlah, nanti jika kamu mengunjungi adikmu lagi bawakan beberapa barang yang bisa membantu dia mengingat dengan masa lalunya yang menyenangkan" balas sang dokter kepadaku saat itu.


Aku langsung mengangguk mengerti dan dokter itu terus saja memberikan semangat kepadaku sambil merangkul aku dengan lembut.

__ADS_1


"Oke semangat kita akan berjuang bersama untuk menyembuhkan adikmu, kau harus kuat dan lebih bersemangat jika ingin adikmu juga semangat dan sehat" tambah sang dokter kepadaku.


Karena dokter itu bersikap sangat baik dan begitu mendukungku aku sangat merasa senang dan tidak bisa berhenti tersenyum kepadanya, aku segera berpamitan pergi dari sana secepatnya karena hari sudah hampir malam saat itu dan aku juga tidak boleh pulang terlambat ke kediaman tuan Arfanka nantinya, jika tidak tak tahu apa yang akan terjadi terhadapku nanti dia mungkin benar-benar tidak akan pernah memasukkan aku ke dalam rumahnya semalaman.


__ADS_2