
Dan yang meninggal di dalam sana adalah anak buah tuan Briantoro sebab dia tidak sempat meloncat dari mobilnya, tetapi polisi yang datang ke TKP justru keliru dalam mengenalinya karena mereka mengenakan jenis mobil juga muncul di waktu yang sama, dimana saat itu polisi mengidentifikasi bahwa tulang belulang disana adalah milik dari sekretaris Jeno dan kemungkinan semua tubuhnya sudah hancur karena ledakkan bahkan polisi berpikir bisa saja tulang manusia juga akan menjadi abu sebab ledakannya yang sangat besar bahkan memadamkan apinya saja membutuhkan beberapa waktu sebab hampir menyebabkan kebakaran ke tempat di sekelilingnya saat itu.
Tuan Arfanka yang mendapatkan kabar tersebut dia sangat syok dan panik dia terus saja pergi ke lokasi dengan ditemani olehku saat itu, dan sesampainya disana kondisi mobilnya benar-benar sudah sangat hancur dan tidak berbentuk lagi, tuan Arfanka menangis terpuruk sampai tertunduk di tanah dan berteriak sangat kencang merasakan sebuah kehilangan yang begitu mendalam.
"Aaarrkkkkk...tidak aku harus melihat ke sana dia pasti masih hidup, Jeno bukan orang ceroboh...dia pasti akan bertahan demi adiknya...tidak, lepaskan aku!" Teriak tuan Arfanka yang mulai berontak dengan keras karena dia ingin memeriksanya secara langsung seorang diri namun pihak kepolisian menahannya karena kawasan itu benar-benar sangat berbahaya saat ini.
Aku segera berusaha untuk menenangkan tuan Arfanka dan kami hanya bisa berserah pada pihak kepolisian yang akan mencari tahu semua sebab dari kecelakaan itu.
"Tuan.... bersabarlah tuan, kamu harus bisa menerima semua ini, kamu tidak boleh bersikap seperti ini, ayo tuan kita pergi dari sini dan biarkan polisi yang menangani semuanya, hanya ada satu mayat yang mereka temukan aku yakin sekretaris Jeno pasti selamat, kita bisa mencarinya saat polisi tidak ada," ucapku memberikan sebuah solusi kepadanya.
Setelah mendengarkan ucapanku akhirnya tuan Arfanka mau segera bangkit dan berdiri dengan tegak lagi, aku memapah dia dan membawanya masuk ke dalam mobil dengan segera lalu kami terus memperhatikan semua orang yang berada disana sampai seseorang yang mencurigakan terlihat oleh tuan Arfanka saat itu.
"Hah....tunggu, bukankah itu anak buah ayah? Mengapa dia bisa ada disini, dan apa yang tengah dia potret, atau jangan-jangan." Ucap tuan Arfanka yang membuat aku menatap ke arahnya dengan penuh kebingungan.
"Jangan-jangan apa tuan?" Tanyaku kepadanya saat itu.
"Apa kamu memiliki kontak Kevin?" Tanya tuan Arfanka secara tiba-tiba kepadaku.
Aku mengangguk dan dia langsung meminta ponselku, aku memberikannya dengan cepat, tuan Arfanka terus menghubungi Kevin sampai akhirnya Kevin bisa menjawab panggilan darinya dengan membentak kesal karena dia merasa di ganggu olehku saat itu padahal tuan Arfanka yang menelpon dia saat itu.
"Aish...ada apa sih, kenapa kau terus menelponku, aku menyesal memberikanmu ponsel itu, kau mengganggu belajarku saja apa kau mau aku usir ya!" Bentak Kevin dengan sangat kencang dan aku bisa mendengarnya karena tuan Arfanka memperbesarnya volume di ponselku saat itu.
Aku merasa kesal dan cukup malu dengan tuan Arfanka ketika mendengar ocehan dari Kevin dia sebrang ponsel tersebut, padahal aku tidak pernah menghubungi dia lewat telpon selama aku memiliki ponsel tersebut tetapi sekalinya aku menghubungi Kevin dia sudah marah-marah tidak jelas seperti itu kepadaku.
Namun untungnya dengan cepat tuan Arfanka langsung saja membalas ucapan dari Kevin dengan ucapan yang lebih tenang namun terdengar sangat serius dan penuh tekanan.
"Diam kau! Ini aku Arfanka bukan Klara, kau harus mendengarkan ku Kevin, ini adalah hal yang sangat penting dan mendesak." Ucap tuan Arfanka yang sama sekali tidak di gubris oleh Kevin saat itu.
"Aishh...kenapa kau memegangi ponsel manusia menjengkelkan itu, dimana kau sekarang apa kau sedang dengan manusia gembel itu ya? Aishh kalian berdua ini memang sangat merepotkan hidupku!" Bentak Kevin yang terus saja uring-uringan tidak jelas membuat tuan Arfanka semakin tersulit emosi saat itu.
"Heh..apakah kau tidak bisa diam sebentar saja, dengarkan aku dengan baik!" Bentak tuan Arfanka kepadanya dengan wajah yang sangat kesal.
Akhirnya Kevin mau diam dan mau mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh tuan Arfanka kepadanya saat itu.
__ADS_1
"Aahh..baik baik ayo cepat katakan apa yang mau kau bicarakan aku sangat sibuk sekarang," ucap dia masih membuat kesal tuan Arfanka.
Namun untungnya tuan Arfanka masih bisa menahan kesalahan dia dalam menghadapi Kevin karena dia mengetahui bagaimana situasinya saat ini dan tidak tepat jika dia harus sama marahnya dengan Kevin sebelumnya.
"Kevin apa kau tahu bahwa sekretaris Jeno mengalami kecelakaan? Dan dimana ayahmu berada sekarang? Apa kau tahu itu?" Ucap tuan Arfanka kepadanya.
Kevin tentu saja sangat kaget ketika mendengar kabar tentang sekretaris Jeno dari tuan Arfanka saat itu dan seperti biasa dia yang sangat rempong dan selalu banyak bicara langsung berteriak kencang sangat syok mendengar sekretaris Jeno mengalami kecelakaan.
"Apa kau bilang? Sekretaris Jeno kecelakaan? Bukankah dia masih di luar negeri bagaimana bisa dia kecelakaan, atau dia kecelakaan di luar negeri ya?" Ucap Kevin yang semakin tidak nyambung.
"Aishh..dasar kau ini sudahlah jika kau ingin tahu semuanya datang ke alamat yang sudah aku kirim lewat pesan padamu, sekaligus ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan, cepat kemari bodoh!" Ucap tuan Arfanka sambil langsung menutup panggilan telponnya.
Tentu saja Kevin merasa sangat kesal dan dia terus merutuki tuan Arfanka sepuasnya dan sebisa yang dia lakukan saat itu karena tuan Arfanka yang sudah berani mengatai dia bodoh, dan tentu saja saat itu juga Kevin segera bergegas ke alamat yang dia dapatkan dari tuan Arfanka saat itu, hingga sesampainya disana dia sangat kaget melihat ada dua mobil yang tidak berbentuk di pinggir jalan dan tengah siap untuk di derek pergi dari sana.
Dia melihat plat nomor mobil itu dan yang satunya dia sangat kenal sekali bahwa itu adalah plat nomor identitas dari mobil ayahnya yang selalu di berikan kepada para penjaga di rumahnya, sedangkan yang satunya lagi Kevin tidak tau itu milik siapa tetapi untungnya Kevin segera memotret plat nomor mobil yang dia duga milik ayahnya tersebut, lalu dia segera di panggil olehku karena terus berjalan luntang lantung di dekat pembatas tanpa arah.
"Hei....Kevin disini!" Teriakku kepadanya sambil melambaikan tangan.
Sampai akhirnya dia datang menghampiriku dan masuk ke dalam mobil tuan Arfanka saat itu, dia juga kaget melihat ada aku juga disana.
Entah kenapa saat ini dia terdengar jauh lebih sensitif di bandingkan biasanya dan wajahnya juga terlihat kusut sekali, mungkin dia baru saja mendapatkan kesulitan di belakang kami yang tidak siapapun ketahui.
Tuan Arfanka langsung saja berbalik kepadanya dan memberikan tatapan sangat tajam saat itu juga agar Kevin bisa diam dan tidak memberontak lagi dengannya saat itu.
"Heh diam kau, aku menyuruhmu kesini bukan karena hal itu, tetapi kau lihat di depan barusan bukan, itu adalah mobil sekretaris Jeno dengan mobil yang memiliki identitas ayahmu, mereka mengalami kecelakaan tetapi posisi mobil yang satunya sangat mencurigakan seakan di tabrakkan oleh orang yang mengemudi di dalamnya dengan sengaja, dan polisi mengira mobil itu adalah mobil sekretaris Jeno yang menabrak mobil yang tengah parkir disana, padahal itu jelas sangat salah, semuanya tidak masuk akal jika begini, menurutmu siapa yang bisa menutup kasus sebesar ini di kota dan negara ini selain dari ayahmu," ucap tuan Arfanka kepada Kevin yang langsung membuat Kevin berpikir keras sampai dia mengerutkan kedua alisnya dengan kuat saat itu.
"Jadi maksudmu semua ini adalah rencana yang dibuat dengan sengaja oleh ayahku?" Tanya Kevin memastikan semuanya.
"Benar tapi kita harus mencaritahu lagi apa alasan dia melakukan semua ini, bahkan sekretaris Jeno masih belum bisa di temukan kita akan mencari dia di sekitar sini nanti malam, dan kau lihat ke sana orang itu terus memotret semua kejadian disini dan lihat seragam yang dia kenakan, itu mirip sekali dengan seragam bodyguard di rumahmu, dan kau pasti akan mengenali wajahnya jika dia memang salah satu bodyguard di rumah kebesaran Briantoro bukan?" Ucap tuan Arfanka menambahkan sambil menunjuk ke arah pria yang dia curigai saat itu.
Saat Kevin memperhatikan pria itu dia memang seperti tidak asing dengan wajahnya tetapi dia masih belum bisa mengingat siapa pria itu sebenarnya dan dimana dia pernah melihat wajah pria itu sebelumnya.
"Ehhhh...wajahnya terlihat sangat tidak asing bagiku, tapi aku tidak mengenalinya rasanya belum pernah ada bodyguard seperti itu di rumah ayahku." Balas Kevin terus memikirkannya.
__ADS_1
"Mungkin saja dia bukan orang yang bekerja setiap hari di rumahmu, atau mungkin dia orang suruhan, tidak mungkin tuan Briantoro menyuruh bodyguard nya sendiri yang sudah di kenal anaknya untuk melakukan hal seperti ini," ucapku menimpali ucapan mereka berdua yang membuat tuan Arfanka juga Kevin tiba-tiba saja menatap tajam dan menyipitkan matanya kepadaku saa itu.
Tentu saja aku merasa sangat heran dengan tatapan yang mereka berikan kepadaku saat itu lagi pula aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun saat mengatakan ucapan tadi sebelumnya, jadi aku hanya menatap dengan menaikkan kedua alisku kepada mereka.
"Klara bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu, memangnya kau mengenali ayahku?" Tanya Kevin kepadaku saat itu.
"Aku tidak kenal tapi pemberitaan di televisi yang muncul dan sering menampakkan wajah tuan Briantoro, tentu saja aku mengetahui siapa dia, tidak ada yang bisa melawannya bukan? Dia juga orang paling berkuasa di kota ini, tetapi perusahaan pusatnya malah di urus oleh putra angkatnya, sehingga dia tidak terlalu di percaya publik lagi karena dianggap tidak sehebat dulu lagi dalam berbisnis." Balasku menjelaskan apa yang aku tahu kepada mereka berdua.
"Wahhh.... Sayang kamu memang hebat dalam urusan mencari tahu," ucap tuan Arfanka sambil mengusap pucuk kepalaku pelan saat itu.
Sedangkan disisi lain Kevin yang mendengar tuan Arfanka mengatakan kalian sayang kepadaku dia langsung saja menatap semakin tajam dan menjauhkan antara aku dan tuan Arfanka saat itu.
"Hah? Sa..sa...sayang? Apa aku barusan tidak salah dengar? Hei.... Arfanka kenapa kau memanggil Klara dengan sebutan menjijikan begitu?" Tanya Kevin sangat kebingungan.
Tuan Arfanka hanya tersenyum kecil dan dia memberitahu Kevin tentang hubungan dia denganku yang sudah menjadi sepasang kekasih saat itu.
"Tentu saja karena aku dan Klara sudah menjadi sepasang kekasih sekarang, iya kan sayang," ucap tuan Arfanka lagi yang langsung aku anggukkan dengan cepat.
Kevin semakin syok dan terperangah dengan sangat lebar bahkan dia langsung saja merebahkan tubuhnya dia kursi belakang mobil dengan menepuk jidatnya sendiri dan bicara aneh seorang diri saat itu.
"APA? aahhhh..haha...konyol, ini sangat konyol sekali, aku baru meninggalkan kalian sehari saja kalian sudah menjalin hubungan tanpa sepengetahuanku selama ini, aishhh kenapa kau melihatku begitu, dasar kau wanita sialan aarghkkk aku membenci kalian berdua mulai sekarang!" Ucap Kevin uring-uringan tidak jelas.
Aku hanya bisa menertawakan dia dengan tuan Arfanka karena kelakuannya itu benar-benar mirip seperti anak kecil dan bagiku wajah Kevin saat kaget seperti sebelumnya sangatlah lucu dan begitu konyol sehingga hal itu yang terus membuat aku tertawa tanpa henti setiap kali melihat wajahnya tadi.
Sedangkan disisi lain sebenarnya Kevin benar-benar patah hati saat itu karena tidak bisa dia bohongi sebenarnya dia juga menyukai Klara secara diam-diam namun dia sadar bahwa Klara memang tidak pernah menyukai dirinya dan kedatangan dia juga sudah sangat terlambat karena sejak awal dia menyadari bahwa Klara dan kakak angkatnya memang sudah saling mencintai.
Dan hal yang paling dia takutkan saat ini benar-benar terjadi dia kehilangan Klara karena mereka sudah menjadi pasangan kekasihan dan dia tidak bisa melakukan apapun selain pasrah saja.
"Semua usahaku sia-sia meski sudah menjauhkan Klara dari Arfanka tetap saja mereka kembali dekat, aahhh aku harus mencari pengganti Klara baru aku bisa melupakannya," batin Kevin saat itu memikirkan.
Meski diluar dia terlihat sangat konyol dan seperti itu namun di dalam hatinya dia sama sekali bukan pria yang konyol ataupun rapuh, tetapi dia adalah pria dewasa yang sangat baik dan bijaksana, dia selalu mengutamakan orang lain dan tidak pernah mengikuti kehendak dari sang ayah yang selalu saja meminta dia untuk tumbuh menjadi orang yang jahat dan kejam sepertinya itu juga yang membuat dia terus bermusuhan dengan tuan Arfanka sejak kecil hingga sedewasa ini.
Kevin selalu merasa semua miliknya diambil oleh tuan Arfanka namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia dia semakin tahu dan semakin sadar bahwa yang tuan Arfanka ambil darinya hanyalah hal yang pernah dia rebut darinya juga, sama seperti Klara yang tadinya dia berniat untuk membuat Arfanka kacau namun semuanya gagal karena dia yang malah mencintai Klara dalam diam jadi wajah jika dirinya sekarang sakit hati dan merasa tidak di pilih oleh Klara.
__ADS_1
Karena pada kenyataannya, sejak awal Klara memang bukan untuknya, tetapi untuk kakak angkatnya tuan Arfanka dan dia hanya merebut Klara untuk beberapa saat saja, kini Kevin juga tidak bisa melakukan apapun disaat harus melihat kemesraan diantara tuan Arfanka dan Klara di depan matanya yang sangat mengganggu perasaan dia dan terus membuatnya marah-marah tidak jelas saat itu.