Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Baru Mengetahui


__ADS_3

Aku benar-benar merasa sangat kesal karena ditertawakan oleh Kevin seperti itu, dia juga terlihat berjalan dan duduk santai di sofa tanpa dosa membuat aku semakin kesal melihat dia bisa bersikap sesantai itu setelah mengejek aku dengan kelakuannya yang sangat menjengkelkan.


Aku tidak bisa menerima semua ini, sehingga langsung saja aku berjalan sambil menggerutu kesal menghampiri Kevin dengan langkah kaki yang cukup besar, menuruni tangga hingga sampai di hadapannya saat itu.


"Heh... Beraninya kau menertawakan aku seperti tadi, apa yang lucu untukmu hah?" Bentakku berkacak pinggang di hadapannya dengan sorot mata yang tajam.


Bukannya menjawab ucapanku David malah tetap saja terlihat santai dan parahnya dia malah berpura-pura seperti tidak mihat keberadaan dirinya disana, matanya terus menatap ke depan televisi dan dia sama sekali tidak melirik ke arahku, dia mengabaikan aku begitu saja, itu membuat aku semakin kesal dan emosi kepadanya namun sialnya tidak ada yang bisa aku lakukan sama sekali untuk melawan orang menyebalkan tersebut karena malam itu aku sudah kehilangan mood untuk bertengkar lagi dengannya.


Terlebih dia juga lebih berkuasa dengannya sehingga selain dari menggerutu sungguh aku tidak berdaya untuk melawa para orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan di dunia ini, mungkin di mata mereka orang-orang rendahan seperti aku hanyalah serpihan yang tidak berguna sehingga mereka terus memperlakukan aku seenaknya.


"Ehh..kenapa aku seperti mendengar suara orang aneh berbicara ya? Tapi dimana orangnya, apa jangan-jangan itu suara setan ya?" Ucap Kevin sambil terus saja berpura-pura tidak melihat keberadaanku saat itu.


"Aaarrghhhh...kau adalah manusia paling menjengkelkan, aku benar-benar berharap kau bisa menerima semua balasannya dari tuhan, meskipun aku tidak bisa membalasmu saat ini!" Ucapku kepadanya sambil menghentakkan kaki dan segera pergi dari hadapannya saat itu juga.


Namun disaat aku hendak pergi dia justru malah menahan tanganku dengan cepat, dan tentu saja itu membuat aku sangat heran dan mengerutkan kedua alisku sekaligus secara refleks.


"Kau....apa yang kau lakukan, lepaskan tanganku!" Bentakku kepadanya.


"Duduk." Balasnya yang malah menyuruhku untuk duduk di sampingnya saat itu.


Tentu saja aku merasa heran untuk apa juga dia mempersilahkan aku untuk duduk di sampingnya setelah baru saja dia menertawakan aku dan bersikap seakan tidak ingin melihat keberadaanku di hadapannya yang padahal tubuhku ini berada tepat di hadapannya, dimana mustahil sekali jika dia tidak bisa melihat keberadaanku sebelumnya.


Jadi saat dia menyuruhku untuk duduk di sampingnya, jelas aku menolak itu dan langsung saja menghempaskan tanganku yang dia genggam dengan kuat saat itu juga.


"Tidak....lepaskan!" Balasku sambil menghempaskan tangannya dengan sekuat tenagaku, hingga tanganku bisa benar-benar terlepas darinya.


"Kau berani melawanku ya? Apa kau tidak tahu jika aku seorang Kevin Briantoro dan aku jauh lebih kuat serta berkuasa di bandingkan tuanmu si Arfanka yang anak pungut itu!" Bentak Kevin sambil bangkit berdiri dan mendesakku hingga aku jatuh dan terduduk di meja saat itu.


Aku terperangah membelalakkan mataku sendiri saat mendengar Kevin mengatakan bahwa tua Arfanka adalah anak pungut dalam keluarga Briantoro, aku yang sebelumnya sama sekali tidak mengetahui apapun dan hanya berpikir bahwa mereka saudara kandung tentu sangat kaget saat pertama kali mendengarnya, jadi itu membuatku langsung terperangah dan jatuh saking kagetnya mendengar hal tersebut.


Kevin terus mendekatiku sambil memperingati aku dengan sorot matanya yang begitu tajam dan badannya yang condong ke wajahku terus menerus.


"Aku peringatkan kepadamu Klara, jika kau berani untuk melawan aku, maka aku bisa dengan mudah melaporkan keberadaanmu di rumah ini kepada ayahku Briantoro dan bukan hanya kau yang akan berada dalam masalah tetapi Arfanka juga akan menerima akibatnya, apa kau mengerti hah!" Ucapnya sambil segera duduk kembali di sofa setelah mendesak aku seperti itu.

__ADS_1


Aku masih linglung dan terus memikirkan tentang hal yang baru saja di bicarakan oleh Kevin kepadaku, tapi bukan fokus kepada peringatan dan ancaman yang dia katakan melainkan pada ucapan dia sebelumnya.


"A...AA..apa? Kevin apa kau sungguh mengatakan yang sebenarnya?" Tanyaku lagi seakan masih belum bisa mempercayai apa yang Kevin katakan kepadaku sebelumnya.


Kevin justru malah mengira bahwa Klara kaget dan takut dengan ancaman yang dia berikan sehingga dia langsung menyilangkan kakinya dan merasa bahwa dirinya berhasil untuk menaklukkan Klara saat itu.


"Hah.... Tentu saja aku benar, apa wajahku ini terlihat bercanda di matamu hah?" Balas dia lagi yang membuat aku langsung menghembuskan nafas lesu dan tidak menduga.


"Jadi...kau dan tuan Arfanka.... Kalian saudara angkat?" Ucapku bertanya lagi untuk memastikannya, karena masih belum percaya sepenuhnya saat itu.


Kevin yang mendengar itu dia langsung mengerutkan kedua alisnya dan baru saja tersadar bahwa selama tadi, Klara membicarakan mengenai hubungannya dengan tuan Arfanka bukan mengenai peringatan yang dia berikan untuk mendesak dan menaklukkan Klara, sesuai dengan pemikiran yang dia duga sebelumnya saat itu.


"Aishh...jadi sedari tadi yang kau maksud adalah urusan ini? Aahhh..sial!" Gerutu Kevin sambil mengusap kepalanya dengan kesal.


"Eehhh ..memangnya kau pikir apa yang aku tanyakan? Sedari tadi bukannya kita membahas hal ini?" Balasku dengan heran kepadanya.


"Aaahh terserah kau saja, dasar otak setengah, sana kau pergi membuat aku kesal saja," jawab Kevin memalingkan pandangannya dariku dengan cepat.


Tapi aku tidak ingin pergi saat itu karena aku sudah terlanjur merasa sangat penasaran dengan hubungan Kevin dengan tuan Arfanka, lagi pula itu Kevin sendiri yang sudah memulainya membuat aku menjadi mengetahui hal pribadi tersebut dan aku menjadi sangat penasaran sekali kepadanya saat ini.


Aku tidak bisa menahan rasa kepenasaranan di dalam diriku sendiri saat itu, maka dari itu langsung saja aku menanyakan semua itu kepada Kevin agar menjadi jelas dan aku tidak perlu terganggu lagi dengan hal tersebut nantinya, sebab jika aku tidak menanyakannya aku akan terus memikirkan hal tersebut tanpa henti dan mungkin saja tidak akan bisa tidur jika masih belum bisa mengetahui kepastiannya.


"Iya ..itu benar, apa lagi yang ingin kau tahu, lagi pula apa kau mihat kami mirip haha...dia jelas sangat berbeda denganku dan jauh di bawahku" balas Kevin memperjelas semuanya.


Aku kembali terperangah lebar mendengar jawaban itu dari Kevin, benar-benar tidak terpikirkan olehku kalau mereka ternyata bukan saudara kandung, itu cukup mengagetkan untukku.


Sedangka Kevin Briantoro yang melihat Klara terlihat terus saja terperangah kaget mendengar hal tersebut dia mulai merasa aneh kepadanya dan segera menanyai dia balik, karena baginya ekspresi yang di keluarkan oleh Klara cukup mencurigakan.


"Heh ..kenapa juga kau harus kaget dan terus terperangah, semua orang sudah mengetahui mengenai hal ini, apa kau benar-benar tidak mengetahuinya sama sekali?" Tanya Kevin kepadaku,


"Tentu saja aku baru mengetahui darimu saat ini, makanya aku kaget, jika sudah tahu sejak awal mana mungkin aku kaget dan jika aku tahu sejak awal aku akan berani melawannya dan tidak perlu lagi aku bekerja kepadanya untuk melunasi uang yang di pakai ibuku, aku tidak perlu bekerja sebagai pelayan untuknya seperti ini, menyia-nyiakan semua waktuku dan membuat aku tidak bisa menikmati hidup yang sebenarnya, setiap hari hanya terus diam di dalam rumah ini dan bekerja membereskan semuanya seorang diri, apalagi sekarang bi Evi sakit dan dirawat aku benar-benar harus mengerjakan semuanya sendiri, kau pikir itu tidak melelahkan apa?" Balasku kepadanya sambil terus mengeluhkan banyak hal yang membuatku kesal.


Kevin mendengarkan semua keluhanku namun raut wajahnya terlihat seperti orang licik yang senang mendengar penderitaan yang aku dapatkan selama ini, sehingga aku langsung menatapnya tajam saat itu juga.

__ADS_1


"Heh ..apa maksud dari tatapan matamu itu? Apa kau sangat senang ya aku menderita?" Kataku padanya sedikit meninggikan badan suara.


"AA..ahhh..apa, wajahku memang seperti ini, sudahlah minggir kau aku mau pergi" ucap Kevin sambil menyenggol sebelah bahuku dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya dengan cepat.


Aku mengerutkan kedua alisku dengan perasan heran dan tidak menentu melihat dia masuk dengan wajah yang menahan senyum seperti itu, dia benar-benar sangat mencurigakan bagiku saat itu, tapi aku tidak mau memikirkannya lagi karena sudah tahu dia memang orang yang sanga aneh dan memiliki banyak rahasia di dalamnya, tidak perlu aku memikirkannya karena dia tidak penting dalam hidupku.


Sedang disisi lain tuan Arfanka sendiri terus merasakan jantungnya yang tidak bisa berhenti berdetak kencang, dia juga terus membawangkan mengenai ciuman yang terjadi diantara dia dan Klara, bahkan dirinya sendiri merasa heran dengan semua hal yang terjadi kepadanya setiap kali dia berhadapan dengan Klara.


"Bagaimana bisa aku memiliki perasaan aneh seperti ini kepadanya, apa aku gugup dengan wanita sepertinya? Aahhh tidak mungkin juga, aku sudah dekat dengan banyak wanita selama ini, tapi ini adalah yang pertama kalinya aku seperti ini di hadapan wanita" gerutu tuan Arfanka lagi yang terus memikirkannya tanpa henti.


Tanpa sadar dia sendiri belum menyadari perasaan sukanya terhadap Klara saat itu, berbeda dengan Kevin Briantoro dimana dia justru malah sudah mengakui hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh kakak angkatnya.


Kini setelah dia pergi meninggalkan Klara dia justru terus merasa senang dan merebahkan tubuhnya sambil memeluk guling yang ada di sampingnya saat itu, dia terlihat sangat senang dan begitu bahagia, terus menggulingkan tubuhnya ke samping kanan dan kiri terus menerus bergantian untuk beberapa saat.


"Aaahhh....aku sangat senang sekali, apa yang baru saja dia katakan, ternyata dia sama sekali tidak senang dan tidak bahagia bekerja disini kalau begitu aku bisa membawanya pergi denganku bukan? Ahahah....lihat saja nanti kau Arfanka aku benar-benar akan mengambil semua hal di sampingmu, jangan harap kau bisa bahagia di atas kekesalanku selama ini!" Ucap Kevin terus saja tersenyum lebar dan mengubah ekspresi wajahnya sesekali.


Dia sangat bahagia karena sudah mengetahui bahwa Klara benar-benar masuk ke rumah itu karena sebuah paksaan dari tuan Arfanka sekali, karena sudah mengetahui hal itu Kevin pun segera mengecek kembali surat kontrak diantara Klara dan Arfanka yang sudah dia fotret di ponselnya saat itu, dia memeriksa dan membaca surat kontrak itu dengan lebih teliti.


Hingga dia benar-benar mengetahui semuanya termasuk dengan uang satu milion dollar yang menjadi bahan atau penyebab Klara harus terkurung di bawah kekuasaan tuan Arfanka dan membuatnya begitu menurut dengan semua perintah dan aturan yang di buat oleh tuan Arfanka selama ini.


"Aahhh... Jadi hanya karena uang satu milion dollar saja dia bisa terpaksa tinggal dan bekerja dengannya, ini terlalu mudah untukku mengambilnya, haha.... Semuanya akan segera di mulai" ucap Kevin dengan tatapan wajahnya yang sinis dan sudah menyimpan rencana besar di dalam otaknya saat itu.


Tuan Arfanka yang biasanya sangat hati-hati rupanya dia juga bisa menjadi lengah sama seperti saat ini, dimana dia mungkin tidak akan mengetahui bahwa ancaman mulai mendekati dirinya tetapi dia terus saja bersikap tenang dan santai, dia mempercayai ayah angkatnya tersebut dan terus mengikuti semua hal yang di ucapkan dan di perintahkan oleh ayah angkatnya sendiri, meski sekalipun dia tahu bahwa ayah angkatnya hanya memperalat dirinya sendiri.


Hanya demi membalas budi atas semua pengorbanan dan usaha ayah angkatnya tuan Briantoro yang sudah menghidupi dia sejak kecil hingga sebesar sekarang, maka tuan Arfanka seakan harus membayar kembali semua pengeluaran yang di berikan oleh tuan Briantoro selama ini, baru dia bisa terbebas dari genggamannya atau dia bisa memberikan rahasia besar dan semua usaha yang dia lakukan untuk membesarkan usahanya saat ini kepada Kevin putra kandung dan sang pewaris kekayaan keluarga Briantoro yang sesungguhnya.


Namun sayangnya tuan Arfanka sama sekali tidak pernah mau menyetujui hal itu karena dia berpikir bahwa hanya hal itu saja yang dia miliki dan sangat berharga baginya di dunia ini, karena dia tidak memiliki keluarga, tidak memiliki pasangan dan orang yang memperdulikan dia di belakangnya, bahkan dia hanya memiliki seorang teman saja yang selalu dia andalkan dan dia percaya sejak kecil tidak lain dan tidak bukan itu adalah sekretaris Jeno.


Tapi sayangnya malam ini sekretaris Jeno sendiri juga berada dalam kesulitan yang sangat berat bagi dirinya, dimana dia mengetahui bahwa keadaan adiknya turun drastis secara tiba-tiba dan dia harus melakukan operasi darurat secepatnya dengan biaya yang tidak sedikit, dia ingin menyelamatkan adiknya namun dia tidak memilik uang sebanyak itu untuk membiayai adiknya dan merujuk adiknya ke rumah sakit Singapura seperti yang di rekomendasikan oleh dokter disana.


"Dokter apakah dia benar-benar tidak bisa mendapatkan pengobatan di sini saja? Saya tidak bisa membiarkan dia berobat seorang diri di negara lain dokter, kami tidak memiliki keluarga lain yang bisa menjaganya" ucap sekretaris Jeno meminta kepada dokter yang merawat adiknya selama ini.


"Ada satu jalan lain sekretaris Jeno, anda bisa memanggil dokternya secara khusus kemari, dan dia bisa membantu saya melakukan operasinya saja, setelah itu kami disini juga bisa menangani perawatan adik anda setelah operasi dilakukan ini sangat mendesak sekretaris Jeno, anda harus membuat keputusan yang baik" ucap sang dokter sambil menepuk pundak sekretaris Jeno dengan pelan.

__ADS_1


Sekretaris Jeno menarik nafas dengan cepat dan membuangnya begitu berat, dia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa berdiri linglung dengan sebelah tangan di pinggang dan satunya lagi terus mengacak rambutnya dengan kasar, memikirkan cara terbaik yang bisa dia lakukan untuk membantu kesembuhan adik tercinta sekaligus satu-satunya anggota keluarga yang dia miliki saat ini.


__ADS_2