
Waktu terlalu cepat berlalu kini aku pergi ke acara jamuan makan malam yang di undang oleh tuan Briantoro, dan kami pergi ke salah satu restoran yang sangat mewah sekali, bahkan rasanya aku tidak pantas untuk menginjakkan kaki di tempat semewah itu, aku juga merasa sangat tidak nyaman memakai pakaian yang sudah di berikan oleh Kevin sebelumnya di tambah high heels yang tidak biasa aku pakai termasuk riasan di wajahku yang rasanya ini sangat tidak terlihat seperti diriku yang sebenarnya, untung saja saat itu Kevin mau membantuku dan dia mengulurkan tangannya untuk menawarkan diri membantu aku berjalan masuk ke dalam restoran tersebut.
"Klara ayo, aku bantu kamu berjalan pegang saja tanganku," ucap Kevin padaku saat itu.
Aku tersenyum padanya dan langsung menerima bantuan darinya karena memang aku sangat kesulitan dengan gaun yang panjang dan sangat menyulitkan aku untuk berjalan saat ini, aku masih merasa sangat gugup dan tidak tenang untuk masuk ke dalam saat itu tapi untungnya dengan cepat Kevin meyakinkan aku dan dia menanangkan aku agar aku bisa berjalan dengan penuh percaya diri masuk ke dalam restoran tersebut.
"Klara angkat kepalamu, jangan terlihat gugup seperti itu, meski aku tahu ini cukup sulit untukmu tetapi kau harus percaya pada dirimu sendiri, ada aku yang akan selalu memegang tanganmu, aku berjanji tidak akan melepaskanmu." Ucap Kevin yang sedikit bisa membuat aku tenang saat itu.
Kami berjalan masuk dan melihat ada tuan Arfanka yang saat itu juga baru saja masuk menyusul kami dan dia memanggil nama Kevin dari belakang hingga membuat aku dan Kevin refleks segera menoleh ke belakang dan berhadapan dengan dirinya juga Riska yang ada disana saat itu.
"Kevin..." Ucap tuan Arfanka cukup kencang saat itu.
Aku menoleh dan melihat dengan jelas betapa dekatnya tuan Arfanka dengan perempuan bernama Riska itu, jika ditanya apakah aku cemburu tentu saja aku sangat cemburu, tidak ada wanita manapun yang tidak akan cemburu jika melihat sosok kekasih dirinya yang sangat dia cintai justru malah menggandeng wanita lain sedangkan aku sudah melepaskan gandenganku pada Kevin karena aku menghargai keberadaan dia saat itu.
Tetapi tuan Arfanka terlihat begitu tenang memandang ke arahku dan dia malah memegangi tangan Riska yang menggandeng tangannya dengan begitu erat saat itu.
"Jadi kalian di undang juga kemari? Aku pikir ini hanya jamuan untuk orang kelas atas saja, bukan untuk mantan pelayan rendahan sepertinya." Ucap tuan Arfanka yang ditujukan kepadaku.
Aku benar-benar merasa sangat sakit hati dan begitu malu mendapatkan ucapan seperti itu yang sangat menusuk jantungku dari tuan Arfanka secara langsung, bahkan Kevin saja langsung sangat marah ketika mendengarnya namun dengan cepat aku menahan tangan dia yang hampir saja akan kehilangan kendali saat itu.
"Kau...beraninya kau bicara seperti itu pada Klara!" Ucap Kevin sambil hendak melangkah maju ke depan tuan Arfanka lebih dekat.
"Hentikan Kevin, apa yang dikatakan oleh ya memang benar, aku memang mantan pelayan rendahan tapi setidaknya aku tidak memiliki sikap yang sangat rendah seperti dirinya, sebaiknya kita pergi, disini kita untuk menghadiri undangan dari ayahmu bukan untuk mencari musuh dengan orang yang tidak pantas untuk diladeni," ucapku kepadanya balik untuk membalas dia dengan perkataan yang lebih tajam.
Semua itu bisa keluar dari mulutku begitu saja sebab rasa sakit yang di berikan lebih dulu oleh tuan Arfanka kepadaku, percayalah dengan apa yang aku rasakan saat ini, rasa sakit yang di timbulkan oleh orang yang paling kita sayangi dan paling kita harapkan keberadaan dia di samping kita selalu, itu justru menjadi sakit yang paling tidak terobati
Aku mencoba untuk menarik tangan Kevin dan berniat membawanya untuk segera pergi dari sana namun sayangnya sebelum aku sempat untuk pergi dari sana, tuan Briantoro hadir di tengah-tengah kami dan terlihat dia berjalan sambil bertepuk tangan dan menunjukkan senyum yang sangat membuat aku cemas sekali saat itu.
"Prok....prok...prok.... Ada drama apa malam ini? Kenapa kalian terlihat begitu serius dan sepertinya Arfanka sangat tidak menyukai calon istri dari putraku?" Ucap tuan Briantoro menatap pada tuan Arfanka lalu mulai beralih kepadaku dengan ujung matanya saat itu.
Kami segera membungkuk dan menghormati tuan Briantoro sembari menyambutnya dengan cepat saat itu.
__ADS_1
"Selamat datang tuan besar," ucapku yang di ikuti dengan orang-orang yang ada disana serempak saat itu.
Hingga Riska langsung saja menjawab pertanyaan yang diberikan oleh tuan Briantoro saat itu.
"Om....kau mendengarnya bukan, aku yakin kau pasti sudah tahu siapa wanita ini sebenarnya, aku dengar barusan Arfanka mengatakan bahwa dia mantan pelayan rendahan, apa menurutmu dia pantas menjadi menantu seorang Kevin Briantoro yang merupakan putra kandung dari om sendiri, sang pemilik perusahaan terbesar di negara ini? Bukankah apa yang dikatakan oleh Arfanka juga demi kebaikan Kevin, kau harus mendukungnya bukan?" Ucap Risak yang terlihat begitu dekat dengan tuan Briantoro saat itu.
Hatiku sudah sangat tidak tenang, jantungku terus berdegup kencang dan merasa sangat takut saat itu, terlebih tatapan dari tuan Briantoro terasa begitu tajam dan sangat mencurigai aku saat itu, aku tidak bisa menghindar saat ini karena Kevin menggenggam tanganku dengan semakin erat dan dia langsung menimpali apa yang dikatakan oleh Riska saat itu.
"Hentika Riska! Jangan hanya karena kau terlahir dari keluarga yang kaya raya, kau bisa menindas calon istriku seperti itu, meski dia pernah menjadi pelayan, meski dia bukan orang terpandang ataupun orang yang memiliki kekuasaan di dunia ini, tetapi dia tidak memiliki hati yang busuk sepertimu!" Balas Kevin membuat Riska terlihat sangat marah dan kesal.
Dia langsung mengadu kepada tuan Arfanka dan terlihat begitu manja dengannya hal itu semakin membuat aku tidak tahan untuk melihatnya, bahkan aku belum benar-benar resmi berpisah dari tuan Arfanka tetapi aku sudah merasakan rasanya di khianati di depan mata kepalaku sendiri sendiri saat ini.
"Arfanka lihatlah adikmu bahkan malah membelanya, aku tidak terima sayang kamu harus melakukan sesuatu kepadanya, ayo sayang tunjukkan kalau kamu menyayangi aku dan kamu harus berada di pihakku sebelumnya aku juga membelamu sayang." Ucap Riska yang sangat memaksa pada tuan Arfanka saat itu.
Hingga tua Arfanka terlihat mengeratkan giginya, aku bisa tahu bahwa dia sangat marah saat itu tapi aku juga sudah menguatkan diriku dan mempersiapkan mental paling kuat untuk mendapatkan perkataan paling buruk dan paling menyakitkan darinya untukku saat itu, sebab aku tahu jika di depan tuan Briantoro maka tuan Arfanka sama sekali bukan orang yang aku kenal.
Bahkan disaat tuan Arfanka belum muncul, aku sudah mendapatkan perkataan yang menyakitimu darinya lebih dulu saat itu, jadi aku sudah mempersiapkan diriku saat ini.
"Jangan beraninya kau membalikkan fakta terhadap Riska aku bisa menghancurkanmu atau wanita yang ada di sampingmu itu jika aku mau!" Ucap tuan Arfanka membuat Kevin berdecak pelan dan meremehkannya saat itu.
Bagaimana dia tidak sangat berani, Kevin mengatakan ucapan setajam itu di hadapan ayah ya sendiri, tuan Briantoro yang masih saja berdiri tegak memegangi tongkat di tangannya dan tersenyum kecil terus memperhatikan kedua anaknya saling menyerang dengan perkataan satu sama lain.
Tuan Briantoro akhirnya mau angkat bicara dan dia segera mempersilahkan kami semua untuk segera duduk di meja makan yang ada di samping kami semua saat itu.
"Sudah. Hentikan semua kekacauan ini, aku tidak mempermasalahkan dengan siapa Kevin akan berpasangan, karena dia sudah jelas tidak akan menjadi pemimpin perusahaan selama Arfanka masih ada, jadi biarkan dia dengan kehidupannya yang liar itu, aku bahkan tidak akan memberikan sepeser uangpun padamu, ayo duduk kalian di meja makan, aku akan memberikan pengumuman yang penting pada kalian semua." Ucap tuan Briantoro kepada kami semua.
Tatapan tuan Arfanka terus saja tidak terlepas dariku dan hal itu sangat membuat aku tidak nyaman hingga Kevin menyadarinya dan dia segera saja mendorongkan kursi untukku lalu mempersilahkan aku untuk duduk dengan sangat lembut dan penuh perhatian.
"Silahkan duduk Klara," ucap Kevin mempersilahkan saat itu.
Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil dan segera duduk disana sedangkan tuan Arfanka sama sekali tidak mendorongkan kursi untuk Riska dan mereka sudah duduk lebih dulu saat itu.
__ADS_1
"Arfanka aku peringatkan kepadamu, berhenti memandangi kekasihku atau aku akan mengira kau menyukainya." Ucap Kevin sengaja mengatakan hal itu untuk membuat sang ayah merasa curiga dengan ucapannya.
Hingga rencana Kevin saat itu benar-benar berhasil dan bisa membuat tuan Briantoro benar-benar terpancang oleh ucapannya begitu pula dengan Riska yang sebenarnya tidak dia targetkan sedikit pun.
"Apa maksudmu Kevin? Arfanka sudah aku jodohkan dengan Riska dia tidak akan pernah bisa menikahi wanita manapun apalagi wanita seperti kekasihmu yang tidak memiliki asal usul yang jelas!" Ucap tuan Briantoro saat itu.
"Iya...kau jangan berani bicara sembarangan, bisa saja Arfanka terus menatapnya karena dia merasa tidak suka dengan keberadaan wanita itu disini," tambah Riska menimpalinya dengan segera.
Tanganku sudah sangat bergetar hebat dan aku tidak bisa menahan wajahku lagi untuk terus berdiri tegak saat itu, aku benar-benar sulit untuk menahan diri dan tidak sanggup untuk mendengarkan hinaan lain lagi dari semua orang yang ada disana, terutama dari orang yang paling aku cintai, dan dari orang yang selama ini aku pikir bisa melindungi aku, menjaga aku dan ada di sampingku.
Namun kini nyatanya, dia sama sekali tidak melaksanakan satu pun janji yang pernah dia ucapkan kepadaku sebelumnya, ini terlalu menyakitkan untukku dan aku rasa mungkin kehadiranku di tempat itu hanya untuk menjadi bahan hinaan saja bagi para orang kaya, yang memang tidak memiliki kelas sosial yang sama denganku.
"Benar....aku tidak mungkin menyukainya wanita seperti dia, aku justru sangat membencinya sekarang, aku sangat tidak senang jika harus makan dengan orang yang pernah menjadi pelayan rendahan sepertinya!" Balas tuan Arfanka saat itu dengan menatap tajam padaku.
Susah payah aku menelan salivaku sendiri dan terus saja menahan air mata yang sudah hampir tidak bisa aku tampung lagi saat itu, aku langsung berdiri dengan cepat dan segera memilih untuk meninggalkan tempat itu karena aku rasa kehadiranku memang sudah tidak di perlukan lagi.
"Baiklah tuan, jika anda memang sangat merasa benci terhadap saya, saya rasa saya jauh lebih membenci anda saat ini dan seterusnya, tapi setidaknya saya bersyukur karena meski saya miskin harta, tetapi saya tidak rusak hati seperti anda, terimakasih atas jamuan dan undangan yang anda berikan pada saya tuan Briantoro yang terhormat, tetapi saya harus pami dan sudah cukup anda semua menghina saya karena saya tahu sekarang kalian lebih hina di bandingkan pengemis jalanan yang setidaknya masih memiliki hati nurani!" Ucapku dengan penuh keberanian dan langsung membungkuk memberi hormat lalu pergi dari sana dengan cepat.
Kevin juga ikut marah dan dengan berani dia membentak tuan Arfanka saat itu juga termasuk kepada ayahnya.
"Hah....bagus...kalian membuat orang yang aku cintai terluka sampai dia bisa berkata seperti itu, kalian sangat hebat dalam hal merendahkan orang lain tanpa sadar bahwa diri sendiri sangat rendah, terutama dirimu Arfanka, nanti kau akan merasakan bagaimana rasanya di buang oleh ayahku, dan kau mulai saat ini aku minta coret saja aku dari kartu keluargamu, kau bukan ayahku lagi!" Ucap Kevin dengan penuh keberanian saat itu.
Tuan Arfanka sangat emosi tapi dia tidak bisa melakukan apapun hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat dan terus saja menahan emosi di dalam hatiku lalu ikut segera pergi dari sana dengan cepat, begitu pula dengan Riska yang mengejarnya saat itu.
Sedangkan tuan Briantoro terlihat sangat tenang dan dia hanya menunjukkan senyum kecil, wajahnya terus saja membuat siapapun akan merasa sangat curiga dengannya.
Entah apa yang sebenarnya tengah dia rencanakan saat itu.
Kevin dengan cepat berlari menyusulku dan dia langsung berteriak sambil berhasil menahan tanganku saat itu, tapi sayangnya aku sudah tidak bisa menahan air mata di wajahku lagi, aku sungguh tidak bisa berpura-pura untuk menjadi kuat saat itu, sampai Kevin mengetahui kelemahanku dan dia melihat aku tengah menangis tersedu-sedu di tengah jalan saat itu.
"Klara....Klara..tunggu, Klara!" teriak Kevin dan menahan tanganku cukup kuat sampai aku tidak bisa kabur ataupun melepaskannya saat itu.
__ADS_1
"Pergi dari sini Kevin, biarkan aku sendiri, aku tidak ingin hiks...kami hiks... melihat kondisi terlemah ku seperti ini," ucapku menyuruhnya untuk pergi saat itu.
Namun sayangnya bukannya pergi Kevin malah langsung menarik tanganku sampai aku terseret olehnya dan dia memelukku dengan erat saat itu, aku semakin tidak bisa berhenti dan terus menangis dalam pelukannya.