
Selama di perjalanan Kirei nampak begitu akur dan sangat dekat dengan tuan Arfanka mereka juga sesekali menatap ke arahku dan mengajak ngobrol aku saat itu, aku hanya ikut saja dalam obrolan mereka yang menceritakan tentang bagaimana aku selama tinggal di kediaman tuan Arfanka selama ini.
"Ohh...ya tuan kamu tenang saja sekarang kakak meski tinggal di apartemen milik adikmu tapi dia tidak tinggal serumah dengannya kok, bahkan aku saja belum pernah Ketu dengan adikmu itu, dia hanya menyewakan apartemennya saja pada kakak," ucap Kirei yang membuat aku heran.
"Syuutt...Kirei apa yang kamu bicarakan, untuk apa kamu mengatakannya pada tuan Arfanka. Lagi pula semua ini tidak ada urusannya dengan beliau," ucapku untuk memberitahu Kirei saat itu.
Namun yang tidak aku sangka tuan Arfanka tiba-tiba saja menyahuti ucapan aku barusan dan dia justru malah mengatakan bahwa semua ini penting baginya dan ada urusan dengannya, padahal yang aku pikir semua itu sama sekali tidak ada urusannya karena memang aku dan tuan Arfanka tidak memiliki hubungan apapun selain dari mantan majikan dan mantan pelayannya dulu.
"Tidak...siapa bilang semua itu tidak ada urusannya denganku, itu penting untukku." Balas tuan Arfanka menyahuti begitu saja.
Aku refleks langsung saja terbelalak menatap lekat kepadanya dengan penuh keheranan dan merasa aneh juga kebingungan sendiri dengannya.
Tuan Arfanka sendiri juga malah tersenyum kecil dan mereka kembali mengobrol seperti sebelumnya lagi, aku hanya benar-benar menjadi seperti patung atau nyamuk saja diantar mereka berdua yang terlihat begitu asik satu sama lain.
Sedangkan disisi lain Kevin yang saat ini tengah di sibukkan dengan pekerjaan yang harus dia lakukan dia mulai memahami sedikit demi sedikit semua pembelajaran dala bisnis dan cara mengelola perusahaan pusat itu, dia memang sama pintarnya dengan tuan Arfanka hanya saja dia masih harus tetap banyak berusaha dan belajar untuk bisa menyaingi tuan Arfanka, sedangkan tuan Arfanka sendiri dia tetap menjadi sangat pandai meski tidak belajar sebab dia memang sudah jenius sejak pertama kali di temukan oleh tuan besar Briantoro.
Sekretaris Jeno juga baru saja kembali ke negara itu setelah semua operasi yang dilakukan oleh adiknya sudah selesai dan sekarang sang adik sudah menjadi stabil hanya tinggal dalam proses penyembuhan yang bisa di lakukan di rumah sakit sebelumnya dia di rawat.
Namun masalahnya kini sekretaris Jeno harus menghadapi tuan besar Briantoro karena mau bagaimana pun diam-diam tanpa sepengetahuan tuan Arfanka dia mendapatkan semua biaya untuk pengobatan adiknya dari tuan Briantoro, saat sudah memastikan sang adik baik-baik saja dan dia terlihat mulai bisa beraktivitas seperti sedia kala walau masih belum sembuh total seratus persen, kini tuan Briantoro sudah menghubungi dia berkali-kali sejak dia pertama kali datang ke negara tersebut.
Kini sekretaris Jeno juga merasa kebingungan sendiri dia tidak bisa untuk pergi ke sana menuruti tuan Briantoro lagi, meski dia sudah memegangi sebuah data yang sangat penting milik tuan Arfanka dalam menjalankan perusahaan, tetapi dia masih merasa ragu untuk memberikannya kepada tuan Briantoro.
Tetapi karena terus saja mendapatkan desakkan akhirnya sekretaris Jeno tetap pergi menemui tuan Briantoro dan dia juga masih membutuhkan biaya penyembuhan total untuk adik satu-satunya, dia segera menemui tuan Briantoro di kediamannya dan kini mereka mulai berhadapan satu sama lain.
Tuan Briantoro terlihat tersenyum kecil dan tentu saja dia sangat senang ketika melihat sekretaris Jeno sudah bisa dia taklukkan dan bisa dia jadikan kaki tangan sebagai pengkhianat yang paling bagus untuk Arfanka.
"Bagus...haha.. akhirnya kau tiba, aku pikir kau akan berkhianat juga padaku Jeno," ucap tuan Briantoro sengaja menyinggungnya.
"Katakan saja tuan apa lagi yang kamu inginkan?" Ucap sekretaris Jeno dengan wajahnya yang sangat serius sekali.
"Hahah..jangan terlalu serius dan terburu-buru seperti ini sekretaris Jeno, kita harus melakukannya secara perlahan agar pisaunya bisa menancap dengan tepat, kamu tahu sejak lama bagaimana cara kerjaku bukan? Hahaha.... sekretaris Jeno sekretaris Jeno." Ucap tuan Briantoro yang sangat membuat kesal sekretaris Jeno saat itu.
__ADS_1
Dia sangat emosi sekali tetapi tidak bisa melakukan apapun kepada tuan Briantoro dan hanya bisa menurutinya karena dia sudah terlanjur memakai semua uang dari tuan Briantoro yang bahkan sampai sekarang masih dia perlukan, sehingga sekretaris Jeno terus saja berusaha keras menahan semua emosi dan kekesalan di dalam dirinya dan tetap harus mengkhianati tuan Arfanka yang merupakan sahabatnya sejak kecil dan sekretaris Jeno adalah satu satunya orang yang paling di percaya oleh tuan Arfanka selama ini.
Disaat keadaannya semakin panas dan penuh emosi seperti itu, tuan Briantoro berjalan mendekati sekretaris Jeno dan dia mulai meminta data penting dan rahasia yang ada di tangan sekretaris Jeno saat itu.
"Sekretaris Jeno berikan data rahasianya kepadaku, bukankah kau juga menyimpannya saat ini?" Ucap tuan Briantoro sambil terus mendekatinya dan mendesak sekretaris Jeno terus menerus.
Sampai sekretaris Jeno terpaksa harus memberikan data penting tersebut dan dia terpaksa mengambil data itu dari saku jasnya dan memberikannya dengan tangan yang bergetar hebat kepada tuan Briantoro saat itu, sedangkan tuan Briantoro sendiri terlihat terus saja tersenyum lebar dan dia mulai tertawa dengan sangat lebar karena dia merasa puas dengan hasil kerja dari sekretaris Jeno yang benar-benar sudah mau memberikannya data rahasia tersebut secara utuh.
Bahkan saat itu juga tuan Briantoro meminta asisten pribadinya untuk memeriksa isi dari data itu untuk memastikan bahwa sekretaris Jeno memberikan data yang benar dan tidak mencoba untuk menipu dirinya.
Sekretaris Jeno terus saja mengeratkan giginya dan menatap dengan tajam kepada tuan Briantoro yang bahkan masih saja tidak mempercayai dirinya saat itu, padahal dia sudah mengkhianati sahabat terbaiknya yang selalu membantu dirinya selama ini.
"CK...tuan Briantoro yang terhormat, jika anda tidak mempercayai saya seharusnya sejak awal anda tidak meminta saya untuk melakukan hal bejat seperti ini!" Ucap sekretaris Jeno kepada tuan Briantoro saat itu.
"Oh..hahaha..kenapa sekretaris Jeno, apa kau merasa sakit hati? Atau apakah kau merasa takut, kau tenang saja jika memang dirimu tidak menipuku," balas tuan Briantoro kepada sekretaris Jeno.
Semuanya sudah di periksa dengan teliti dan ternyata data yang di berikan oleh sekretaris Jeno kepadanya adalah sebuah data sungguhan bahkan kini tuan Briantoro sudah bisa menguasai pasar saham bahkan mengalahkan tuan Arfanka dengan sangat mudah menggunakan data milik tuan Arfanka sendiri.
"Ahahaha..bagus...bagus sekali sekretaris Jeno, kamu memang bekerja dengan sangat baik dan sudah memilih orang yang tepat dengan bekerjasama denganku, aku akan menjadikanmu wakil dari CEO jika semua rencana kita berhasil nanti, hahahaha..aku akan bisa menyingkirkan anak sialan itu!" Ucap tuan Briantoro dengan diiringi tawanya yang sangat menggelegar saat itu.
*******
Kembali padaku dan tuan Arfanka kami baru saja sampai di depan apartemenku saat itu dan tuan Arfanka bahkan membukakan pintu untukku sedangkan Kirei langsung naik ke atas karena tuan Arfanka meminta waktu untuk kami bicara berdua saja saat itu.
"Klara bisakah kita bicara berdua untuk beberapa menit saja?" Tanya tuan Arfanka kepadaku saat itu.
Dan sebelum aku membalasnya Kirei malah sudah menyetujui dia begitu saja, dia pergi dari sana seperti dengan sengaja memberikan ruang untuk aku dan tuan Arfanka bisa bicara dengan leluasanya berdua saja saat itu.
"Oh..tentu saja boleh dan sangat bisa, aku akan pergi ke dalam lebih dulu, kalian bicarakan masalah kalian dengan benar aku akan menunggu kabar baiknya nanti, dahh," ucap Kirei yang langsung pergi dengan melambaikan tangan begitu saja.
"Ehh..Kirei...Kirei...tunggu, aishh kenapa anak itu menjadi seperti ini sih," gerutuku yang gagal untuk menghentikannya saat itu.
__ADS_1
Tuan Arfanka hanya tersenyum kecil saja menanggapi aku yang merasa sangat kesal kepada Kirei dan tiba-tiba saja dia mulai menggenggam tanganku dan ini adalah yang kedua kalinya dia mengungkapkan perasaannya kepadaku saat ini, dan kini aku semakin bingung bagaimana untuk menjawabnya.
"Klara aku ingin menunggu jawaban darimu, tolong beri aku jawaban dan kepastian, apa kau mau menerima aku atau tidak?" Ucap tuan Arfanka kepadaku lagi saat itu.
Jantungku semakin berdebar kencang dan tidak menentu apa lagi saat mendapatkan tatapan sedekat itu dari tuan Arfanka, rasanya aku benar-benar sangat tidak sanggup untuk menolaknya jadi saat itu aku langsung mengangguk menerima dia karena memang aku juga sangat mencintainya, meski rintangan apapun yang akan aku hadapi nantinya aku akan tetap melewatinya bersama.
"Eum...aku mau aku juga menyayangimu tuan," balasku kepadanya saat itu sambil terus tersenyum menampakkan kebahagiaan di hadapan dirinya.
Tuan Arfanka langsung memelukku dengan sangat erat dan aku juga membalas pelukannya, mulai saat itu kami sudah resmi menjadi sebuah pasangan meski kami tidak tinggal bersama lagi tetapi yang tidak Klara ketahui di sisi lain ada anak buah tuan Briantoro yang terus mengikuti tuan Arfanka kemanapun dia pergi dia terus mengikutinya dan menata matai semua gerak gerik tuan Arfanka.
Saat mendapatkan tuan Arfanka berpelukan dengan Klara tentu saja anak buah itu langsung memotret kejadian tersebut, dari satu sisi dimana itu hanya menunjukkan punggung Klara saja, lalu dia langsung mengirimkannya kepada tuan Briantoro.
Hingga setelah sampai di tangan tuan Briantoro dia hanya tersenyum kecil melihatnya karena bagi tuan Briantoro jika tuan Arfanka benar-benar sudah menyukai wanita itu akan lebih mudah lagi bagi dia mengambil alih semua perusahaan dan apa yang dia miliki tanpa melibatkan tuan Arfanka yang harus menjadi pemimpin perusahaan.
"Hahaha...bagus...bagus...bagus sekali, sekretaris Jeno lihatlah kemari, kau juga kaget bukan melihat sahabatmu ini mulai menyukai seorang wanita, apa menurutmu wanita ini terlihat seperti Riska, wanita yang kamu sukai, aku sudah menjodohkan mereka dan ternyata Arfanka memilih wanita lain, bukankah ini dia lakukan demi dirimu, ohhh persahabatan kalian memang sangat baik hahaha," ucap tuan Briantoro yang semakin membuat sekretaris Jeno merasa kesal.
Dia tahu yang ada di foto tersebut adalah Klara bukan Riska jadi sekretaris Jeno tidak terpancing emosi dengan tuan Briantoro dan dia juga merasa sedikit lega karena wajah Klara di foto itu sama sekali tidak terlihat jadi identitas dia masih bisa di jaga.
"Kenapa Arfanka menjadi bodoh dan ceroboh seperti ini, aku harus memberitahu dia," batin sekretaris Jeno saat itu.
Setelah sekretaris Jeno keluar dari kediaman tuan Briantoro dia segera mengirimkan pesan peringatan kepada tuan Arfanka agar tuan Arfanka bisa menjadi lebih hati-hati lagi, dia terus mencemaskan mengenai tuan Arfanka dan rasa bersalah yang ada di dalam dirinya terus saja terasa begitu besar, sekretaris Jeno mengirimkan pesan sambil mengemudi saat itu, sampai dia menjadi tidak fokus dan tiba-tiba ketika dia menatap ke depan ada sebuah mobil lain yang tiba-tiba saja muncul dengan kecepatan tinggi dan seperti disengaja menabrakkan diri kepada mobilnya saat itu.
Hingga kecelakaan tidak dapat di hindari lagi.
"Aaarrkkkkkk......jbreddd... brukkk....duarrr," suara tabrakan yang sangat kencang dan ledakan yang besar muncul dari mobil yang di kemudian oleh sekretaris Jeno.
Dia bahkan terpental ke luar dari mobilnya dalam jarak yang cukup jauh dan tidak sadarkan diri dalam seketika.
Diam-diam di belakang layar tuan Briantoro semakin tersenyum jahat dan sinis karena dia berhasil menyingkirkan satu benalu yang menyusahkan dirinya, sebab dia tidak akan mungkin benar-benar harus terus membiayai pengobatan dari adiknya sekretaris Jeno setelah memberikan biaya operasi yang sangat besar sebelumnya.
Dia memang orang yang sudah merencanakan semuanya dan tawa menggelegar sekali lagi terdengar sangat jelas ketika dia mendapatkan kabar dari anak buahnya bahwa kemungkinan sekretaris Jeno terbakar di dalam mobil yang dia kemudikan saat itu.
__ADS_1
Padahal di sisi lain sekretaris Jeno masih sempat meloncat dari mobilnya sebelum dia benar-benar terpental karena ledakkan yang besar itu, setidaknya dia tidak benar-benar mati terbakar di dalam mobil seperti yang di pikirkan oleh tuan Briantoro saat itu.
"Hahaha..bagus bagus sekali, cepat pergi dari sana dan jangan sampai meninggalkan jejak sedikit pun, kalian tidak boleh menyeret kasus ini ke dalam hukum," ucap tuan Briantoro dalam panggilan telponnya dengan anak buah yang sudah mengorbankan dirinya demi kerakusan seorang tuan Briantoro saat itu.